“Sialan!” Tama mendesis kesal. Dia menatap Rhea yang masih berbincang. Tampak seru sakali bagi matanya yang mengawasi dari jauh. Dia jadi tidak sabar. Tangannya yang memegangi tas Rhea, mengepal erat. Lorong rumah sakit yang ramai itu mendadak terasa lebih sempit saat Tama mengambil langkah mendekat. Posturnya tegap, wajahnya tenang, senyumnya bahkan ramah, namun sorot matanya tidak pernah lepas dari Rhea, dari senyum lembut yang tadi sempat dia lihat. “Rhe?” Tama memanggil, berjalan santai menghampiri Rhea yang terkekeh kecil. Gaya gadis itu feminim sekali, berbanding terbalik saat sedang bersama dirinya yang garang, penuh pertahanan. Rhea menoleh, detik itu senyum manisnya lenyap. Dia kaget karena lupa kalau Tama menunggu. “Tama … aku … .” Rhea kehilangan kata, menatap Tama dan Ti

