Rivaille tidak banyak protes walaupun keningnya sudah mengkerut ingin bertanya. Sekumpulan birokrat yang ia tahu semuanya punya kemampuan khusus yang merepotkan. Dan dari semua itu, untunglah Asura sudah mengetahui semuanya.
Terutama pria berambut merah nyentrik itu. Entah akan pergi menyerang ke bagian mana saat perang pecah nanti. Dari jarak 500 meter Rivaille bisa merasakan bahwa pria itu tampak tertarik untuk bertarung dengannya.
“Aku akan kembali.” Rivaille pun pergi.
Legardo masih tampak asing dengan aura aneh dari musuh. Karena terlalu banyak, ia tidak bisa mendeteksi dari mana aura itu berasal. Ia pikir sekarang Vian sudah pasti merasakan aura kedatangan mereka sejak tadi.
“Sepertinya kalian sedang buru-buru. Sayang sekali Heddwyn tidak menerima tamu malam ini.” Cengiran menjengkelkan yang diperlihatkan Legardo tampaknya langsung memancing emosi beberapa vampir.
“Hey Kakek tua! Kami tidak pandang bulu jika kau berniat menghalangi kami. Serahkan wanita itu sekarang!”
Legardo sengaja mengorek telinganya sejenak lalu meniup kotoran di jarinya dengan santai. Sok sekali birokrat ini. Memangnya ia yang pria tua berusia lebih tua dari mereka akan takut dengan gertakan seperti itu?
“Oh, sayang sekali Kakek tua ini juga tidak pandang bulu jika kalian merangsek masuk. Aturan, tetap aturan. Melanggar, akan dapat hukuman.”
Suasana malam dengan langit yang mendung ini tampak semakin suram. Sinar bulan tidak dapat menyentuh tanah dan angin hujan mulai berhembus pelan.
Menerbangkan helai pakaian seragam birokrat yang sedikit berlebihan itu. Legardo kini memperhatikan Caesar, pria yang memimpin para birokrat itu berdiri menantang.
“Siapapun yang melindungi tersangka, juga akan mendapat hukuman di organisasi kami. Sayang sekali Heddwyn sudah kami masukkan ke dalam daftar hitam.” Legardo tertawa keras.
“Hahahahaha. Terima kasih. Heddwyn tidak akan pernah tunduk pada siapapun. Organisasi kecil kalian bukan masalah bagi kami.” Caesar tersenyum kecil.
Ia pikir kenapa kakek tua di seberang sana tampak percaya diri sekali. Rupanya Heddwyn punya anggota keluarga yang cukup banyak. Dilihatnya vampir mulai berdatangan dan berdiri di samping kakek tua itu.
Entah sudah berapa lama kerajaan ini berdiri, sampai kekuatan mereka semua pun tidak bisa dipandang remeh. Ia juga tidak tahu jika ada kehidupan di lembah suram ini.
“Caesar, tidak salah lagi. Dia Asura. Vampir yang selama ini menjadi buronan di kalangan para birokrat.” Senyum Caesar langsung hilang.
Pantas saja Heddwyn tidak terkejut dengan kedatangannya. Padahal dengan pasukan sebanyak ini, mereka setidaknya bisa sedikit takjub atau takut.
"Berengsek… Aku kira dia sudah lama mati."
Gwen, menatap benci ke arah Asura. Bisa-bisanya ia menemukan vampir sialaN itu disini. Tidak disangka juga selama ini dia bersembunyi di lembah ini. Dan darah keturunan bangsawan pula.
"Biarkan aku yang melawannya." Ucapnya seperti tengah memendam dendam sekian lama.
"Tidak. Kau belum sebanding dengannya.”
Caesar tampak memperhatikan Heddwyn sebentar. Tapi ia berpikir agak aneh juga jika wanita yang menghancurkan markas pusat kemarin tidak ada disana.
Apakah terjadi sesuatu padanya? Sayangnya Caesar tidak melihat langsung kejadian kemarin.
“Bawa Draco kemari.” Caesar memberi perintah pada Gwen.
Dari kejauhan, Rivaille bisa menyaksikan Draco yang diseret oleh dua vampir. Tubuhnya babak belur dengan kedua tangan yang buntung sampai siku.
Legardo bahkan sampai mengernyitkan alisnya bingung. Ia tidak mengenali siapa pria yang dibawa mereka.
“Ada yang mengenalinya?” Tanyanya menoleh pada anggota keluarganya.
Asura dan Rivaille bergerak maju dengan tatapan masih tertuju pada Draco. Pria itu benar-benar mengemis meminta belas kasihan. Yang sayangnya itu membuat Asura jijik sekali.
“Aku masih mempertanyakan apakah itu Draco atau bukan.”
“Oh sayangnya itu memang Draco.” Rivaille menyahut.
Asura melepas kacamatanya sejenak. Ia masih bisa mentolerir jika pria itu mati karena melawan. Tapi dia masih hidup dan malah menangis seperti anak gadis yang jarinya tertusuk jarum.
Dan apa-apaan dengan sikap mengemisnya itu?
“Darwin akan menangis melihatnya seperti ini.” Gumamnya heran.
Setelah mereka memperlihatkan drama penyiksaan, Draco dibunuh tepat di depan mata mereka semua. Debu dari tubuhnya itu langsung berterbangan disapu angin.
Dan detik berikutnya-
BOOMM!
Caesar langsung melesat maju dengan kecepatan yang membuat Rivaille sedikit terkejut. Dan beruntung serangan cepat tadi tidak mengenainya.
“Rivaille! Menjauh darinya!” Asura berteriak keras.
Ia memandang ke arah depan dan melihat wanita berambut hitam itu berlari ke arahnya. Tapi sayang Gwen bergerak lebih cepat dan menangkap kedua pundak Rivaille.
Gwen membuka mulutnya dengan lebar dan tiba-tiba suhu panas keluar dari mulutnya.
BUAGH!
“Kenapa kau tidak menghindar?!” Asura berteriak kesal.
Gwen langsung terlempar dan berguling di tanah. Rivaille sempat ikut terlempar juga karena Asura yang mendorong Gwen terlalu kuat. Ia langsung tersadar sepenuhnya.
“Aku belum pernah melihat kekuatan seperti itu sebelumnya.” Asura memutar matanya malas.
Rivaille yang berdiri juga kaget melihat Asura yang tiba-tiba ada dua sekarang. Kekuatan apalagi yang dilihatnya ini? Rasanya Rivaille ingin berdiri di ketinggian dan menonton saja karena terlalu banyak tipe kekuatan.
“Kakak!”
Tiba-tiba suara Eredith terdengar. Rivaille segera mencari suara Elunial dan terlihatlah disana sang adik tengah adu kuat dengan kekuatan yang sama. Tapi bedanya, pria cepak berbadan seperti tentara itu lebih besar dari adiknya.
“Paman Griffin!” Teriaknya keras.
Seharusnya Elunial bersama Griffin sekarang. Tapi kenapa pria itu tidak ada disekitarnya? Mau tidak mau Rivaille berlari ke arah sang adik.
Matanya pun seketika berubah hitam. Kekuatan telekinesis yang telah diajari Tiffa akan ia keluarkan di medan perang ini.
Elunial yang sedang menahan pukulan demi pukulan pria itu dengan kedua lengannya, tiba-tiba merasa tanah bergetar cukup keras.
Tapi ketika ia menghindar lagi dari pukulan pria tadi, ia melihat kakaknya sudah melompat ke sampingnya. Lalu dua buah batu besar dari dalam tanah langsung terbang dan menggencet pria tadi seperti telur yang tak sengaja terinjak.
“Kakak!” Elunial merinding ngeri dengan pemandangan yang dilihatnya barusan.
“Kembali ke belakang!” Rivaille langsung berteriak.
Beberapa vampir lain sudah mulai menyerang dengan membabi buta. Tatapan Rivaille sudah sinis saja ketika melihat sang kakek masih berdiri sambil melipat kedua tangan di depan d**a.
Padahal perang sudah berlangsung dan yang hebatnya tidak ada vampir rendahan yang berani menyerangnya.
“Cih! Sombong ada batasnya juga.” Gumamnya memilih untuk terus memukul kesana kemari.
Tapi ketika ia berhasil melumpuhkan beberapa vampir, lagi-lagi ia kembali berhadapan dengan Gwen. Wanita keras kepala yang ingin sekali menghabisi raja Heddwyn.