Part 16

1975 Kata
* * * * * * * * * Part 16 * * * * * * * * *   Tapi, saat melihat Vio cemberut, Lala tertawa. Untuk mempertegas bahwa dirinya memang benar benar bercanda saat mengatai otak Vio  y a n g kecil itu, meski memang benar sih. "Bercanda doang kok. Hehe." Kata Lala akhirnya, men j e l a s  kan perihal ucapannya tadi agar Vio  t i d a k  lagi cemberut. Males banget kan harus menghadapi Vio  y a n g ngambek. Bukan apa apa, nanti malah merembet ke mana mana,  d a n  sayangnya rembetannya itu ka d a n g suka gak penting. Lala gak mau dengerin Vio ngoceh buat hal hal aneh  y a n g gak berguna, ucapan Vio  y a n g berguna aja ka d a n g terdengar aneh, apa lagi ucapan ngaconya. Ih, Lala gak se kurang kerjaan itu yaa mau mendengarkan Vio sampai segitunya. Mending dia tidur deh kayak Vale di UKS ini, lumayan kan bolos dadakan gini. "Kenapa Vale lakuin ini sih, La?" tanya Vio lagi, melanjutkan pertanyaan tadi saat masih di koridor sekolah. Rupanya sudah menempuh perjalanan sampai sini pun Vio tetap  t i d a k  paham alasan Vale melakukan hal tadi, rasanya Lala ingin sekali berteriak kesal pada Vio  y a n g lemot  l u a r   b i a s a   ini. Padahal kan ini perkara gampang banget, emang butuh banget alesan gitu ya? Ya ampun Vio. Tapi Lala berusaha sabar, ia tetap tersenyum lebar pada Vio agar  t i d a k  terlihat emosi meski hatinya kesal. Oke, Lala sudah biasa kok begini. Sabar adalah kunci utama awet muda, maka Lala harus sabar  l u a r   b i a s a   menghadapi Vio demi awet muda. "Lo inget gak, kemarin, kita taruhan sesuatu sama Bhisma  d a n  Ricky?" tanya Lala berusaha memancing Vio untuk mengingat perihal kejadian tersebut,  y a n g mana mereka memang mengadakan taruhan dengan Bhisma  d a n  Ricky. Memulai semuanya dari sana sampai Vale harus menikmati hukuman dari Bhisma itu. Saat Vio menggeleng, Lala melanjutkan. Sudah ia duga Vio gak akan ngerti soal taruhan itu, padahal ia juga terlibat  d a n  berada di sana. Vio ini harusnya catat saja segala galanya biar ingat. Jadi Vale memang harus sabar  d a n  melanjutkan ucapannya, men j e l a s  kan soal kejadian ini dengan sangat detail  d a n  satu per satu agar Vio dapat memahaminya. "Kalo tentang perbedaan selisih  y a n g terjadi dengan Pak Toni  d a n  kepala sekolah kita itu?"  j e l a s   Lala lagi, mengingatkan perihal kejadian itu. Di sekolah saat itu memang ada perselisihan antara Pak Toni  d a n  kepala sekolah, sehingga hal tersebut justru di jadikan Bhisma  d a n  Vale sebagai ajang taruhan, hingga muncul lah hukuman tersebut  k a r e n a  nasib malang menimpa Vale  y a n g harus kalah taruhan dari Bhisma.  Vio mengangguk. Cewek itu kini mulai paham tentang arah  y a n g di bicarakan Lala, maka mata Vio semakin menatap Lala dengan antusias  d a n  penuh percaya diri,  k a r e n a  akhirnya dirinya mengerti apa  y a n g tengah di bicarakan Lala. Harusnya Lala kayak gini dong dari awal, kalo cerita jangan maen longkap longkap aja, ya Vio mana paham.  j e l a s  in runtut dari kejadian awalnya, makanya kita di himbau buat mengetahui sebab akibat. Hal itu kan penting buat menceritakan sesuatu seperti saat ini. "Nah, kita kan taruhan, siapa  y a n g memenangkan perselisihan itu, akan jadi pemenangnya. Inget?" Lala kembali men j e l a s  kan pada Vio, mengingatkan akan kejadian guru  d a n  kepala sekolah  y a n g berselisih paham itu,  y a n g malah di jadikan ajang taruhan. Lala seberusaha mungkin mengucapkannya dengan sangat  j e l a s  , agar Vio dapat memahaminya  d a n  ia  t i d a k  perlu mengulang ucapannya lagi. Memang harus begini jika bicara dengan Vio, ekstra sabar  d a n  harus ekstra  j e l a s  , seperti men j e l a s  kan pada seorang balita  y a n g belum bisa mencerna hal hal  y a n g sulit untuk di pahami. Sekiranya begitu lah  y a n g terjadi pada Vio ini, sepertinya tumbuh kembang Vio saat balita belum berakhir sampai sekarang, mungkin Lala harus memberikan Vio s**u formula untuk balita agar cewek itu memiliki kemampuan  y a n g cepat tanggap seperti balita  y a n g jenius. Sekali lagi, Vio mengangguk. Pertanda bahwa ia masih mengerti sampai sejauh ini ucapan Lala,  y a n g memang masih di ingatnya. Vio ingat  j e l a s   perselisihan itu,  d a n  ia juga ingat saat Vale  d a n  Bhisma malah aneh sekali, bukannya memisahkan atau gimana kek gitu, masa ada orang berantem malah di jadiin taruhan. Vio bener bener gak paham sama tindakan  y a n g di lakuin Vale  d a n  Bhisma. Terus Lala juga malah ikutan mendukung, Vio  y a n g mau melerai juga kan takut kalo sendirian. Jadi Vio ya gak ngapa ngapain sih, tapi se t i d a k nya ia ingat kejadian tersebut, sehingga Lala bisa kembali melanjutkan cerita  d a n  pen j e l a s  annya itu agar Vio memahami arah pembicaraan ini. Lala mengembuskan napas lega saat melihat anggukan Vio, akhirnya Vio paham juga sampai sejauh ini. Ingin sekali ia mengucapkan syukur sebanyak banyaknya  k a r e n a  berkah dapat melihat Vio  y a n g memahami ucapannya ini. Sebab jika Vio  t i d a k  paham, bisa bisa Lala  y a n g jadi gila  k a r e n a  tak tau lagi harus bagaimana cara men j e l a s  kan sesuatu itu ke Vio. Lala bisa bisa harus berpikir ulang  d a n  mengolah kata katanya agar bisa di pahami Vio dengan sebaik baiknya, atau Lala akan murka  d a n  membiarkan Vio kebingungan selamanya saking enggan untuk men j e l a s  kan jika cewek itu tak kunjung paham. " d a n  kita, milih kalo kepala sekolah kita  y a n g berwibawa itulah  y a n g menang. Tapi," Lala cekikikan membayangkan kejadian kemarin. Lucu juga soalnya saat menonton Pak Toni  d a n  Kepala sekolah ribut terkait kebijakan  d a n  di tonton para siswa  y a n g menganggap kejadian tersebut bagaikan tontonan gratis. Bhisma  d a n  Vale malah memanfaatkannya untuk ajang taruhan  y a n g membuat mereka menjadi saling menyiapkan hukuman satu sama lain. Memang mereka berdua ini  t i d a k  ada akhlaknya, guru ribut malah di jadikan ajang taruhan. Tapi Lala terkikik lagi, yaa soalnya seru sih. Siapa suruh ribut depan umum. Harusnya kan ribut aja di ruangan mereka, jadi gak keliatan sama siswa, sehingga gak bakal deh di jadiin ajang taruhan sama Vale  d a n  Bhisma  y a n g emang kurang kerjaan itu. "Justru, Pak Toni sih guru piket dengan muka jerawatan serta rambut lepeknya itulah  y a n g menangin itu.  y a n g artinya, ya, kita kalah." Lanjut Lala, men j e l a s  kan kembali kronologis kejadian kemarin  y a n g padahal sebenarnya Vio juga ada di sana, sudah berapa kali ya Lala mengatakan ini. Vio juga ada di sana  d a n  melihat kejadiannya langsung. Tapi bisa bisanya Vio gak ngerti  d a n  malah bingung seperti ini seolah  t i d a k  mengetahui apa pun. Sebenarnya saat melihat kejadian kemarin apa sih  y a n g di pikirkan Vio sampai sampai no clue seperti hari ini?  d a n  padahal Vio juga terlibat kok, Lala  d a n  Vale sempat menanyakan pendapat Vio terkait siapa  y a n g akan mereka pilih, kepala sekolah atau Pak Toni. Meski jawaban Vio  t i d a k  penting, tapi ia sepakat untuk memilih kepala sekolah dalam keadaan sadar. Vio masih mendengarkan dengan baik. Lala sempat mengira kalau nantinya Vio akan menjadi seorang guru BP  y a n g selalu menghadapi anak-anak  y a n g mengeluh kepa d a n ya untuk cerita apapun.  d a n  itu malah makin membuat Lala cekikikan. Coba bayangin kalo guru BP kayak Vio? Kayaknya pas siswa melakukan kesalahan. Vio masih kebingungan  d a n  tak lantas menghukum. Oh, mungkin tepatnya Vio akan menjadi guru BK cabang konseling,  y a n g  h a n y a   akan mendengarkan para murid berkonsultasi terkait permasalahan masa remaja  y a n g terka d a n g rumit. Lalu Vio akan menjadi pendengar  y a n g baik untuk mereka, bukan  k a r e n a  benar benar ingin mendengarkan  d a n  peduli terhadap kisah tersebut, tapi  k a r e n a  Vio  y a n g memang  t i d a k  paham dengan permasalahan orang orang, jadi harus di  j e l a s  kan secara rinci. Remaja kan senang men j e l a s  kan masalahnya secara rinci dari awal sampai akhir,  d a n  Vio akan menjadi pendengar  y a n g baik. " d a n  kekalahan,  h a n y a   diterima oleh masing-masing ketua geng. Kalo gak Bhisma, ya, Vale. Tapi berhubung kita kalah, Vale lah  y a n g menanggung ini semua."  j e l a s   Lala akhirnya, sampai kepada pernyataan akhir terkait kejadian  y a n g terjadi hari ini saat men j e l a s  kan tanda tanya  y a n g sejak tadi bersarang di pikiran Vio,  y a n g  t i d a k  mengerti kenapa Vale harus melakukan hal seperti ini. Pura pura pingsan tadi maksudnya,  d a n  lari lari di lapangan taidi juga. Vio pikir Vale  h a n y a   kurang kerjaan  d a n  pengin olah raga aja, tanpa ada maksud lain. Siap atau kan Vale lagi ada program diet gitu makanya lari di lapangan. Ternyata bukan gitu ya, ternyata ini ada kaitannya sama kejadian kemarin. Yaa Vio kan gak paham kalo gak di  j e l a s  in pelan pelan sama Lala gini. Tapi kalo udah di  j e l a s  in ya Vio paham kok. " y a n g kesimpulannya, adalah--" Vio mulai bersuara, berusaha menarik kesimpulan dari cerita Lala.  y a n g artinya otaknya kin sudah konek dengan kejadian tersebut, setelah sekian lama,  d a n  setelah pen j e l a s  an  y a n g sangat panjang  d a n  beruntut. Akhirnya Vio bisa mengatakan hal tersbut. Lala bersyukur sekali  k a r e n a  usaha pen j e l a s  an panjang lebarnya ini  t i d a k  sia sia, dengan terbukti Vio bisa memahami ucapannya meski harus di  j e l a s  kan pelan pelan. Atau sangat pelan sekali,  h a n y a   demi agar Vio dapat memahaminya  d a n   t i d a k  bertanya lebih lanjut lagi. Lala harus mulai mempertimbangkan untuk menjadi seorang guru atau dosen, pasti pen j e l a s  annya akan sangat cepat masuk pada murid muridnya itu. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * T o  B e  C o n t i n u e d * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN