Patih Ganendra memasuki ruangannya dengan langkah tegap, membusungan diri, seolah menunjukkan kuasanya kepada semua pengawal yang berjaga di situ. Sorot matanya yang tajam, seolah menampakkan ambisi yang begitu besar. Terbayang dalam pikirannya jika tahta Kerajaan Lasem ini jatuh di tangannya, maka ia akan diakui dalam sejarah sebagai pemimpin yang berhasil menumbangkan kekuasaan Dewi Indu yang legendaris itu. Di dalam ruangannya sudah menunggu Panji Panuluh yang duduk dalam keadaan terikat, sementara beberapa pengawal menungguinya. Melihat itu, Patih Ganendra memicingkan mata. Tentu ia mengenal Panji sebagai pendekar yang tak bisa dipandang sebelah mata. Ia melihat sendiri bagaimana pemuda itu turun langsung dalam kancah pertempuran ketika pasukan mereka diserang pasukan dari Alas Purwo.

