MULAI TAK NYAMAN

1300 Kata
Dan begitulah keseharian mereka. Kedekatan yang memang mirip seperti saudara. Namun belakangan Malik seperti berubah dan gamang dengan perasaannya sendiri semenjak Andi mengatakan bahwa dia menyukai Isha. Tak dipungkiri bahwa Isha memang cantik. Sejak masih di sekolah dasar juga memang dia cantik. Sehingga tidak heran jika dulu, ketika Isha masih duduk di bangku SMP, sering kali dia bilang pada Malik kalau dia menerima surat cinta dari teman sekolahnya. Dan Malik selalu menjadi redaktur utama tempat Isha mengadu jika menerima surat cinta. Tentu saja Isha hanya berani bilang kepada Malik karena ayah dan ibunya tidak mengizinkannya pacaran di usia remajanya. Sebagaimana umumnya gadis remaja, Isha akan berwajah galak ketika bertemu dengan mereka yang tidak disukainya dan mereka malah mengirimkan surat cintanya. Demikian juga dengan Isha. Meski beberapa kali Malik menasehati agar tetap berteman dengan mereka, tetapi tetap saja Isha bersikeras tak mau ramah. “Apa di antara mereka ad ayang kamu sukai?” tanya Malik suatu hari, dulu. Isha menoleh, mendongak ke arah Malik yang menjulang di sampingnya. Kebetulan hari itu Isha datang ke rumah Malik untuk meminta diajari matematika. Ketika itu, Malik sudah kelas dua SMA dan Isha masih kelas tiga SMP. Mendapat pertanyaan seperti itu, Isha menggeleng. “Kamu masih bersikap jutek sama mereka?” tanya Malik menatap Isha yang sedang menyalin pekerjaan rumahnya itu. Isha menatap malik, kemudian tersenyum canggung. “Bagaimana mau ramah? Aku nggak suka sama dia.” Isha menjawab dengan wajah kesal. Malik tentu saja tertawa melihat dan mendengar jawaban Isha yang menunjukkan keegoisan itu. Laki-laki muda itu hanya mengacak rambut Isha dengan gemas. “Nggak suka, ya, nggak masalah. Namanya hati, kan, nggak bisa dipaksa. Hanya saja, jangan terlalu diperlihatkan kalau tak suka. Laki-laki itu kalau sakit hati bisa menghalalkan banyak cara. Kamu nggak mau, kan, teman cowok yang suka sama kamu itu nekat berbuat jahat karena sikapmu sendiri. Sudah menolak cintanya, ditambah lagi sikapmu yang tak ramah. Benar, kan?” tanya Malik menasehati dengan sabar. “Aku nggak khawatir mereka akan berbuat jahat sama aku,” jawab Isha dengan tetap tinggi hati tak kamu mengalah. “Isha? Bagaimana mungkin kamu bisa percaya diri seperti ini?” tanya Malik mengerutkan keningnya setengah kesal karena sulit menasehati Isha. “Memangnya kenapa aku harus khawatir? Ada Abang yang akan selalu jagain aku, kan?” tanya Isha dengan mata bulatnya yang penuh rasa yakin dan tenang. Malik berdecak. “Aku nggak bisa terus menjagamu dua puluh empat jam juga, kan, Sha?” ujar Malik. “Setidaknya Abang masih bisa jagain aku.” Isha masih saja bersikeras. Malik tersenyum. “Susah ngomong sama kamu. Cepat siapin soalnya. Aku mau main bola di lapangan,” ujar Malik. “Boleh ikut?” tanya Isha dengan senyum tak bersalah. “Tidak! Ini olahraga laki-laki!” tolak Malik tegas. “Aku, kan, nggak ikut main bola? Aku hanya nonton?” Isha kembali keras kepala. “Pokoknya tidak!” tolak Malik tegas. “Pokoknya ikut!” Isha jelas tidak mau mengalah. Apalagi dia tahu bahwa Malik akan selalu mengabulkan semua keinginannya. Jadi Isha juga yakin bahwa kali ini, malik juga tak akan menolak kemauannya. “Di sana ada Jonathan,” ujar Malik dengan spontan. Seketika Isha merengut. Jonathan adalah salah satu cowok yang mengirim surat cinta untuk Isha. Jonathan adalah anak kepala desa. Masih duduk di kelas satu SMA. Jonathan itu sebenarnya termasuk remaja yang tampan dan cukup dewasa dalam bersikap. Namun karena Isha modelnya anak yang suka keras kepala, terlebih lagi ada batasan dari ayah dan ibunya untuk tidak pacaran sampai selesai kuliah, maka dia mengabaikan Jonathan. “Oke, nggak jadi ikut!” ujar Isha dengan ketus. “Kenapa nggak jadi ikut? Bukannya hanya nonton?” tanya Malik mengejek. Isha semakin cemberut dan segera menyelesaikan tugas sekolahnya. Malik hanya tertawa melihat sikap Isha. “Eh, tapi Jonathan itu tampan, lho, Sha. Masa iya kamu nggak tertarik?” tanya Malik dengan sengaja untuk menggoda Isha. “Terserah! Aku nggak mau dengar!” sahut Isha dengan kesal. Ketika itu Malik masih bisa saja mengejek bahkan menertawakan Isha yang kadang sering mendapat surat cinta dari beberapa teman sekolahnya yang bahkan tidak Isha sukai. Tapi sepertinya, sekarang Malik tak bisa lagi melakukannya pada Isha karena dia tahu bahwa Isha sudah menginjak usia dewasa, meskipun masih tergolong remaja. Ada sisi di dalam hatinya yang tak suka bila ada laki-laki yang mendekat pada Isha, terutama laki-laki sejenis Rendra yang arogan dan paling nekat di sekolahan itu. Dan itu sedikit meresahkan hati Malik. *** Sejak peristiwa di kantin itu, Rendra memang tidak mendekati Isha secara terang-terangan sebagaimana ketika itu. Malik merasa sedikit lega karena itu artinya Rendra tidak benar-benar mengejar Isha. Karena tentu saja hal itu akan sedikit merepotkan ketika dia harus berurusan dengan Rendra. Bukan karena Malik takut berurusan dengan Rendra yang anak pemilik sekolah ini, akan tetapi dia lebih menjaga reputasinya sebagai siswa teladan di sekolahan ini. Dia tak mau reputasi baiknya akan hancur karena berkelahi atau bermasalah hanya karena seorang perempuan, meski dalam hal ini Malik tidak merebutkan Isha, akan tetapi menjaga. Seperti halnya siang ini, ketika dia kembali menemui Isha yang sudah menunggunya di koridor menuju ke kantin untuk makan siang. Dan sepertinya Rosminah lumayan bandel ketika ternyata Isha masih saja membawa bekal makan siang untuk dirinya dan juga untuk Malik. Meski sebenarnya Malik segan dengan Rosminah karena hal ini, karena ini sudah berjalan hampir satu semester. Tetapi Rosminah masih saja membuatkan bekal bagi Malik. Lalu tanpa sengaja, mata Malik melihat ada Rendra dan kawan-kawannya juga ada di kantin ini. Seperti biasa, ada banyak cewek yang duduk bersama mereka. Seharusnya Malik lega karena hal ini akan membuat Rendra tidak lagi mengejar Isha, karena setidaknya Rendra sudah punya banyak teman cewek yang jauh lebih cantik dibandingkan dengan Isha yang ketus namun polos ini. Beberapa siswa lain yang memenuhi kantin ini banyak yang memperhatikan kedekatan Malik dan Isha. Sebagian paham dengan pertemanan mereka, namun tak sedikit yang mengira bahwa Malik dan Isha adalah sepasang kekasih mengingat kedekatan mereka. “Abang melamun?” tanya Isha ketika sejak beberapa menit tadi dilihatnya Malik makan sambil terdiam. “Ha? Siapa yang melamun?” elak Malik. Dilanjutkannya makan dengan bekal yang selalu Isha bawa itu. Sebenarnya Malik segan karena setiap hari Rosminah membuat bekal untuknya. Apalagi Isha selalu menunggu Malik untuk makan siang, tak peduli Malik mau atau tidak mau. Sehingga terpaksa Malik selalu datang menemui gadis itu ketika waktu istirahat tiba. “Itu Abang melamun, kok, bilang nggak, sih? Atau karena masakan ibu nggak enak?” tanya Isha menduga-duga sendiri. “Eh, mana ada masakan tante Ros nggak enak? Ini justru sedang menikmati makan siang dari calon mertua, puas?” kata Malik. “Dih! Siapa juga yang mau nikah sama Abang?” Isha mengelak dengan muka memerah karena kesal digoda oleh Malik. “Mana tahu nanti tante Rosminah punya anak cewek lagi, kan?” jawab Malik asal. “Nggak boleh!” sergah Isha dengan cepat. “Dih, orang punya anak lagi, kok, nggak boleh,” cibir Malik. “Pokoknya nggak boleh,” sungut Isha. “Aku nggak mau punya adik!” Isha menegaskan. Malik tersenyum melihatnya. Sungguh, menggoda Isha adalah hal paling menyenangkan yang membuat Malik tersenyum sendirian. “Jadi gimana sama salam Risna, Bang?” tanya Isha tiba-tiba. Malik yang kebetulan selesai makan itu mendongak menatap Isha. “Apanya yang gimana?” tanya Malik. Isha menatap kata laki-laki tampan di depannya itu. “Kok, gimana? Ya, Abang terima apa nggak salam cintanya?” tanya Isha dengan kesal karena Malik menjadi bodoh seperti itu. “Hei, anak kecil nggak boleh pacaran, tahu?” elak Malik. “Apakah itu artinya Abang rela menunggu dia tumbuh dewasa?” tanya Isha dengan setengah berbisik. “Tidak! Jangan konyol, ya?” ancam Malik. Isha tertawa terkikik geli melihat muka Malik yang salah tingkah seperti itu. Mereka tak tahu, seseorang sedang berjalan mendekati mereka dengan senyum menawan dan rencana yang tersusun matang. Dia …. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN