27

2175 Kata

“Jangan terus-terusan bilang begitu!” ucap Kris dengan nada yang seperti meminta, menegur, dan terluka. Matanya masih menatap Mawar tajam, membuat Mawar yang tadinya melirik langsung kembali mengalihkan pandangan. Hening. Sepertinya, sama seperti Mawar, yang lain pun bingung harus bereaksi seperti apa. Lalu, tidak lama kemudian, wanita kesayangan mama Kris pun bersuara. “Aku ... aku ambil kotak obat dulu.” “Nggak usah,” larang Kris dengan nada dingin. Air mata Mawar kembali menyeruak ingin tumpah, dan dengan segera Mawar lebih menundukkan kepalanya lagi, agar saat air mata itu menetes, tidak ada yang melihatnya. Semoga. Sekarang kesannya Kris seperti kukuh sekali memperjuangkan dirinya, mengabaikan Nita secara tegas, dan bahkan sampai terluka karena dia. Padahal, aslinya kan tidak sepe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN