Bagian Sembilan

1338 Kata
"Maa... Aku pulang." Aku mencoba tersenyum agar Mama tak khawatir dengan keadaanku yang sesungguhnya. Semoga Mama tidak bertanya banyak hal tentang penampilanku. Tapi- "Sayang, kok mata kamu bengkak dan merah sih?!" Sial!  **** "Sayang, hei, ini mata kamu kenapa?? Terus, kenapa semalam kamu engga pulang ke rumah?? Heii ... kok malah bengong sih..." Serentetan suara Mama membuyarkan lamunanku. Mama yang awalnya sedang di taman bunga kesukaan ku sewaktu kecil dulu, kini sudah berada dihadapanku. Mama merangkum wajahku lembut dan menatap ku dengan pandangan penuh kecemasan khas seorang ibu terhadap anaknya. Aku terenyuh dengan tatap itu, bagaimana bisa aku mengecewakan seorang Mama yang sangat menyayangi ku hingga sampai seperti ini. Kupeluk Mama dengan tiba-tiba dan menenggelamkan wajahku dibahu hangatnya. Ku coba menahan suara ku agar tidak bergetar apalagi menangis. "Maaf Ma ... Aku gak kemana-mana kok Ma ... Semalam aku langsung nginap di rumahnya Tamara. Mau pulang tapi takut udah malam banget." Semoga alasanku masuk akal Tuhan. "Aduh kamu ini, kan ada supir trus kakak kamu juga bisa jemput. Buat khawatir Mama aja. Kakak kamu juga nanyain kamu mulu tuh. Dia khawatir banget tahu, mana kamu gak ngasih kabar lagi." Aku meringis pelan, mendengar omelan Mama. Duh, kenapa aku tidak membuka ponsel sih tadi pagi. Bagaimana kalau Mama atau kak Joni curiga. Bisa gawat ini. "Ini kenapa coba mata kamu bisa bengkak kayak begini?!" Ternyata Mama belum selesai mengintrogasiku. Menghela napas pelan, ku rangkai kebohongan selanjutnya agar Mama tidak curiga tentang kejadian semalam. "Mmm ... Mama tahulah anak muda kalau udah kumpul, hehe..." "Iyaa, trus kenapa sampai bengkak gini sih. Kamu tuh bertele-tele banget, kebiasaan deh." "Hehee ... Aku sama temen-temen maraton drakor Ma, sampe pagi. Trus ceritanya sedih banget jadi nangis berjamaah kan. Makanya sampai bengkak gini. Hehe..." Semoga Mama percaya.. "Ooh gitu, kirain kamu kenapa. Yaudah, cepat mandi trus makan yah. Mama mau selesaikan ini dulu." Syukurlah... Amaan... "Oh ya, Kak Joni kemana Ma..." Tanyaku. "Oh iya, dia nyari'in kamu. Bi...bi..." Aduh gawat ini, ya Tuhan bagaimana ini. Bagaimana kalau kak Joni curiga trus tahu apa sudah menimpaku. Tak lama mnak dewi menghampiri Mama dan sukses membuyarkan lamunanku. "Iya bu?" "Kamu selesaikan ini yaa... " Perintah Mama. "Baik, bu." "Yuk, sayang masuk ngapain masih disitu. Mama mau kabarin kakak kamu dulu. Oh ya, ingat langsung mandi ya..." Aku mengangguk pelan kemudian pergi ke lantai dua dimana kamarku berada. "Jangan lupa habis itu makan." Teriak Mama dari bawah. "Iyaa Maa..." Balasku. **** Setelah selesai makan aku langsung masuk kembali ke kamar. Sengaja aku cepat-cepat makannya. Aku takut kalau Mama melihat sesuatu yang mencurigakan dari tubuhku. Sengaja aku memakai baju lengan panjang dan celana pendek selutut agar tidak nampak bekas-bekas lelaki sialan itu ditubuhku. Ku baringan tubuhku di kasur queen size ini. Mataku menerawang melihat ke plafon kamar. Apa setelah ini hidupku akan baik-baik saja? Bagaimana kau aku hamil. Setitik air mata kembali jatuh menyentuh bantal. Aku menyesal telah datang ke pesta dan telah minum alkohol sialan itu. BRAKKK Suara pintu kamarku yang di dobrak dari luar. Dengan napas yang masih terputus-putus dan penampilan berantakan khasnya. Kak joni memandangiku dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi sepintas, aku melihat kilatan amarah dalam matanya. Dia mendekatiku yang tengah terbaring melintang. "Lo semalam kemana? Kenapa gak pulang?!" Tanyanya dingin dan datar. Ya Tuhan tolong aku dari amukan kakakku ini. "Jawab!!!" Bentaknya, yang secara otomatis membuatku ketakutan setengah mati. "Aku nginap di rumah Tamara kak." Cicitku. "Kenapa nginap, apa lo udah gak punya rumah?! Atau lo udah lupa jalan pulang karena keasyikan main, hah!!!" Sinis nya. Kak joni memang seperti ini jika sedang marah. Dingin dan menakutkan apalagi di dukung dengan penampilannya yang berantakan dengan rambut gondrong andalannya, membuatnya semakin terlihat menakutkan dan brutal. Seperti preman. "Ish apa sih kak. Semalam aku memang nginap dirumah Tamara. Maaf aku gak ngasih kabar sebelumnya, ponselku baterainya habis. Dan aku lupa mengisinya." Sekuat tenaga aku menampakan tampang serius dan merajuk demi agar kakakku yang satu ini percaya. "Masa?!" Balasnya, tatapan matanya menunjukan ketidak percayaan yang nyata. Sontak saja hal itu membuatku gugup gemetar ketakutan. Kalau kak joni tahu tentang kejadian semalam bisa habis aku dipukul nya. Kak joni memang sedikit tempramental, emosinya selalu meledak-ledak jika sudah marah. Tak ada yang berani membantahnya termasuk Mama dan Papa pun. "I-iyaa bener ih..." jawabku terbata. "Tapi semalam gue telpon teman-teman Lo. Katanya, Lo gak ada sama mereka. Jadi kemana Lo semalam dan sama siapa?!" Bentaknya lagi, ya Tuhan kenapa sulit sekali sih meyakinkannya. Bisa ketahuan kalau gini caranya. "I-ituu itu.." Duh, kenapa jadi gagap gini sih. Otakku masih merangkai kata yang tepat agar kak joni percaya. "Jawab yang bener. Awas kalau sampai Lo bohong!" Ancam kak Joni. "Serius kak, aku gak bohong. Mungkin pas kakak nelpon aku belum sampai rumah Tamara. Aku 'kan dianterin Ardi kesananya, yaa emang sih sebelum aku ke rumah Tamara, aku ke minimarket dulu. Kalau gak percaya kakak tanya aja sama Ardi. Sekali lagi maaf yaa udah buat kakak, Mama sama Papa cemas." Jelasku dengan nada memelas mencoba meyakinkan kak Joni yang sedang kalap. Bagus!!! Alasan yang masuk akal. Biasanya sih kak joni paling gak tahan kalau tampangku sudah sedih seperti ini. Semoga kali ini juga berhasil. "Hhhh... Oke gue maafin. Tapi kalau sampai terulang, gue bakal hukum Lo." "I-iya kak siapp." Jawabku sambil bersikap hormat padanya. "Yaudah sekarang lo istirahat." Suara Kak Joni sudah kembali melembut. Good Sahira! Kali ini kamu selamat. "Eh tunggu." Aduh, apalagi sih. "Kenapa kak?" Jawabku dengan tampang polos. "Kok muka Lo pucat gitu? Lo sakit?" Seketika raut wajahnya berubah cemas. Memang punya kepribadian ganda nih kak joni. Cepat banget emosinya berubah-ubah. Kak Joni mendekat. Tangannya hendak meraba dahiku, tapi aku menolak dan menghindar takut kak joni melihat yang mencurigakan dari tubuhku. "Aku gak papa kak. Hanya pusing aja soalnya semaleman aku habis nonton Drakor. Hehee... Liat tuh mata aku agak bengkak gini. Ini tuh gara-gara jalan ceritanya sedih banget tau gak kak..." Sahira Sahira lo berbakat banget jadi bintang sinetron. Batinku berkata. "CK, bikin khawatir aja Lo. Udah istirahat sekarang." Ucap kak Joni kemudian dia tersenyum dan mengacak rambutku. "Ishh kaakk.. jangan diberantakin." Jerit ku tak terima. "Gapapa biar cantik." Sahutnya sambil berlari menghindar dari serangan bantal yang dilemparkan olehku. Setelah kak joni menghilang dari balik pintu akhirnya aku bisa bernafas dengan lega. "Syukurlah kak Joni gak curiga bisa habis aku kalau sampai kak Joni tahu." *** "Sayang... Mama sama Papa mau ke luar negeri besok pagi. Kamu jangan keluyuran mulu yaa kalau malam. Joni jagain adik kamu ya..." Ucap Mama sembari menatap ku juga kak joni. Suapanku terhenti, aku menatap Mama dan Papa. "Kok mendadak sih Maa ngasih tahunya..." Jawabku tak terima. Bibirku mengerucut dengan tangan bersidekap seperti anak kecil yang sedang merajuk. "Iyaa, kemarin Mama lupa buat ngasih tahu. Lagian kan kemaren malam kamu nginap jadi lupa deh Mama." Jelas Mama. "Aku ikut boleh yaa Maa, aku juga kan mau jalan-jalan." Pintaku. "Kamu kan harus sekolah. Trus Mama sama Papa bukan mau jalan-jalan loh sayang. Ada sesuatu yang harus Papa selesaikan di cabang perusahaan Papa disana." "Yaahh Mamaa..." Ucapku sedih. "Iya sayang benar itu, nanti deh kalau ada waktu lagi kita jalan-jalan sekeluarga." Bujuk Papa sambil tersenyum. "Kok ada waktu lagi sih Paa ngomongnya, emangnya Papa mau kemana?" Mama dan Papa terdiam. "Udah Lo disini aja sama gue, lagian gak lama ini Mama sama Papa ke luar negerinya." Sahut kak Joni. Aku masih cemberut. Mama mengusap pelan rambutku. "Iya sayang. Nanti kamu mau oleh-oleh apa?" "Mmm... Tas terbaru boleh?" Ucapku setelah pura-pura berpikir. "Dasar, itu mah mau Lo aja." Ketus kak Joni. Mataku mendelik, mendengar perkataan kak Joni. "Ihh kakak. Emang kenapa sih. Sirik aja." "Udah-udah sayang. Kakak kamu kan emang suka gitu. Iya nanti Papa belikan. Kamu baik-baik yaa di rumah sama kakak. Papa berangkat kerja dulu." Pamit Papa lalu menghampiri Mama dan mencium keningnya setelah itu mengusap rambutku kemudian menepuk  bahu kak Joni pelan. Mama menyusul Papa sampai ke depan pintu utama. "Daahh papa hati-hati." "Iya sayang." Kulirik kak Joni yang sedari tadi tampak diam biasanya kak Joni selalu menggangguku dimana pun berada. Tapi kali ini kak Joni terlihat berbeda dia hanya diam meskipun sesekali menyela ucapanku. Aneh, gak biasanya kak Joni begini. Apa ada masalah di kampusnya yaa. **** Jangan pelit komen dan love nya yaa:)  Dan Terima kasih sudah komen di episode kemarin:) 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN