Ketahuan

1597 Kata
Author POV Hari ini hari Sabtu. Meskipun hari libur Risya tetap bangun pagi dan langsung membersihkan diri. Setelah selesai Risya keluar dari kamar mandi dan mendengar ponselnya berdenting, dengan cepat Risya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan pagi-pagi sekali. Sofeea : Risya sayang, ikut kumpulan yaa hari ini, kita mau reuni. Risya mengernyit, reuni? Tumben si sofee tidak memberitahunya lebih dulu. Kenapa dadakan sekali? Tak lama Risya pun membalas pesan sofeea. Risya : Kok gue baru dikasih tau sih, gue kan belom siap siap. Jahat lo pada. Send Tring Sofeea : Maaf yaa sayang, gue lupa. Kemaren kemaren gue sibuk banget. Gausah pake persiapan kali lo udah cantik lahir batin, percaya deh. Risya terkekeh sekaligus tersanjung membaca balasan dari temannya. Risya: Ah elo, tau aja kalo gue cantik lahir batin. Wkwk ... Risya membalas chatnya sambil tersenyum sombong. Risya : Oke deh, gue ke salon dulu ya. Eh, btw dimana reuninya? Send. Tring Sofeea : Eh, ngga usah ke salon dulu. Langsung aja kali ke rumah gue. Kita ini acaranya diluar kota dan sebentar lagi mau berangkat. Jangan lupa bawa baju ganti. Awas lo kalo telat! Balasan sofeea lagi. 'Sial kenapa harus pagi ini sih aku kan belum minta izin.' Batin Risya menggerutu. Risya tidak membalas lagi pesan dari sahabatnya itu, ia langsung bergegas menyiapkan barang-barang yang hendak dia bawa. Setelah semua, Risya membangunkan sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya. "Mas ... Bangun mas ... Udah siang lho ini." Risya menepuk-nepuk bahu Ardi pelan. Ardi bangun, segera ia mengernyitkan matanya karena silau melihat cahaya matahari yang menerobos ke sela-sela jendela kamarnya.  "Mas jangan tidur lagi doang!" Seru Risya tak sabar. Dia sudah di buru waktu. "Hmm ... Inikan hari libur, Ris," Ardi berucap malas-malasan dan kembali tidur, kebiasaan. "Mas, teman-teman modeling dulu ngajakin aku reuni hari ini, tapi di luar kota." jelas Risya cepat. Mumpung kesadaran Ardi sudah separuh kumpul. "Ya sudah," gumamnya lagi. "Mas ih ... diizinin ngga?" tanyanya tak sabaran. Risya gemas sekali dengan kelakuan suaminya itu saat bangun tidur. "Hmmm." "Iihhh diizinin ngga mas?!" kali ini Risya sedikit meninggikan suaranya karena Ardi masih tidak bereaksi. "Iya- iyaa bawel. Aku mau tidur, udah sana pergi aja." "Hh ... Sabaarr!" Gerutu Risya, tangannya mengusap-usap d**a untuk menenangkan hatinya agar tidak kesal karena jawaban suaminya itu. Setelah memastikan semua telah siap, Risya pun keluar dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu. Ponsel Risya kembali berdenting, ternyata ada pesan dari sahabatnya. Sofeea : Woyy gue jemput ke rumah lo deh, kelamaan kalo harus nunggu lo ke rumah gue. Risya tersenyum puas, itulah kalimat yang sedari tadi Risya tunggu-tunggu. Jadi, dia tidak perlu repot-repot lagi ke rumah sofeea. Risya tak membalas pesan Sofeea, dia yakin Sofeea tidak perlu jawaban darinya lagi. Setelah menunggu sekitar 20 menit, Sofeea pun datang. Tanpa rasa sungkan lagi Sofeea segera masuk ke dalam rumah Risya. "Hadeh, malah santai-santai." Ujar Sofeea sebal. Risya terkekeh sebagai jawaban dari gerutuan Sofeea tadi. "Yuk, ah." Ajak Sofeea merenggut. Risya mengangguk, lalu menghampiri sofeea yang sedang berdiri dengan menggeret kopernya. "Lama banget sih Lo jemputnya." Ucap Risya dengan nada menggoda, sengaja dia berucap seperti ini untuk memancing amarah sahabatnya yang pemarah ini. "Berisik, Lo." "Haha ... Santai kali, soff!" "Please deh, Sya, jangan panggil gue dengan sebutan seperti itu." "Iya-iya, sorry, sahabatku." "Btw, Lo udah izin sama laki Lo?" "Udah, kok. Tenang aja, laki gue mah orangnya santai." "Awas loh, tenang-tenang aja." Goda Sofeea membalas godaan Risya. "Apaan sih, Lo. Amit-amit deh. Udah Lo fokus nyetir aja!" Sungut Risya. Namun, tak pelak dia pun memikirkan ucapan sahabatnya tadi. "Udah jangan dipikirin, gue cuma bercanda." Sepertinya Sofeea tahu apa yang ada dipikiran Risya. Dalam hati, dia sedikit menyesal telah berkata seperti itu pada Risya. "Iya, gue tahu kok. Lagian laki gue mana mungkin kayak gitu. Lo, ingat 'kan waktu dia ngejar-ngejar gue dulu." "Iya-iya, gue tahu. Sorry ya, Sya." Mereka pun terdiam. Sofeea merutuki mulutnya yang mengungkit pembahasan sensitif ini. Selama perjalanan baik Risya maupun Sofeea sama-sama terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. **** Saat Risya sudah keluar dari rumah. Sahira keluar dari kamarnya, dia mengernyit heran melihat keadaan rumah yang sepi. Lalu dia melangkah ke dapur untuk mengambil air minum. Dia melihat sarapan yang sudah tersedia dia atas meja makan. Diambilnya sehelai roti dan mengolesinya dengan selai stroberi kesukaannya. Sambil memakan sarapannya dia meneliti seisi rumah Ardi dan Risya. Dia merasa kepulangannya dari luar negeri adalah keputusan yang tepat. Apalagi saat bertemu dengan Ardi, sahabatnya. Plus tinggal di rumah mewahnya adalah suatu keberuntungan yang tidak disangka-sangka. Ya, walaupun itu hanya untuk sementara. Sekarang dia tahu tujuan dia kembali lagi ke negeri ini. Dia akan mendekati Ardi kembali. Kesempatan itu datang dengan sendirinya, saat Ardi meminta dia untuk menetap sementara di rumahnya. Tentu saja, ini hal baik baginya, dia bisa leluasa mendekati Ardi di rumahnya sendiri. Sahira menarik sudut bibirnya, tersenyum menyeringai karena tak perlu waktu lama rencananya sedikit lagi berhasil. Dia mengingat kejadian semalam yang membuatnya kembali meremang. Memang dia ingin mendekati Ardi, namun kejadian kemarin bukan atas kehendaknya. Semua murni terjadi begitu saja, tak ada paksaan sama sekali. Sahira lalu teringat kembali kenapa rumah ini sepi, dia menuju ke lantas atas. Mengamati setiap ruangan yang bersih tapi sunyi sepi. Kali ini Sahira hanya memakai dress tidur putih sedikit transparan. Sahira membuka pintu kamar Ardi, melihat keadaan sekitar lalu masuk ke dalam kamar. Dia terus melangkah hingga dia mendekati Ardi yang masih tidur namun sendirian. Sahira tersenyum lebar, lalu dia mencari keberadaan Risya di sekitar balkon dan kamar mandi. Ternyata Risya tidak ada, pikir nya. Lantas hal itu membuat Sahira kembali tersenyum lebar. Dia menutup pintu kamar dan mulai mendekati Ardi yang masih tertidur. Diusapnya rambut Ardi dengan lembut. Lalu jari telunjuknya bergerak menyusuri kening, hidung, dan bibir Ardi. Merasa terganggu, Ardi menangkap jari jari Sahira tanpa membuka matanya. Dengan gerakan cepat dia menarik tangan Sahira, hingga tubuh Sahira menubruk tubuhnya. Sahira menjerit, membuat Ardi membuka kelopak matanya. Dalam beberapa detik mereka terdiam, "Sahira?!" Ucap Ardi cukup terkejut, setelah beberapa lama. "A-ardi. Ak-- aku ... " "Ngapain kamu disini?" "Itu. Lepas dulu." Ardi pun tersadar dengan posisi yang nyeleneh ini. Dengan cepat dia melepaskan tangan Sahira. Namun, ternyata hal itu malah membuat Sahira kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung dan jatuh kembali menimpa Ardi. Sepersekian detik mereka kembali terpaku. Entah setan darimana yang mendorong Ardi untuk mengecup bibir Sahira lebih dulu. Sahira terkejut, dengan aksi Ardi. Namun, dia pun senang dengan tindakan Ardi tadi. Seolah mendapat persetujuan dari Sahira, Ardi melanjutkan aksinya tanpa memikirkan Risya. Bahkan, sekarang ini dia tak ingat dimana keberadaan Risya saat ini. Seolah sedang dimabuk asmara, mereka terus menikmati pergumulan tanpa ada yang mengganggu. **** Diluar rumah mewah Ardi telah terparkir sebuah mobil mewah. Sang empu mobil keluar, lalu dia berderap cepat memasuki rumah ini. Dilihatnya pintu utama rumah ini tidak tertutup sempurna, merasa ada kesempatan dia semakin berani masuk ke dalam dan mulai mencari seseorang yang sangat dia rindukan. Dia melangkah dengan seringai yang tak lepas dari bibirnya, kepalanya membayangkan betapa indahnya bila dia memiliki wanita yang sangat begitu ia inginkan. Ia mencari-cari dilantai bawah dengan semangat menggebu, tapi ternyata hasilnya nihil. Dia tidak menemukan orang yang dicari, sejurus kemudian dia menuju lantai atas rumah mewah ini. Dalam setiap langkahnya, dia merasa mendengar sesuatu. Semakin dekat semakin jelas, seperti terdengar suara lenguhan dalam salah satu kamar. Dia mengernyit heran, saat tubuhnya berhenti di depan sebuah pintu yang sangat dia hafal di rumha ini. Bukankah ini kamar utama di rumah ini? Pikirnya. Seketika napasnya mulai memburu, bukan, bukan karena dia b*******h. Namun, karena rasa cemburu yang begitu membuncah membuat napasnya menjadi tidak beraturan. Suara lenguhan itu semakin kencang terdengar sampai keluar kamar. Giginya bergemeletuk, tangannya mengerat. Apakah aku sanggup melihat pergumulan orang yang aku cari? Batinnya berkata. Dia begitu cemburu. Namun, pikirannya tetap memaksa dia untuk melihat situasi di dalam. Jantungnya semakin memompa dengan cepat. Pintu itu tidak terkunci dan tidak pula tertutup dengan rapat. Dia kembali meyakinkan dirinya sendiri. Sampai dia sendiri bertanya-tanya, untuk apa dia melakukan hal ini. Bukankah ini akan sangat menyakiti hatinya, walaupun tidak ada yang salah dengan semuanya. Setelah beberapa menit berpikir, dia kembali memantapkan hatinya untuk melihat orang yang sangat dirindukannya. Ya, walaupun nantinya dia merasakan sakit. Dia sudah siap. Di celah kecil diantara pintu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan walau tidak menyeluruh. Saat tatapannya tertuju pada ranjang utama, dia semakin mengernyit heran. Apakah wanitanya telah berganti warna rambut? Dia mengedikkan bahunya dengan hati nyeri. Ya, ini memang resiko dia. Saat ini dia tengah melihat Ardi sedang bercinta. Suara-suara itu membuatnya pusing, seakan-akan sedang mengejek dirinya membuat emosinya seakan ingin meledak. "Si*al! Kenapa aku harus menonton mereka!" Bisiknya. "Sahira, kamu begitu memabukan!" Ujar Ardi di sela-sela percintaannya. Laki-laki yang sedang menonton aksi mereka menegang di tempat. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata pikirannya salah, Ardi bermain dengan wanita selain istrinya, dan itu di rumahnya sendiri. Gil*! Begitulah batinnya. Namun rasa-rasanya nama itu tidak asing ditelinganya. Dia mencoba untuk mengingat, dan yah, dia ingat. Wanita itu adalah Sabahat adiknya sendiri. Melihat kenyataan yang ada, emosinya semakin tak terkendali. Dia ingin sekali menghajar Ardi yang telah berani menyakiti perasaan wanita yang sangat diharapkannya. Tapi dilain hati dia menginginkan moment ini terjadi untuk keberhasilan rencananya. Seketika amarahnya mulai meredam. Wajah tegangnya tergantikan dengan seringaian seram. 'Dia telah membuang berliannya sendiri. Dan itu adalah momentum yang sangat aku tunggu-tunggu.' Ucapnya dalam hati. Lalu dia merasa rasa cemburunya tadi sia-sia. Kemudian dia pergi meninggalkan dua orang yang tidak tahu malu itu. Didalam kamar dua sejoli itu masih asik bercinta dengan peluh yang membanjiri tubuh masing masing. Mencari kepuasan seakan tidak ada hari esok. Suatu kekhilafan yang terus berlangsung. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN