PROLOG
“Saya Adam Satria bin Al-Faridzi terima nikahnya Ivy Maulidya binti Alexander dengan mas kawin sepasang sandal jepit Swallow dibayar tunai.” Adam mengucapkan kalimat panjang itu dalam satu helaan nafas.
“Sah?” tanya sang penghulu pada wali dan semua tamu yang hadir.
“SAAAAAAAAAH!”
Para tamu yang menjadi saksi acara akad nikah menjawab serempak. Suasana meriah begitu terasa dalam ruangan berdekorasi serba putih ini, aroma segar bunga melati tercium di udara. Suara shutter kamera dari para fotografer terdengar bersahutan. Isak tangis haru ibu mertua dan juga ibu kandung Adam, Siti Fatimah terdengar saat Adam sujud sungkem di hadapan mereka. Adam tak menyangka di usianya yang ke 25 tahun ini dia telah resmi mengakhiri masa lajangnya. Takdir telah mempertemukannya dengan Ivy, sang pengantin wanita yang cantik jelita serta mertua konglomerat. Bagi lelaki pekerja serabutan yang berasal dari keluarga sederhana seperti dirinya, ini semua rasanya seperti mimpi. Adam berharap dirinya tak segera bangun.
“Whoaa, kok sendal jepit sih mas kawinnya? Apa gak salah?!”
“Huu, pastinya juga buat konten!”
“Iya sih, gak salah lagi!”
“Kok Ivy mau-maunya sih nikah sama Jamet?”
“Hush! Jangan keras-keras! Biarpun Jamet tapi ganteng gak, sih?”
Bisik-bisik dan cekikikan para tamu undangan tak sengaja masuk ke telinga Adam, senyuman bahagia di wajahnya seketika pudar. Jamet ganteng itulah panggilan yang sering Adam dengar dalam kesehariannya. Adam tak tahu apakah harus merasa tersanjung atau terhina dengan sebutan itu. Dia hanya bisa menelan ludahnya kasar, dia tahu bahwa apa yang mereka katakan benar. Jika dilihat dari latar belakang diri dan keluarganya, dari segi ekonomi Adam sadar dia tak sebanding dengan Ivy. Selain itu, kalimat sakral ijab kabul yang baru diucapkannya tadi juga hanyalah sebuah kebohongan. Semua ini memang tak lebih dari sekedar konten untuk channel youtube milik Ivy.
“Hi guys! Yaaay! I’m so happy! Aku gak nyangka hari ini datang juga. Now I’m officially married, so don’t forget to like, comment and subscribe! Bye!” seru Ivy dengan senyuman ceria pada ponsel kameranya.
Beberapa saat kemudian...
“Kenapa dimatikan kameranya? Apa gak sekalian malam pertama kita siarkan secara live juga? Saatnya unboxing kan?” sindir Adam yang sudah lelah dengan kepura-puraan ini.
Acara resepsi sudah selesai beberapa saat lalu dan malam semakin larut. Kini dia dan Ivy berada di dalam sebuah kamar dengan dekorasi romantis penuh bunga-bunga layaknya kamar pengantin. Adam yang gerah sudah melucuti baju pengantinnya. Dalam sekejap dia sudah bertelanjang d**a dan hanya memakai celana boxer saja. Tanpa rasa sungkan dia memamerkan tubuhnya yang cukup atletis itu di hadapan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
“HEI! Ngapain kamu disini? Ayo keluar!” bentak Ivy tiba-tiba.
“Ya mau tidur lah!” Adam menjawab enteng sambil merebahkan dirinya di kasur. Dia menguap lebar sambil memeluk bantal berbentuk hati. Kelopak bunga mawar berwarna putih yang dia tiduri menempel di kulitnya yang lengket dan basah karena keringat.
“OH NO! What the hell are you doing?! Kamu tidur di luar sana! Kamu pikir kamu ini siapa, huh?!” pekik Ivy histeris. Dia sontak menarik lengan Adam dan memaksanya untuk bangkit dari tempat tidur.
“Lah, saya kan suami kamu?” Adam mencoba membela diri meskipun sadar argumennya ini lemah.
“Hellooo, Adam! Kameranya sudah mati sekarang dan kamu gak perlu akting lagi!” sarkas Ivy sambil bertolak pinggang.
“Lah, terus saya tidur dimana?”
“Gak usah planga plongo kayak kambing d***o! Kamu mau tidur di sofa kek di lantai kek terserah! Asal jangan tidur di ranjang ini, ngerti? Apa kamu masih ingat perjanjian kita, huh? Tidak ada kontak fisik kecuali saya mengizinkan dan hanya saat kamera on!”
“Hhh... Iya deh, Bu.” sahut Adam seraya menghela nafas pasrah.
“Jangan panggil saya Ibu, saya bukan Ibu-Ibu!”
“Terus pengennya dipanggil apa? Madam, Nyonya Bos, Paduka Permaisuri atau Kanjeng Mami?”
“Dengar! Saya lagi gak mau berdebat sama kamu, saya capek mau tidur! Sana pergi, bye!”
BLUGH! Suara pintu kamar dibanting tepat di wajah Adam. Untung saja tidak mengenai hidung mancungnya. Seharian menjalani akad nikah dan acara resepsi, bertemu dengan banyak orang yang bahkan 95 persennya tidak Adam kenal membuatnya sangat lelah. Sekujur tubuhnya terasa pegal dan gerah hingga dia kembali merebahkan diri. Pada akhirnya di kamar hotel berbintang lima yang sudah disewa untuk malam pertamanya ini, Adam kemudian tidur di lantai ruang tamu beralaskan sajadah dan hanya berselimutkan sarung.
“Ngenes banget hidup gue? Menikahi Tuan Putri hanya untuk jadi jongosnya! Ini lebih parah dari jadi laki mokondo! Bahkan sama 'joni iskander' gue yang gak kalah sama rudal Rusia aja dia gak minat sama sekali! Padahal kita kan udah halal! Hh, nasib ... nasib...” Adam kembali menghela nafas pasrah sebelum kemudian menguap lebar.
Tubuh dan pikiran Adam sudah terlalu lelah dengan semua aktivitas hari ini. Bayangkan saja dari akad nikah sampai resepsi, harus pura-pura tersenyum sampai gigi kering. Adam memejamkan matanya dan tak lama dia larut ke alam mimpi.
Sementara itu di dalam kamar pengantin...
“Huh, bisa-bisanya langsung telanjang gitu aja di depan gue? Dia kira gue bisa langsung tergoda apa? Cih!”
Ivy berkomat-kamit sendirian saat melucuti gaunnya, tapi bayangan adegan tadi masih melekat dalam pikirannya. Ivy akui tadi jantungnya sempat berhenti berdetak dan dadanya sesak karena situasi tadi. Dia sendiri tak mengerti mengapa dia merasa seperti ini setiap melihat Adam. “Nope, control your hormone girl! He’s okay, he’s hot, but remember, he’s not your type of men! Fyuhh!” Ivy menarik nafas perlahan dan menghembuskannya lagi, mengipasi dirinya berusaha menenangkan diri.
Tidak lama Ivy pun sudah berganti pakaian ke baju tidur favoritnya dan berbaring di atas ranjang pengantinnya sendirian. Beberapa saat berlalu sejak Adam pergi dari kamar ini dan suasana mendadak hening. Anehnya meskipun tubuhnya lelah, Ivy tetap tak bisa memejamkan mata. Dia malah masih terpaku pada layar ponselnya, membaca komentar para netizen tentang vlog pernikahan yang tadi disiarkannya secara live baik di channel youtube dan juga instagramnya.
bundadedeh Selamat ya Mbak Ivy dan Mas Adam, jodoh gak kemana, semoga pernikahannya langgeng dan samawa. 1428 likes
lambekayang Serius Ivy nikah sama jamet? Wkwk 1227 likes
julidnumberwahid Gila! Mas kawinnya cuma sendal jepit? Bukannya kawinannya pake sponsor? Murahan banget sih, Ivy! Bikin konten kok gini amat? 1024 likes
nyimak_aedah Ivy tuh bukannya masih tunangan sama Jordan ya? Di kartu undangan bulan lalu katanya mau married sama Jordan, lah yang muncul malah cowok lain? 897 likes
raheemanget69 Tapi Adam ini sumpah hot banget! Di mana lagi bisa nemu jamet ganteng kayak dia? Kenapa jamet di sekitar rumah gue buluk semua ya? 401 likes
Berbagai pro dan kontra Ivy baca dari halaman komentar akun instagramnya. Ada netizen yang mendoakan agar pernikahannya langgeng namun tak sedikit juga yang memberinya komentar pedas. Ivy sebenarnya tak peduli dengan semua komentar negatif itu, sebagai seorang influencer bisa dibilang mentalnya sudah seperti baja dalam menanggapi hinaan ataupun ujaran kebencian dari haters. Yang terpenting baginya saat ini hanya engagement dan endorsement. Namun, sebuah pesan yang masuk melalui dirrect message di instagramnya membuatnya tercengang.
hotguyjordan Cara kamu balas dendam lucu banget, babe! Selamat atas pernikahan kamu, anyway kutunggu jandamu.
“Dasar b******n! Emangnya kalaupun gue jadi janda, gue bakalan minat balikan sama lo? Dasar buaya darat narsis kebangetan!” geram Ivy sembari memblokir akun itu.
Ivy memutuskan untuk mematikan ponselnya dan memejamkan mata. Hari ini dia sudah berstatus resmi menjadi seorang istri tapi dia tak merasakan perbedaan sama sekali dalam hidupnya. Entah kenapa jauh di lubuk hatinya masih merasa hampa dan kesepian. Dia sadar semua ini memang hanya rekayasa. Seharusnya tadi siang bukan Adam yang mengucapkan kalimat sakral ijab kabul itu melainkan Jordan. Jika saja Jordan tak pernah mengkhianatinya semua ini tak akan terjadi.
Ivy sadar apa yang dilakukannya memang bisa dibilang nekat. Bayangkan saja menikahi lelaki yang baru dikenalnya tiga bulan. Semua itu tak hanya demi balas dendam pada Jordan tapi juga menutupi rasa malu. Dia sudah terlanjur bekerja sama dengan pihak sponsor yang membiayai gaun pernikahan dan juga acara resepsi, karena itu tidak mungkin dia membatalkan acaranya begitu saja. Orang lain mungkin akan dengan mudah menganggapnya sebagai wanita yang materialistis tapi Ivy menganggap dirinya realistis.
“Ha-HACHIIEW!”
Suara bersin yang keras mengagetkan Ivy dari tidurnya, dia bangkit dari ranjangnya untuk melihat keadaan di luar kamar. Dia mengintip dari balik celah pintu untuk melihat Adam. Lelaki yang sekarang resmi menjadi suaminya terlihat meringkuk dan menggigil di lantai sambil berselimutkan sarung.
Melihat kondisi Adam seperti itu jujur hati Ivy sedikit terketuk. Ivy sadar yang dilakukannya mungkin sedikit kelewatan. Meskipun bukan suami istri yang sebenarnya tapi bisa dibilang mereka adalah rekan kerja. Membiarkan Adam harus tidur seperti itu membuat Ivy merasa dirinya kejam dan tidak manusiawi. Karena rasa bersalah dan kasihan Ivy bergegas mengambil selimut tebal dari dalam kamarnya.
Preett!
Tepat saat Ivy hendak menyelimuti tubuh Adam, dia mendengar suara aneh dan mencium aroma menjijikan khas telur busuk menguar di udara. Si pelaku yang baru saja buang angin malah dengan tanpa dosa menggaruk-garuk pantatnya dan lanjut tertidur pulas.
“b******k! Dia malah kentut lagi! Percuma gue kasihan sama dia! Semua lelaki memang sama, udah nyebelin, b******k, menjijikan!” geram Ivy dalam hati sambil menjepit keras hidungnya.