Beberapa menit sebelumnya ….
Rendra dan dua teman sejawatnya itu sedang duduk di kursi kantin ketika dia melihat Isha dan Malik berjalan beriringan memasuki kantin dengan membawa bekal makanan yang dibawa oleh Isha. Rendra terus mengawasi dengan matanya yang tajam itu.
“Apakah menurutmu mereka itu memang benar-benar hanya berteman?” tanya Rendra pada Heri dan Doni.
Kedua teman Rendra itu mengikuti arah pandang Rendra, kemudian sama-sama menggeleng.
“Mana ada teman yang makan berdua setiap hari?” komentar Heri.
Doni mengangguk setuju.
“Masih obsesi sama gadis itu, Ren?” tanya Doni menoleh ke arah Rendra yang masih menatap ke arah Isha dan Malik yang asyik berbincang dan membuat yang melihatnya menjadi panas dingin karena mereka terlalu manis.
Mendapat pertanyaan seperti itu Rendra tersenyum.
“Apa kamu pikir aku akan menyerah untuk mendapatkan gadis imut itu, Don? Tentu saja jawabannya tidak. Dan aku akan memulainya hari ini. Beberapa bulan menunggu rasanya sudah tak sanggup lagi aku,” ujar Rendra.
“Ren? Apa maksudmu?” tanya Heri yang ditimpali dengan anggukan oleh Doni.
Rendra tersenyum manis sekaligus sinis.
“Kalian tak perlu banyak bertanya. Siapkan ponsel kalian untuk membidik apa yang aku lakukan. Jangan sampai ada yang terlewat! Oke?” perintah Rendra.
Doni dan Heri kemudian mengangguk dan segera mengambil ponsel mahai masing-masing. Kedua orang itu tak tahu apa rencana Rendra, namun mereka yakin bahwa Rendra akan melakukan apapun agar keinginannya tercapai.
Kemudian dengan langkah mantap, Rendra berjalan menuju ke bangku dimana Malik dan Isha sedang duduk menikmati makan siang mereka.
***
“Permisi. Bolehkah saya ikut bergabung?” tanya seseorang yang tiba-tiba mendekat ke arah mereka berdua.
Isha dan Malik mendongak, menatap seseorang yang meminta izin itu. Keduanya terkejut ketika melihat bahwa yang sedang meminta dengan santun itu adalah Rendra, si biang di sekolahan ini.
Malik menghela napas berat, membujuk dirinya sendiri agar tidak terpancing dengan apapun yang dilakukan oleh Rendra. Isha yang ketus dan galak itu hanya menatap Malik dengan isyarat agar Malik tidak melayani apapun yang dikatakan oleh Rendra.
“Silahkan! Tapi maaf kalau kami tidak bisa menemani karena kami sudah selesai. Bukan begitu, Sha?” jawab Malik menatap ke arah Isha.
Isha mengangguk, sementara Rendra hanya tersenyum.
“Tidakkah kamu ingin sekali-sekali makan siang dengan kakak kelas yang lain, Sha? Apa kamu nggak bosan setiap hari harus makan siang dengan orang yang sama, yang pokok pembahasannya juga mungkin sama?” tanya Rendra tak mau menyerah.
Isha tersenyum menatap Rendra yang masih tetap berdiri menjulang di samping meja mereka. Beberapa pengunjung kantin kelihatan menatap mereka bertiga dengan harap-harap cemas. Khawatir jika percakapan mereka akan mengacu pada keributan.
“Saya bahkan selalu berteman dan sering makan sama dia sejak masih sekolah dasar kalau kak Rendra ingin tahu,” jawab Isha dengan senyum manis.
“Oh, ya?” tanya Rendra dengan ekspresi terkejut. Padahal itu bukan ekspresi yang dibuat-buat. Bagaimana mungkin ada persahabatan selama itu?
“Oh, ya. Silahkan kalau makan. Saya sama bang Malik sudah selesai makan. Yuk, Bang,” ujar Isha yang kemudian berdiri. Mengambil kotak bekalnya dan menghampiri Malik untuk mengajaknya pergi karena memang makan siang mereka sudah selesai.
Namun nasib baik sepertinya tidak sedang melingkupi Isha dan Malik.
Ketika Isha melewati Rendra untuk mendekati Malik, segerombolan perempuan centil sedang bergurau melewati mereka sehingga tanpa sengaja melewati Isha dan menyenggol gadis itu. Malik yang semula hendak berdiri tiba-tiba terduduk lagi karena Isha tersungkur menimpa dirinya, dalam posisi yang demikian intim, yakni wajah keduanya yang sangat berdekatan sehingga nyaris seperti sebuah ciuman. Meskipun pada kenyataannya bibir Malik memang menyentuh pipi Isha, tapi itu bukan sesuatu hal yang disengaja.
Keduanya terpukau tak bergerak dalam beberapa detik, tanpa menyadari apa yang terjadi. Hingga kemudian terdengar sorak sorai dan tepuk tangan siswa-siswi yang sedang ada di kantin itu bagai menyadarkan mereka, bahwa mereka sudah menjadi tontonan gratis seisi kantin siang ini. Bahkan, ada beberapa yang sengaja mengambil foto mereka yang dalam pose yang demikian seronok.
“Yeeaaayyy … ternyata bintang sekolah kita mau juga punya pacar?” salah seorang siswa nyeletuk dengan tujuan merendahkan dan mengejek.
Selain celetukan seperti itu, mereka bertepuk tangan dengan ramai.
Tak ingin terus menjadi pusat perhatian, dengan cepat, Isha bangun dari tubuh Malik yang kelihatannya juga sama shocknya dengan dirinya. Dengan muka memerah, gadis itu berlari meninggalkan kantin. Mengabaikan panggilan Malik yang terus menyeru memanggil namanya. Isha sudah terlanjur malu.
Setelah Isha hilang dari pandangannya, Malik membalikkan tubuhnya dan menatap Rendra yang ikut tersenyum melihat adegan tak sengaja itu. Kesal, Malik menatap Rendra dengan tatapan tajam.
“Aku tak pernah peduli dengan apapun yang kamu lakukan, ya, Ren. Bahkan ketika kamu mengambil Rasti dari sisiku, aku hanya diam karena kalian sama-sama tak punya hati. Tapi kali ini, aku tidak akan tinggal diam jika kamu memiliki niat buruk terhadap Isha. Sekecil apapun itu!” ucap Malik dengan geraham yang mengatup rapat tanda bahwa dia sedang menahan dirinya dengan kuat.
Mendengar kalimat itu Rendra hanya tersenyum.
“Kamu paham siapa dan bagaimana aku, kan, Mal? Aku tak akan menyerah ketika menginginkan sesuatu. Mungkin kamu harus lebih ketat mengawasi Isha, karena dia adalah targetku selanjutnya,” jawab Rendra dengan senyum sinis mengejek. Mengabaikan peringatan yang diucapkan oleh Malik tadi.
“Oh, jadi kamu sengaja melakukan hal ini untuk menghancurkan persaudaraanku dengan Isha?” tanya Malik dengan geram.
Lagi-lagi Rendra hanya tertawa.
“Persaudaraan kamu bilang? Mana ada saudara setiap hari berangkat dan pulang bersama, bahkan makan juga berdua?” tanya Rendra dengan bodoh seakan-akan dia sedang cemburu dengan apa yang dilakukan Malik dan Isha. Kemudian Rendra terkejut saat menyadari sikapnya yang terlalu terang-terangan seperti itu.
“Kalau memang aku melakukan hal tersebut, memangnya apa yang salah? Apakah hal itu mengganggumu?” tanya Malik geram.
“Tentu saja aku terganggu dengan semua itu, Mal. Kamu tahu, kan, aku suka dengan teman imutmu itu. Dan aku pasti akan mendapatkannya!” ujar Rendra dengan penuh rasa percaya diri, membuat Malik tiba-tiba merasa sangat kesal. Entah mengapa. Ada rasa tak suka ketika ada seorang laki-laki yang ingin dan berniat mendekati Isha.
“Dan aku tak akan membiarkan siapapun mendekati Isha, terlebih laki-laki seperti kamu yang sukanya mempermainkan perempuan,” ujar Malik.
Rendra tertawa.
“Mengapa kamu menilaiku seperti itu, Mal? Apa karena gadismu dulu lebih memilih bersamaku daripada bersamamu? Itu bukan kesalahanku! Itu kesalahan Rasti yang terlalu silau menatapku sehingga meninggalkan kamu dengan segala kemiskinanku!” jawab Rendra dengan senyum sinis yang merendahkan.
Darah Malik mendidih dikatakan miskin, meskipun sebenarnya Rendra jujur dengan ucapannya. Akan tetapi Rendra sama sekali tidak malu dengan kemiskinannya. Dulu, kedekatan yang dijalinnya bersama dengan Rasti memang harus berakhir ketika akhirnya perempuan itu memilih melenggang meninggalkannya hanya untuk bersama dengan Rendra.
Dan ending drama Rasti sudah tentu bisa ditebak karena akhirnya Rendra memang benar-benar meninggalkannya karena bosan dengan Rasti, sebagaimana yang Rendra lakukan pada gadis-gadisnya terdahulu. Tetapi kali ini, Malik tidak akan membiarkan Rendra melakukannya lagi terhadap Isha. Karena Malik tidak akan pernah sanggup melihat Isha menangis jika suatu saat Rendra sudah membuangnya, seperti yang terjadi pada Rasti.
“Dan lelaki miskin ini yang akan menghalangimu mendapatkan Isha!” tekad Malik.
“Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan?” kata Rendra dengan tenang dan menyebalkan.
Malik mendengus kesal dengan muka memerah karena menahan amarah. Tak ingin terus menjadi pusat perhatian, Malik bergegas meninggalkan Rendra yang kemudian mengubah ekspresi wajahnya dari tersenyum tenang menjadi geram setelah melihat perlawanan Malik.
***