Bab 14 Suku Panah Merah

1412 Kata
Jleb! Jleb! Jleb! Tiba-tiba Raja Telapak Iblis melihat banyak anak panah beterbangan di sekitarnya. Anak-anak panah itu melesat tajam, menembus pohon-pohon yang tumbuh di situ. Untunglah, ia adalah seorang pendekar yang mumpuni dan berilmu tinggi, sehingga ia bisa menghindar dari kepungan anak panah yang terus beterbangan kesana-kemari. Bahkan ia masih sempat melindungi putrinya dari serangan tiba-tiba itu. Ia tangkis serbuan anak panah itu dengan jubah dan tangannya langsung. Pada suatu kesempatan, Raja Telapak Iblis berhasil menangkap salah satu anak panah yang melesat tajam ke arahnya. Ia menangkap anak panah itu dengan sigap, mematahkannya, kemudian melesat ke atas dahan pohon yang lebih tinggi. Gerakannya begitu ringan, sambil menarik lengan Mahalini untuk berlindung di atas pohon, dibalik daun-daunan yang rimbun. Mata Telapak Iblis berkelana mencari siapa pengecut yang berani-beraninya menyerang dari belakang. Ia mengamati anak panah di tangannya, sambil mengernyikan dahi. Sepertinya, anak panah itu tak asing baginya. Sebuah anak panah berwarna merah. Ia mengangguk-angguk, memahami bahwa situasi sangat berbahaya untuk saat ini. “Kita kedatangan tamu berbahaya, Mahalini. Persiapkan dirimu!” Anak panah itu dilumuri warna merah, seolah sebagai penanda siapa pemilik anak panah itu. Raja Telapak Iblis segera paham siapa pemilik anak panah itu. Ia pernah mendengar berita yang begitu santar bahwa jauh di dalam rimba, konon ada sekelompok kanibal pemakan menusia yang menamai dirinya Suku Panah Merah. Mereka menggunakan panah-panah berwarna merah yang ujungnya dilumuri racun, untuk melumpuhkan mangsa. Bukan hanya mangsa berupa binatang, tetapi juga manusia yang kebetulan mereka temui. Keberadaan Suku Panah Merah ini cukup meresahkan siapa saja yang melewati kawasan Alas Purwo. Mereka tak segan-segan menculik siapa saja yang lewat, kemudian merampok harta bendanya. Bahkan pasukan kerajaan pun pernan menjadi sasaran penculikan Suku Panah Merah ini. Saat mereka diburu, mereka seolah menghilang dalam hutan, tanpa diketahui pasti di mana tempat persembunyiannya. Keberadaan mereka bagai hantu yang datang dan pergi begitu saja.  Raja Telapak Ibllis masih bersikap waspada. Dalam waktu singkat, tiba-tiba dari segala arah penjuru hutan muncul suara-suara teriakan aneh. Suara itu melengking-lengking memekakan telinga. Mahalini merasa tegang, memegang erat jubah sang ayah. Mahalini sering mendengar keberadaan Suku Panah Merah ini. Keganasan suku ini sudah tersohor di mana-mana karena kesadisannya. Kengerian itu begitu terasa menggigit.  Mahalini tak menyangka kali ini ia akan merasakan sendiri, bagaimana rasanya berhadapan dengan suku barbar penghuni Alas Purwo ini. Mereka masih berdiri di atas dahan pohon yang cukup tinggi ketika sepasukan pria besar dengan kulit yang dilumuri warna merah mengepung pohon. Muka mereka tampak menyeramkan karena tubuh dan paras dicoret-coret dengan kapur putih, serta memakai hiasan bulu burung di kepala. Paras mereka terlihat lebih bengis penuh nafsu. Gigi-gigi mereka terlihat lebih tajam dan runcing,  disepuh warna hitam. Mahalini merasa gemetar melihat pasukan yang tampangnya menebar ketakutan itu. “Kau jangan khawatir. Dengan sekali pukulan, mereka semua akan kuhabisi. Kau tak perlu khawatir,” bisik Telapak Iblis kepada putrinya. Telapak Iblis mulai bersiap-siap dengan pukulannya. Ia memusatkan kekuatan pada telapak tangannya, pertanda hendak melancarkan jurus Hantaman Telapak Iblis. Ia berusaha berkonsentrasi, tetapi hal itu bukanlah perkara mudah. puluhan anak panah kembali menyerang dari segenap penjuru. Bukan hanya anak panah, tetapi tombak-tombak juga melesat dari arah bawah pohon. Hujan anak panah dan tombak tak terelakkan lagi. Telapak Iblis mulai gusar. Berkali-kali ia menangkis serangan suku barbar itu dengan jubahnya sambil melihat ke bawah, mendapati puluhan anggota Suku Panah Merah mengepung pohon tempatnya bersembunyi. Ia ingin meloncat ke pohon lain, tetapi jaraknya terlalu jauh, Ia tidak mau mati konyol gara-gara kebodohannya. Ia harus memutar otak, agar bisa lolos dari serangan suku barbar ini. Diliriknya Mahalini yang mulai memucat karena takut. Jleb! Tiba-tiba sebuah anak panah menancap di dahan pohon, begitu dekat dengan muka Telapak Iblis, nyaris menembus kulitnya. Telapak Iblis tak dapat lagi menganggap enteng serangan-serangan mereka. Apalagi dilihatnya beberapa anggota dari suku tersebut sudah ada yang mulai berusaha merangsak naik ke atas pohon. Mahalini tak bisa diam melihat keadaan itu. Sejak kecil ia dibesarkan dalam lingkungan dunia hitam yang keras dan kelam. Ia berusaha menaklukkan rasa panik yang menguasai hati. Perlahan, ia mengambil busur panah yang ia sematkan di punggung. Ia mulai beringas, mengambil anak panah dan membidik para anggota suku yang sudah mulai naik ke pohon. Jleb! Jleb! Beberapa anak panah langsung menancap mengenai sasaran. Anggota suku yang sedang menaiki pohon satu-persatu terjengkang karena tertembus panah milik Mahalini, sambil melolong kesakitan. “Bagus Mahalini!” gumam Raja Telapak Iblis. Pada kesempatan yang sama, Raja Telapak Iblis mengumpulkan tenaga dalam di telapak tangan mautnya. Cahaya biru menyelubungi telapak tangan itu, kemudian dengan teriakan yang melengking ia menghantamkan telapak tangannya ke arah bawah pohon. Dhuaarr! Serangkum pukulan dahsyat menghantam segala sesuatu di bawah pohon, membuat beberapa anggota Suku Panah Merah terpental ke belakang dalam keadaan mengenaskan! Beberapa di antaranya menghantam pohon dengan keras, bahkan daun dan ranting pohon bertumbangan akibat pukulan dahsyat milik Raja Telapak Iblis. Pukulan maha dahsyat itu membuat para anggota Panah Merah mundur beberapa langkah ke belakang, melihat beberapa temannya yang meregang ajal dengan cara mengenaskan. Tiba-tiba salah satu dari mereka melengking dengan suara tinggi, seperti mengisyaratkan sesuatu. Sontak para anggota Panah Merah melengking sahut-menyahut. Lengkingan itu adalah luapan kemarahan karena melihat beberapa anggota mereka tewas dalam kondisi seperti itu. Mata mereka yang berwarna merah menatap ke arah Telapak Iblis dengan penuh amarah, seolah menuntut agar Telapak Iblis turun dari atas pohon. Lengkingan dan suara riuh itu terhenti ketika kerumunan anggota panah merah itu tersibak. Seorang pria tinggi besar bertelanjang d**a, dengan sekujur tubuh dilumuri warna merah, dengan bermacam-macam hiasan melangkah ke depan dengan langkah tegap. Ia menatap ke arah Telapak Iblis dengan memicingkan mata. “Telapak Iblis!” Telapak Iblis terperangah. Ia tak mengira kalau pria yang sepertinya adalah kepala suku dari Panah Merah, bisa berbicara dengan bahasa yang jelas, bahasa yang dipakai manusia pada umumnya. Padahal sebelumnya suku ini dikenal hanya berbicara dengan bahasa isyarat, tak pernah mengeluarkan suara apalagi bercakap. “Turun kau, Telapak Iblis!” Suara kepala suku Panah Merah terdengar parau dan berat, tetapi Telapak Iblis dapat dengan mudah mendengar perkataannya. Ia tak serta-merta turun menuruti perkataan si kepala suku. Ia masih mengamati keadaan sekitar dengan rasa curiga. “Apa yang kau inginkan?” tanya Telapak Iblis. “Hmm, ada sesuatu yang ingin kutawarkan kepadamu. Turunlah!” ucap kepala suku Panah Merah. Telapak Iblis agak ragu, apakah ia memutuskan turun atau tetap tinggal di dahan pohon. Diliriknya Mahalini, tetapi gadis belia itu hanya menggeleng dengan perasaan cemas. Ia khawatir kalau perintah kepala suku ini hanya jebakan semata, yang bisa membahayakan nasib putrinya. Telapak Iblis berpikir sejenak. Ia tidak pernah mengenal kepala suku ini sebelumnya. Namun, ia teringat satu hal konon seorang kepala suku harus memegang janii, dan tidak boleh bertindak pengecut. Telapak Iblis berpikir, mungkin suku ini jahat dan bengis, tapi bukan berarti mereka akan bertindak sebagai pengecut. Mereka akan menghadapi lawan berhadap-hadapanan, kecuali dalam mencari mangsa. Wuuut! Telapak Iblis tak berpikir panjang. Ia melesat turun dari atas pohon untuk menemui si kepala suku Panah Merah, sementara Mahalini masih bertahan di atas pohon. Para anggota Panah Merah yang lain tampak waspada. Mereka telah siap dengan senjata-senjata yang siap menghabisi Telapak Iblis. Pendekar aliran hitam itu melangkah dengan tenang mendekati Kepala Suku Panah Merah, sembari menatap tajam ke arahnya. Dua mata beradu tatap, saling mengancam. “Apa yang kau inginkan?” tanya Telapak Iblis lantang. “Sebuah kerja sama!” jawab si kepala suku. “Kerja sama macam apa?” “Aku tidak akan membicarakannya di sini. Datanglah ke ketempat kami dan aku akan jelaskan kerjasama itu!” Untuk sejenak Telapak Iblis merasa ragu sebab ia khawatir kalau-kalau kepala suku Panah Merah akan menjebaknya. Ia sadar, selama ini Suku Panah Merah tinggal di sebuah tempat yang tak pernah diketahui, di pelosok hutan yang tersembunyi. Mereka bisa muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba pula. memenuhi undangan ini bisa berakibat fatal. “Baiklah aku akan datang ke tempatmu. Bagaimana caraku menemukan tempat kalian, dan bagaimana aku bisa tahu kalau ini bukan jebakan?” sangsi Telapak Iblis. Mendengar itu, kepala suku tertawa seraya berucap,”Kami memang suka makan daging manusia, tapi kami bukanlah pengecut rendahan yang suka memperdaya musuh. Kami tak akan mencelakaimu. Sebaliknya, kami akan menjamu tamu kami dengan sebaik-baiknya. Belum ada seorang pun yang pernah menginjak tempat kami sebelumnya. Maka, tentu ini adalah kehomatan bagimu!” Apa yang diucapkan kepala suku itu memang benar. Keraguan yang ada di hati Telapak Iblis perlahan sirna. Ia mengangguk perlahan, menandakan ia setuju dengan undangan dari Kepala Suku Panah Merah. Kepala suku itu mengisyaratkan Telapak Iblis mengikuti langkahnya. Setelah menurunkan Mahalini dari atas pohon, keduanya mengikuti langkah Telapak Iblis menembus hutan yang gelap. ***            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN