TAK MAU BERTEMU

1283 Kata
Malik terhenyak mendengar permintaan yang Isha ucapkan dengan wajah marah itu. Tentu saja dia tak bisa kalau tidak membawa Isha pulang bersamanya. Dengan siapa dia pulang nanti? Bagaimana kalau terjadi apa-apa di jalan? Bagaimana kalau nanti tante Rosminah bertanya? “Tidak!” tolak Malik dengan menggeleng tegas. Isha mengerutkan keningnya. “Tidak? Mengapa harus tidak?” tanya Isha marah. “Memangnya kamu mau pulang sama siapa?” Malik sedikit kesal dengan sifat keras kepala Isha yang mulai muncul kembali. “Aku banyak teman. Aku bisa minta antar mereka,” jawab Isha kesal. “Bagaimana kalau ada apa-apa di jalan? Bagaimana kalau nanti tante Ros bertanya mengapa tidak pulang sama aku?” tanya Malik khawatir. “Aku yang akan menjelaskannya sama ibu. Tapi mulai nanti, dan seterusnya, Abang nggak usah antar jemput aku lagi. Kecuali Abang sengaja ingin mempermalukan aku di depan semua siswa sekolah ini!” tegas Isha. “Tapi kamu tahu itu juga bukan sebuah kesengajaan, kan? Lagian juga bukan aku yang bergerak, kan? Kamu yang menimpa aku mengapa seolah-olah ini kesalahanku?” Malik lepas kendali karena kalimat Isha menyiratkan seolah-olah kejadian di kantin itu adalah kesalahannya. Mendengar kalimat itu, Isha menatap Malik dengan pandangan terluka. Air mata mulai merebak di matanya, membuat Malik bingung dan merasa bersalah telah mengatakan hal itu. Tapi sungguh, dalam hal ini dia juga bukan pihak yang diuntungkan. “Kamu jahat! Kamu nggak memikirkan bagaimana malunya aku ditertawakan teman satu sekolahan, teman satu kelas! Aku benci sama kamu! Mulai saat ini, kita nggak usah berteman lagi! Nggak usah antar jemput lagi!” tegas Isha kemudian bergegas meninggalkan Malik yang shock dengan ucapan Isha itu. Malik menyadari bahwa Isha sudah menjauh ketika bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Malik ingin mengejarnya, namun dia tahu bahwa ini hanya akan membuat mereka menjadi tontonan gratis. Maka dengan langkah lesu dia kembali ke kelasnya. Selama jam pelajaran terakhir Malik terlihat gelisah. Penjelasan yang diberikan oleh guru sama sekali tak ada yang singgah di kepalanya. Bahkan beberapa kali bu Anis menegur Malik karena laki-laki itu terlihat melamun dan tidak konsentrasi. Yang membuat Malik semakin gelisah adalah ketika bu Anis tak juga mengakhiri pelajarannya padahal waktu sudah lewat sepuluh menit dari yang seharusnya. Sementara dia sudah berencana untuk tetap mengantar Isha pulang dan membicarakan kasus hari ini dengan kepala dingin. Langkah pertama yang Malik ambil ketika bu Anis akhirnya mengakhiri pelajaran hari ini adalah menyambar tasnya dan bergegas menuju ke kelas Isha dengan langkah lebar setengah berlari. Namun usahanya mengalami kesia-siaan karena ketika Malik sampai di kelas Isha, ruang itu sudah kosong. Tak seorangpun yang masih ada di sana. Malik celingukan mencari keberadaan Isha dan berharap bahwa gadis itu bercanda dengan ucapannya tadi dan menunggunya untuk pulang bersama. Tapi setelah Malik berlari ke arah parkiran yang mulai lengang, dia tak menemukan Isha. Malik mengedarkan pandangannya dengan panik. Kemudian dia melihat seorang siswi yang beberapa waktu lalu diperkenalkan oleh Isha. “Risna!” Malik memanggil gadis itu. Teman Isha itu menoleh dan tersenyum menatap Malik. “Ya, Kak?” sahut Risna yang berjalan mendekat. “Maaf, apakah kamu tahu dimana Isha?” tanya Malik dengan wajah panik dan napas yang memburu. “Satu jam terakhir tadi dia izin pulang karena sakit. Jadi dia diantar sama pak sopir sekolah,” jawab Risna. “Dia sakit? Bukannya tadi masih baik-baik saja?” tanya Malik tak percaya dengan keterangan Risna. Risna hanya menggeleng dan tersenyum. “Mungkin dia shock karena seisi kelas tadi menatapnya dengan pandangan yang tak enak gitulah,” ujar Risna dengan senyum masam. Malik berdecak. “Padahal dia tahu bahwa itu bukan sebuah kesengajaan. Mengapa harus dibuat pusing, sih?” gerutu Malik menyesalkan sikap Isha yang terlalu peduli dengan gosip siswa-siswi sekolah ini. “Namanya juga perempuan, Kak. Ini juga termasuk kasus baru, kan? Jadi, ya, wajar kalau jadi hangat dan diperbincangkan,” ujar Risna. “Ya, Dia juga anaknya sensitif, kan? Baiklah, Ris. Terima kasih, ya?” ujar Malik. “Sama-sama, Kak,” jawab Risna dengan senyum manis yang nyaris masam. Matanya menatap punggung Malik yang meninggalkannya dengan langkah lesu. Sekolah ini mulai sepi ketika Malik mulai berkendara meninggalkan area parkir. Pikirannya hanya satu, datang ke rumah Isha dan meminta maaf jika masalah ini membuatnya tak nyaman. Malik tidak akan tenang sebelum semuanya selesai dengan baik. *** Sementara itu di rumah Isha, Rosminah yang sedang menyiapkan makan siang terkejut ketika mendengar suara mobil yang bukan mobil suaminya itu memasuki halaman rumahnya. Sebagai orang tua ada terlintas sebuah pikiran buruk. Maka dia bergegas menuju ke depan untuk melihat siapa yang datang. “Isha? Ada apa ini, Sha?” tanya Ros dengan panik ketika melihat Isha pulang dengan diantar seseorang dengan mobil. “Isha pusing, Bu,” jawab Isha dengan lesu. “Maaf, Bu. Saya pak Bon, sopir sekolah anak Ibu. Tadi dia merasa pusing, jadi saya berkewajiban mengantar,” seorang laki-laki setengah tua yang mengantar Isha itu memberikan keterangan. “Oh, baik, Pak. Terima kasih sudah mengantar anak saya, Pak,” ujar Rosminah dengan ramah. “Sama-sama, Bu,” sahut pak Bon kemudian masuk kembali ke mobil dan meninggalkan halaman rumah pak Ridwan. Setelah pak Bon pergi, Isha melangkah lesu menuju ke kamarnya, sementara Rosminah mengikuti langkahnya dengan langkah bergegas. “Kamu sakit, Sha? Tadi pagi bukannya masih sehat?” tanya Rosminah ketika mengikuti Isha masuk ke kamar anak gadisnya itu. “Tiba-tiba pusing, Bu,” kata Isha yang kemudian meletakkan tas di kursi dan berhenti dengan pakaian santai. Gadis itu kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur. Rosminah mendekat dengan duduk di sisi ranjang. Dirabanya kening Isha. “Tapi nggak terlalu panas?” tanya Rosminah. “Tapi Isha pusing, Bu,” elak gadis itu. Rosminah tersenyum. “Baiklah. Mau Ibu buatkan teh hangat?” tawar Rosminah. Isha menggeleng. “Ya, sudah. Ibu ke dapur dulu membantu bibi menyiapkan makan siang untuk bapakmu,” ujar Rosminah kemudian beranjak keluar dari kamar Isha. “Bu …” panggil Isha ketika Rosminah sudah mencapai pintu. “Ya?” perempuan itu menoleh ke arah Isha. “Nanti … nanti kalau bang Malik datang, bilang saja Isha sakit. Isha nggak mau ketemu sama dia,” ujar Isha dengan merajuk. Rosminah tersenyum. Kecurigaannya benar. Dia pulang bukan karena sakit, melainkan karena ada masalah. Tapi mengapa kali ini tak mau bertemu dengan Malik? Apakah mereka bertengkar? Bukannya biasanya Malik paling pandai menangani Isha? Merasa tak nyaman, Rosminah mengurungkan niatnya untuk keluar. Dia masuk kembali ke kamar Isha dan kembali duduk di sisi ranjang. “Apa kamu ada masalah sama Malik, kok, sampai nggak mau ketemu dia?” tanya Rosminah dengan suara pelan. Isha terdiam, tak ingin menjawab. “Isha?” panggil Rosminah dengan sabar. “Pokoknya Isha nggak mau lagi ketemu sama dia. Mulai besok juga Isha nggak mau sekolah bareng sama dia. Isha mau naik sepeda motor sendiri ke sekolah,” kata Isha dengan wajah bersungut-sungut kesal dengan peristiwa tadi. “Ada apa ini sebenarnya, Sha? Bapakmu nggak akan kasih izin kamu ke sekolah naik sepeda motor sendiri,” ujar Rosminah. “Pokoknya Isha nggak mau bareng sama dia lagi. Titik!” tegas Isha. “Baiklah, biar besok bapakmu yang antar jemput ke sekolah. Atau kalau perlu kita langganan gojek,” jawab Rosminah mengambil keputusan. Isha mengangguk. “Tapi bapakmu pasti bertanya mengapa. Lalu jawaban apa yang harus ibu berikan?” tanya Rosminah menatap Isha yang masih cemberut. Isha terdiam, tak memiliki jawaban. Hingga kemudian terdengar suara sepeda motor yang berhenti di depan rumah mereka. Dan baik Rosminah maupun Isha hapal itu sepeda motor siap. Kemudian tanpa sengaja, keduanya saling pandang. “Malik?” tanya Rosminah. Isha mengangguk. “Tak mungkin Ibu tidak keluar menemui Malik, kan? Jadi Ibu harus bilang apa?” tanya Rosminah. “Terserah Ibu harus bilang apa, yang pasti Isha nggak mau bertemu,” pungkas Isha. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN