Vian menatap lurus ke depan. Ia ingin melihat kakaknya bahagia. Tapi mulutnya terlalu lancang sampai membuat kakaknya berekspresi seperti itu saat mengucap sumpah. Kedua tangannya terkepal kuat karena lagi-lagi ia di acara pernikahan ini hanya menjadi perusak suasana. Setelah sumpah itu selesai terucap, Vian berbalik dan pergi. Ia harus menenangkan pikirannya sebelum menemui para tamu undangan. Ia pergi ke tepi danau dan berdiri menatap kegelapan di depan wajahnya. Danau ini tidak ada penerangannya sedikitpun. Tapi Vian merasa nyaman karena ia sendiri disana dan merenung. “Haahh… Aku harus mencari pelampiasan setelah ini… Bagaimana jika Miya?” Vian segera menggeleng pelan. “Tidak, tidak. Dia wanita tukang peras uang.” Vian pun bergumam memikirkan mantan kekasihnya. Ia akan pergi ber

