SEPASANG MATA YANG TERLUKA

1310 Kata
Semenjak hari itu memang Malik tak berani menjemput Isha lagi ketika berangkat sekolah. Namun dia selalu memantau gadis itu dari jauh. Bahkan berangkat sekolah pun Malik memilih berada di belakang Isha dalam jarak yang terpantau aman. Sejak itu pula Isha memberanikan diri ke sekolah menggunakan sepeda motor sendiri. Awalnya pak Ridwan mendesak Isha mengapa tidak dijemput Malik lagi. “Mengapa tidak dijemput Malik lagi? Kalian berantem?” tanya Ridwan ketika Isha meminta izin bapaknya untuk mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah. “Dia sudah kelas tiga, Pak. Sudah mulai sibuk dengan beberapa les dan jam tambahan,” jawab Isha berbohong. “Benar begitu, Bu?” tanya Ridwan menatap Rosminah yang sejak tadi menyibukkan diri dengan pekerjaannya, sengaja agar tidak terlibat dengan pembahasan mengenai hal ini. “Iya paling, Pak.” Rosminah tak mau memperpanjang masalah karena dia tahu bahwa Ridwan pasti akan menyalahkannya yang terlalu memanjakan Isha sehingga Isha menjadi keras kepala dan tidak mau mengalah. Meskipun pak Ridwan sedikit ragu dengan jawaban Isha, akan tetapi dia tak punya cukup alasan untuk bertanya lebih jauh. Hingga pak Ridwan tak punya pilihan lain selain mengizinkan Isha ke sekolah dengan membawa sepeda motor sendiri. Tentu saja dengan berbagai petuah panjang lebar agar Isha berhati-hati dalam berkendara. “Nggak dijemput lagi sama kak Malik?” tanya Risna ketika mereka bertemu di tempat parkir. Isha menggeleng. “Mengapa? Masih belum akur dengan masalah kemarin?” tanya Risna dengan sabar. “Aku tak mau dipermalukan lagi kalau aku terus-terusan sama dia. Semua menganggapnya aku pacaran sama dia. Dia juga mengambil keuntungan dengan peristiwa kemarin, kan?” gerutu Isha sambil berjalan menuju ke ruang kelasnya. Risna terdiam. “Bukannya sudah dikonfirmasi bahwa itu bukan kesengajaan, ya?” tanya Risna lagi. Spontan Isha menoleh, menatap Risna. “Kamu belain dia? Karena kamu naksir sama dia?” tanya Isha mulai salah paham. Risna tersenyum. Sedikit banyaknya dia mulai paham dengan perangai Isha. “Kuakui aku naksir kak Malik. Tapi bukan berarti aku membutakan mataku akan kebenaran, Sha. Karena aku melihat ini memang tidak sepenuhnya kesalahan dia,” ujar Risna dengan suara pelan. “Sudahlah, Ris. Aku malas membahas dia. Mulai sekarang, kami sudah jalan masing-masing. Aku tidak mau lagi menjadi bahan ejekan karena dia yang mengambil kesempatan dalam peristiwa itu,” ujar Isha. Risna hanya bisa diam, tak ingin menimpali kalimat Isha. Karena Risna tahu bahwa Isha mulai kehilangan kesadarannya. Sementara Malik, meskipun dia menjauh dari Isha sesuai dengan keinginan gadis itu, akan tetapi dia masih tak bisa lepas sepenuhnya terhadap Isha. Setiap saat dia masih saja memantau gadis itu, apakah dia aman dan nyaman dengan keadaannya sekarang. Bahkan seringkali Malik sengaja ke kantin hanya untuk melihat dengan siapa Isha makan siang. Dan Malik cukup lega karena Isha selalu makan siang dengan Risna, meskipun dia tahu bahwa beberapa kali Risna menatap Malik dengan pandangan kecewa karena Risna juga melihat bahwa Malik datang ke kantin bersama dengan Bayu, si cantik nan cerdas yang juga ketua OSIS. “Sepertinya ada yang menatap kak Malik dengan tatapan kecewa,” ujar Bayu ketika siang ini dia sedang makan dengan Malik, di kantin. Gosip mengenai mereka memang sudah mulai mereda dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Para siswa juga sudah tidak membicarakan hal itu lagi. Hanya saja sesekali Malik masih mendengar selentingan kabar ada beberapa siswa yang masih mengejek Isha, membuat Isha sering kali meradang. “Kecewa? Siapa?” tanya Malik sambil mengedarkan pandangan matanya setelah mendengar komentar Bayu tadi. “Teman Isha. Apa kak Malik tak pernah memperhatikannya?” jawab Bayu dengan suara rendah agar tidak terdengar oleh yang lain. “Risna?” tanya Malik. Bayu menggeleng. “Aku nggak tahu namanya. Tapi aku sering melihat dia sedang memperhatikan kak Malik,” ujar Bayu. “Namanya Risna. Beberapa kali bertemu dan berkenalan ketika dulu aku masih dekat dengan ….” Malik tak meneruskan kalimatnya karena hatinya mendadak nyeri. “Dengan Isha?” tanya Bayu. Malik tersenyum masam kemudian mengangguk dan melanjutkan makan siangnya kali ini. Bayu memperhatikannya dengan seksama, dan dia juga merasakan kenyerian yang sama sebagaimana yang dirasakan Malik. Kedua orang ini sama-sama terluka karena mencintai orang yang tidak balas mencintai. Ya, semenjak kesalahpahaman itu memang Bayu semakin intens mendekati Malik. Dan kalau dulu Malik selalu punya alasan untuk menolak ajakan Bayu, sekarang dia tak punya alasan lagi. Alhasil, dia memilih bersahabat dengan keadaan, menerima tawaran ke kantin yang selalu Bayu ajukan setiap hari. “Apakah perasaan kak Malik terhadap Isha bukan lagi sekedar hubungan abang dengan adik?” tanya Bayu dengan pelan. Malik menghela napas berat tak tahu harus menjawab bagaimana. “Awalnya, ya. Karena memang dia teman bermainku sejak kecil, Bahkan semenjak kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Isha itu anak tunggal bapak dan ibunya. Karenanya dia memang sedikit manja dan selalu ingin menjadi prioritas. Demikian juga saat menjalin pertemanan. Sikap egonya membuat Isha tak memiliki banyak teman,” ujar Malik berkisah mengenai Isha. Bayu hanya mendengar sambil sesekali mengangguk, mencoba mengerti. “Dari sekolah dasar, sampai sekolah menengah, bahkan kemarin ketika masuk ke sini, aku selalu mengantar dan menjemputnya sekolah.” Malik melanjutkan ceritanya. Bayu tersenyum. “Kak Malik bukan lagi sebagai seorang kakak karena lebih mirip seperti sopir pribadinya meski dengan sepeda motor,” kata Bayu menimpali. Malik ikut tersenyum mendengar komentar Bayu. Gadis manis ketua OSIS ini selalu bisa membuat Malik tersenyum dengan celotehnya yang ringan. “Ya, kamu benar. Tapi begitulah pertemanan kami. Aku selalu tak tega membiarkan dia tak memiliki teman. Apalagi dia sering datang minta diajari mengerjakan pekerjaan rumah,” kata Malik lebih lanjut. “Jadi sejak saat itu kak Malik mulai menyukainya? Bukan lagi sebagai seorang kakak terhadap adiknya, melainkan sebagai laki-laki kepada seorang perempuan?” tanya Bayu sikap hati-hati agar tidak membangkitkan luka Malik. Malik menggeleng. “Maksudnya?” tanya Bayu yang tak mengerti arti gelengan kepala Malik. “Maksudnya aku tak tahu sejak kapan aku menyukainya. Sampai saat ini juga aku belum yakin apakah aku menyukainya sebagai adik, ataukah sebagai seorang laki-laki kepada perempuan.” Malik menjawab dengan gamang, penuh keragu-raguan. Bayu terdiam sesaat. “Jadi apa yang kak Malik rasakan pada Isha sebenarnya?” tanya Bayu dengan pelan. Malik menatap Bayu dalam diam. “Aku tak tahu apakah ini yang dinamakan cinta karena jujur saja aku belum pernah merasakan hal seperti ini. Aku senang jika dekat dengannya. Rela mengantar dan menjemputnya setiap hari tanpa keinginan untuk mengeluh sama sekali. Membuat dan melihatnya tersenyum adalah sebuah kepuasan yang tak akan terbayar dengan apapun. Selalu ingin membuatnya bahagia bagaimanapun caranya. Apakah seperti itu definisi sebuah cinta?” tanya Malik menatap Bayu. Mendapat tatapan seperti itu, mendadak Bayu tercekat. Jantungnya menggelepar. Dan untuk menghentikan debarannya, Bayu berdehem. “Ya … mungkin memang seperti itu definisi sebuah kata cinta. Apakah tidak sama dengan apa yang kak Malik rasakan ketika dulu bersama dengan kak Rasti?” tanya Bayu dengan pelan meskipun hatinya penasaran. Malik tersenyum. “Apakah kamu juga mendengar mengenai Rasti?” tanya Malik dengan senyum masam, karena tak menyangka bahwa kisah sekejapnya bersama Rasti ternyata juga menjadi konsumsi publik. Bayu tersenyum. “Kak Malik itu bukan siswa biasa. Maka tak heran jika apapun mengenai kak Malik selalu menjadi bahan perbincangan di antara siswa dan siswi sekolah ini,” jawab Bayu sambil minum air mineral miliknya. “Mereka yang terlalu membesarkan sesuatu. Aku sama saja seperti kalian,” kata Malik yang sama sekali tak merasa tinggi meskipun dia memang siswa yang berprestasi. “Jadi … bagaimana perasaan kak Malik saat bersama kak Rasti dulu? Tidak samakah dengan apa yang kak Malik rasakan terhadap Isha?” tanya Bayu yang mengembalikan pembahasan pada perasaan Malik terhadap Rasti dan Isha. Malik menatap Bayu. “Apakah harus dijawab?” Malik balik bertanya. Bayu tersenyum kemudian menggeleng. “Tidak harus, karena meskipun kamu sudah melakukan konfirmasi di grup chat, tetapi aku tahu tidak seperti itu yang kak Malik rasakan,” jawab Bayu. Malik ikut tersenyum. Mereka tak menyadari ada sepasang mata yang menatap keduanya dengan tatapan terluka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN