BENTROKAN KEDUA

1321 Kata
Semenjak datang ke kantin pada jam istirahat ini, Isha dan Risna duduk makan siang bersama. Namun setiap kali berbincang, Isha melihat Risna tidak memberikan respon yang cepat. Gadis di depannya itu seperti melamun dan banyak pikiran. Bahkan beberapa kali Isha memergoki Risna menatap ke arah belakang mereka duduk dengan pandangan terluka. “Ris? Kayaknya sejak tadi kamu risau?” tanya Isha. Risna yang terkejut karena tak menyangka akan diperhatikan sedemikian intens oleh Isha jadi menggeleng dengan senyum sedikit gugup. “Tak ada,” jawab Risna berbohong. Lalu Isha menoleh ke belakang, ke arah Risna menatap berkali-kali tadi. Dan entah mengapa hati Isha sedikit berdesir ketika di sana dia melihat Malik dan Bayu yang sedang makan bersama. Isha juga melihat mereka berbincang dengan akrab, bahkan keduanya tertawa riang. Terlihat sangat dekat. Seketika Isha kembali mengalihkan pandangannya dengan raut wajah tak sedap. Jantungnya berdebar tiba-tiba, bahkan wajahnya memerah. ‘Dasar laki-laki m***m!’ gerutu Isha dalam hati. “Jadi sejak tadi aku ngajak kamu bicara tapi nggak nyambung itu hanya karena kamu lihat dia berduaan sama Bayu?” tanya Isha dengan suara tertahan namun terdengar geram. Risna tersenyum masam. “Aku hanya membayangkan, seandainya aku secantik dan sepintar Bayu, mungkin aku akan memiliki kesempatan yang sama untuk duduk berdua dengan kak Malik,” jawab Risna dengan santai. “Apa, sih, hebatnya dia selain laki-laki m***m begitu, Ris? Sampai segitunya kamu naksir sama dia?” tanya Isha dengan raut yang kesal karena ternyata masih saja ada gadis di sekolah ini yang begitu tergila-gila dengan Malik. “Rasa bencimu sudah menutup hatimu untuk mengakui kelebihan kak Malik. Dan pola pikir kamu tentu tidak sama dengan pola pikir gadis-gadis di sekolah ini. Mereka melihat kak Malik memang pantas untuk dijadikan idola. Karena nyatanya gadis-gadis ini bahkan membuat group chat penggemar kak Malik,” Risna mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. “Apakah kamu masuk ke dalam grup itu?” tanya Isha. Risna tertawa dan mengangguk, membuat Isha mencibir kesal. “Tentu saja aku masuk group. Toh di sana ada juga kak Malik, kan? Kapan lagi berada dalam satu frame group sama cowok beken? Sebentar lagi juga dia angkat kaki dari sekolah kita karena lulus, kan? Entah kapan sekolah ini punya siswa dengan banyak kelebihan seperti dia,” ujar Risna. Sinar matanya jelas menunjukkan kekaguman yang tak disembunyikan, begitu jelas terlihat. “Kelebihan? Apa hanya aku di sekolah ini yang tidak melihat kelebihannya selain dia yang pandai memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan untuk tenar dari kecelakaan yang katanya tidak disengaja itu?” gerutu Isha. “Sepertinya hanya kamu yang berseberangan dengan pola pikir gadis-gadis di sekolah ini,” jawab Risna santai. Isha berdecak kesal. “Kamu tahu apa reaksi kak Malik ketika anggota grup menanyakan perihal kasus kalian dulu itu?” tanya Risna. Isha menatap Risna. “Jadi masalah itu juga kalian bawa ke pembicaraan group?” tanya Isha kesal dengan mata terbelalak kaget. “Namanya juga mereka penasaran bagaimana kejadian sebenarnya, Sha. Bahkan salah satu dari mereka meminta rekaman CCTV di kantin ketika itu,” ujar Risna semakin mengejutkan. “Lalu apa konfirmasi idola kalian itu?” tanya Isha sedikit penasaran. “Eh, bukannya kamu sudah tak peduli lagi? Untuk apa tanya?” tanya Risna. Isha berdecak. “Aku hanya ingin tahu sejauh mana dia mengelak untuk membenarkan sikapnya,” ujar Isha ketus. Risna kemudian mengambil ponselnya dan membuka grup chat yang isinya penggemar Malik. Risna sengaja mencari video dimana Malik melakukan konfirmasi karena sebagian dari para gadis itu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah menemukan video itu, Risna kemudian memberikan ponselnya pada Isha agar gadis itu melihatnya. Yang pertama kali Isha lihat adalah Malik yang menurutnya sok tenar dengan memberikan konfirmasi bahwa peristiwa di kantin itu hanya kecelakaan biasa. “Terima kasih atas simpati teman-teman semua. Jadi disini saya akan menjelaskan sebagaimana yang ada di rekaman CCTV bahwa itu bukan kesengajaan. Saya juga sudah minta maaf pada yang bersangkutan, pada Isha. Jadi dia memang teman saya dari kecil, tidak ada hubungan apa-apa selain sebagai teman dan saudara. Mohon maaf jika sudah membuat sedikit keributan. Terima kasih.” Hanya seperti itu konfirmasi yang Isha lihat. Dia kemudian segera mengembalikan ponsel itu pada Risna dengan wajah cemberut. ‘Dia bilang tidak ada hubungan apa-apa? Lha kemarin ngapain dia bilang suka? Emangnya siapa juga yang mau pacaran sama dia?’ gerutu Isha dalam hati. “Cuman konfirmasi gitu doang sudah bikin kalian klepek-klepek?Coba sebutkan apa yang membuat kalian tergila-gila dengan Malik? Kalian yang terlalu dibutakan oleh cinta apa aku yang memang buta karena tak melihatnya?” tanya Isha semakin kesal. “Seharusnya aku tidak perlu menyebutkan apa kelebihan kak Malik karena kamu jelas lebih mengenalnya dari pada kami, kan? Siapa yang tidak tahu bagaimana bagusnya prestasi Malik? Siapa juga yang tidak melihat bahwa Malik itu tampan?” tanya Risna penuh rasa bangga ketika menyebutkan kelebihan Malik. Isha mencibir. “Kalian terlalu dibutakan oleh cinta,” ejek Isha. Risna tersenyum. “Dan kamu dibutakan oleh kebencian yang tanpa alasan,” balas Risna dengan senyum, membuat Isha melotot semakin kesal karena semua orang terlihat mengelu-elukan Malik secara berlebihan. “Hei, Manis … boleh aku duduk di sini dan makan siang bersama kalian?” tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri di dekat mereka. Isha dan Risna mendongak menatap orang itu, yang tersenyum ramah kepada keduanya. Dia adalah Rendra dengan dua teman yang biasanya memang selalu menyertai Rendra. Isha kemudian tersenyum canggung dan kembali menatap Risna. “Maaf, kami sudah selesai makan. Kakak silahkan kalau mau duduk di sini, saya sama Risna sudah mau kembali ke kelas,” ujar Isha yang kemudian berdiri dan mengajak Risna meninggalkan kantin karena memang mereka sudah selesai dari beberapa saat tadi. Namun belum lagi Isha pergi, tangan Rendra sudah meraih lengan Isha dan menahannya agar tidak pergi. “Eh, mana bisa begitu saja pergi? Aku sengaja memilih bangku ini karena di sini ada gadis cantik yang sudah menawan hatiku,” rayu Rendra dengan senyum konyolnya. Isha berusaha melepaskan pegangan tangan Rendra yang terasa begitu kuat. Beberapa pengunjung kantin mulai memperhatikan mereka, membuat Isha menjadi risih tak karuan. Dia beberapa kali menatap Risna untuk meminta bantuan. “Maaf, Kak. Hari ini kami ada ulangan. Jadi harus segera kembali ke kelas,” bujuk Risna agar Rendra melepaskan pegangan tangannya. “Ulangan? Nilai kamu akan tetap tinggi meskipun tanpa ujian, kalau kamu mau menemani aku makan siang kali ini,” ujar Rendra mulai dengan sikap arogannya. Sementara itu, di bangkunya, Malik yang melihat keributan kecil itu segera berdiri. Ada rasa tak suka ketika Rendra kembali melakukan hal yang mengusik di kantin ini. Terlebih itu terhadap Isha. “Kak, mengapa harus ikut campur? Berurusan dengan Rendra hanya akan menambah masalah,” cegah Bayu sambil memegang tangan Malik yang sudah mengepal kuat. “Aku tak akan peduli jika yang diganggu itu adalah gadis lain, Bay. Tapi ini Isha yang diganggu. Dan aku tak akan tinggal diam,” ujar Malik nekat. “Kak? Mengapa harus merendahkan harga diri jika Isha saja sudah tak ingin berteman dengan kak Malik?” tanya Bayu tandas. “Harga diriku tak lebih penting dari keselamatan Isha, Bay.” Malik kemudian melepaskan pegangan tangan Bayu. Mau tak mau Bayu ikut berdiri dan mengikuti langkah Malik yang nekat mendekati Rendra. Malik yang bergegas mendekati Rendra, yang masih memegang lengan Isha dengan kuat, kemudian melerai pegangan tangan Rendra itu hingga terlepas. Terlihat Isha meringis merasakan tangannya yang panas dan pegal. “Sebaiknya kamu melepaskan dan membiarkan dia kembali ke kelasnya,” ujar Malik dengan datar namun tegas. Malik kemudian menatap Isha dan berkata dengan datar, “Segera kembali ke kelasmu.” Melihat hal ini Rendra geram. Tanpa pikir panjang lagi dia menghantam Malik dengan kepalan tangannya sekuat yang bisa Rendra lakukan, membuat Malik tersungkur dengan hidung yang mengalirkan darah segar. Pengunjung kantin menjerit. Isha ingin kembali, tapi Risna menyeret langkahnya untuk segera meninggalkan kantin. “Tapi, Ris? Mereka?” tolak Isha. “Jangan menambah masalah semakin banyak, Sha. Kita kembali ke kelas,” Risna terus menyeret langkah Isha meninggalkan kantin. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN