Terhanyut ke dalam pikiran, aku sampai enggak sadar bahwa pancuran air yang mengenai tubuhku sudah berhenti mengalir. Saat aku mendongkak menatap ke arah atas, netraku menangkap tubuh tegap Mas Prabu. Mau apa dia kembali ke sini? Belum puaskah menghukumku? Tangan pria itu terukur untuk menarikku agar berdiri. Dia membalut tubuhku dengan handuk. "Mandi di kamar sebelah. Saya sudah siapkan air hangat," perintahnya. Aku menggeleng. "Aku mandi di sini aja. Enggak perlu pakai air hangat." "Kamu kedinginan," ucapnya lembut, "mandi air hangat. Nanti saya siapkan sup ayam, kita makan bersama setelah kamu mandi." Aku masih enggak bisa paham. Baru saja dia bersikap kasar dengan menghukumku, kemudian saat ini dia bertindak seolah tidak terjadi apa-apa diantara kami. Kalau dia memang merasa bers

