Ch 44. AKAD KEDUA

1242 Kata

“Jadi begitulah, Mak...” Adam menghela nafasnya dalam, hatinya terasa berat tapi beban di pundaknya serasa ringan setelah mengungkapkan semuanya. Kebenaran memang pahit tapi lebih baik dia utarakan daripada terus menutupinya dengan kebohongan. Suasana di dalam ruang tamu rumah kontrakan mendadak hening. Sesekali terdengar isak tangis dari Siti Fatimah, sementara Syeikh Salman yang baru mendengar terjemahan kisah Adam dari asistennya tampak diam termenung. Dia tak menyangka ternyata kehidupan mantan istri dan putranya begitu memprihatinkan. Terbersit rasa bersalah dalam hatinya karena sudah menelantarkan keduanya. Sekarang dia mengerti mengapa Adam menolaknya di awal pertemuan mereka. Berbeda dengan dirinya yang hidup dalam kemewahan, putranya hidup dalam keprihatinan. “Jadi, hiks... se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN