Bab 3

1984 Kata
Callyasta Pov  Setelah mengedor pintu kembaranku yang raja tidur itu aku pun kembali ke kamarku dan tidur. Tidak ada gunanya dibangunkan dia. Dia suka tidur kata Christie kalau tidur udah kayak orang belajar mati. Sudah bangunin. Aku membaringkan tubuhku di kasur king sizeku dan memandang ponselku. Setelah itu aku menaruhnya, aku ingin tidur tapi mataku tidak bisa terpejam. Ada yang kupikirkan saat ini tentang pria yang datang ke sekolah tadi. siapa dia? Pikirku. Ya pria tampan berkemeja putih itu siapa dia? Dia sedari tadi memang menatapku. Aku sedikit heran kupikir dia tidak melihatku, aku tetap fokus dengan makananku. Saat itu, tetapi saat aku menoleh ke kanan kiri dia malah tersenyum dan mengepakkan dan menunjukku. Itu tandanya sejak tadi dia menatapku bulan? Aku jadi salah tingkah. Temukan sifat pemainku kambuh lagi padahal aku berhasil untuk mengendalikannya. Ya aku berpikir jika aku tidak ingin menyakiti banyak pria lagi untuk balas dendam rasa sakit hatiku pada mantan kekasihku. "gak ada gunanya gue mikirn dia, gue gak kenal dan ini pertama kali gue lihat dia. palingan dia salah orang dan bukan gue" gumku dan pilih turun ke bawah. Ini sudah lama sakit dan sudah lama Callie tidur. Astaga aku senang karena dia mau tidur malam ini aku mau tidur, aku mau dengar cwmerita tentang dia dan juga aku. "Bu" Panggilku dan duduk di ruang tv bersama Mommy. "Masak apa?" Rengekku. Karena aku sangat lapar. Ini baru jam 6 Ayah belom pulang. Keluargaku cukup unik jika keluarga tidak lengkap mereka tidak akan makan duluan kecuali ada konfirmasi. Lanjutkan Ayah yang suka sekali pulang telat. "Nunggu Callie sama Daddy dulu ya sayang" Ucap mommy dan aku hanya menganguk. Aku bangkit dari dudukku dan menuju kamar Callie dibangunkan karena aku sangat lapar. Aku tidak mau mati kalau dia mau makan. "PANGGILAN BUKA PINTUNYA AYO KITA MAKAN" Teriakku dan mengedor pintu kamar ini dengan kasar. Saya mendengar suara kunci dan setelah itu pun pun terbuka. Kutatap callie yang berjuang tanpa baju saja ia tidak mengantinya. "Bangun kebo, mandi," Ucapku karena Callie kembali tidur. "Gue ngantuk Yas, lo gak tau sependeritanya gue di sana" Ucapnya lebay. Ayolah pakingang dia di sana juga paling banyak liburan. Di luar negeri, kali ini banyak bule, banyak tempat wisata apa lagi di London. "Bangke, gue laper lo nyiksa gue tau gak, buruan mandi" Seruku dan menyeret dia bangun dari tidurnya. "Kampret, lo pikir gue sial bego" Umpatnya dan aku pun tertawa. Aku tertawa terbahak melihat Callie mandi dengan segala omelannya dan umpatannya. Aku melihat tablet arah yang kemana-mana saja ia bawa. Sedikitbkepo apa sih iai tablet itu, perasaan gaknwprnah ketinggalan sama sekali. Aku mengotak tablet atik itu dan terngangga. Bagaimana bisa membuat perusahan hanya dengan melihat dindingnya. Lebih mudah hanya melewati tablet tanpa diundang langsung. "Otaknya dibuat dari apa sih kok jenius gitu" Ucapku kagum. Ya masakahbitak jangan di tanya dia ini pimter pake banget. Bahkan dalam kondisi tidur aja dia paham, makanya imdia terkenal dengan IQ tertinggi di sekolah dulu sebelum pergi ke London. "Campur tangan christine ini maa paling" Gumnaku lagi. "Enak aja lo ngomong, usaha gue itu, Christine malah bersantai ria di perusahaan" Omel Callie tiba-tiba dan membuat ku menoleh dan meringgis.  "Ck, itu anak enak bener bawa" Ucapku. "Makan aja lah laper gue" Ucapnya. Dan aku baru sadar jika aku sangat lapar. Aku pun berlari menerima Callie yang sudah turun dari mengumpulkan. Tapi sekarang di bawah aku melihat Callie sedang memeluk ayah mungkin mereka melepaskan rindu. Aku pun duduk di meja makan dan menompangkan daguku dengan tangan yang menyangganya. "Ayah seneng banget kamu udah pulang" Ucap Ayah tersenyum. "Callie kan pernah bilang kalau Callie pasti kembali lagi" jawab callie "Ayah, Yasta laper ayok makan" Rengekku. Kalau gak gini asli gak makan. Sementara ayah dan ibu malah tertawa dengan ucapanku. Apa salahnya aku beneran laper. "Dasar lo makan aja" Ucap Callie dan membuatku mendengus  Dan kita pun memilih makan malam bersama dengan hening hanya ada suara denturanoop dan piring. Selesai makan kita pun sepakat di ruang tengah. Makan dan bercanda tawa. Apa lagi saat ini rumah menjadi ramai karena teriakan Callie yang tidak berubah. Hal yang pasti aku rindukan bisa berkilaborasi dengan keluarga yang utuh. Terkadang aku tertawa ketika mendengar cerita lucu Callie saat pertama kali berbisnis bahkan Christine sering mengumpatinnya dan selalu melihat jika memang seperti ini karena Christine. "Ayah kenal gak Barcha croup?" Tanya Callie dan membuat aku menoleh. Barcha? Jangan pernah dengar croup itu. Bukannya tadi siang kita membahasnya? Atau mungkin aku yang lupa! Ah sudahlah masa bodo. "Kenapa sayang? Ayah pernah bertemu dengan Darcha saat bertemu bisnis di kantor ayah, membahas tentang perusahan Yasta kembaranmu" Jelas Ayah dan aku mangut-mangut. "Ayah Barcha, Barcha yang bekerja sama dengan Daniels itu ya ?? Pemilik sekolah Yasta ??" Ucapku kepo "Iya, mereka berdua memilik anak lelaki tampan loh, masih kuliah tapi cukup mahir dalam bisnis" Goda Daddy dan aku tertawa. "Kalau itu maa udah urusan Yasta dadd, Callie gak berminat" "Ck, lo sampai kapanpun gitu terus gak pacaran seumur hidup lo, dan selamat atas kematian cio. Ayolah memanggil luapin dia gak mungkin lo hidup hidup hanya mau nunggu dia kembali dari kuburan." Kesalku dan membuat Callie diam. "Ayah, Bu, Panggil ke atas ya capek mau tidur" Pmitnya dan pergi. Aku diam melihat kembaranku itu pergi ke atas, Apa ucapanku salah di sini sampai dia memilih pergi? Sampai mommy mulai lenganku, aku mslenopeh dan aku masih binggung dengan hal ini, ada apa sih? "Yasta kamu ini kenapa di ingatkan" omel Mommy. seketika itu juga aku sadar kalau aku terlukai kembaranku mengusik masa lalunya. "Maafkan ibu yasta keceplosan" Ucapku menyesal. Ya aku nyesel sudah suka Callia bakalan senang banget dan keinget sama cio cinta setuju sebelum dia pergi ke London. Ya dia pergi memiliki dua alasan, pengen lupa pertama cio, kedua bekerja sesibuk mungkin untuk melupakanan cio. "Susul dia" Perintah ayah dan aku pun mengangguk. *** Penulis Callie berdiri di depan balkon kamarnya dan menatap langit hitam yang bertabur bintang. Di sana ada bintang dengan cahaya terangnya begitu juga bulan sabit yang indah. Ya sangat indah sampai Callia pun teringat akan masa lalunya. Callie menghela nafasnya panjang dan menundukkan tinggi. Ucapan Yasta membuat Callia teringat akan mengucapkan Cio beberapa tahun yang lalu. C allie  nantik kalau gede callie Jadi Bintang cio Jadi bulan biar kitd sama-sama Terus .              Sebut kita pokoknya harus satu sekolah terus sampai dewasa ya .          Callie  smpnya  sama cio ya  ...  Kan cio gak bisa jauh dari  callie        Aku rindu Anda callie melati     Tetap tinggal sama aku ya  Walau  nantik aku gak ADA Lagi di Samping kamu . Ingat bahagia Selalu Jangan Jadi gadis Cengeng callie k u KUAT Dan Pasti can  .                       Ucapan terakhir sebelum kecelakan mobil itu terjadi. Lebih menantang cio di tabrak. Dulu waktu Callie masih smp diterima duduk di kelas 3 smp callie pernah dinikmati Cio teman kecilnya yang notabete tetangganya sendiri. Waktu itu mereka sedang pulang sekolah bersama mereka bergandeng bersama mereka juga sudah membuat rencana SMA mereka saat itu mereka sudah berjanji akan selalu bersama. Karena asik bercanda Callie dengan reflek mendorong tubuh Cio meluncurkan mereka hanya bercanda hingga mobil hitam menghantam tubuh Cio hingga terpental beberapa meter. Callie berteriak ia berlari dan menangguhkan saat melihat darah segar keluar dari mulut Cio dan bersamaan dengan itu semua warga datang untuk membantunya. Callie menanggis tetapi tidak dengan Cio ia tersenyum dan menggenggam tangan callie dengan erat. Maafin aku ,  aku tidak akan bisa menjagamu lagi . K ita akan berpisa h . S ku tidak bisa bersamamu lag i. Ta pi aku janji akan menjagamu dari jau h . J angan menanggis jadilah cewek KUAT Penghasilan kena pajak  kepergian ku , karen kamu menunjukkan PADA Dunia Wanita can                                tanpa aku dan ikatan yang kita buat dulu .  Jangan pernah takut jatuh cinta lagi dengan  yang  lain . Sebuah ku iklas kamu di * ITU Cio Menutup matanya Untuk Selamanya. Awalnya callie tidak percaya cio hanya tertidur tapi dokter mengatakan jika cio sudah ditolak di tempat kejadian sebelum di bawa ke rumah sakit. Callie terpukul dan memilih pergi dengan alasan bisnis.                  Itulah alasan kedua Mengapa Callie pergi dan engan kembali dia akan mengingat kejadian yang sangat memilukan pemikiran. Tapi dia sudah kembali dengan sejuta rasa sakit yang ada. "Call" Panggil seseorang dan buatlah Callie menoleh. Callie tersenyum saat mendapati Yasta membuka kamarnya. Dia pun langsung memeluk Callie dengan erat. "Gue minta maaf ya udah bikin lo sedih" Ucap Yasta menyesal. "Gak masalah" "Tuh kan lo nyuekin gue" Gerutu Yasta dan memeluk Callie dari samping. Callie mengulurkan berusaha mengusap adiknya dan tersenyum walau sejujurnya masih sakit tapi tetap saja ia sulit mengingatnya. "Gue gak papa kok, loe tenang aja, gue masih dalam proses buat lupain dia" Ucap Callie berusaha mengamankan Yasta. "Ya udah yok tidur, gue mau tidur sama lo" ucap yasta dan mendapat anggukan dari callie. **** Ke esokan paginya mereka bangun kesiangan mommy sempat mengomel akan hal ini baru pertama kali Callie mulai sekolah dan dia sudah terlambat. Tanpa sarapan mereka pun berangkat sekolah dengan mengebut di jalanan. Sampainya di depan gerbang ternyata gerbang belum di tutup callie pun melajukan mobilnya dengan cepat dan memarkirkannya. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa pasalnya sekolah ini sudah sepi. Karena terlalu sibuk tentang seragam yang kurang rapi, Yasta pun terjatuh ke belakang. "Yasta--" Panggil Callie dan menolongnya untuk berdiri. "Sial, siapa sih yang berdiri di tengah jalan" Omelnya dan mengusap pantatnya yang kotor. Sebenarnya dia tahu siapa dia tabrak saat ini. Ya yasta menabrak punggung bidang seseorang dan membuatnya jatuh. Lelaki itu pun membalikkan tubuhnya dan menatap yasta yang masih membersihkan roknya. "Kalau jalan lain kali di liat neng ada orang engak, main nabrak aja" Ucapnya dan membuat Yasta mengangkat kepalanya. "Lo... " ucapan yasta terhenti saat ia mengingat siapa lelaki itu. Seperti pernah ketemu tapi di mana pikirnya. Penyakit lupanya kambuh. "Udah Yas, gak usah di ladenin dulu kita udah telat ayok" Ucap Callie melerai mereka dan menarik Yasta. Yasta mengangguk Callia benar, tidak untuk sekarang. Kalau gak telat pun udah di pastiin Yasta bakalan hajar itu cowok yang seenaknya saja. Eh, gak seenaknya cuma Yasta aja yang gak perhatiin jalan jadi nabrak. Mereka berlari tanpa mereka sadari lelaki itu tersenyum penuh kemenangan di sana. Sampainya di depan pintu coklat Yasta sedikit mengintip dan ternyata pelajaran sudah di mulai. "Udah mulai Call gimana??" Ucap Yasta panik. Takut aja kalau di hukum kan Yasta bosen. "Udah biar gue aja" Ucap Callie. Oh dia selalu menjadi penyelamat di mana pun tempatnya, dan hal itu membuat Yasta tersenyum bahagia. I love kembaranku. Batin Yasta. Callie mengetuk pintu itu dan terbukalah menampilkan sosok lelaki tua berbotak dengan sisa rambut putih di belakangnya. "Callysta kamu baru datang jam segini?" Ucapnya. Ini nih Lalau gak tahu, atau mungkin gak bisa bedain Yasta sama callie , udah di pastiin salah nyebut. berbeda dengan Yasta yang berdiri di balik pintu dia hanya menatap tawanya saja, dia pengen masuk coba aja kalau guru itu sedikit maju turus sedikit ada aset jalan di belakang mungkin dia akan kabur masuk ke dalam kelas. "Maaf pak sebelumnya, saya Callia bukan Callysta, saya pindahan dari london dan maaf saya nyasar di sekolah sebelah pak saya kira itu sekolah ini karena saya baru di sini" Ucap Callia tenang.  Guru itu mengeryitkan keningnya seraya bingung tak lama Yasta pun muncul dan berdiri di samping Callie dan membuat guru itu semakin bingung lagi. "Kalian kembar." Tanya guru itu menatap Yasta dan juga Callie bergantian. "Iya pak, tapi tadi kita berangkat sendiri-sendiri pak jadi saya nyasar" Ucap Callie dan mengaruk tengkuk lehernya . harusnya callia jawab berangkat bersama . tapi kalau jawab itu yang pasti mereka akan di hukum pak botak kan suka ngehukum orang. "Kalian boleh masuk kalau begitu, tapi ingat jangan terlambat lagi di jam saya jika tidak kalian tidak akan ikut pelajaran saya selama satu minggu." Ucapnya dan membuat Callie dan Yasta bernafas lega. Callie dan juga Yasta pun langsung masuk dan duduk di meja mereka. Lalu mengeluarkan buku das juga peralatan lainnya. "Seengaknya kita bebas dari hukuman." bisik yasta terkikik Callia tertawa kecil. "Sttt.  Jangan berisik, kitabbisa di hukum kalau kita berisik" "Tempat duduk kita di tengah itu guru juga gak bakalan denger bego, kecuali lo duduk di depan sono noh udah di pastiin suara lo katak toa masji" Callia hanya mengelengkan dulu dia menunduk menatapa buku. Tapi mata Callia tak tertuju pada buku, lebih pada tablet di bawahnya yang lebih penting. Toh dia sekolah udah kayak balik lagi kayak dulu ulang dan materi pun Callia udah mempelajarinya. Sementara Yasta dia malah udah siap-siap buku dia taruh di meja dengan tangan yang di taruh di meja sebagai bantalan. Ya dia akan selalu tidur saat pelajaran mata untuk dia ngebosenin atau yang cara ngajarnya udah kayak mau dongenin. * TBC *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN