Meninggalkan kantin dengan hati dongkol, sebenarnya Malik ingin pergi ke kelas Isha untuk memberinya penghiburan. Akan tetapi terkendala karena bel yang ternyata sudah berbunyi sehingga Malik mengurungkan niatnya mencari Isha ke kelasnya. Malik sadar, bahwa peristiwa di kantin tadi sangat memalukan bagi Isha, meskipun bukan sebuah kesengajaan dan bukan pula kesalahan Malik.
Akan tetapi bukankah Isha selalu tak bisa mengalah dan memaklumi? Malik khawatir Isha akan menyalahkan dirinya yang menempelkan bibirnya pada pipi Isha. Tanpa sadar Malik meraba bibirnya yang berkedut ringan.
Entah mengapa senyumnya muncul seiring dengan jantungnya yang menggelepar ketika ingat peristiwa tadi. Apakah dia bahagia dengan kecelakaan tadi?
“Mengapa tersenyum sendiri? Senang, ya, habis mencium cewek di kantin?” tanya Andi yang bertanya dengan suara rendah.
Spontan Malik menoleh, menatap Andi dan menyadari bahwa ternyata dia sudah ada di kelas. Gila. Bagaimana mungkin dia melangkah tanpa menyadari bahwa dia sudah ada di dalam kelas?
“Eh? Mencium apaan?” tanya Malik mengerutkan keningnya.
Dengan cepat Andi mengambil ponselnya kemudian memperlihatkan berita dan gambar viral kejadian di kantin tadi yang ternyata sudah menyebar di beberapa group chat antar siswa di sekolah ini.
Malik merebut ponsel Andi dan melihat berita-berita itu dengan jantung berdebar. Dan entah siapa yang mengambil foto, beberapa foto memang mengindikasi bahwa dia sudah mencium Isha.
“Siapa yang menyebarkan ini, Ndi? Ini tidak benar!” ujar Malik.
Beberapa teman sekelas mereka spontan menatap Malik dan Andi, membuat Malik menjadi salah tingkah sendiri karena tatapan mereka seperti menghakimi dan membenarkan bahwa mereka sudah berciuman. Padahal tidak seperti itu kejadiannya.
“Eh, Mal? Jadi benar kamu sudah mencium cewekmu, Mal?” salah seorang teman di kelas Malik nekat bertanya, sementara lainnya ikutan penasaran.
“Maaf, bukan seperti itu kejadiannya. Itu … itu hanya kecelakaan, bukan unsur kesengajaan. Dan dia itu bukan pacarku. Dia temanku sejak kecil, jadi sudah seperti adik.” Malik mencoba memberi penjelasan sebelum seisi kelas menghujatnya.
“Ooo … kirain dia pacarmu,” ujar teman yang lain.
Kemudian suara-suara riuh rendah terus terdengar, dan baru terdiam ketika Bayu si ketua OSIS muncul di pintu ruang kelas Malik. Spontan, seisi kelas memusatkan perhatiannya pada gadis cantik berkacamata itu.
“Selamat siang, maaf mengganggu kakak-kakak semua. Saya di sini hanya ingin menyampaikan pesan bahwa kak Malik diminta datang ke ruang konseling.” Bayu berkata santun.
Spontan Malik saling berpandangan dengan Andi. Jantung Malik berdebar.
“Sekarang, Bay?” tanya Malik yang sudah mengenal Bayu dengan baik, karena sebelum Bayu menjabat ketua OSIS, Malik sudah menjabat sebelumnya.
Bayu mengangguk sambil menatap Malik dengan sorot mata penuh rasa kecewa, entah mengapa. Tapi sepertinya Malik tidak mengetahuinya. Dia hanya menoleh menatap Andi.
“Apa mungkin gara-gara foto tadi, Ndi?” tanya Malik lirih.
“Sepertinya begitu. Nggak usah takutlah kalau memang itu bukan kesengajaan,” kata Andi yang dijawab dengan anggukan oleh Malik.
“Oke. Aku ke konseling dulu,” ujar Malik yang kemudian melangkah keluar mengikuti langkah Bayu.
“Kamu tahu masalah apa yang membuatku harus menghadap ruang konseling, Bay?” tanya Malik saat langkahnya sudah sejajar dengan langkah Bayu.
Gadis cantik itu membetulkan letak kacamatanya sebelum akhirnya menatap Malik.
“Mungkin karena peristiwa menghebohkan yang terjadi di kantin tadi,” jawab Bayu dengan dingin, tanpa senyum.
“Apakah … kamu juga diutus untuk memanggil Isha agar dia datang ke ruang konseling?” tanya Malik sambil menatap Bayu penuh rasa khawatir.
Sungguh, dia tak mau Isha jadi jatuh mental dengan peristiwa ini. Diam-diam dia mengutuk para cewek centil yang berlarian dan menyebabkan Isha terjatuh ke dalam pelukannya tadi.
“Ya.” Bayu menjawab singkat.
Malik terdiam, seolah terpukul dan tak tahu harus bagaimana memperbaiki kecelakaan tadi. Berbagai pertanyaan ‘bagaimana jika’ berhamburan di kepala Malik.
“Tunggu, Kak,” cegah Bayu ketika mereka tiba di depan ruang konseling dan Malik sudah mau melangkah masuk.
Mendengar Bayu mencegahnya, Malik menghentikan langkahnya dan menatap Bayu.
“Ada apa, Bay?” tanya Malik pelan.
Bayu salah tingkah dengan muka memerah. Tapi dia tak mau memendam semuanya. Sudah cukup dia memendam perasaannya.
“Apakah benar Kakak menjalin hubungan dengan … dengan Isha?” tanya Bayu pelan kemudian melempar tatapan matanya ke arah lain.
Mendengar pertanyaan seperti ini, yang jelas ini bukan pertama kalinya Malik mendengar kecurigaan bahwa dia dan Isha memiliki hubungan, Malik kembali tersenyum meskipun jantungnya berdegup kencang luar biasa.
“Mengapa semua orang menyimpulkan seperti itu?” Malik balik bertanya seolah pada dirinya sendiri.
Mendengar hal ini Bayu menoleh ke arah Malik dan menatapnya.
“Apakah kenyataannya tidak seperti itu?” tanya Bayu penuh harap.
“Dia itu sudah aku anggap sebagai adikku, Bay. Mana mungkin kami pacaran?” tanya Malik dengan suara tertahan.
Bayu tersenyum dan mengangguk. Entah mengapa ada kelegaan luar biasa di hatinya.
“Aku percaya sama Kak Malik. Mudah-mudahan kesalahpahaman ini akan cepat selesai. Aku menunggu kabar Kakak,” ujar Bayu dengan senyum manis.
“Terima kasih, Bay,” ujar Malik dengan senyum canggung.
Bayu mengangguk kemudian meninggalkan Malik dengan langkah yang ringan. Setidaknya Bayu sudah mendengar pengakuan dari Malik. Jujur tidaknya akan Bayu lihat ke depannya bagaimana hubungan Malik dan Isha.
Setelah Bayu hilang di belokan sisi kantor sekolahan ini, Malik melangkah masuk ke dalam ruang konseling. Dia mengetuk pintu dan melihat bahwa di sana sudah ada Isha yang duduk menunduk, sementara pak Bambang —guru konseling mereka— duduk di kursinya.
“Permisi, Pak,” sapa Malik dengan sopan.
“Silahkan masuk, Mal.” Pak Bambang mempersilahkan Malik.
Laki-laki itu kemudian memilih duduk di kursi yang ada di samping Isha. Sekilas Malik melihat Isha yang menunduk malu dan murung. Sepertinya dia juga sedang sedih, wajahnya terlihat sedikit sembab seperti selesai menangis.
“Baiklah. Karena kalian berdua sudah ada di sini, kita mulai konseling kali ini.” Pak Bambang memulai pembicaraan.
Malik mengangguk namun tidak dengan Isha. Gadis itu hanya terdiam.
“Malik, Isha, beberapa saat tadi Bapak menerima foto kejadian di kantin. Dan Bapak rasa kalian sudah paham dengan maksud Bapak mengundang kalian ke sini,” ujar pak Bambang dengan sabar.
Isha dan Malik hanya mendengar.
“Bapak tahu kalian remaja dan mulai menuju dewasa. Tapi kalau pacaran itu sebaiknya melihat situasi. Ini sekolah, bukan ajang mesra sampai-sampai menyebar di group chat beberapa siswa,” lanjut pak Bambang.
“Pacaran?” Malik dan Isha menoleh dan saling berpandangan. “Kami nggak pacaran, Pak!” ujar mereka kembali berbarengan.
Pak Bambang tersenyum.
“Kalian ini benar-benar pasangan yang kompak, ya? Jawaban saja bisa begitu kompak,” ujar pak Bambang sambil tersenyum geli.
“Pak, Isha ini teman saya dari kecil. Kami tetanggaan juga. Dia itu sudah seperti adik buat saya, Pak. Mana mungkin saya pacaran sama adik saya?” Malik ngotot mengelak.
“Siapa yang percaya, Mal? Foto mesra kalian sudah terlanjur beredar di ponsel teman-teman kalian. Bahkan ciuman itu juga sudah menyebar,” ujar pak Bambang berubah serius.
“Tapi, Pak. Itu … itu bukan ciuman. Itu kecelakaan karena mereka menyenggol saya, membuat saya terjatuh,” ujar Isha dengan tegas dan keras karena dia merasa tidak bersalah.
“Nah, Isha benar, Pak. Itu nggak sengaja,” ujar Malik menegaskan pembelaan Isha.
“Sengaja atau tidak, tak banyak yang mengerti dan mau mengerti. Tetapi saya sarankan jika kalian memang menjalin hubungan, setidaknya jangan terlalu mengumbar kemesraan di sekolah. Ini lembaga pendidikan, bukan arena untuk mengumbar kemesraan,” tegas pak Bambang dengan ekspresi serius.
“Tapi kami bukan pacar, Pak.” Isha kembali ngotot.
“Sudahlah. Ini aku melunak karena aku mengenal kamu dengan baik, Mal. Konseling ini hanya untuk memenuhi prosedur dan menutup kasus ini. Hanya saja perlu aku ingatkan, bahwa wewenang aku di sini memiliki batasan. Aku tak bisa menolong kamu lagi jika nanti terjadi hal yang sama di waktu mendatang. Atau aku tidak akan bisa mencegah jika masalah ini sampai ke telinga kepala sekolah,” ujar pak Bambang menutup konseling siang ini.
Malik dan Isha memilih diam, karena gotot pun tak ada gunanya. Keduanya kemudian keluar dari ruang konseling dengan wajah Isha yang murung. Gadis itu bergegas mendahului Malik.
“Sha!” panggil Malik ketika Isha mengabaikan dirinya.
Isha berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap Malik.
“Nanti pulang sekolah, tak usah menjemput aku di kelas. Aku nggak mau pulang sama Abang,” ujar Isha tanpa senyum.
***