Bab 67. Koloni

1028 Kata
“Lebih baik aku dihajar dengan ratusan mantra daripada tubuhku harus disentuh oleh makhluk seperti mereka.” Iefan menelan ludahnya dengan susah payah. “Lebih baik kau tutup mulut dan hidungmu.” “Hmmpp! Aku mau muntah.” Dan Griffin sukses berbalik dan muntah di tempat. Rivaille sampai speechless sekali melihatnya. “Aku akan membakarnya.” Kali ini Rivaille berinisiatif untuk membakar serangga itu. Tapi karena jumlahnya terlalu banyak, butuh api setinggi sepuluh meter agar mereka semua binasa. Rivaille pun langsung mengeluarkan api merah dari tangan kanannya. Tapi sayangnya ukurannya tidak maksimal karena Rivaille tak cukup waktu untuk membuatnya sempurna. “Oh s**t! Menjauh dariku!” Griffin pun berlarian menjauh. Kumpulan serangga itu sungguh menghambur dan membutakan pandangan para vampir yang lain. Bola api di tangan Rivaille langsung menghilang. Ia berusaha melindungi wajahnya dari tamparan serangga yang membabi buta menabrak wajahnya. Iefan bahkan sampai ikut kewalahan karena beberapa serangga berhasil masuk ke dalam matanya. “SialaN! Perih sekali! Berengsek!” Iefan memukul ke sembarang arah, tapi usahanya sia-sia sekali. Rivaille langsung berbalik dan melawan arus serangga itu agar tidak mengenai matanya. “Ayah! Balik badan!” Rivaille tetap berusaha berteriak walaupun sulit karena harus menutup mulutnya juga. Tapi sayangnya justru Rivaille yang berbalik badan itu dimanfaatkan oleh musuh. Ia bisa merasakan sesuatu mendekat. Dan tiba-tiba juga ia merasa ada sesuatu yang berdiri di belakangnya. “Kau juga harus mati, Rivaille Heddwyn.” Zrashh! “Urrggh!” CRAAT! “AAARRRGHH!” Iefan yang berhasil membuka kembali matanya samar-sama mulai bisa melihat. Walaupun tanpa pengelihatan, ia masih bisa merasakan musuh ada di sekitarnya. Pendengarannya yang tertutup dengan dengungan serangga juga membuat Iefan mengandalkan instingnya yang tajam. Dan pria yang berdiri di belakang Rivaille tadi langsung jatuh berlutut di atas tanah. Rivaille juga ikut berlutut setelah dadanya berhasil ditembus oleh sebilah pedang. Tapi walaupun begitu, pedang itu meleset dan tidak mengenai titik jiwanya. Iefan langsung berang seketika. “Beraninya kau melukai darah dagingku!” ZRASSHH! “Urrggh!” Setelah Iefan menebas perut pria tadi dengan kuku tajamnya. Pria itu kembali dibuat mengerang kesakitan setelah Iefan memanjangkan kukunya lagi dan menebas pria itu sekali lagi. Rivaille terengah dan menatap ke belakang. Serangga yang tadinya gencar menyerbu dengan serentak, sekarang mereka berterbangan tanpa arah. “Sepertinya dia yang mengendalikan semua serangga tadi!” Ujarnya yakin. Tapi Iefan sendiri masih sulit menyakinkan diri. Mantra jenis apa yang bisa mengendalikan hewan? Tapi saat ia memperhatikan pergerakan serangga yang tidak teratur, tak sengaja matanya melihat seonggok makhluk meringkuk di bawah pohon bonsai. "GRIFFIN!" Teriaknya putus asa. Ia pikir pamannya akan pergi ke tempat lain dan berperang dengan musuh. Ternyata malah berlindung seperti orang i***t disana. Entah ia dapat dari mana jubah yang menutupi kepalanya itu. "Aku rasa serangganya mulai gila!" Teriaknya hilang semangat juang. "KAU YANG MEMBUATKU GILA! CEPAT KEMARI KAU BERENGSEK!" "Kenapa aku bisa ada disekitar mereka…." Gumam Rivaille ingin pergi saja. Rivaille tidak tahu kenapa Griffin dan ayahnya itu bisa sangat cocok di dalam satu tim. Entah siapa yang bodoH, tapi Rivaille akan berdoa dengan tulus agar kebodohan mereka tidak menular padanya. Griffin pun keluar dari tempat persembunyiannya walaupun masih takut serangga menyerangnya. “Aku sangat membenci ini….” Tapi ketika Griffin hendak menghabisi pria pengendali hewan itu, tiba-tiba tangannya terhenti seketika. “Griffin! Segera pergi dari sini! Bawa Rivaille serta!” Iefan tidak tahu kenapa Legardo bisa sampai ikut masuk ke dalam area kastil. Padahal ia sudah berkata tidak akan masuk sebelum musuh yang diluar habis dibantai. “Bagaimana dengan musuhnya?” Griffin bingung lantas bertanya. Tapi sayangnya Griffin dan Iefan lengah. Pria yang hampir dieksekusinya tadi melawan dan menendang mereka berdua. Mereka dipukul mundur dalam sekali serang. Rivaille masih berdiri memandangi Legardo dan menatapnya seperti ada yang salah dengan kakeknya. Aroma jelas berbeda, tapi entah kenapa suara dan fisiknya sama persis. “Kakek tidak pernah memanggilku dengan nama.” Ungkapnya membuat Legardo berhenti bersikap panik. Dan benar saja, tiba-tiba saja sosok kakeknya itu berubah menjadi sosok wanita yang terus terang saja, Griffin ingin sekali memukulnya. Wanita dengan rambut seperti pria itu tertawa di samping pria serangga tadi. “Aku tidak tahu jika Heddwyn sekonyol ini.” Ucap wanita itu. Rivaille sendiri tidak menyangka bisa bertahan di tengah-tengah kekonyolan ayah dan pamannya. Tapi untung saja mulutnya tidak separah Elunial. Semua perkataannya masih bisa tersaring dengan baik. Griffin baru pertama kali menyayangkan anurgerah wanita seperti ini. Manusia masih bisa cantik walaupun tanpa rambut, tapi wanita itu tampaknya ingin menjadi pria seutuhnya. Orientasi seksualnya jelas bermasalah. Dan Griffin geli melihatnya. “Aku lebih tidak menyangka lagi ada wanita seburuk rupa dirimu di muka bumi. Kau sudah mengganti kelaminmu? Bagaimana rasanya? Menggelikan sekali.” Griffin mengejek dengan kasar. Tapi ejekan Griffin tampaknya tidak membuat wanita itu tersinggung. Ia hanya tertawa saja dengan mata yang tampak melihat-lihat kastil di belakang Griffin. “Kau masih bisa bertarung, Six?” Pria serangga yang dipanggil Six itu mengangguk. Seketika serangga tadi yang menggila sudah bisa ia kendalikan lagi. Wanita itu kembali tertawa. “Perkenalkan, aku Seven. Dan dia adikkku, Six. Adikku bisa memanipulasi pikiran makhluk yang disentuhnya.” Iefan berterima kasih dalam hati karena Seven mau berbaik hati menjelaskan kekuatan adiknya dengan suka rela. Padahal sejak tadi ia pikir Six adalah pengendali hewan. “Makhluk yang disentuhnya? Pasti kau lelah yaa berlarian kesana kemari menangkap serangga. Istirahatlah dulu, aku akan suguhkan kau teh panas untukmu.” Griffin kembali mengejek. Bayangkan berapa banyak serangga yang disentuhnya sebelum datang ke Rjukan. Kegiatannya terlalu konyol. Kenapa harus serangga? Apakah marmut masih kurang imut baginya? “Dasar berengsek! Kau saja berlari takut dengan seranggaku!” Six tidak tahan diejek pun langsung marah-marah tidak jelas. Iefan hampir tertawa dan untungnya masih bisa ia tahan. “Tapi benar juga. Kenapa kau tidak sentuh hewan lain yang lebih berguna? Misalnya beruang kutub atau buaya muara.” Rivaille malah ikut menimpali. Pikirannya terganggu dengan Six yang masih kurang cerdas. Tapi Griffin langsung tertawa dengan kerasnya. “Kau ini bagaimana? Sebelum beruangnya berhasil disentuh, dia akan mati lebih dulu dimakan beruang! Hahahahaha!” “KALIAN! AKU AKAN BUNUH KALIAN SEMUA!” Iefan pun tidak tahan ikut tertawa. Tapi masih terbilang sopan karena menutupi mulut dengan tangannya. Sayang sekali bahwa Rivaille malah berkacak pinggang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN