Teman Rumah

2182 Kata
Author POV Hari ini Risya bangun kesiangan karena semalam ia tidur larut malam. Sedangkan Ardi yang bangun lebih dulu tidak seperti biasanya. Ardi telah bersiap-siap ingin pergi. Dia merapihkan kancing tangannya yang masih belum terkancing sempurna. Setelah itu, dia menyemprotkan parfum ke bagian-bagian tertentu pakaiannya. Suara bising akibat aktivitas Ardi membuat Risya terbangun. "Mas, tumben kamu sudah bangun, mau kemana kamu, mas?" Tanya Risya serak, khas suara orang yang baru bangun dari  tidur. "Selamat pagi, sayang. Aku mau menjemput Sahira sayang 'kan aku udah bilang semalam." Jawab Ardi santai. "Jemput Sahira? Memangnya mau kemana?" Tanya Risya heran, matanya memicing untuk memastikan ucapan suaminya. Rasa kantuknya mendadak menghilang sempurna saat mendengar nama Sahira se pagi ini. Lalu dia beranjak menghampiri suaminya dan membantu membenarkan letak dasinya. "Bukannya aku sudah bilang, atau mungkin aku lupa. Ah, entahlah, tapi yang pasti mulai hari ini Sahira akan tinggal sementara waktu dirumah kita sayang. Dan, sekarang aku akan menjemputnya. Kasihan dia kalau membawa barang-barangnya sendiri." Ardi menjelaskan. Risya semakin tak percaya dengan perkataan suaminya, kenapa Ardi tidak berdiskusi dahulu dengannya? Pikir Risya. "Memangnya dia tidak punya rumah sayang?" Risya mengungkapkan keberatannya dengan hati-hati. "Apartemen dia lagi direnovasi, terus rumah orang tuanya 'kan di Bandung. Sementara dia bekerja di Jakarta, sayang. Kasihankan dia kalau harus mengontrak atau ngekos sebelum apartemennya selesai. Lagian kamar disini juga banyak yang tidak terpakai. Boleh ya?" Ardi menggenggam tangan Risya, lalu mengecupnya. Ini cara Ardi membujuk istrinya agar Risya tidak keberatan dengan kehadiran Sahira dirumahnya. "Hmmm... Tapi yang ak--" "Udah deh, jangan bantah aku terus Risya." Sela Ardi dengan suara keras. Tangannya dihempaskan begitu saja oleh Ardi. Risya terkejut, dia menatap suaminya dengan perasaan tidak percaya. Ardi membentak dirinya hanya karena dia menyuarakan keberatannya. Perasaan sesak seketika muncul di dadanya. Risya tidak percaya, suaminya begitu membela Sahira dibandingkan dengan dirinya. Ardi berlalu dari hadapan Risya setelah bajunya rapi. Sedangkan Risya masih terdiam di tempat. Perlahan tangannya meraba d**a, merasakan begitu sesaknya hati saat Ardi membentaknya. Dia tidak terbiasa diperlakukan kasar seperti ini meskipun oleh suaminya sendiri. Batinnya bertanya-tanya, Kenapa Ardi membentaknya? Lalu kenapa Ardi begitu membela Sahira? Walaupun dia sahabatnya, tapi bukankah aku ini adalah istrinya? Seharusnya, Ardi lebih peduli pada perasaan aku 'kan? Pertanyaan demi pertanyaan muncul dihatinya yang perih itu. Namun begitu, dia masih mencoba berpikir positif pada suaminya itu walaupun Ardi telah menyakiti perasaannya. Tak lama Risya melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Dia ingin meredamkan emosi serta pikiran negatif yang menghampiri kepala juga hatinya dengan air dingin di pagi hari. Setelah mandi, perasaannya sedikit lebih baik. Dia tersenyum meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap berpikiran positif. Untuk apa dia cemburu bukankah Sahira itu sahabat suaminya? Begitulah yang hatinya tekankan. dia berpakaian seperti biasa, dan berdandan tipis-tipis. Meskipun begitu, aura kecantikannya begitu terpancar dari dalam dirinya. Dengan pakaian santai, khas dirinya ketika di rumah. Dia merasakan kenyamanan yang membuat hatinya menjadi lebih baik. Kaos rumahan oversize serta hotpants adalah andalannya ketika di rumah. Sengaja dia mencepol rambutnya yang panjang dengan menyisakan sedikit helaian rambut pendek disekitar telinganya. Polesan wajah yang sederhana juga gaya rambut yang terlihat santai sudah sangat membuat dirinya cantik. Sekali lagi dia tersenyum di hadapan cermin, lalu berkata, "Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan. Ayo, semangat, jangan biarkan harimu buruk hanya karena prasangka negatifmu!" Ucapnya tegas dan penuh keyakinan. "Semangat!!!" **** Tak lama Risya turun ke lantai satu rumahnya untuk sarapan. Kemudian langkahnya membawa dia ke ruang makan. Beberapa sarapan sudah terhidang rapi seperti tak tersentuh. "Apa mas Ardi tidak sarapan? Kenapa makanannya masih utuh?" Gumamnya pelan. Namun, dia tak mau berpikir negatif lagi yang akan membuat perasaannya menjadi kacau balau. Sedikitpun dia tidak menaruh curiga pada sikap suaminya ini. "Ah, sudahlah. Lebih baik aku segera sarapan." Risya melanjutkan sarapannya seorang diri. Denting suara sendok dan piring menggema di ruang makan. Risya menjadi termenung sendiri. Bohong kalau dia tidak peduli dengan sikap Ardi akhir-akhir ini. Dari beberapa hari kemarin dia sudah merasakan perubahan sikap suaminya kepada Risya. Namun, dia pun tidak tahu apa yang menyebabkan Ardi berubah sikap seperti itu. Padahal, jika mengingat dari masa lalu, Ardi lah yang mengejar-ngejar Risya untuk menjadikan dirinya sebagai seorang istri. Tapi setelah berhasil meminang Risya. Perlahan sikap Ardi mulai berubah, tak ada lagi perasaan menggebu seperti saat dirinya mengejar Risya dulu. Setelah mangsa di dapat, Ardi seolah lupa perjuangannya meraih hati Risya. Hal ini menunjukan bahwa Ardi mudah bosan. Atau bahkan dia jenuh pada pernikahannya yang tak kunjung dikaruniai seorang anak. Namun begitu, Risya tetap mencintai suaminya dengan sepenuh hati. Baginya, setelah menikah dia harus memberikan seluruh hatinya pada sang suami. Risya mungkin terganggu dengan perubahan sikap Ardi. Namun, ia mencoba untuk tetap percaya pada suaminya itu, walau ada setitik perasaan dihatinya yang tidak menyetujui sikap Ardi. Baginya sikap Ardi masih berada di batas normal meskipun sekarang tidak ada acara ciuman pagi atau manja-manja an lagi. Risya memaklumi Ardi yang sangat sibuk oleh pekerjaannya, dan juga dia tidak mau membebani Ardi dengan tingkahnya yang seolah ingin diperhatikan. Tapi hati tidak bisa dibohongi, batinnya menjerit ingin diperhatikan seperti dulu lagi. Selesai sarapan Risya pergi ke taman belakang rumahnya untuk menyiram bunga-bunga yang sudah ditanamnya. Ya, Risya sangat menyukai bunga. Beragam macam bunga, juga tanaman hias ia tanam di taman belakang. ia cukup cekatan merawat bunga-bunga indah ini sehingga dapat tumbuh subur di halaman rumah besarnya. Halaman belakang yang luas, terlihat sangat segar sekali dengan warna hijau yang mendominasi ditambah warna warni dari bunga yang ditanamnya. Jika musim berbunga, harum wangi bunga akan semerbak tertiup angin. Risya tersenyum melihat bunga-bunga itu. Jika sudah melihat bunga dan tanaman yang di rawatnya. Perlahan hati dan perasaannya menjadi lebih baik. Bahkan ketika Risya sedih halaman belakang rumahnya lah yang dapat membuat hati Risya tenang dan nyaman kembali. Jam sudah menunjukan pukul sebelas, tanda hari sudah beranjak siang. 'katanya mas Ardi mau menjemput Sahira tapi kok belum sampai sini juga yaa?' batinnya bertanya-tanya. Tinn... Pucuk dicinta ulam pun tiba. Suara klakson mobil Ardi terdengar di telinganya. 'Oh itu dia mas Ardi' jeritnya senang. "Ris ... Risya... !" Teriak Ardi. "Iyaa mas ... " Balas Risya yang berteriak dari halaman belakang rumahnya. Segera Risya membereskan perkakas berkebunnya dan tidak lupa mencuci tangannya yang kotor. Sedikit berlari dia menghampiri Ardi yang masih terus berteriak. "Kamu dari mana sih sampe keringetan gitu?" Tanya Ardi, saat dirinya tiba dihadapan suaminya. Ardi mengernyit hidungnya melihat penampilan Risya yang sudah berantakan. Ekspresi jijik juga geli terpampang di wajah Ardi. 'Sangat berbeda sekali dengan Sahira' Batin Ardi berkata. "Ooh itu, mas, aku habis mangkas ranting-ranting yang layu dihalaman belakang." jawab Risya santai dengan senyuman merekahnya. "Ngapain sih ngerjain kayak gitu, udah biar mang Afif aja yang ngerjain!" Sentak Ardi. Terlihat dia sangat malu dengan tingkah Risya yang menurutnya sangat menjijikan. Diam-diam ia mengintip ekspresi Sahira yang berada di sampingnya. Dia takut jika Sahira mencium bau tidak sedap dari keringat yang dikeluarkan Risya. Sebelas dua belas dengan Ardi, Sahira menutup hidungnya untuk menghalau bau-bau yang mungkin mampir di hidungnya. Dia menatap Risya dengan pandangan meremehkan. 'tuh kan, si Risya ini bikin malu aja.' Geram Ardi. "Tapi kan mas--" ucapan Risya terpotong oleh ucapan sahira yang setengah merengek sambil membungkuk memegangi betisnya. "Ardi kaki aku pegel banget dari tadi berdiri terus." dia merengek layaknya anak kecil. "Sorry, Ra. Yuk, duduk dulu nanti Risya yang akan nunjukin dimana kamar kamu." Jawab Ardi sembari mengajak Sahira duduk. "Sayang, nanti kamu tunjukan kamarnya, aku mau ke kantor dulu." Titah Ardi cepat. Risya hanya mengangguk mengiyakan. Dia tidak mau membantah lagi, takut jika Ardi akan membentaknya di hadapan Sahira seperti kejadian tadi pagi. Dalam hati, dia mengutuk menyalahkan Sahira sehingga dia harus mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya. Dengan enggan dia menunjukan kamar Sahira setelah Ardi pergi ke kantornya. Ini kamar tamu yang berada di lantai bawah. Luas kamar ini cukup besar dan nyaman untuk seukuran kamar tamu. "Disini, kamar kamu." Tunjuk Risya ogah -ogahan. "Oke." Sahira langsung melenggang masuk ke kamar yang akan ditinggali nya selama dia berada di rumah Ardi, tanpa mengucap kata terimakasih sama sekali. 'Awas aja kamu Risya.' Katanya dalam hati. Entah apa maksudnya. Sahira lalu menutup pintu dan membereskan pakaian yang dibawanya. Lalu dia mengganti baju dengan pakaian yang super mini ditubuhnya. Sahira berbaring di kasur lalu mengernyit saat merasakan kasurnya yang sungguh tidak empuk. Punggungnya menjadi sakit, dia menggerutu kesal. Namun, mau tidak mau dia harus rela tidur di kasur keras yang menurutnya sangat tidak layak untuknya. **** Menjelang malam Ardi tiba dirumah dengan keadaan sangat letih sekali. Seperti biasa Risya menyambut kedatangan Ardi dengan senyuman. Detelah mengambil tas kerja Ardi, Risya bertanya, "Mas makan dulu apa mandi dulu?" Pertanyaan yang sering dia tanyakan ketika Ardi baru pulang bekerja. "Mandi dulu saja. Oh ya, jangan lupa panggil Sahira juga. Aku ke atas dulu." "Iyaa mas." Risya pergi ke ruang makan menyiapkan makan malam serta menata piring. Lalu menuang air putih ke gelas-gelas yang sudah tersedia. Dia sudah biasa melakukan hal ini. Ini adalah bentuk pengabdian dia sebagai seorang istri. Setelah itu, Risya pergi ke kamar untuk menyiapkan baju suaminya. Lalu kembali lagi ke lantai bawah, mengajak Sahira untuk makan malam. Tok tok tok "Apa?" Sahira membuka pintu dan langsung bertanya, terlihat dia sangat tidak suka dengan kedatangan Risya. "Di suruh makan malem sama mas Ardi." Jawab Risya cepat. Lalu Risya langsung berlalu begitu saja dari kamar Sahira. Sahira menatap Risya dengan perasaan geram. Entah kenapa dia merasa tidak suka dengan istri sahabatnya itu. Kemudian dia menutup pintu dan pergi ke ruang makan dan saat itu pula ia berpapasan dengan Ardi yang baru saja turun dari tangga. "Hai di, udah balik?" "Iya nih, Ra. Kamu belum makan malam kan? Bareng sama aku dan Risya, ya." Tanya Ardi balik. "Oke." Mereka bercanda ria sambil menuju ke ruang makan. Sahira tertawa cekikikan saat Ardi terus menggodanya. Seperti saat dulu mereka masih kecil. Risya yang melihat kebersamaan Ardi dan Sahira menjadi cemburu. Dia mencengkeram erat sendok dan garpu di tangannya. Walau begitu, dia tidak mampu berbuat apa-apa, karena Ardi pasti lebih membela sahabatnya. Risya duduk di sebelah kanan Ardi sedangkan Sahira di sebelah kiri. Mereka makan malam dengan diam. Posisi mereka persis seperti raja, ratu, dan selir. Suasana hati Risya menjadi tak nyaman. Dia melirik ke arah suaminya, tak ada wajah bersalah sama sekali. Padahal, saat ini Risya sedang dilanda cemburu. Sahira dan Ardi terlihat biasa saja bahkan sesekali mereka kembali tertawa bersama saat membicarakan masa lalu. Hal ini membuat hati Risya menjadi sangat tidak karuan. Dia memilih untuk tidak melihat keakraban mereka lagi. "Mas, aku ke kamar duluan yaa udah ngantuk nih." Ujar Risya, lalu beranjak berdiri dari duduknya. "Iyaa sayang. Aku disini dulu ya, masih engap soalnya." Jawab Ardi, yang di balas anggukan dari Risya. Kemudian Risya naik ke lantai atas setelah berpamitan kepada Ardi dan Sahira, sengaja dia meninggalkan mereka berdua karena terlihat mereka sepertinya akan bernostalgia kembali dan dia tidak mau dikacangin lagi. Ardi mengajak Sahira ke ruang keluarga, disana ada tv yang besar tempat Ardi dan Risya biasa menonton dan melakukan qualiti time. Ardi duduk bersandar, sesekali tangannya memijat kening. Dari wajahnya ia terlihat sangat kelelahan sekali. Sahira pun berinisiatif membuatkan dua s**u coklat untuknya juga Ardi. "Nih, diminum." Sahira menyodorkan segelas s**u coklat pada Ardi. Ardi tersenyum lalu segera meraih segelas s**u coklat itu. Sahira sangat tahu sekali kesukaan Ardi di saat dia sedang lelah seperti ini. Lantas Ardi tersenyum dan mengucapkan terima kasih. "Di kamu cape banget yaa ... Sini biar aku pijat." Ujar Sahira, lalu tanpa tedeng aling-aling dia berjalan ke belakang sofa. "Eh, tidak usah, Ra. kamu pasti cape abis beresin baju kamu." Tolak Ardi. Namun, Sahira masih kekeuh berjalan kebelakang sofa dan mulai memijat bahu Ardi. "Gapapa di, ini hitung-hitung ucapan terima kasih aku karena kamu udah mengizinkan aku untuk tinggal sementara waktu di rumah kamu." Jawabnya dengan nada lembut. "Hmm ... Makasih ya Ra. Pijatan kamu enak." Ardi memejamkan matanya ketika dipijat oleh Sahira. Inilah awal kesalahan Risya sebagai seorang istri. Karena terlalu cemburu buta, dia tidak memperhatikan Ardi yang kelelahan setelah bekerja. Namun, tentu saja Risya juga wanita yang mempunyai rasa cemburu. Apalagi jika melihat suaminya tertawa bahagia bersama wanita lain, semakin menggebu lah rasa cemburu itu di dadanya. Sahira terus memijat Ardi dengan senyuman di wajah, membuat Ardi terlena. Lambat laun sentuhan lembut dari tangan Sahira menggetarkan keduanya. Mereka terdiam sejenak dengan perasaan yang bercampur aduk. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, namun yang pasti mereka telah melakukan kesalahan fatal dengan penuh kesadaran. "Ar- di ... ." Lirih Sahira. "Maaf, Ra. Aku tidak bisa mengendalikan semuanya. Harusnya aku segera menghentikannya, tapi-tapi ... " "Aku ngerti, di. Tidak apa-apa, kita lupakan saja, oke." Setelah mengatakan hal itu Sahira bergegas pergi ke kamarnya. Kini tinggallah Ardi seorang diri di ruang keluarga itu. Dia mengacak rambutnya yang berantakan. Namun, seperti yang dikatakan Sahira, ia harus melupakan kejadian tadi. Setelah sampai di depan kamar, Ardi terdiam. Dengan perasaan penuh rasa bersalah dia membuka pintu kamarnya perlahan. Melihat Risya yang sudah tertidur pulas dengan lingeri merah kesukaannya, rasa bersalah itu semakin subur bersarang di hatinya. Tapi, sayang Ardi terlalu lemas setelah bercinta dengan Sahira sehingga tak memikirkan perasaan Risya lebih jauh. Ia berbaring disisi kanan Risya, dan memeluk Risya yang membelakanginya. "Maafkan aku, sayang." Bisik Ardi sebelum memejamkan matanya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN