Ch 11. TUMBAL PARTY

1627 Kata
Seperti yang sudah bisa ditebak, keesokan harinya karena terpaksa Adam tak bisa menolak ajakan Lucky. Waktu di jam dinding menunjukkan pukul 11.30 malam. Biasanya saat ini dia sudah rebahan di kasur lepek di kontrakannya atau nongkrong di pos kamling. Tapi sekarang, Adam tak menyangka dirinya akan berada di tempat seperti ini. Dia berada dalam sebuah kamar ganti di hotel bintang lima. Di luar sana tepatnya di bagian area kolam renang hotel, alunan musik EDM terdengar disertai riuh rendah orang-orang yang tengah berpesta. Dari jendela kecil ruang ganti Adam mengintip banyak pemuda dan pemudi tengah berpesta pora memakai pakaian renang seperti bikini. "Ya Allah, ck ck... pada ngapain sih tuh mereka? Kecipak-kecipuk kayak ikan mujair, dilihat dosa tapi gak dilihat mubazir." celetuk Adam. Meskipun matanya tercerahkan oleh pemandangan indah para wanita berbikini di depannya namun Adam mengutuk dirinya sendiri mengapa dia setuju menerima ajakan Lucky. “Serius ini Luk? Kita sebenernya mau ngapain sih? Kenapa harus telanjang gini?” tanya Adam saat melihat penampilan dirinya di cermin. Dari ujung kepala hingga kaki tubuhnya polos hanya ditutupi secarik celana renang warna hitam saja, udara dingin dari AC membuatnya sedikit merinding. “Ya, enggak telanjang beneran lah, kita kan masih pake kolor! Ayo cepetan lu masuk sini!” bujuk Lucky yang sudah bersiap masuk ke dalam sebuah kue hias berukuran raksasa. ”Kenapa gue harus masuk ke situ bareng lu? Itu tempatnya sempit!” protes Adam ragu. “Lu banyak pertanyaan banget sih? Mau duit kagak? Kalau mau ya nurut sama omongan gue!”Lucky yang hilang kesabaran membentaknya kasar. Mendengar kalimat itu Adam hanya bisa menghela nafas dan bergumam, “Ya Allah, cari duit kok gini amat?” “Oh iya, by the way, lu inget kan rundown acaranya. Nanti pas ada yang teriak Surprise, kita bedua keluar terus langsung joget kalau bisa seerotis mungkin! Ngerti?”bisik Lucky “Astagfirullah! Joget erotis pake kolor doang? Gila aja Luk, apa gak malu?! Kan haram!” tanya Adam dengan intonasi meninggi. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya harus melakukan hal yang sedemikian rupa hanya demi segepok uang. “Urat malu lu simpen dulu di kontrakan! Lagian, dulu juga kita suka mandi di kali sambil telanjang, terus kita juga pernah maen panjat pinang tujuh belasan pake kolor doang sampe melorot dan belahan p****t lu kelihatan, inget gak lu?” “Ya, tapi itu kan pas gue belum baligh! Belum ada bulu-bulu yang tumbuh. Lagian gue ini kagak bisa joget! Gerakan SKJ gue bisa, joget kagak!” *Senam Kesehatan Jasmani “Ya elah joget doang masa gak bisa? Itu kayak goyang hobah dangdutan di kondangan!” “Gue setiap ada dangdutan cuma jadi team sekuriti bukan jadi tukang joget!” “Team sekuriti? Bilang aja jadi hansip, huu! Dan lu gak punya duit buat nyawer dasar payah!” “Pengap amat sih ini?! Awas, badan lu jangan nempel sama gue! Najis!” sarkas Adam lagi saat bahu lengan Lucky bersentuhan dengannya. “Grr, berisik amat sih lu, Dam! Najis apaan? Emangnya gue doggy? Lagian kita ini kan muhrim!” geram Lucky emosi. “Muhrim sih iya, tapi zaman sekarang kan banyak cowok yang juga nafsu ke sama sesamanya. Apalagi ke gue yang ganteng gini.” Adam mengedikkan bahunya dan tersenyum percaya diri. “Halah, najis! Lu ganteng juga kere! Anggap aja situasi ini sama kayak waktu kita disuruh gali sumur sama Haji Naim dulu.“ “Gali sumur gak begini juga kali, udah sempit gelap, bau lagi! Dih, lu gak kentut kan, Luk!“ tuduh Adam sembari mencubit hidungnya. “Dikit!” sahut Lucky dengan entengnya. “b*****t lu! Habis makan apaan baunya kayak bangke?!” Kutuk Adam yang serentak mendorong tubuh Lucky untuk menjauh darinya. Kedua pemuda itu tanpa memperdulikan situasi terus saja bertengkar hingga kemudian seorang pelayan hotel mendorong kue raksasa yang mereka tumpangi untuk berada di tengah acara pesta. Sementara itu di waktu yang hampir bersamaan, sebuah mobil sedan baru saja terparkir di basement hotel. Seorang gadis cantik dengan gaun merah turun dari dalamnya, siapa lagi selain Ivy. Meskipun sebenarnya dia enggan karena suasana hatinya masih buruk, demi menghargai sahabatnya yang kebetulan tengah ulang tahun, Ivy terpaksa datang ke tempat ini. Setelah melewati lobby, Ivy dipandu oleh seorang pegawai hotel menuju lantai yang tertera dalam kartu undangannya. Suara berisik dari lagu EDM yang familiar memenuhi gendang telinganya. Tepat setelah pintu lift terbuka, Ivy segera melangkah masuk ke lokasi pesta di pinggiran kolam renang.Tidak perlu lama orang yang dicarinya yaitu Cheryl langsung menyambutnya dengan ceria. “IVY! Huaa, cantik banget! Akhirnya lu dateng juga!” seru Cheryl sembari memeluknya erat. “Of course! Gue pasti datang buat my bestie! Happy Birthday ya, Cher! Panjang umur, sehat dan sukses selalu!" Ivy tersenyum dan membalas pelukan hangatnya. “Dan, ini! Sorry banget gue gak punya banyak waktu buat milih kado ulang tahun lu. Jadi yang ada aja ya...” lanjut Ivy seraya memberikan tas kecil bertuliskan Chanel yang sedari tadi ditentengnya pada Cheryl. “Iih, gak usah repot-repot Vy, gue ngerti lu kan lagi sibuk banyak kasus. Tapi, makasih ya! Lu tahu banget kalau gue emang penggila Chanel!” Cheryl tanpa ba bi bu langsung mengambil kado yang walaupun ukurannya kecil bungkusnya terlihat mewah, jika bukan parfum mungkin kosmetik atau perhiasan. Apapun itu Cheryl tahu yang pasti harganya mahal karena seorang Ivy tidak mungkin memberikan barang palsu. “Tapi kenapa lu malah pake mini dress? Lu baca kan diundangan? Dress codenya kan swimming suit, ayo ganti cepetan!” komentar Cheryl lagi saat melihat penampilan Ivy yang berbeda dengan tamu undangan lainnya. “Sorry, Cher. Lu tahu sendiri gara-gara stress berat badan gue naik 5 kilo, jadi gue gak pede pake bikini...” Ivy beralasan. “Halah, yang bener aja Vy, body lu oke begini masa lu gak pede?” Kedua gadis itu kembali berbincang ditemani tamu undangan yang lain. Ivy melihat ada beberapa wajah yang lumayan dia kenal di dunia entertainment. “Come on, cheers!” Seorang mengajak untuk bersulang dengan Champagne. Ivy hanya ikut-ikutan mengangkat gelas dan berpura-pura meminumnya. Dia tidak minat untuk berlama-lama di pesta dan dia juga tidak ingin pulang dalam keadaan mabuk. “AND NOW! Acara yang paling ditunggu-tunggu tadi, pasti udah pada penasaran kan?” Teriak seorang pria kemayu bertubuh tambun, dia berpenampilan begitu mencolok dengan setelan jas motif pelangi. Dia adalah Irvan Gorjeswan atau dikenal sebagai Mak Igor, seorang perancang busana terkenal yang juga sering nyambi sebagai MC di acara gosip ataupun talkshow TV. "Siap-siap Dam! Kita udah dipanggil!” bisik Lucky disebelahnya. Berbeda dengan Lucky yang tampak sudah siap untuk tampil dengan goyang erotisnya, nyali Adam malah ciut, jantungnya berdebar tak karuan, terutama saat matanya yang mengintip dari balik celah kecil kue menemukan seseorang yang dia kenal di antara para tamu. “Astagfirullah! Itu kan Neng Ivy! Masa gue harus goyang erotis pake kolor doang di depannya? Bisa jatoh harga diri gue! Lucky b*****t sialan! Mendingan gue kerja jadi badut ancol daripada jadi beginian!” Adam mulai berkomat-kamit. “Kalem, bro! Ingat semua demi duit! Demi obat Emak lu!” Lucky kembali mengingatkan namun Adam tak bisa mendengarnya karena suara di luar sana sudah begitu berisik. “Potong kuenya, potong kuenya sekarang juga! SURPRISE!” Tepat saat kata itu terucap, Lucky dengan sigap memperlihatkan dirinya yang tiba-tiba muncul dari kue raksasa. “KYAAAAA!” Para tamu undangan yang kebanyakan wanita menjerit histeris saat melihat sosoknya. Dengan tubuh setengah telanjang, Lucky yang narsis mulai meliukkan badannya mengikuti irama lagu Macarena yang tengah dimainkan sang DJ. “Psst! Adam kenapa lu gak keluar?” panggil Lucky saat menyadari ternyata dirinya hanya menari sendirian. Sebaliknya lelaki yang disebut namanya malah tak bergeming, Adam masih saja berjongkok di dalam kue memunggungi penonton. “Loh, perasaan pesennya dua, kenapa yang nongol cuma satu?” Igor sang MC tampak kebingungan. “Sst, Adam! Ayo cepet keluar? Jangan cuma pengen makan gaji buta lu ya!” tegur Lucky kesal yang seraya menarik kedua lengan Adam untuk bangkit berdiri dari dalam kue. “GAK MAU, Lucky! Anjrit, gue malu ada Neng Ivy!” Adam berusaha mengelak tapi sia-sia, punggungnya sudah terlihat oleh para tamu undangan. “Ooh, ada satu lagi, KYAAA SEXYYY!” Lagi-lagi tamu undangan menjerit histeris saat melihat kemunculan Adam. Memang tak salah, tubuh Adam yang gagah dan atletis, dengan otot sempurna dan kulit kecoklatannya yang eksotis, dari belakang saja sudah mampu melelehkan hati siapapun yang melihatnya, baik itu kaum hawa ataupun kaum gay. ‘Ya, Allah maafkan hambamu yang penuh dosa ini. Demi obat Emak, hamba janji cuma sekali ini aja bikin maksiat, setelah ini hamba pasti bertobat!’ batin Adam berkecamuk sebelum akhirnya dia melakukan hal yak terduga, yaitu membenamkan wajahnya di krim kue. “Loh, tapi mukanya kok cemong gitu? Eh, waras gak sih dia?” komentar seorang tamu wanita, tepat saat melihat Adam berbalik. Memang benar, untuk menutupi rasa malu Adam sengaja melumuri wajahnya dengan krim dari kue. Dia berharap dengan begitu dirinya tidak bisa dikenali, terutama oleh Ivy. Tak mau dianggap makan gaji buta, Adam pun segera mengikuti gaya Lucky meliukkan tubuhnya mengikuti irama. Hanya saja gerakannya yang kaku bukannya terlihat erotis dan mengundang birahi malah menggelikan. “Sst, Adam! Lu ngapain? Harusnya lu goyang pinggul dan belalai bukan goyang cumi-cumi!” panggil Lucky yang kebetulan menari di sebelahnya. “Bodo amat, ah!” sahut Adam yang sudah tak peduli lagi dengan situasi dan imagenya saat ini. “Acara apaan ini Cher? Kok absurd banget, risih gue lihatnya!” celetuk Ivy yang tanpa sengaja pandangan matanya berpapasan dengan pemuda gondrong aneh yang wajahnya berlumuran kue. Entah kenapa Ivy merasa familiar dengan tatapan matanya itu, dia seperti pernah melihatnya di suatu tempat namun lupa dimana. “Gue sendiri juga gak ngerti, Vy. Biasanya gak kayak gini deh...” timpal Cheryl yang ikut kebingungan. ‘Ah, sialan! Neng Ivy udah ngelihat gue! Gue harus segera kabur dari tempat ini!’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN