Dengan perasaan malu dan bingung, yang bercampur menjadi satu, Mawar duduk di ujung sofa. Terpaksa, dia duduk di sebelah Kris, karena memang hanya di sanalah sisa tempat yang kosong. Kris tidak berbohong. Memang ada mama Mawar di sana, beserta beberapa orang baik dari pihak keluarga Mawar maupun Kris. Seolah mereka sedang akan mengadakan sidang keluarga. Ya, keluarga, meski ada Nita di sana. Nita kan keluarga Kris, ibu dari anak-anak Kris.
“Sudah bisa dimulai?” tanya mama Kris, seperti biasa dengan nada sinis.
Mawar diam saja, karena sepertinya di antara orang-orang yang ada di sana, hanya dia yang tidak tau apa-apa. Meski tidak menggerakkan kepalanya memandangi semua orang satu per satu, Mawar merasa semua saling melempar pandangan menunjuk satu sama lain untuk segera berbicara.
“Jadi begini, Sayang,” Mawar segera menoleh saat mendengar panggilan yang tidak umum antara dirinya dan Kris itu, dengan wajah kaget, marah, dan jengkel, tetapi Kris sepertinya tidak peduli karena dia terus melaniutkan ucapannya dengan nada yang terdengar seperti pria dewasa berkarakter lembut, “semua kumpul di sini supaya semua selesai. Aku sengaja mengumpulkan semua orang, memperjelas semuanya.”
Kris menarik tangan Mawar, yang tenti saja langsung Mawar tarik kembali, tetapi gagal karena Kris terus menariknya.
“Aku udah bicara sama mama kamu semuanya dan dia sudah paham. Dia sudah memberi aku waktu untuk memperbaiki semuanya. Aku harap, setelah kamu mendengar penjelasan dari aku, kamu pun sama. Nggak gampang buat aku ngelakuin ini. Aku sebenarnya gamang, ngerasa takut kamu malah tambah marah, tapi aku nggak bisa kelahi terus sama kamu.”
Mendengar penjelasan itu, Mawar segera menatap mamanya, dan mengalihkan pandangan saat dari tatapannya saja Mawar tau sang mama membenarkan ucapan Kris, apalagi saat sang mama mengangguk. Jelaslah sudah, situasi kembali ke awal di mana Mawar berjuang sendirian. Mungkin Awan, yang duduk di sebelah sang mama, masih berpihak pada Mawar, tetapi Mawar tidak sudi bersekutu dengan pria peselingkuh itu.
“Mawar, Sayang, dengar Mama, Nak. Rumah tangga itu adalah hubungan yang sangat istimewa. Saat seseorang berumah tangga, semua akan menjadi lebih berwarna, meski warnanya tidak selalu cerah. Akan selalu ada masalah yang timbul, dan di sanalah cinta sepasang suami istri itu diuji.”
“Tapi Mawar sama Kris nggak saling cinta!” sanggah Mawar cepat.
“Kamu cinta. Kamu cinta sama aku. Dan aku juga sama, cinta sama kamu.”
Mawar menatap Kris, melemparkan tatapan paling tidak bersahabat yang dia punya, lalu berkata, “Ngawur!”
“Aku masih ingat kejadian di Batam,” jawab Kris cepat.
Tubuh Mawar tersentak mundur, seolah mendapat serangan telak yang membuatnya tak mampu berkata-kata. Lalu, mulutnya terbuka, menyampaikan sanggahan. “Aku takut kamu mati, bukan berarti aku cinta!”
Wajah Kris masih sama, menampilkan keteguhan, seolah ucapan Mawar tidak berarti apa pun.
“Aku nggak kenal siapa-siapa di Batam, jadi kalau kamu mati, aku harus urus mayat kamu sendirian! Belum lagi alu harus jelasin ke semua orang kejadiannya! Belum lagi ... Aku nggak cinta sama kamu!!!” jerit Mawar kuat setelah semua penjelasannya malah dibalas wajah penuh kemenangan Kris.
“Anggaplah kamu nggak cinta sama aku, setidaknya kamu peduli meski dengan alasan yang ... anggaplah buruk. Setidaknya, kamu peduli.”
“Sama orang yang nggak aku kenal juga aku peduli! Itu wajar sebagai sesama umat manusia!”
Selesai membalas ucapan Kris dengan berapi-api, Mawar menatap pria itu penuh kebencian. Dadanya terasa sesak, ingin melawan Kris sekuat tenaga, tapi tak tau caranya. Merasa marah pada diri sendiri karena sedari tadi argumen yang ia sampaikan sepertinya tidak berhasil membuat orang-orang yang ada di sana mengerti perasaannya.
“Kris mencintai kamu. Aku bisa memastikan itu. Aku-”
“Diam kamu!” Mawar menunjuk Nita dengan gerakan cepat. “Nggak usah sok jadi malaikat! Nggak mempan sama aku! Kalau kamu mau akting, jangan sama perempuan! Pesona kamu yang palsu itu nggak berlaku!”
Wajah Nita pias. Mawar puas, tidak peduli sehabis berkata seperti itu semua akan menganggap dia jahat. Tidak ada gunanya juga menjadi wanita baik, hanya akan terus disakiti.
“Dia cuma mau membantu kalian.” Kali ini, adik Kris yang bicara. Matanya memandang Mawar sinis.
Karena sudah tidak berniat meneruskan pernikahannya, Mawar merasa tidak ada gunanya menjaga sikap pada adik Kris yang juga istri dari pria yang pernah menggoda Mawar dengan cara kurang ajar. Mawar menaikkan dagunya, ingin melengkapi sikap angkuhnya dengan melipat tangan di d**a, tetapi gagal karena tangannya masih ditahan Kris, digenggam pria itu dengan amat sangat erat.
“Aku nggak pernah merasa terbantu. Kris, mungkin, yang dia bantu. Kalau mau minta perlakuan baik sebagai ucapan terima kasih, minta aja sama Kris!”
“Dia memberikan anak padahal statusnya tidak ada! Apa kamu pikir itu mudah?”
“Mudah, kalau dia perempuan nggak punya hati! Nggak semua wanita bisa menjadi seorang ibu, bukan masalah rahim, tapi masalah hati! Sama seperti laki-laki yang bisa aja menganggap anak hanya sesuatu yang ada karena sumbangan m**i!”
“Mawar,” tegur mama Mawar, dengan suara yang lebih pelan dari suara adik Kris dan Mawar tadi, tapi menyiratkan kesungguhan dari sorot matanya. “Jangan berbiara seperti itu, Nak. Ini bukan anak Mama. Ini bukan Mawar yang Mama kenal.”
Mendengar ucapan itu, air mata Mawar menggenang. Sekuat tenaga Mawar berusaha menenangkan jantungnya yang bergemuruh karena ledakan emosi. Dia tidak ingin menjadi wanita baik. Dia tidak mau menjadi wanita berhati mulia. Dia tidak mau menjadi istri sejati. Dia sudah tidak lagi mampu.
“Aku ... sudah kubilang, mulai sekarang, nggak akan ada lagi Nita atau siapa pun lagi, yang menjadi orang ketiga di antara kita.”
Mendengar suara Kris yang lembut, Mawar justru semakin merasa di atas angin. Merasa sekarang ini, tidak akan masalah jika dia membuat keributan. Dia tidak akan menyesal. Di sini, Kris yang salah. Jelas sekali pria itu bisa selembut itu karena dia paham kesalahannya.
“Nita sudah mundur. Bahkan, dia bersedia memberikan anaknya untuk kalian, sebagai pelengkap di pernikahan kalian.” Mama Kris kembali bersuara.
“Ya sudah, sekalian saja kita selesaikan semua ini. Setelah Mawar dan Kris bercerai, dia bisa menikahi Nita! Itu kan yang Mama mau? Nita kan menantu kesayangan Mama!”
“Mawar, yang sopan sama orang tua, Sayang.”
Mawar benci mendapat teguran dari mamanya, yang bukannya membela malah menyudutkan dia, dan semakin merasa benci saat Kris malah bertingkah seperti pahlawan, memberikan tatapan menegur pada mama Mawar, sebagai kode agar wanita itu tidak ikut-ikutan memberi teguran.
“Kris sudah menjelaskan semua pada Mama. Tentang bagaimana perasaannya ke kamu, penyesalannya, juga janjinya untuk memperbaiki semuanya. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua kan, Sayang?”
Mawar menggelengkan kepalanya. “Mama nggak tau, sih, Kris sejahat apa,” rajuknya.
“Kesalahan Kris cuma kurang setia. Dia tidak pernah tidak menjalankan perannya sebagai suami, kan? Dia selalu bertanggung jawab sama kamu. Kalau dia tergila-gila sama kepuasan, saat kamu larang, dia pasti akan marah karena merasa hobinya dibatasi. Tapi tidak. Dia mencoba berubah. Dia mencoba setia, meski memang pada akhirnya dia kembali melakukan kesalahan. Tapi coba kamu pikir, renungkan, apa kesalahan Kris selain itu? Bahkan kalau dia mau, sudah sejak lama dia bisa meninggalkan kamu, meneruskan kehidupannya yang liar. Dia tampan, punya banyak uang, dan memiliki daya tarik yang begitu kuat. Meski tanpa uang, dia tidak akan kesulitan membawa wanita ke ranjangnya. Tapi meski begitu, dia masih mempertahankan kamu. Dia tetap kembali pulang. Dan sekarang, dia bahkan menucapkan dengan penuh kesungguhan kalau dia akan menjadi sosok suami seperti yang kamu mau. Sesuatu yang aku rasa nggak akan pernah orang sangka, karena selama ini Kris tidak pernah harus bersusah payah untuk mendapatkan apa pun yang dia mau. Bilang, Mawar, apa yang kamu mau, dan Kris pasti akan memberikannya.”
Air mata Mawar mengucur lagi. Mendengar pembelaan Nita yang terdengar sepenuh hati, dia malah benci. Dengan lirih, dia berkata, “Aku maunya pisah sama Kris.”
Dan saat itu juga, suara keras terdengar memekakkan telinga. Membuat Mawar memejamkan mata dan mengerucutkan diri karena kaget. Dan setelah suara itu tidak ada lagi, mata Mawar perlahan terbuka, menatap ke arah meja yang kacanya retak bahkan pecah di beberapa bagian, lalu pada tangan Kris yang terlihat dihiasi warna merah meski hanya sedikit. Mengangkat pandangannya, Mawar malah disambut dengan pandangan mata Keis yang berpusat padanya, dengan ekspresi terluka.