ENAM BELAS

1160 Kata
Sehabis mandi, Arsen langsung kebawah karena baju mereka ada di bawah. Giliran Freya masuk ke kamar mandi. Dan setelah selesai, Freya menyusul lelaki itu dengan handuk kimono. Arsen sudah menyiapkan sarapan yang sepertinya dipesan dari restauran di bawah. “Kok banyak banget?” tanya Freya, melihat banyak makanan yang tersaji. Ada nasi goreng, roti dan selai, omlate dan sosis, sandwich. “Saya nggak tau kamu mau makan apa, jadi saya pesan yang sekiranya kamu suka.” Ujar Arsen tanpa rasa bersalah. Lelaki itu malah menyengir senang. “Sayang kalau nggak kemakan.” Freya duduk di hadapan Arsen dan mereka mulai makan sambil bicara. Arsen mengambil sepotong sandwich sementara Freya memakan nasi goreng. “Kita bisa bungkus dan kasih ke satpam bawah nanti.” “Apa yang mau bapak omongin sama saya memangnya?” tanya Freya langsung, memakan sesendok lagi nasi goreng. Arsen tidak langsung menjawab. Dia menghabiskan dulu potongan sandwichnya kemudian meminum dua teguk jus jeruk. Menunggunya membuat Freya waspada, karena Arsen seperti sedang menunggu waktu yang baik untuk bicara. Jadi pasti pembicaraanya serius. “Kamu ngontrak rumah itu bulanan?” Freya menganggukan kepala, menelan makanannya dulu sebelum menjawab. “Harusnya tahunan, tapi karena waktu itu saya dan Nia nggak punya uang dan kebetulan yang punya adalah kerabat jauh, jadi kami diperbolehkan bayar bulanan.” “Kamu senang tinggal di sana?” “Selama saya tidak kepanasan dan kehujanan sih senang-senang saja.” Betapa sederhananya pikiran Freya. “Kalau Nania gimana? Dia masih jadi reseller?” “Masih. Kayaknya dia lagi ngumpulin uang untuk modal dan memulai usahanya sendiri. Meski saya melarang. Karena kuliah saja pasti sudah pusing, jika ditambah berbisnis saya takut dia malah tidak fokus. Tapi yah, Nania biasanya semakin dilarang malah semakin tertantang.” “Kamu sendiri gimana?” “Gimana apanya?” Freya masih makan, sementara Arsen setelah menghabiskan sepotong sandwich, hanya terus menatap Freya dengan serius. “Ya rencana kamu untuk masa depanmu gimana?” Freya berpikir sejenak sambil mengunyah, kemudian menggelangkan kepala. “Tidak ada.” Dia tersenyum malu. “Rasanya saya hanya akan terus bekerja, bekerja, bekerja. Sampai Nia jadi dokter. Setelah itu saya akan nabung untuk dana pensiun.” Jadi hidup Freya benar-benar didedikasikan untuk adiknya saja. Dia bahkan tidak memikirkan masa depannya sendiri. “Kamu nggak punya cita-cita apa gitu? Atau minat dalam suatu bidang? Atau keinginan melakukan apa untuk menyenangkan dirimu sendiri?” Freya diam, nampak berpikir. Tapi sepertinya sangat sukar menemukan sesuatu yang menyenangkan untuk dirinya sendiri. “Sudah lama saya menahan diri saya, memendam keinginan untuk diri saya. Ditanya begini, saya jadi bingung mau jawab apa. Karena nggak ada gambaran.” Freya mungkin tertawa ketika mengatakannya, tapi Arsen tau ironi di balik tawa tersebut. Hati Arsen tercengkram sakit. “Waktu kecil kamu nggak ada cita-cita?” Freya menggelangkan kepala. “Biasalah cita-cita anak kecil. Jadi polisi, jadi dokter, jadi pilot.” Freya meneguk air sebelum melanjutkan. “Waktu SMA saya pernah pengen banget jadi Astronom. Keren banget kayaknya kita meneliti tentang objek-objek angkasa. Tapi ya, nggak pernah diseriusin sih.” Freya menyilangkan sedok dan garpu, menandakan sudah selesai dengan sarapannya. “Kenapa?” “Lagi-lagi saya harus sadar diri, nggak mungkin bisa dengan keadaan ekonomi keluarga saya. Makanya sekarang saya nggak boleh nyerah sama mimpinya Nia. Karena itu telah menjadi mimpi saya juga.” Arsen menghela nafas. Freya benar-benar tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. “Ada apa sih, Pak? Ini kita mau ngobrol atau sedang introgasi sebenarnya?” Arsen memaksakan senyum untuk lelucon yang Freya lontarkan, meski sulit. Dia merasa begitu sedih pada kenyataan Freya bahkan telah kehilangan minatnya untuk menyenangkan diri sendiri. “Freya…” panggilnya, meraih kedepan untuk mengenggam tangan wanita itu di atas meja. “Saya harap apa yang saya bicarakan ini nggak membebani kamu. Saya hanya ingin melakukan sesuatu yang menurut saya baik untuk kamu. Kamu masih sangat muda. Baru dua puluh tiga tahun, kan? Belum terlambat jika kamu mau meraih apapun yang kamu inginkan. Kamu bisa menjadi astronom seperti yang kamu mau saat SMA, atau menjadi apapun keinginan terpendam kamu. Saya akan dukung kamu. Kamu bisa kuliah lagi. Kamu nggak perlu mikirin uang. Saya akan tanggung semua biayaya hidup kamu dan Nia. Jika kamu ingin berbisnis, saya akan memberikan modal. Saya juga akan memberikan tempat tinggal yang lebih layak. Pokoknya semua yang yang kamu inginkan, saya bisa kasih.” Jika wanita lain mungkin akan senang menerima tawaran seperti itu, lagi-lagi Freya berbeda. Awalnya dia diam. Otaknya masih mencerna apa yang baru saja Arsen katakan. Dan setelah mengerti, dia justru menarik tangannya lepas dari genggaman Arsen. “Bapak mau beli hidup saya?” tanyanya dingin. Reaksi Freya membuat Arsen bingung. Seperti maksud dan tujuannya berbeda jalur dengan yang dipikiran Freya. “Kenapa kamu nanyanya kayak gitu?” “Bapak ngelakuin semua itu untuk apa? Kasihan sama saya? Atau karena saya udah mau tidur berkali-kali sama Bapak?” Arsen mengerutkan keningnya. “Memangnya keinginan saya membuat kamu hidup lebih nyaman sangat buruk sampai kamu bicara seperti itu?” “Jika saya nggak jadi teman tidur Bapak, Bapak nggak akan kepikiran seperti ini, kan? Semua ini bapak buat sebagai bayaran saya!” Freya jadi terlalu emosional, nada bicaranya sedikit meningkat. “Semua ini saya buat karena saya sayang sama kamu, Freya! Saya ingin memberikan kehidupan yang layak sama kamu.” Freya diam. Mungkin tidak menyangka kalau Arsen akan melontarkan kata-kata seperti itu. Jangankan Freya, Arsen sendiri tidak menyangka. “Bapak tau, kenapa saya nggak suka pelihara binatang? Padahal saya suka sama binatang.” Arsen bingung dengan korelasinya, tapi dia tetap menggelangkan kepala. “Karena mereka nggak bisa bicara, jadi saya nggak tau apa mereka nyaman atau tidak dengan perlakuan saya.” “Tapi kamu bukan peliharaan saya, Freya! Dan kamu bukan binatang!” Arsen jadi agak terpancing emosi juga. “Tapi situasinya sama, kan? Terkadang walau kita sudah memberikan yang terbaik, kandang yang mahal, makanan yang enak, tapi kita tidak benar-benar tau, apakah binatang peliharaan itu benar-benar merasa nyaman?” “Kamu mau bilang kalau kamu tidak nyaman dengan tawaran saya?” Freya menganggukan kepala. “Biarkan saya tetap memiliki hidup saya, Pak. Meski mungkin di mata Bapak hidup saya menyedihkan, tapi saya ingin berjuang di atas kaki saya sendiri. saya bersama Bapak karena saya memang suka bersama bapak, bukan karena saya ingin mencari perlindungan untuk hidup yang lebih enak.” Arsen merasakan haru mengganjal di tenggorokannya. Hubungan Arsen dengan Vlora didasari oleh keuntungan. Memberi dan menerima. Apa itu rasa suka? Sayang? Ketulusan? Tidak ada! Jadi ketika Freya mengatakan dia secara suka rela berhubungan dengan Arsen, tanpa mengharapkan keuntungan apa-apa, Arsen merasa begitu haru. Dia bangkit untuk menghampiri Freya, kemudian memeluk wanita itu yang masih duduk. Sehingga yang dilakukannya adalah medekap kepala wanita itu di atas perutnya. “Maafkan jika tawaran saya menyakiti hati kamu. Perlu kamu tau saya tidak bermaksud apa-apa selain ingin membuat kamu senang.” Freya balik mendekap lengan Arsen. “Bersama Bapak saja sudah membuat saya senang. Terimakasih sudah memperhatikan saya dan Nia.” Arsen tau, kali ini, dia sudah jatuh cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN