GADIS DI RUANG MAKAN

1251 Kata
Bugh!! Rendra yang mengepalkan tangannya memukul Malik tepat di hidungnya, membuat Malik tersungkur dengan mata yang berkunang-kunang dan rasa pengar di hidungnya. Malik bangkit dan meraba hidungnya yang terasa basah. Jeritan pengunjung lain membuat malik sadar bahwa dia sudah berdarah, sementara di depannya, Rendra tersenyum sinis menatapnya. Malik mengusap darah yang mengalir di hidungnya dengan punggung tangannya. Para pengunjung kantin ribut hendak melerai. Para gadis yang kebetulan sedang berada di tempat itu terlihat gemuruh dan menjerit ngeri. Belum lagi ada yang melerai, Malik yang sejak tadi sudah geram dan mengepalkan tangannya, kini tiba-tiba dia maju dan membalas Rendra dengan pukulan yang sama bahkan sepertinya lebih keras dari pukulan yang diberikannya pada Malik. “Hei! Apa-apaan ini?” gertak Heri dan Doni melotot pada Malik. Malik hanya tersenyum masam. “Kalian yang lebih tahu, seharusnya tak tanya sama aku!” jawab Malik yang kali ini terlihat sangat galak. Padahal seumur-umur Malik tak pernah menunjukkan perangai yang demikian liar seperti kali ini. Namun kini tersulut hanya karena Rendra ingin mendekati Isha dengan memaksa. Rendra mengaduh dan tersungkur. Malik menghambur kemudian memberikan dua pukulan lagi yang membuat Rendra benar-benar berlumuran darah. Hingga kemudian datang beberapa guru yang melerai mereka. Sekolah kembali gempar dengan peristiwa di kantin kali ini. Dengan orang-orang yang sama. Malik, Rendra, dengan penyebabnya tetap Isha. Untung saja perkelahian itu segera berakhir karena ada tukang kebun dan guru yang melerai mereka. Cerita baru akan tercipta kembali dari kantin dan pelaku yang sama. *** “Kuantar kamu pulang?” tanya Andi ketika melihat Malik keluar dari ruang konseling dengan muka bengkak akibat pukulan Rendra. Darah yang mengalir tadi sudah dibersihkan oleh perawat yang bertugas di UKS. Di belakang Malik ada Bayu yang terus mengawal Malik sejak dia dan Rendra dipanggil untuk menghadap ke ruang konseling. Bayu tentu berpihak pada Malik karena dia berada di sana pada saat kejadian. “Aku bisa pulang sendiri,” jawab Malik sambil meringis karena merasakan wajahnya yang bengkak. Andi menoleh, menatap Bayu yang mengangguk seolah menyuruh Andi agar tetap mengantar Malik pulang lebih awal kali ini. “Tapi kak Malik seperti ini. Emosinya juga belum stabil, kan?” ujar Bayu menengahi. “Terima kasih atas simpati kalian. Tapi aku baik-baik saja, Bay. Aku bisa pulang sendiri, oke?” ujar Malik lagi, menatap Bayu dengan permintaan maaf. “Mal, kurasa Bayu benar. Kami tahu kamu baik-baik saja secara fisik. Tapi mental kamu sedang tidak baik-baik saja. Jadi maaf, aku dan Bayu tetap akan mengantarmu pulang atau kemana saja kamu ingin pergi,” ujar Andi dengan keras kepala. Malik menghela napas panjang, tak punya pilihan lain selain setuju. *** Danau yang mirip dengan empang yang dibangun sebagai sarana memancing oleh pemerintah setempat ini tampak asri. Beberapa saung yang sengaja dibuat untuk tempat istirahat siang ini terlihat sedikit sunyi. Semilir angin yang bertiup menerpa ketiga remaja yang sedang duduk di salah satu saungnya itu. Mereka adalah Malik, Bayu, dan Andi. Andi sebagai salah satu teman dekat Malik yang tahu seluruh kehidupan dan masalah Malik. Mereka berteman tidak hanya ketika kelas tiga saja, karena kebetulan mereka selalu satu kelas sejak kelas satu. “Bagaimana kalau nanti ayah atau ibumu tanya mengapa mukamu berubah jadi jelek begitu?” tanya Andi sengaja dengan tujuan mengejek. Bayu hanya tersenyum mendengar keakraban kedua orang itu. “Bilang saja habis berkelahi,” jawab Malik dengan santai. “Kamu sudah gila, Mal? Kalau mereka tanya mengapa berkelahi?” tanya Andi lagi. “Ya, bilang karena Rendra gangguin Isha.” Malik menjawab masih dengan santai. Andi tersenyum masam. “Orang kalau sudah bucin parah, ya, begini hasilnya,” ejek Andi lagi. “Pakai masker saja biar nggak kelihatan. Bilang saja lagi pilek dan menghindari terkena pandemi,” usul Bayu dengan pelan. “Nah! Bagus juga ini usulan Bayu,” ujar Andi menimpali usul Bayu. Sejenak Malik termenung memikirkan apa yang tadi dilakukannya di kantin. Dia tak habis pikir mengapa sampai begitu kalap melihat Rendra mendekati Isha dengan cara yang sedikit memaksa. “Mal, kalau aku boleh kasih saran, sebaiknya berhentilah peduli dengan apapun yang akan dilakukan dan terjadi pada Isha. Belum tentu dia peduli dengan kamu, kan?” ujar Andi menasehati agar Malik benar-benar menjauh. “Tapi dia teman kecilku, Ndi. Mana mungkin aku membiarkan dia celaka?” tanya Malik mencari pembenaran. Mendengar hal ini, Andi tertawa. “Kamu yang sepertinya harus mengubah mindset kamu, Mal.” Andi kembali berceloteh sementara Bayu hanya menjadi pendengar saja. Malik menatap Andi dan bertanya, “Mind set apaan yang yang kuubah?” “Mindset kamu yang memandang bahwa Isha adalah teman kecilmu, karena itu sudah sepenuhnya salah. Isha bukan teman kecilmu lagi. Dia sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menawan. Dia sudah mulai remaja, bahkan mulai dewasa. Isha yang dalam pikiranku selalu membutuhkanmu sebagai penjaganya itu sekarang sudah tidak ada. Yang ada sekarang adalah Isha yang remaja, yang memiliki dunianya sendiri, dunia remaja, yang bahkan mulai menjadi incaran kumbang-kumbang sekolah kita,” urai Andi panjang lebar. “Apakah kamu akan mengatakan bahwa kamu juga ada di antara barisan kumbang itu?” tanya Malik dengan datar. Andi tertawa. “Apa salahnya?” tanya Andi dengan senyum tertahan karena dia tahu bahwa Malik masih juga belum ikhlas melepas Isha untuk melangkah ke dunianya itu. Mungkin kedekatan mereka telah mengubah rasa sayang Malik sebagai kakak menjadi rasa sayang laki-laki pada perempuan. Hal ini yang mungkin membuat Malik uring-uringan ketika ada yang mendekati Isha apapun alasannya. “Bilang saja kamu naksir Isha,” ujar Malik datar. “Kamu juga bilang aja cemburu sama Isha,” jawab Andi dengan tawa. Melihat kedua sahabat ini, Bayu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. Apa hal yang telah membuat kedua lelaki ini membahas Isha tanpa henti? Baiklah, Bayu mengakui bahwa Isha itu memang cantik. Namun biasanya lelaki tidak hanya memilih cantik, melainkan juga cerdas. Untuk kedua kriteria ini seharusnya Bayu memiliki prioritas untuk mendekati Malik. Akan tetapi ternyata tidak selalu demikian kenyataannya. Karena nyatanya kedua lelaki ini membahas Isha tanpa henti, meskipun Isha tidak terlalu menonjol di bidang akademis. Setelah pembahasan yang belum menemui titik temu itu, mereka bertiga akhirnya pulang. Namun Bayu masih saja berpesan sebelum mereka berpisah di simpang menuju ke area rumah masing-masing. “Mungkin saran kak Andi ada benarnya. Sudah saatnya kak Malik membiarkan Isha dengan dunianya. Dia sudah besar sekarang. Tidak butuh kak Malik lagi untuk menjaganya. Saya tahu ini bukan hal yang mudah untuk kak Malik jalani, tapi saya rasa tak ada salahnya jika kak Malik mencoba, kan?” ujar Bayu. Malik menunduk bimbang. “Tidak mudah melepas pertemanan kami yang terjalin sejak kami masih sama-sama kecil, Bay. Tapi aku akan mencoba saran kalian. Mungkin ini yang terbaik. Hanya saja mungkin karena aku belum berani mencoba. Tapi, ya. Aku akan mencoba melepasnya menjadi dirinya sendiri,” jawab Malik sambil tersenyum. Bayu mengangguk dengan senyum manis. “Oke, selamat mencoba,” ujar Bayu kemudian melajukan sepeda motornya meninggalkan Malik yang masih terdiam belum beranjak. Beberapa saat termenung, Malik lantas mengenakan masker yang ada di tas sekolahnya kemudian pulang. Dia tak ingin ibunya melihat lebam di wajahnya akibat pukulan Rendra tadi. Namun ketika sampai di rumah, Malik terkejut mendapati ada sebuah sepeda motor di depan rumahnya. Dia yakin bahwa itu bukan sepeda motor ayahnya karena ini masih baru. Malik turun dari sepeda motornya dan masuk ke dalam. Namun dia lebih terkejut lagi ketika dia masuk menemui ibunya yang sedang ada di ruang makan rumahnya, dia juga melihat ada seorang gadis yang duduk dengan canggung, sedang makan bersama ibunya. Dan tanpa melihat wajahnya saja Malik sudah tahu siapa gadis itu. Deg! Jantung Malik menggelepar seketika. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN