Bab 14. Wujud Tiffa

1072 Kata
Tifa langsung membuka tudung jubah hitamnya dan menampakkan mata merahnya yang tidak lagi berwarna merah terang seperti vampire lainnya. Mata merahnya marun pekat dengan lingkaran sling berwarna merah terang. Yovanka memang bangsawan paling kuat. Di zaman ini, Tifa ragu apakah mereka pernah melihat mata dari bangsawan Losirous dan Xandes. Tiga gelar bangsawan asli keturunan Cleis. Tifa mengedipkan matanya beberapa kali, meremehkan ketiga tetua itu. Dengan matanya, Tifa langsung mengukur tingkat inti jiwa mereka yang mengecewakan bagi Tifa. Satu vampire di sebelah kanan kekuatannya level tiga ratus. Vampire yang ditengah cukup kuat dengan mencapai level lima ratus. Sedangkan vampire di sebelah kiri yang paling lemah, hanya level dua ratus. Tifa tertawa kecil. “Masih butuh seribu tahun lagi untuk bisa mengalahkanku. Aku bisa menunggu kalian selagi kalian mengumpulkan kekuatan selama itu.” Ejek Tifa tidak gentar sedikit pun. Ketiga tetua langsung marah ketika Tifa meremehkan kekuatan mereka. Tidak sampai disitu, bahkan menghina mereka bahwa mereka bukan tandingannya. Sombong sekali vampire satu ini. “Kau terlalu meremehkan. Kenapa vampire tua sepertimu tidak hibernasi saja? Kau sudah terlalu lama hidup di dunia.” Katanya lancang sekali. Vian yang mendengarnya langsung mencak emosi. “Kita bakar saja mereka.” Ucapnya kesal setengah mati. Tifa menahan Vian lagi. “Gunakan indra pendeteksi auramu. Aku merasakan aura ganjil dari tempat ini. Selagi aku menahan ketiga orang itu, kau cari keberadaan aura itu.” Mendengar ucapan Tifa, Vian langsung tersadar bahwa sejak tadi memang ada aura yang berbeda dari istana di depannya. Ketika ia mempertajam indra pendeteksi auranya, Vian langsung mencari sumber aneh itu. Griffin yang sejak tadi menjadi penonton hanya bisa menyaksikan pertempuran dadakan yang terjadi di depan gerbang kerajaannya. Para prajuritnya juga sudah berjaga dan siap menyerang jika Tifa dan Vian menyerang. “Iefan!” Tiba-tiba teriakan Melvern memecahkan keheningan. Griffin melihat Melvern berlari mendekati Iefan dan terhenti ketika melihat mata merah di depan gerbang, tepat tujuh ratus meter di hadapannya. “Griffin! Apa yang terjadi?” Tanyanya panik sekali. Griffin langsung menahan tangannya, memberi kode pada Melvern untuk tidak mendekat ke arahnya. Tifa yang melihat kedatangan Melvern langsung tersenyum mengerikan. “Mantra langit, ya?” Tifa sudah lama tidak bertemu dengan vampire pengguna mantra langit. Melvern berdiri jauh dari Tifa, tapi sengatan dari tatapan mengerikan itu secara langsung, tubuhnya langsung merinding dan inti jiwanya bergetar ketakutan. Salah satu tetua itu langsung tersadar ketika Tifa menggerakkan satu jarinya. BLAARR! Tiba-tiba saja mantra merah darah keluar dari jari telunjuk Tifa. Lima buah jarum besar seukuran manusia terjun dari atas langit dan menancap tepat di hadapan Melvern. Tetua di sebelah kanan langsung bertindak. “Griffin! Cepat bawa masuk Melvern ke dalam!” Griffin langsung menganggukkan kepalanya. Secepat kilat ia menarik tangan Melvern untuk menjauh dari medan perang. Ia sebenarnya tidak ingin pergi dari sana karena penasaran seberapa kuat tetua mereka dan juga… Tifa Yovanka. Vampire ribuan tahun yang bahkan lebih tua dari tetua mereka. Griffin ingin melihatnya… sungguh. Vian mendongakkan kepalanya mengira aura aneh yang ia cari berasal dari atas, tapi tidak dapat ia deteksi. Sampai ketika Vian menunduk dan mendapati sebuah barier hitam pekat yang samar mereka deteksi. Vian langsung tersenyum kecil. “Tifa, di bawah tanah.” Ucapnya langsung membuat Tifa mengerutkan alisnya. “Kau yakin?” Tanyanya tidak yakin. Tifa tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari tiga tetua itu setelah ia menyerang mereka lebih dulu. Tapi diamnya Vian membuatnya sedikit merasakan hal ganjil lainnya. Jika itu di dalam tanah, kenapa Tifa tidak bisa merasakannya walau samar? “Barier jenis apa itu?” Tanya Tifa kemudian. Vian memegang dagunya berusaha mengingat-ingat. Ia tidak memiliki ingatan sebagus Tifa, tapi karena Tifa bertanya, sudah pasti kakaknya sendiri lupa. Vian mendengus kesal. “Mana mungkin aku mengingatnya, kau saja lupa jenis barier apa itu.” Tifa merasakan keringat sebesar biji jagung turun perlahan di dahinya. Merasa percuma bertanya pada Vian, Tifa mengabaikan barier itu. Karena kuatnya barier itu tidak mungkin mudah ditembus. Dan kemungkinan itu akan sulit ditembus dari luar bahkan dari dalam juga. Dan tiba-tiba Tifa merasakan tiga mata menatapnya dari kejauhan. Belum sempat Tifa mencari tatapan itu, tetua yang berada di tengah langsung mengirimkan mantra terkuatnya pada Tifa. BOOMM! KRAAK! KRAK! Batu yang dipijak oleh Tifa dan Vian tiba-tiba saja meledak dan kemudian ketika Tifa dan Vian melompat dan mendarat di atas tanah, tanah tiba-tiba saja retak dan terbelah. Vian hampir jatuh jika Tifa tidak menahan tubuhnya. Tetua itu berdecih kesal karena serangannya tidak berdampak apa pun pada Tifa. Padahal itu adalah serangan tercepatnya. Tifa mendarat di sisi tanah yang lain dengan mulus. “Cukup main-mainnya.” Ucap Tifa yang langsung melepaskan aura yang ia tahan sejak ribuan tahun lamanya. Jubah hitam yang Tifa kenakan langsung terbakar hangus dan tergantikan dengan pakaian putih dengan hiasan emas di tubuhnya. Rambut putihnya berkibar sedikit ketika semilir angin yang berhembus dari perubahan transformasi Tifa. Kain putih lengan panjang dengan hiasan seperti sayap di bagian sisi luar d**a hingga pinggang sampai ke paha. Rumbai putih dari benang tipis berwarna emas yang dipilin hingga menjadikannya rumbai yang bergerak teratur mengikuti pergerakan tubuh Tifa. Atasan itu sepanjang lutut ketat melapisi tubuh Tifa. Tiara di atas kepalanya juga tidak kalah mencoloknya. Symbol kebangsawanan berwarna emas terukir indah di bagian d**a hingga leher. Vian tersenyum tipis. Itu adalah pakaian khas keluarga bangsawan Yovanka. Jika bukan karena Vian sedang memulihkan kekuatannya beberapa tahun terakhir ini, Vian akan mudah bertansformasi seperti Tifa juga. Sayangnya saat ini Vian yang sekarang tidak bisa mengalahkan tiga tetua itu sekaligus. Ketiga tetua itu tercengang sampai mundur beberapa langkah secara otomatis. “Ti-tidak mungkin! Bagaimana bisa dia sekuat ini?” Ujarnya tidak percaya sekali dengan apa yang dilihatnya. Kehadiran Tifa dengan penampilan lamanya membuat ketiga tetua termasuk Iefan yang masih berdiri disana langsung menjatuhkan lututnya ke tanah. Beserta dengan seribu vampir yang bersiaga di sekitar istana langsung terjatuh. Aura kekuasaan dan juga mata penakluk Tifa terlalu kuat hingga membuat tetua Heddwyn sekalipun tidak bisa mengangkat kepala untuk melihat Tifa yang masih di tempatnya dan bahkan belum bergerak sedikit pun. Tangannya yang menggenggam sebuah pedang transparan yang dilapisi oleh mantra angin hingga menutupi bentuk dan panjang dari pedang itu sendiri. Vian merelakskan tubuhnya ketika tahu Tifa masih memiliki kekuatan sebanyak ini. Dalam hati ia mengkira-kira berapa ribu tahun ia tidak melihat penampilan Tifa yang seperti ini. “Kau terlihat hebat. Boleh aku jatuh cinta padamu kak?” Kata Vian setengah bercanda dan setengah serius. Tifa menanggapinya dengan mengangkat wajahnya sedikit. “Aku tidak tertarik.” Ucapnya santai namun membuat Vian menelan ludahnya yang terasa pahit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN