11. Shocked

1570 Kata
"Turunin saya di sini aja, Pak," ujar Kayla. Dia tidak ingin di turunkan di depan rumah karena tak ingin orang tuanya melihatnya pulang bersama Felix. Dan kebetulan sekali dia pergi tanpa membawa motor karena lagi di servis. Sehingga dia tidak perlu takut meninggalkan motornya saat pergi bersama Felix tadi. "Gak Kayla, saya akan anterin kamu sampai rumah," bantah Felix. Dia menoleh ke samping untung menatap Kayla. "Saya mohon pak. Turunin di sini aja. Saya gak mau kita keliatan orang tua saya." "Mikayla- oke." Felix menghela napas beratnya saat dia melihat tatapan Kayla penuh permohonan. Dia pun memberhentikan mobilnya di tepian jalan. "Bapak jangan ke rumah saya besok. Anggap aja kejadian yang tadi gak pernah terjadi. Dan saya mohon Bapak berhenti ganggu saya. Lagian Bapak juga udah dapetin apa yang Bapak mau kan? Bapak udah berhasil nyentuh saya lagi. Saya mau setelah ini hubungan kita cuma sebatas dosen dan mahasiswa aja." "Tapi Kayla. Saya beneran mau tanggung jawab. Saya akan nikahin kamu." Felix meraih pergelangan tangan Kayla namun Kayla langsung menepisnya begitu saja. "Ga perlu, Pak. Saya gak perlu tanggung jawab dari Bapak. Saya akan meminum pil itu lagi biar saya gak hamil. Dan apa yang pernah terjadi diantara kita, saya mohon Bapak lupain." "Itu gak mungkin Kayla. Apalagi Mama saya sudah tau semuanya. Mama pasti akan tetap datang ke rumah kamu. Tolong kamu jangan tolak niat saya untuk bertanggung jawab." "Bapak bisa bilang apapun ke orang tua Bapak. Asalkan kita gak perlu menikah. Bahkan Bapak boleh bilang kalau saya hanyalah wanita one night stand. Saya gak akan nuntut apa-apa dari Bapak." "Enggak Kayla. Saya gak akan ngelakuin itu. Saya akan tetap datang ke rumah kamu." "Jangan pak. Apa kata orang tua saya kalau Bapak tiba-tiba datang dan melamar." "Saya bisa bilang kalau saya mencintai dan menginginkan kamu menjadi istri saya." "Orang tua saya gak akan percaya itu, Pak." "Kamu tenang aja Kayla. Biar saya yang urus itu nanti. Yang penting kamu mau nikah sama saya." "Saya tetap gak bisa pak. Saya gak mencintai Bapak. Saya mencintai pacar saya." "Cinta bisa tumbuh belakangan Kayla. Yang terpenting saya tanggung jawab sama kamu." *** Kayla membuka laci lemarinya. Dia mengambil obat pencegah kehamilan itu dan meneguknya kembali. Dia tidak ingin benih yang dikeluarkan Felix di rahimnya tadi menjadi janin. Dia belum sanggup jika harus menjadi ibu. Apalagi dia tidak ingin mempunyai anak di luar hubungan pernikahan. Kayla meneguk air minumnya untuk melarutkan obat yang baru saja dia teguk. Lalu dia pun membuang kotak obat itu ke dalam bak sampah. "Apa yang harus gue lakuin?" bingung Kayla. Felix tetap teguh dengan pendiriannya untuk melamarnya. Bahkan besok katanya dia akan datang bersama orang tuanya. Kayla tidak sanggup membayangkan ini. Dia tidak ingin menikah tanpa cinta. "Apa ini udah jadi takdir gue? Harus kehilangan keperawanan dan bahkan dijamah berkali-kali oleh dosen sendiri?" Kayla memeluk tubuhnya sendiri. Dia ingat betul tadi bagaimana Felix menyentuhnya. Felix memang terlihat memujanya. Memuja tubuhnya lebih tepatnya. Sebelumnya mana pernah dia berhubungan sejauh ini. Dengan Abizar sang kekasih saja tidak pernah. Tapi kenapa dengan laki-laki asing yang baru dia kenal dia bisa menyerahkan diri seperti ini. Bahkan tadi itu dia dalam keadaan sadar saat Felix menyetubuhinya. Arrgssss Kayla mengusap wajahnya kasar. Air mata turun membasahi pipinya. Tak pernah terpikir kalau nasibnya akan seperti ini. Andai saja dulu dia tidak menerima ajakan Aurel mungkin sampai saat ini dia masih perawan. Mungkin dia tidak akan terlibat hubungan aneh ini dengan Felix. Tapi sayang semuanya telah terjadi. Dia dan Aurel berteman sejak semester awal mereka kuliah. Mereka dipertemukan saat ospek fakultas dan menjadi akrab. Hanya saja belakangan ini mereka tidak terlalu akrab mengingat tidak ada lagi jadwal kuliah. Mereka hanya ke kampus untuk bimbingan. Dan kadang waktu bimbingan mereka tak sama sehingga jarang bertemu. *** Kayla perlahan-lahan membuka matanya. Dia mengerjap beberapa kali saat merasa silau akibat cahaya yang masuk melalui celah jendela. Dia pun menggerakkan badannya untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Dia pijit pelipisnya yang terasa pusing karena semalam dia terlalu banyak menangisi nasib buruknya ini. Kayla memutuskan turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Dia langsung mandi agar badannya terasa lebih segar juga peningnya hilang. Setelah selesai mandi dan berpakaian tak lupa Kayla mengoleskan concealer untuk menutupi kissmark hasil karya bibir Felix. Kayla keluar dari kamarnya sambil memegangi kepalanya. Rasa peningnya tak juga hilang ternyata. Dia pun langsung mendudukkan dirinya di atas kursi ruang makan. "Kayla, kamu sakit sayang?" Shilla yang memang berada di dapur dari tadi memperhatikan Kayla yang memegangi kepalanya. "Cuma pusing dikit kok, Bund," jawab Kayla. "Kamu sarapan dulu ya. Habis itu minum obat." Shilla meraih roti dan mengoleskannya dengan selai cokelat. Lalu dia letakkan piring yang berisi roti itu di hadapan Kayla. Tak lupa juga dengan segelas air putih. Lalu dia pun juga mengambilkan obat sakit kepala untuk Kayla. "Makasih, Bunda." "Iya, Sayang. Cepat sembuh ya." Shilla mengelus rambut Kayla dan mencium keningnya. Kayla meraih roti yang dibuatkan Shilla dan menggigitnya sedikit. Mulutnya terasa sulit untuk menelan makanan apapun. Dia pun memutuskan untuk meminum obatnya saja agar pusingnya hilang. Setelah meminum obatnya Kayla pun kembali ke dalam kamar. Dia pamit kepada Bundanya untuk istirahat saja. Shillapun menganggukan kepalanya. Dia berniat untuk membuatkan bubur untuk Kayla. Sementara Kayla di kamarnya sedang ketakutan. Dia takut kalau Felix benar-benar datang ke rumah dan melamarnya. Dia tidak siap kalau Ayah dan Bundanya sampai bertemu Felix. Apalagi jika mereka sampai tahu apa yang telah terjadi sebelumnya. *** Kayla merasa bersyukur karena ternyata Felix tidak datang. Sepertinya laki-laki itu menuruti ucapannya untuk melupakan semuanya. Lagipula apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan? Toh Felix sudah mendapatkan keinginannya. Yakni bisa merasakan tubuh Kayla kembali. Pusing yang dialami Kayla sedikit mereda setelah dia meminum obatnya tadi. Hanya saja perutnya tidak bisa menerima makanan yang masuk. Dari pagi tadi dia hanya memakan satu gigitan roti dan juga satu suap bubur buatan Bundanya. Padahal kalau dalam kondisi biasa Kayla sangat menyukai apapun masakan Bundanya itu. Namun, saat Kayla ingin memejamkan matanya. Pintu kamarnya diketok oleh sang adik. Aqila mengajaknya turun ke bawah. Dan betapa terkejutnya dia saat menemukan keberadaan Felix beserta kedua orang tuanya di ruang tamu rumahnya. Dia kira Felix tidak akan datang, tapi apa yang dilihatnya saat ini membuatnya syok. "Duduk dulu, Sayang." Iyel menyuruh Kayla untuk duduk di tengah-tengah antara dirinya dan Shilla. Lalu dia menatap tiga orang di hadapannya. "Jadi benar kedatangan kalian kesini karena ingin melamar anak saya Kayla?" tanya Iyel. Dia sempat terkejut ketika menemukan tamu yang ingin bertemu dengannya dan sang istri. Dengan kening yang bertaut bingung dia pun akhirnya mempersilahkan tamunya masuk. Dan dia bertambah terkejut lagi saat tamunya itu satu per satu memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan mereka. Yakni untuk melamar Kayla. "Iya benar sekali Pak Iyel." Iyel mengamati tamunya itu. Yang barusan bicara tadi adalah sang kepala keluarga yang Iyel rasa umurnya sudah di atas kepala enam. Sementara di sampingnya ada seorang wanita yang bahkan masih terlihat muda meskipun Iyel yakin usianya juga sudah berumur. Yang terakhir adalah laki-laki dewasa yang Iyel perkirakan umurnya baru 30 tahunan ke atas. Hanya terpaut sekitar sepuluh tahunan lebih darinya. "Kalau boleh saya tahu, apa alasan putra Anda ingin meminang putri saya?" "Saya menginginkan Kayla menjadi istri saya, Om. Saya akan berusaha sebisa saya untuk membahagiakan Kayla." jawab Felix. Dia melirik ke arah Kayla yang dari tadi hanya diam saja. Keningnya mengkerut saat melihat wajah Kayla sedikit pucat. "Kalian sudah saling kenal sebelumnya?" Kali ini Shilla yang angkat bicara. "Sudah." "Di mana?" tanya Iyel "Kebetulan saya salah satu dosen di kampus Kayla." Iyel dan Shilla tampak terkejut namun mereka menganggukan kepalanya. Hanya saja mereka masih sedikit bingung kenapa tiba-tiba ingin melamar Kayla. "Kalau boleh tau, umur kamu?" "Tiga puluh lima tahun, Tante." "Kamu tau umur Kayla?" "Baru 22 tahun." "Kamu yakin mau menjadikan Kayla istri? Umur kalian terpaut 13 tahun. Apa gak akan ada masalah?" "Saya sangat yakin, Tante." "Jadi gimana Pak Iyel, Bu Shilla?" Kali ini Winda, Mamanya Felix yang berbicara. Dia tidak sabar menunggu jawaban atas kedatangan mereka kesini. "Kami sebagai orang tua menyerahkan semua keputusan terhadap anak kami langsung Bu." Iyel menyentuh bahu Kayla yang terlihat tegang. "Gimana Kayla? Kamu mau 'kan nikah sama anak Tante?" Kayla terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Dia bingung sekaligus bimbang. "Boleh Kayla minta waktu untuk jawabnya, Tante?" Hanya itulah akhirnya yang bisa keluar dari mulut Kayla. "Tentu saja sayang. Kami akan tunggu. Tapi jangan lama-lama," jawab Winda lagi. Kayla pun menganggukan kepalanya. "Kalau begitu kami permisi dulu Bu Shilla, Pak Iyel. Mari" Iyel sekeluarga mengantarkan kepergian keluarga Felix. Iyel dan Shilla tentunya masih bertanya-tanya tentang lamaran tadi. "Kayla, ada apa sebenarnya sayang? Kenapa tiba-tiba mereka datang dan melamar kamu? Bukannya kamu pacaran sama Abizar?" tanya Shilla lembut. Dia meraih bahu Kayla dan membawanya duduk di sofa. "Jangan tutupin apapun dari Bunda, Kayla. Kamu putus sama Abizar?" Kayla bingung harus menjawab seperti apa. Dia benar-benar merasa buntu. Hingga akhirnya dia menutup mulutnya karena tiba-tiba merasa mual. Dia pun langsung berlari ke kamarnya. Sementara Shilla dan Iyel saling tatap. Mereka mulai menyimpulkan sesuatu. Apalagi mengingat kedatangan keluarga Felix yang sangat tiba-tiba seperti itu. "Kita cek Kayla dulu sayang. Jangan langsung buruk sangka," ujar Iyel. Padahal di kepalanya pun terpikir hal yang serupa. Biar bagaimanapun dirinya dan Shilla sudah berpengalaman soal ini. Hooekkk hoeekkkk Iyel dan Shilla terdiam saat melihat Kayla yang muntah-muntah. Air mata Shilla refleks turun membasahi pipinya. Dia tidak menyangka kalau apa yang terjadi padanya dulu kini menimpa anaknya. Jadi ini maksud perasaannya yang tidak enak beberapa hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN