Aku benci melihatnya menatapku dengan ketakukan seperti ini. Namun, aku lebih benci jika dia terus berhubungan dengan Ardi dan mengindahkan perintahku. Emosi kembali memenuhi kepalaku hingga aku berbuat nekad. Sebenarnya aku berbuat seperti ini agar dia tahu aku tidak suka dibantah dan aku satu-satunya yang pantas buat dia seorang. **** Dengan masih penuh kesadaran aku paksa adik angkatku ini agar melayani hasratku yang sudah menggebu-gebu ingin dipadamkan. Awalnya dia sedikit ketakutan dan itu membuatku muak, karena tingkahnya itu aku bagaikan laki-laki b******k sedunia, seorang kakak yang berani memaksa adiknya untuk melayani birahinya yang membara. Huh, aku mendengus. Ku ambil alih permainan dan dia telentang pasrah dengan air mata yang masih menganak sungai dipipinya bagai tak mau

