Bab 15. Reinkarnasi

1083 Kata
Tifa kemudian melangkahkan kakinya mendekat menuju pintu gerbang dan kemudian melewati para tetua begitu saja. Kemudian memasuki istana dengan diikuti oleh Vian di belakangnya. Vian langsung melihat semua vampire prajurit berlutut. Sampai ketika Tifa berjalan sedang melihat-lihat struktur bangunan istana Heddwyn. Ia seperti tidak asing dengan beberapa bangunan di istana. “Kenapa aku merasa tidak asing dengan tempat ini?” Tifa tentu saja terhenti dan menoleh pada Vian. Ia pikir dirinya saja yang merasa demikian, ternyata adiknya juga. “Aku merasa begitu. Tapi… entahlah.” Tifa merasa tidak yakin dengan instingnya sendiri. Vian menghela nafasnya sejenak. Dan kemudian melangkah mengikuti Tifa kembali. Sampai ketika mereka tiba di ruangan khusus raja, Tifa melihat dua sosok vampire muda yang jatuh berlutut di dekat singasana raja. Dua vampire yang tidak sanggup menahan aura Tifa hingga mereka memuntahkan darah dari mulut mereka. Sayangnya Tifa tidak memperdulikan dua vampire itu dan tetap berjalan menuju singasana dan kemudian mendudukkan diri disana. Vian berdiri di samping Tifa dengan senyuman meremehkan sekali. “Sudah lama sekali rasanya tidak berdiri di sampingmu seperti ini.” Vian mengenang masa lalu. Tapi Tifa tidak. Tiba-tiba ia melepaskan tatapan penakluknya dan membuat dua vampire itu tersungkur ke lantai sambil memegangi jantungnya. Titik jiwa mereka terasa sangat sakit sekali. Seketika para tetua dan juga Iefan beserta rombongan langsung menuju ruangan khusus mereka dan menyaksikan bagaimana sosok Tifa yang duduk dengan anggun di atas singasana. Iefan tidak bisa berkata-kata. Melvern yang paling ketakutan diantara mereka sampai bersembunyi di belakang Iefan ketika menatap Tifa. “Apa yang kau inginkan? Dan siapa kau sebenarnya?” Tanya Iefan memberanikan diri. Para tetua hanya berdiri disana tidak bisa melawan. Griffin yang juga hadir disana langsung membawa Eredith dan Elunial ke belakang para tetua kemudian mengecek luka mereka. Sambil terbatuk keras Eredith menatap pamannya. “Siapa dia paman?” Griffin menoleh ke arah Tifa sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan keponakannya itu. “Guru yang akan mengajarkan kakakmu.” Elunial langsung menatap Tifa lekat-lekat sambil mengatur titik jiwanya. Rasa tidak percaya dan takjub langsung menyelimutinya. Eredith langsung tidak berdaya. “Bagaimana bisa wanita itu lebih kuat dari para tetua?” Griffin tidak bisa menjelaskan pada Eredith lantaran ia juga baru tahu bahwa wnaita yang dibawanya ke kerajaan adalah vampire kuat. Elunial menelan ludahnya dramatis. Membayangkan kakaknya akan diajari oleh Tifa nanti. Jika satu kesalahan saja yang kakaknya lakukan, mungkin kepalanya bisa dilepas paksa oleh wanita itu. “Hiiy! Aku mau kabur saja!” Elunial bergidik ngeri. Tifa menatap Iefan sejenak. “Aku datang kemari bukan untuk menguasai kerajaanmu. Aku tidak tertarik.” Ucap Tifa dengan nada acuh. Vian seperti biasa memutar matanya malas. Kalimat ‘Aku tidak tertarik’ itu membuatnya kesal. Iefan bergeming di tempat. “Aku merasa sangat terhormat jika niat baikmu untuk tidak mengambil alih kekuasaan.” Tifa mengangguk sekali menanggapi Iefan yang ternyata bisa memahami situasi dan menempatkan diri dengan baik. Tifa melirik tajam pada ketiga tetua yang berdiri tepat di belakang Iefan. Matanya kembai bersinar hingga ketiga tetua itu langsung kembali berutut di hadapan Tifa. Ia mendengus kasar, sedetik kemudian pedang yang ia pegang perlahan terlihat. Sreet! Pedang sepanjang dua meter berwarna emas dan ukiran rumit menghiasi pedang itu teracung langsung ke arah tiga tetua itu. Seketika mereka memuntahkan darah dan terbatuk hebat. Detik kemudian mereka ambruk ke lantai. Semua mata yang menyaksikan kejadian itu melebarkan matanya. Apa yang mereka saksikan saat ini sangat mengerikan. Apalagi melihat tetua mereka yang bahkan tidak berdaya dengan ancungan pedang luar biasa itu pada mereka. Melvern sudah hampir pingsan di belakang Iefan dan mencengkram jubah suaminya dengan erat. “Iefan… Siapa dia?” Tanyanya berbisik kecil sekali. Iefan langsung menyentuh tangan istrinya dan kemudian menenangkannya agar tidak mengakibatkan banyak masalah lain. Tifa mengerutkan alisnya kesal. “Aku datang kemari dengan suka rela dan menerima permintaan kalian untuk menjadi guru putra mahkota kalian. Tampaknya tiga vampire itu sedang mengetes kemampuanku. Kalian beruntung bisa melihat wujudku karena aku sudah hampir sepuluh ribu tahun lamanya tidak menampakan wujud ini.” Semua orang terperangah. Sepuluh ribu tahun? Sungguhan dia vampire yang berusia lebih dari sepuluh ribu tahun? Pantas saja tetua mereka tampak seperti bukan apa-apa baginya. Iefan menunduk. “Maafkan kelancangan kami. Kami sungguh tidak tahu jika semua perbuatan kami menyusahkan anda.” Tiba-tiba saja Iefan langsung berbicara formal pada Tifa. Vian tampak menikmati pemandangan ini. Dulu, dia akan menjadi penasehat yang setia pada kakaknya. Ia tidak segan untuk memberikan saran untuk menghukum para pengkhianat di dalam istananya. Tapi kali ini berbeda, Vian tidak akan membiarkan pikiran jahatnya tersalurkan pada kakaknya karena menghukum vampire dengan cara mengerikan itu memakan tenaga. Tifa mengangguk sekali. “Aku memaklumi.” Ucapnya bijaksana. Tifa mampu menjadi pendiri di kerajaan Yovanka selama lebih dari seribu tahun dan menguasai banyak klan bangsawan lain karena kebijakannya walaupun ia dulunya ratu yang rakus dan tamak. Vian tiba-tiba teringat dengan putra mahkota yang mereka bicarakan. Ia melihat sekeliling dan menatap dua vampire muda yang sedang ditangani oleh Griffin. “Yang mana putra mahkotanya?” Tanya Vian tiba-tiba. Tifa juga otomatis mencari sosok putra mahkota itu. Tapi ternyata dari dua vampire muda itu tidak ada yang mengaku membuat Tifa dan Vian bingung. Iefan menggaruk pipinya canggung sekaligus malu sekali. “Se-sepertinya dia sedang di dalam kamarnya.” Ia segera memberi kode pada Melvern untuk menjemput Rivaille segera. Buru-buru Melvern berjalan menuju pintu. Tapi ketika pintu terbuka dan menampilkan sosok Rivaille mengenakan pakaian kerajaan dan juga mantel bulu berwarna merah yang menjuntai dari pundaknya. Iefan melongo dan melvern pingsan seketika. Terlebih lagi Griffin yang membuka tutup mulutnya hampir seperti vampire yang kesulitan bernafas. “Ri-Ri-Rivaille?” Tanyanya tidak percaya. Sret! Semuanya tercengang. Dan ketika Rivaille memasuki ruangan, Tifa langsung berdiri tiba-tiba dan meatap Rivaille dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut. Sama halnya dengan Vian. Ia bahkan mengucek matanya beberapa kali dan kembali menatap Rivaille sama terkejutnya dengan Tifa. “Benar-benar tidak bisa dipercaya.” Tifa menjatuhkan pedangnya ke lantai hingga bunyi benda logam yang menghantam lantai menggema di langit-langit pelapon. Tifa langsung menutup mulutnya tidak terkendali. “Aredric?” Tanyanya dengan tubuh yang sudah gemetar hebat. Vian menggelengkan kepalanya. “Dia sungguh bereinkarnasi.” Ucapnya yang langsung membuat Tifa turun dari singasana dan gerakan tiba-tiba ia sudah berada di hadapan Rivaille dan memeluknya erat. “Aredric, oh Aredric….” Bisik Tifa pelan. Apakah ini sungguh kenyataan? Tifa hampir tidak percaya ia masih bisa bertemu dengan Aredric di masa ini. Ia melepaskan pelukannya lalu meraih kedua pipi Aredric. Menyentuhnya, Tifa sungguh bisa menyentuhnya. Dia berdiri disana. Tifa kemudian memeluk Rivaille kembali dengan erat. "Siapa kau?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN