Matahari baru saja menyembulkan diri di cakrawala, menampakkan sinarnya yang keemasan di seluruh penjuru bumi. Sinarnya menerobos dedaunan hutan yang lebat, menghangatkan dasar hutan yang lembap. Perlahan Kumbara membuka mata melihat sekelilingnya yang sudah mulai sibuk. Tenda-tenda sudah dibongkar, api unggun juga sudah padam, menyisakan onggokan arang dan bekas-bekas tulang sisa semalam. Entah tulang binatang atau tulang manusia, ia sudah tidak peduli lagi. Para pria berparas seram itu sibuk dengan segala perbekalan, sementara dirinya dibiarkan dengan kondisi tangan terikat, di bawah pohon besar dengan daun-daun rimbun. Pagi ini juga, sepertinya mereka hendak melanjutkan perjalanan. Namun, Kumbara tidak tahu hendak kemana gerangan para pria ini pergi, karena ia tidak pernah mendengar s

