Aku gagal ke Bangka.
Fix, no debat. kata Mas Prabu.
Mas Prabu sudah menghubungi Pak Bale bahwa aku tidak bisa ikut. Dia memberikan alasan bahwa ada suatu permasalahan keluarga yang mengharuskan kami untuk pulang ke kampung. Dia juga meminta maaf dan siap menanggung kerugikan atas hal ini.
Mas Prabu menyodorkan layar ponselnya kepadaku. "Sudah saya transfer uang ganti rugi tiketnya. Sudah fair kan? Kamu jangan overthingking lagi. Semuanya kalau saya yang urus, aman."
Aku melirik ke layar ponsel itu kemudian bergumam. Setelah itu aku memilih diam karena aku malas juga interaksi sama dia. Lebih tepatnya, aku masih kesel. Gara-gara dia aku gagal ke Bangka.
"Sudah jangan cemberut begitu," Mas Prabu meletakkan ponselnya di meja lantas dia duduk di sebelahku. Tangannya bergerak untuk menggenggam tanganku, aku berusaha melepaskan genggaman tangan itu, tetapi sialnya dia menggenggamku lebih erat, "kamu bisa pergi berdua sama saya, Luv. Kita keluar negeri juga bisa."
Aku menatapnya dengan sorot mata tajam. "Tapi aku enggak mau pergi berdua sama Mas!"
"Loh," tangan itu mulai mengelus tanganku, "masa enggak mau pergi sama berdua suami."
"Pulang aja yuk," ucapku cepat, "aku mau kembali ke Jakarta."
Soalnya aku enggak betah di kampung. Aku enggak nyaman berada di sini. Aku enggak nyaman karena Bapak dan Mas Prabu seolah bekerjasama untuk memojokkanku disetiap obrolan yang kami lakukan.
Pria itu mengangguk lantas dia melayangkan kecupan di kepalaku. "Besok pagi ya, Sayang," ucapnya kemudian dia berdiri dan berjalan ke arah luar kamar, "saya mau ke rumah depan, rumah saya. Mau ikut?"
Aku menggeleng. "Enggak."
•••
"Luvita dengar semua nasehat Bapak nggak?" ucap Bapak saat kami sedang sarapan di teras depan.
Aku enggak mengeluarkan suara, aku memilih hanya mengangguk saja.
"Jangan mengangguk aja. Dengar enggak? Bapak ngomong sudah sampai berbusa. Kalau kamu masih enggak dengarkan juga, keterlaluan."
"Aku dengar tahu. Sampai hafal malah," ucapku kemudian menegak teh manis dari yang awalnya sisa setengah gelas, aku minum sampai habis.
"Coba ulangi," ucap Bapak.
Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya menuruti perintahnya. "Aku harus jadi istri yang penurut. Harus lemah lembut dan penuh cinta sama suami. Harus memenuhi kebutuhan suami, apa pun itu. Harus meminta izin setiap mau pergi. Harus memberikan kabar tentang lokasi pergi aku. Enggak boleh membantah. Enggak boleh marah-marah sama suami. Enggak boleh berbicara keras. Enggak boleh pergi keluar tanpa izin. Enggak boleh malas kalau di rumah. Enggak boleh terlalu ramah ke pria lain."
Mas Prabu yang ada di sampingku langsung menyunggingkan senyum. "Pintar," pria itu mengusap kepalaku, "tapi jangan cuma dihafal ya, Luv. Dipraktikkan juga."
"Ya harus dong," ucap Bapak langsung menimpali, "kalau dia nakal, kasih tahu Bapak. Laporan ya."
"Iya, Pak."
"Kalau anak Bapak nakal lagi. Jangan dimanjain. Jangan dilembutin. Kerasin aja dia. Biar enggak mengulang lagi."
Aku meringis mendengar ucapan Bapak, sedangkan Mas Prabu mengangguk-angguk dengan semangat.
Setelah itu aku dan Mas Prabu segera pamit ke Jakarta. Di dalam mobil, aku memilih untuk terus memejamkan mata berharap kantukku datang dan aku bisa tenggelam dialam mimpi. Namun, sialnya aku tidak kunjung tertidur. Padahal sudah hampir setengah jam aku memejamkan mataku.
"Tidur kok matanya gerak-gerak begitu. Sebegitunya enggak mau interaksi sama saya? Makanya memilih pura-pura tidur?"
"Aku emang ngantuk, cuma ga bisa tidur aja," aku membuka mata lantas menoleh ke arah nama plang, "ini mau ke mana sih? Bukan arah ke Jakarta ini."
Mas Prabu mengangguk. "Memang kita bukan mau ke Jakarta. Saya belum mau pulang."
"Terus ke mana?" aku mengerucutkan bibirku, "aku maunya kita pulang aja."
"Enggak."
"Terus kita mau ke mana?"
Saat lampu merah, Mas Prabu memberikan ponselnya kepadaku. "Buka aplikasi email, ada tanda bukti transaksi booking."
Begitu aku melihatnya, aku langsung melemas.
"Booking penginapan?"
Dia mengangguk.
Aku menggeleng lantas meletakkan ponselnya di dashboard. "Tapi aku enggak mau. Batalkan aja bookingnya. Nanti aku yang ganti uangnya."
Beberapa detik kemudian aku baru sadar bahwa aku enggak punya uang untuk ganti rugi. Apalagi kalau nominalnya besar. Haduh.
"Potong aja uang jajan aku tiga bulan ke depan," ucapku menimpali lagi.
"Enggak ada yang dibatalkan. Kita tetap ke sana."
"Aku enggak mau. Aku enggak mau Mas! Aku mau pulang aja."
"Tapi saya mau. Keputusannya kita tetap ke sana, titik," ucapnya dengan egois.
Dan kemudian percakapan pun berakhir.
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Part Ke-1 sampai Part Ke-55 (Ending)
Total 55 Part ; 215 Halaman
Hanya dengan Rp46.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Get A Cruel Husband? _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp46.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)