Bab 66. Serangga

1024 Kata
“Kau yang mengamuk di markas kemarin! Kemari kau!” Teriaknya melengking. Demi tuhan Rivaille tidak suka sekali mendengar suara wanita berteriak seperti itu. Rivaille langsung bersiap ketika Gwen sudah mulai ancang-ancang untuk menangkapnya lagi. Ia sedikit kesulitan karena Gwen berlari sangat cepat untuk mendekat sedangkan Rivaille punya kekuatan tipe jarak jauh. Menangkap Gwen akan sangat sulit baginya. Dan pukulannya juga tidak sekuat Elunial. Sekali serang jarak dekat, bisa saja ia langsung sekarat. “Kenapa kau terus menghindar? Mengamuklah seperti kemarin! Hahahaha!” Gwen berteriak lagi. Tapi kali ini ia sudah meningkatkan kecepatan larinya lagi. Rivaille tentu saja terpojok. Berulang kali ia menghindar, Gwen selalu menendangnya. Setiap kali ia menghindari tendangannya, mulutnya sudah siap untuk mengeluarkan Hell Breathe. “Ck!” Rivaille mau tidak mau harus berpikir cepat. Tiba-tiba ia teringat dengan bola api merah yang pernah Tiffa perlihatkan padanya. Jika ia bisa membuat bola api seperempat saja dari ukuran aslinya, serangannya akan langsung mengenai Gwen karena skala ledakannya yang luas. Tapi masalahnya ia tidak tahu bagaimana cara mengembangkan bola api itu. “Kakek!” Rivaille langsung berteriak memanggil kakeknya. Kakeknya itu pemilik mantra api terkuat di Heddwyn. Mungkin saja kakeknya bisa sedikit membantu jika ia bertanya. Tapi sayangnya sang kakek tampak bertarung dengan Caesar disana. Sayangnya Rivaille lengah ketika menatap ke arah kakeknya. Dan Gwen pun mendapat kesempatan untuk melayangkan serangan. “Mati kau!” “s**t!” Gwen langsung menarik pundak Rivaille lalu mencengkramnya kuat. Tapi ketika Gwen bersiap untuk mengeluarkan nafasnya, Rivaille dengan cepat membuat mantra api seadanya. Dan- BOMM! “UAARRGHH!” Bola api merah sebesar bola baseball itu langsung meledak dan melubangi perut Gwen. Tapi sayangnya imbas dari ledakan jarak dekat itu ikut membuat Rivaille terkena dampaknya. Pakaiannya terbakar dan bekas luka bakar hampir menyelimuti tangan kirinya. “Shh… Berengsek!” Gwen langsung memaki kasar. Gwen merasa harga dirinya tercoreng karena Rivaille telah berhasil melukainya. Padahal ia yang lebih tua dan dari segi kekuatan saja ia lebih unggul. Tapi Rivaille berhasil menyerangnya. “KAU HARUS MATI HARI INI!” Rivaille membelalak kaget saat Gwen yang mengamuk itu tiba-tiba melompat tinggi. Lalu kakinya dengan kasar mendarat di atas perut Rivaille sampai Rivaille yakin sekali bahwa tulang rusuknya remuk. Tanah yang menjadi alas punggungnya juga langsung amblas dan membuat beberapa vampir segera menghindar dari serangan beruntun Gwen. “Selama aku hidup, aku tidak pernah kalah! Tidak ada yang berhasil melukaiku! Tapi KAU!” Akal sehat Gwen sudah diambang batas. Caesar yang berhadapan dengan Legardo dibuat tidak tenang. Fokusnya buyar dan beberapa kali serangan Legardo berhasil mengenai tubuhnya. “GWEN!” Teriaknya nyaring. Tapi Gwen tidak bisa lagi mendengarnya. Rivaille yang sejak tadi tidak bersuara pun akhirnya terkekeh kecil. Rasa sakit di perutnya tidak terlalu ia pikirkan. Tapi sayangnya Gwen lupa kalau Rivaille adalah pengguna telekinesis. “Abu tubuhmu menyatu saja dengan tanah.” CRAATT! Seketika Gwen mati dengan tubuh yang lagi-lagi digencet oleh tanah sampai tulang-tulangnya ikut remuk juga. Tidak sempat mengucapkan sepatah dua patah kata untuk kata terakhir, Rivaille berhasil menghabisi Gwen dengan kecerdasannya. Rivaille berusaha untuk bangun perlahan dan menyaksikan peperangan semakin memanas. Suara ledakan terdengar saling bersahut-sahutan. Teriakan dan longlongan keras para vampir yang sekarat terdengar ikut memeriahkan suasana peperangan malam ini. Tanah yang menghitam bekas terkena api hitam Tiffa yang telah padam menjadi saksi atas pertempuran sengit mereka. Matanya kini berusaha mencari-cari keberadaan anggota keluarganya yang lain. Walaupun tampaknya vampir dari pihak musuh sudah mulai berkurang, Heddwyn masih belum unggul dari segi jumlah. Itulah kenapa Rivaille berkeliling untuk membantu yang lain jika sedang dalam kondisi terjepit. Matanya juga melihat beberapa vampir lolos dan berhasil masuk ke dalam kastil. “Ck! Kemana perginya Griffin dan ayah….” Gumamnya emosi karena dua pria itu tampaknya tengah kabur dari peperangan. Segera Rivaille berlari masuk dan menghentikan beberapa vampir yang berhasil masuk. Dan terlihatlah dua pria yang ia kira kabur tadi. Rupanya Griffin dan Iefan sedang menjaga kastil dalam agar tidak terjadi peperangan di dalam kastil. “Paman!” Griffin yang baru saja menginjak leher salah satu vampir sampai menjadi abu itu menoleh dengan santainya. “Oh? Sedang apa kau kemari? Kembali ke depan dan habisi sebanyak mungkin!” Mulutnya mulai memerintah seenak jidat. Emosi Rivaille yang awalnya masih level medium langsung mentok maksimal karena perkataan pamannya. Ia di depan tadi hampir mati sedangkan dua vampir tua bangka ini malah senang dan santai membunuh vampir rendahan. Inilah bentuk kesia-siaan dalam ikatan kekeluargaan. Dua vampir yang hanya menjadi beban di Heddwyn. Ditatapnya sang ayah yang juga sama menjengkelkannya. “Kau ingin bertukar tempat?” Tanya sang ayah dengan kedua tangan yang terkait di belakang tubuhnya. Santai sekali. Tampaknya peperangan ini menjadi pemandangan bagus baginya. Rivaille bersumpah, ia semakin kesal dengan ayahnya sendiri. “Kakek sedang berjuang keras di depan, tapi kalian malah bersantai seperti ini.” Ujar Rivaille sengaja menatap dua pria tadi dengan tatapan merendahkan luar biasa. Griffin tentu saja langsung tersinggung. Berani sekali bocah sepertinya berkata seperti itu. “Sepertinya kau harus dihajar sekali agar bisa sedikit sopan pada pamanmu.” Rivaille memutar matanya malas. Bagaimana ia bisa sopan dengan makhluk sepertinya. Saat Griffin hendak mengomel lagi, tiba-tiba sesuatu berwarna hitam terbang dan membentuk sebuah bola di udara. Iefan yang pertama kali menyadarinya segera menarik Rivaille untuk menjauh. “Mantra jenis apalagi ini?” Griffin berkacak pinggang. Jika api, tidak mungkin. Lalu bola yang punya suara berdengung itu tampak mencurigakan sekali. “Suaranya aneh sekali.” Iefan mulai menangkap hal ganjil. Tapi Rivaille tidak mungkin salah mengenali suara dengungan aneh dari benda itu. “Suaranya seperti… serangga?” Griffin melotot ngeri. “Ya tuhan… Jangan katakan makhluk yang berkumpul itu adalah serangga? Demi tuhan aku tidak suka serangga!” Griffin mulai panik. Iefan sedikitnya tahu kebiasaan hewan yang selalu berkumpul seperti itu jika musim kawin. Aneh saja jika mereka bertingkah seperti itu selain di musim semi. “Tapi kenapa bisa? Ini belum masuk musim semi. Tidak ada serangga kawin di musim dingin!” Tapi belum sempay Rivaille berkomentar, tiba-tiba hampir ratusan ribu serangga termasuk lalat dan nyamuk di dalamnya terbang di udara. Koloni serangga itu mirip seperti ombak yang siap menelan apapun yang ada di depannya. Griffin yang memang geli parah dengan serangga langsung bergidik ngeri dengan tubuh merinding hebat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN