Dari meja VIP, Arsen menatap Freya yang dari tadi sibuk mengobrol dengan seorang kontraktor. Dia bersusah payah mengusir rasa tidak nyaman dari hatinya.
Ini acara ulang tahun perusahaan, dan ayahnya meminta Freya untuk menjadi salah satu panitia. Jadi wajar rasanya jika Freya berinteraksi dengan banyak orang. Tapi entah kenapa, Ryan seperti menatap Freya dengan berbeda.
"Aku baru tau kalau Freya ternyata akrab dengan para kontraktor." Bisik Arsen pada Mbak Nanan yang menjadi pendamping ayahnya pada acara malam ini.
Nana melirik ke arah Freya, lalu tersenyum. "Ryan sih sebenarnya memang gencar mendekati Freya, tapi biasanya Freya tidak menanggapi. Apa lagi enam bulan terakhir Ryan ada proyek di Kalimantan. Jadi ya begitulah...."
Bara yang tadi hanya setitik, kini seperti dikipas, membuatnya menyebar dan membesar. Panas dan membakar. Tapi Arsen juga harus sadar, Vlora juga tengah duduk di sebelahnya, dan ada tatapan yang seolah memeringati dari ayahnya.
"Tapi menurutku, Ryan lelaki baik, Freya harusnya bisa membuka kesempatan. Toh dia juga sendiri, kan?" bisik Mbak Nana lagi membuat Arsen semakin tidak nyaman.
Mohon maaf, Freya tidak sendiri! Wanita itu milikku! Milikku!
Pikiran Arsen jadi berkecamuk. Di tengah hubungan mereka yang rapuh, bagaimana jika Freya menemukan seorang yang dicintai dan ingin hidup bersama dengannya? Lelaki single yang baik, yang bisa melindungi Freya dengan terang-terangan. Lelaki yang dengannya Freya bisa menjadi seorang istri, seorang ibu. Bukan hanya sekedar penghias tempat tidur atasannya.
Memikirkannya membuat tengkuk Arsen meremang. Perasaannya tidak aman yang muncul membuatnya benar-benar gelisah. Apalagi ketika Bintang Tamu yang diundang menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur para karyawan, Ryan menarik tangan Freya kedepan panggung untuk bersorak dan menikamati performance mereka lebih jelas lagi.
"Kamu tidak mau kedepan panggung?" tanyanya pada Vlora, yang langsung dihadiahi tatapan seolah Arsen gila karena bertanya begitu.
"Tidak!" jawab Vlora tegas.
Arsen sebenarnya hanya mencari alasan untuk maju kedepan tanpa dicurigai ayahnya. Tanpa berharap karena tau Vlora pasti menolaknya.
Arsen terus merasa gelisah. Sesekali pandangan mereka bertemu, dan Freya hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak dapan Arsen artikan sebelum wanita itu berpaling.
Laku Kekasih Gelap yang dibawakan bintang tamu sebagai lagu penutup sebelum ke acara selanjutnya, mengiris hari Freya lebih dalam dari yang ia kira. Melihat Arsen duduk dengan para petinggi dan istrinya di meja VIP, membuat Freya sadar seberapa jauh jarak mereka. Dia sadar, tempat mereka bisa mendekat hanyalah di atas tempat tidur.
Karena kamu hanyalah penghias tempat tidurnya. Sebuah suara dari sudut kepala Freya membuat perasaannya semakin kacau.
Ada sebuah perasaan cemburu tidak tau diri yang harus dia kubur dalam-dalam. Dia harus tau tempatnya di mana!
Sampai akhir, acaranya berjalan lancar. Dan Freya harus mengantar Pak Hadi, Mbak Nana, Arsen dan Vlora menuju lobi untuk pulang. Puncak ketidaknyamanan pada malam ini.
"Berkat kamu acaranya berjalan lancar, Freya." Puji Pak Hadi sesaat setelah mereka sampai di lobi.
"Bukan hanya saya, semua tim juga sangat membantu. Mbak Nana juga banyak mengarahkan saya."
Mbak Nana tersenyum, mengelus punggung Freya. "Itu karena saya senang. Akhirnya setelah belasan tahun, ada yang menggantikan saya mengurus acara tahunan ini." Kelekar Mbak Nana membuat semua orang kecuali Vlora mendengus tawa.
Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan mata Arsen, dan Freya buru-buru mengalihkan pandangan.
"Kami pulang terlebih dahulu, ya, Freya!" ujar Pak Hadi setelah mobil sampai di lobby. "Oh iya, ini sudah larut, kamu pulang sendiri?" lanjutnya agak khawatir.
Diam-diam, Arsen juga menunggu jawaban Freya. Hatinya berkecamuk lagi. Ingin rasanya mengantar Freya pulang. Setelah menghabiskan beberapa saat di apartement tentu saja. Namun keadaannya tidak memungkinkan.
"Iya, Pak. Nanti mungkin saya pakai taxi online."
"Baiklah kalau begitu. Kami duluan, ya. Terimakasih."
"Baik, Pak. Selamat sampai tujuan dan selamat istirahat."
Mbak Nana yang memang satu arah, masuk ke dalam mobil Pak Hadi setelah berpamitan dengan semua orang.
Mobil Pak Hadi pun pergi, dan mobil Arsen yang di belakangnya maju. Freya harus membuang pandangan ketika Arsen membukakan pintu untuk Vlora.
"Saya juga pulang duluan, Freya." Ada nada menyesal dalam suara Arsen.
"Iya, Pak. Selamat istirahat. Ibu...." Freya menganggukkan kepala kepada Vlora yang hanya tersenyum singkat sebelum wanita itu masuk kedalam mobil.
Kemudian Arsen juga masuk kedalam mobil. Walau lelaki itu terus menatapnya untuk menyampaikan penyesalan, rasa cemburu yang tidak tau diri ini tetap memeluk Freya dengan erat.
Semakin jauh mobil Arsen melaju, semakin terasa menyakitkan. Freya berbalik setelah dirasa air matanya menirai. Konyol! Untuk apa dia menangis?
Freya tau dia tidak boleh begini. Dia harus tau diri! Harus tau tempatnya di mana! Tapi bagaimana caranya bisa mengatur perasaan?
Bertepatan dengan Freya ingin melangkah masuk, Ryan terlihat berjalan keluar dengan menenteng tas tangan Freya.
"Pulang aku anter, ya?" tawar Ryan seraya menyerahkan tasnya.
"Nggak usah, ngerepotin. Aku naik Taxi aja. Makasih lho ini dibawain."
"Nggak ngerepotin, kok! Lagi ini udah malem. Bukan apa, aku takut sopir taxi-nya kamu culik!"
Freya hanya mendengus tawa, menanggapi kelekar Ryan.
"Mau, ya, aku anter?" tawarnya lagi.
Freya berpikir sejenak, sebelum menganggukkan kepala.
Mereka berdiri bersisian tanpa suara, menunggu valet parking mengambil mobil Ryan. Dan ketika mobil datang, dengan sikap Ryan membukakan pintu penumpang untuk Freya.
Baru saja Freya hendak masuk kedalam mobil, ketika sebuah suara dengan keras memanggil namanya.
"Freya!"
Freya dan Ryan berbarengan menoleh ke asal suara, dan melihat Arsen berlari kecil menghampiri mereka.
"Pulang dengan saya, ya! Ada masalah pekerjaan yang ingin saya bicarakan." Katanya dengan suara terengah. Sepertinya lelaki itu benar-benar berlari kesini .
"Maaf, bukannya Freya membutuhkan istirahat, ya? Weekend-nya sudah disibukan dengan persiapan pesta ini, masa sudah larut begini masih harus membicarakan pekerjaan?"
"Ini mendesak. Ayo, Freya!" Arsen meraih lengan Freya, namun Ryan menghalangi dengan meraih lengan satunya.
"Karena sudah larut, pembicaraan kalian tentu tidak akan lama. Saya akan menunggu."
"Tidak perlu! Kamu bisa pulang. Biar saya yang antar Freya!" Arsen sedikit menarik Freya kearahnya.
"Bapak, kan, nggak bawa mobil. Biar saya yang antar!" tidak mau kalah, Ryan menarik Freya lagi kearahnya.
"Kamu ngerti nggak sih!" Arsen mulai hilang sabar. "Saya bilang saya yang antar!"
Sebelum semuanya semakin kacau, Freya berusaha menengahi ketengan mereka. Dia menarik lengannya dari pegangan Ryan, membuat lelaki itu menatapnya kecewa.
"Nggak apa-apa, nanti aku di antar Pak Arsen. Terimakasih, ya, Ryan!"
Dengan rasa kecewa dan berat hati, Ryan melangkah menuju kursi kemudi. Menatap Freya untuk terakhir kali, berharap wanita itu berubah pikiran. Tapi sepertinya tidak akan. Jadi dia masuk ke dalam mobil dan merelakan kesempatannya untuk bisa lebih dekat lagi dengan Freya.
Arsen berhasil mendapatkan mobil sewaan dari hotel. Dan semenjak tadi, mereka hanya duduk dalam diam, menyusuri jalanan yang lenggang. Suasananya agak dingin. Mereka masih bergelut dengan perasaan tidak nyaman masing-masing.
"Antar saya kerumah, Pak, jangan mampir ketempat lain dulu." Kata Freya pada akhirnya, ketika tau Arsen membawa mobil kejalan menuju apartemen.
"Kenapa? Karena si Ryan itu?" jawab Arsen agak ketus.
Freya mengerutkan kening. "Apa hubungannya dengan dia?"
Mendengar suara Freya agak meninggi, Arsen mendengus tawa mengejek. "Kamu memanggilnya hanya nama, punya hubungan apa kalian?"
"Hubungan apa? Toh saya tetap memanggil anda dengan "bapak" meski kita ada hubungan, kan? Semua ini tidak ada hubungannya dengan cara memanggil!"
"Kenapa kamu nampak gusar sekali? Karena tidak jadi diantar Ryan?"
"Kenapa dari tadi Bapak selalu membawa-bawa Ryan?!"
"Kamu nggak suka saya membawa-bawa nama pacar kamu itu?"
"Pacar apa? Kenapa Bapak jadi seperti memojokkan saya?!"
"Kamu merasa terpojok? Berarti benar ding dugaan saya?"
Freya diam sesaat, kehabisan kata. Perasaan tidak nyaman karena sadar jarak di antara mereka terlalu jauh, serta rasa cemburu tidak tau diri yang dari tadi dirasakan. Ditambah Arsen yang seperti menempatkan Freya pada posisi yang serba salah. Seolah-olah Freya w************n yang bisa menjalin hubungan dengan siapa saja, membuat Freya hampir meledak dalam amarah.
"Berhenti, Pak!" katanya dingin. Mencoba menekan amarah dalam dirinya.
Arsen tidak menjawab. Dia hanya terus melajukan mobilnya dengan lebih cepat.
"Saya bilang berhenti! Saya ingin pulang sendiri!"
"Kenapa? Sudah bosan dengan saya? Sudah punya pengganti?" tanya Arsen terus menekan.
dengan tenggorokan tercekat, Freya menjawab. "Anggap saja begitu!"
Arsen langsung menginjak pedal Rem dalam. Hampir saja kepala Freya mengantuk dashboard. Untung saja dia memakai seatbelt.
Freya turun dengan membanting pintu, dan Arsen pergi dengan suara gerungan mobil yang keras.
Dada Freya sesak. Air matanya menitik tanpa dia sadari. Dia mencoba menghirup oksigen banyak-banyak. Tapi bukannya merasa lapang, dia malah semakin merasa sesak. Jadi dia menangis keras.
Inilah hukumannya jika dia menginginkan lebih dari yang dia pantas dapatkan. Semua jadi terlalu jauh, terlalu dalam, terlalu menyakitkan.
Freya berjongkok sembari menangis tersedu. Dia meraih dadanya yang terasa sakit.
Mungkin memang sudah saatnya berakhir. Tapi kenapa hatinya terasa begitu sakit dan belum siap?
Untuk beberapa lama Freya terus menangis, sampai sepasang sepatu berdiri dihadapannya.
Freya mendongak, tapi air mata mengaburkan pandangannya.
Akankah Arsen kembali lagi untuknya?