25

1219 Kata
Mawar terbangun karena perut yang mulas. Segera, dia turun dari ranjang dan setelah berlari menuju kamar mandi. Sialnya, saat dia memutar knop pintu, terkunci. “Kris!!!” teriaknya. “Ha?!” “Buka! Aku mau ke kamar mandi!” “Sebentar!” Wajah Mawar sudah masam, merasa kesal karena Kris sudah menghalangi kebutuhannya. Dia mengetuk lagi, dengan ketukan kasar dan kuat. “Cepaaattt!!! Aku udah kebelet, nih!” teriaknya. “Sabar, Mawar!” Pintu terbuka, menampilkan Kris yang sedikit beradab karena untuk kali ini dia mellilitkan handuk di tubuh bawahnya. Matanya menatap Mawar seperti kaget, dan karena Mawar merasa kenal dengan tatapan itu, dia mengabaikannya, melangkah hendak masuk ke kamar mandi. “Aduh!” teriaknya, saat tangannya dicekal dan secepat kilat tubuhnya sudah dihempas ke dinding. “Apa, sih? Aku sakit perut, nih!” geram Mawar yang dipaksakan, karena entah bagaimana apa yang Kris lakukan malah membuat sakit perutnya mereda, meninggalkan rasa gugup yang luar biasa, disertai denyutan sakit tepat di hati, karena seiring dengan kesadaran bahwa Kris menginginkannya, kesadaran bahwa Kris pernah menginginkan wanita lain pun terikut pula. Bukannya menjawab, Kris malah hanya diam, menatap Mawar bertambah intens dari yang tadi, dengan tubuh dan wajah yang begitu dekat, membuat Mawar menggerakkan tubuhnya seakan mengerucut, dengan kepala menunduk takut. Sialnya, itu membuat pandangannya bertumpu pada bagian tubuh Kris yang membengkak. “Aku mau boker,” ucap Mawar, berusaha merusak suasana. “Kamu buat aku gila!” Setelah mengucapkan itu, Kris menangkup rahang Mawar, memaksa wajah Mawar mengadah, lalu pria itu memagut bibir Mawar kasar. Mengulum penuh hasrat, tidak menyerah meski Mawar mengatupkan giginya kuat, menutup akses pria itu menyerang mulutnya. Tangan Mawar mendorong tubuh Kris, tetapi pria itu malah mengerang nikmat. Membuat Mawar merasa kesal karena dorongan tangannya malah dianggap rabaan. Baru saja berencana menginjak kaki Kris, pagutan itu malah terlepas. Pikiran Mawar kosong, tetapi dia memaksa matanya membesar, menunjukkan kemarahan. Tangannya ia kepalkan, dagunya terangkat angkuh. “Selamat boker, Sayang,” ucap Kris, lalu pria itu melangkah keluar kamar mandi. “Dasar b******k! b******k! b******k!” teriak Mawar kesal, lalu ia menghempaskan pintu sekuat yang ia mampu. Tentu saja ia tidak lupa untuk mengunci pintu, karena bisa saja Kris memanfaatkan keadaan. Setelah aman, Mawar duduk di atas wastafel lama. Tidak lagi untuk buang air besar, melainkan menghabiskan waktu untuk melamun. Bosan dengan posisi duduk, Mawar mengisi bathup dengan air hangat dan berendam. Sudah terlanjur tertangkap, Kris pasti tidak akan membiarkannya lari. Terpaksa, ia akan pulang ke rumah, kembali ke rutinitas lama, menanti hari berganti dan semua berlalu dengan cepat. Entah bagaimana dan apa alasannya, yang jelas, apa yang terjadi pada Awan malah membuat Mawar merasa lelah memperjuangkan apa yang dia anggap benar. Sekarang ini, dia benar-benar tidak mampu berpikir jernih. Bahkan dia kehilangan keinginan untuk hidup bahagia. Kehidupan yang sempurna, jadi seperti omong kosong sekarang, bagi Mawar. Perselingkuhan Awan membuat Mawar merasa semua teori akan kehidupan yang benar, memang hanya teori. Faktanya, manusia memiliki cacat masing-masing, dan bukannya memperbaiki cacatnya, malah sibuk mengurusi cacat orang lain. *** “Ck, nggak usah pegang-pegang, lah! Aku bisa jalan sendiri!” gerutu Mawar saat mereka sudah sampai di rumah, dan sudah berdiri di teras dengan sambutan dari semua pekerja di rumah Kris. Mawar menolak melangkah saat Kris menghentikah langkah, seakan ingin berjalan beriringan. Kris menggelengkan kepala, lalu dia melanjutkan langkahnya. Kembali menoleh ke belakang saat sudah satu langkah di depan pintu. Membuat Mawar mempercepat langkahnya, tetapi tetap saja menepis tangan Kris yang merambat ke pinggangnya saat posisi mereka sejajar. “Nggak usah pegang-pegang, kamu, ya!” ancamnya, lalu berjalan lebih cepat lagi menuju kamar. Emosi membuatnya lupa kalau seharusnya dia tidak berjalan menuju kamar, dan gengsi untuk bertanya pada Kris yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar mereka, menutup pintu itu dengan pandangan terkunci pada dirinya. “Itu ngapain ditutup ... pintunya?” tanya Mawar, berusaha terdengar angkuh, meski sebenarnya dia takut. Kening Kris berkerut, lalu sudut bibirnya terangkat, tidak sampai membentuk senyuman, tapi Mawar tau pria itu memang hendak tersenyum. “Jadi pintunya dibiarin terbuka terus? Kalau mau pasang ac, gimana? Mau ganti baju, gimana?” “Oh .... Terus, sekarang aku ngapain?” “Kamu maunya ngapain?” “Aku nanya!” “Aku jawab.” “Emang kamu mendingan nggak usah banyak bicara, ternyata. Bicaranya nyebelin!” Mawar mendudukkan dirinya di ranjang dengan gerakan kasar. “Kita ... tidur pisah kamar aja–” “No!” potong Kris cepat, membuat Mawar menoleh kaget sambil memegang d**a. “Kita tetap kayak biasa! Nggak ada yang berubah!” Baru saja Mawar hendak membuka mulut untuk membantah, Kris langsung menambahkan kata, “Titik!” “Kok malah kamu yang ngatur aku? Harusnya kan terbalik! Pokoknya, nggak ada adegan ranjang! Aku nggak mau! Aku udah jijik sama kamu! Sampai semua masalah selesai, tidurnya pakai batas. Atau ... kalau kamu ngotot, aku tidur di lantai aja. Aku nggak mau tau. Terus ....” Mawar terdiam, tidak tau harus berkata apa lagi. Bibirnya terkatup rapat, lalu pandangannya menurun, wajahnya menunduk, pandangannya pun memudar. Jika dia bisa meminta ini dan itu, apakah Friska akan mendapatkan perlakuan yang sama? Tidak sadar air matanya menetes, dan segera dihapusnya. Sebagai wanita, dia tau sekali rasa sakitnya diduakan. Meski sudah berkali-kali, rasanya masih membekas begitu dalam, dan tahu bahwa dalam keluarganya ada yang menjadi sumber luka bagi seorang wanita, Mawar merasa sedih. Amat sangat sedih. “Udah, jangan nangis lagi.” Untuk pertama kali, Mawar merasa Kris bersikap seperti lelaki lembut, yang pandai membujuk. Bahkan pria itu berjongkok di depannya, dengan tangan menggenggam tangan Mawar lembut. “Aku bukan nangisin kamu, kok!” ucapnya ketus. “Aku tau. Awan kan?” Mawar menghempaskan tangan Kris, lalu menghapus air matanya. “Nggak usah sok tau, kamu! Kamu nggak tau apa apa tentang perasaan aku!” Untungnya, Kris hanya diam. Wajahnya pun tidak menampilkan keangkuhan, seperti wajah pria itu biasanya. Kalau tidak, semua amarah dan kekecewaan yang Mawar rasakan, akan terlampiaskan pada pria itu. Mawar mengangkat kakinya, menaikkannya ke ranjang, dan menarik selimut sampai menutup seluruh tubuhnya. “Mawar–” “Hidupin ac-nya! Panas!” teriaknya teredam oleh tutupan selimut. Di dalam selimut, Mawar kembali melanjutkan tangisnya, menangisi semua yang ia rasa menyedihkan. Hingga akhirnya, perlahan, dia mulai lelah, dan pandangannya pun memudar. *** Kris kembali menjadi sosok pendiam. Dia juga cukup tau diri karena tidak terlalu sering mendekati Mawar, memberi waktu pada wanita itu untuk menikmati kesendirian. Makan saja pun, Mawar melakukannya di dalam kamar. Dengan menu kuah-kuahan, kesukaannya. Tentu saja tidak lupa coklat panas yang rasanya memang nikmat. Cukup membantu membuat suasana hatinya menghangat. Wajah Mawar segera memasam saat mendengar suara langkah kaki, yang cepat dan kuat. Sudah pasti itu Kris. Dia tidak perlu mengangkat pandangannya ke sosok yang masuk ke dalam kamar itu. Lagi pula, satu-satunya pria yang bebas ke mana saja di rumah itu memang hanya Kris. “Mau nambah, nggak?” Mawar menggelengkan kepalanya. Meletakkan gelas yang baru berkurang setengah isinya, lalu memasang posisi tubuh duduk dengan punggung bersandar di kepala ranjang dan kaki berselonjor di atas ranjang. Seperti orang sakit yang sedang bosan. “Kita ke bawah, ya?” Mawar mengangkat dagunya sedikit, lalu menggelengkan kepalanya dengan gerakan lambat. “Ada Mama.” “Mama siapa?” tanyanya tanpa menoleh. “Mama kamu.” Secepat kilat Mawar menatap Kris, dengan pandangan meminta kepastian, lalu setelah pria itu mengangguk dengan yakin, Mawar turun dari ranjang. Dia segera berjalan cepat menuju lantai satu, ke ruang tamu. Baru setengah menuruni tangga, Mawar sudah bisa melihat keramaian yang mengisi meja ruang tamu, yang sialnya, dari celah yang sedikit memperlihatkan ruang tamu dari atas tangga itu, Mawar malah melihat wanita lain Kris alias Nita. Sontak tubuhnya berbalik, hendak kembali ke kamar, tetapi gerakannya terhenti karena Kris sudah berdiri di belakangnya. Pria itu menghalangi langkahnya. “Awas, kamu! Sana! Aku mau ... Kris! Aku nggak mau!” geram Mawar, meski kesal tapi berusaha keras tidak berteriak, malas mengundang perhatian tamu-tamu sialan itu. “Kita harus kelarin semuanya.” “Kelar? Oke, kita kelar! Puas kamu? Udah, aku mau ke ... Kris!!!” akhirnya teriakan Mawar lolos juga saat Kris membawanya paksa, dengan menggendongnya seperti biasa, di depan tubuh pria itu, seperti sedang menggendong anak kecil.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN