Griffin menggeleng dan mendengus kasar ketika matanya langsung beradu tatap dengan Rivaille.
“Kenapa kau bawa bocah kurang ajar ini kemari?” Tanyanya pada Iefan. Perang bisa pecah lebih dulu jika mereka berdua dipertemukan.
Iefan hanya diam dan memperhatikan area perbatasan. Sejujurnya ia tidak bisa memberikan putra sulungnya wejangan yang berguna untuk masa depan. Untuk itulah ia membawanya pada Griffin.
“Dia sudah menghamili Tiffa. Melvern mengamuk di kastil.” Ucapnya singkat.
“Hm?”
Rivaille memutar matanya malas sekali. Jangan bilang ayahnya membawanya kemari karena ingin membicarakan masalah candaan itu? Ia langsung mendudukkan diri di atas batu.
Ia rasa mereka bertiga butuh bicara dari otak ke otak agar paham.
“Tidak. Vian hanya bercanda dan ibu mempercayainya.” Tapi sayangnya Griffin yang sejak tadi melotot itu tidak merasa perih sedikit pun karena tidak berkedip sejak tadi.
“Kalau begitu kau sudah melakukannya kan?” Iefan menekan Rivaille untuk berkata jujur. Tapi diamnya sang anak membuat Iefan dan Griffin kompak menatap ke arah lain.
“Kami telah sepakat sebelum memulai.” Rivaille jadi merasa tidak enak karena harus mengakui ia telah menodai wanita. “Aku akan bertanggung jawab jika memang Tiffa dinyatakan hamil.”
Griffin sebenarnya belum bisa mempercayai semua cerita yang diceritakan Vian. Tentang siapa Tiffa, siapa Yovanka dan kenapa jadi seperti ini.
“Baru pertama kali aku mengagumi wanita sepertinya. Aku tidak percaya di zaman dulu dia telah banyak membunuH bangsanya sendiri.” Gumamnya sedikit membuka mata Rivaille juga.
Ia juga tidak percaya wanita setulus dan sebaik itu di masa lalu sangat beringas. Mereka memang bisa dibilang baru saling mengenal. Bahkan hitungan jari.
Tapi seakan-akan mereka sudah lama saling mengenal dan terbuka satu sama lain. Iefan menarik diri dan duduk sedikit jauh dari mereka berdua. Tangannya meraih sebuah batu lalu melemparnya.
“Aku tahu kalian saling mencintai. Tapi bukan seperti itu pria memperlakukan wanita.” Griffin mengangguk beberapa kali dan terakhir menunjuk wajah Rivaille berkali-kali.
“Dia wanita terhormat, Rivaille. Bangsawan dan keturunan pertama dari ras vampir. Perlakukan dia spesial seperti dia satu-satunya wanita di dunia.”
Rivaille juga tahu itu. Ia mengusap wajahnya seperti ingin tenggelam saja sampai ke dasar laut. Ia juga ingin memuja Tiffa dengan berbagai harta dan kekayaan.
Tapi setelah melihat pakaian serba emasnya, Rivaille yakin Tiffa tidak akan terkesan lagi dengan harta di Heddwyn. Tangannya kini mulai bergerak ikut melempar batu seperti ayahnya.
“Dia tidak akan terkesan dengan perlakuan spesialku.” Ucapnya sudah putus asa. Sekarang Griffin jadi ikut berpikir.
“Lalu sekarang kau ingin bagaimana?” Griffin tidak yakin ada satu saja makhluk di dunia ini yang bisa membuatnya terkesan.
Dan Rivaille menggeleng tidak tahu.
“Ayah berusaha untuk tidak mencampuri urusanmu, Rivaille. Aku bahkan tidak bisa menjadi pria yang sempurna seperti yang diharapkan ibumu. Tapi pasti ada satu dari kebaikan kita yang akan diingatnya sampai kapanpun. Kenangan yang tidak akan membuatnya pergi.”
Iefan masih membelakangi paman dan anaknya. Tidak masalah jika seluruh anggota keluarganya menganggap dirinya terlalu lembek dan tidak kompeten. Tapi beginilah ia adanya.
Rivaille mendengus kasar. Yang punya masalah percintaan bukan ayahnya saja. Bahkan Rivaille punya masalah yang akan sangat sulit untuk ditaklukkan.
“Sulit untukku melangkah… Di masa lalu, aku adalah Aredric. Dengan bodohnya aku cemburu pada diriku sendiri karena Tiffa selalu bercerita tentang Aredric. Tiffa mencintaiku karena aku adalah Aredric… Bukan sebagai Rivaille Heddwyn yang bodoh dan kekanak-kanakan.” Ungkapnya langsung menampilkan ekspresi cemburu yang teramat sangat besar.
Jika sudah seperti itu, Griffin juga tidak bisa memberikan saran apapun. Kisah cintanya dengan Veronica juga memprihatinkan.
“Aku tahu dia sangat mencintai Aredric. Hidup sampai selama ini juga demi manusia cacat dan buta yang telah lama mati… Lalu aku-entahlah… Dia masih memandangku sebagai Aredric atau tidak. Tapi setelah kami bercinta, aku akhirnya mengerti bahwa yang diinginkannya hanya Aredric… Bagaimana rasanya bercinta sedangkan dia menyebut nama pria lain di hadapanmu? … Menyedihkan.” Tambahnya lagi. Kekehan geli Rivaille membuat Griffin terdiam.
Iefan akhirnya menoleh dan melihat putranya punya masalah percintaan yang juga sama rumitnya. Baru kali pertama dia jatuh cinta dan kali pertama juga merasakan sakitnya patah hati.
Rivaille menatap langit senja. Daerah lembah mulai gelap seperti suasana mendukungnya untuk menangis dan menumpahkan segala isi hatinya.
“Aku akan menikahinya… Karena memang seharusnya seperti itu….”
Rivaille pun berdiri dan sedikit membersihkan debu di belakang celananya. Ia rasa kedua pria ini cukup mengerti bagaimana kondisi perasaannya saat ini.
Ia harap ayah dan pamannya tidak menyampaikan semua perkataannya tadi pada anggota keluarga lain. Biar ia yang tanggung sendiri karena memang sudah takdirnya seperti ini.
Iefan langsung berdiri ketika putranya pergi.
“Aku tidak percaya bocah itu telah sedewasa ini….” Griffin ingin tertawa mendengarnya. Tapi suasananya sedang tidak tepat.
“Setidaknya didikanmu berhasil tentang tanggung jawab.”
Ya. Bocah kecil sepertinya akan menanggung pernikahan dengan cinta sepihak. Semua yang dilakukannya hanya akan menjadi sebatas tanggung jawab. Tidak lebih.
Setelah matahari tenggelam sepenuhnya, tepat pukul delapan malam, semua anggota keluarga Heddwyn sudah bersiaga di posisi masing-masing.
Griffin dan Iefan yang baru saja kembali dari perbatasan memberi kabar bahwa mereka telah sampai di Rjukan. Jumlahnya besar seperti apa yang dikatakan Asura.
Legardo yang menjadi pemimpin perang sudah berdiri di depan kastil bersama Rivaille.
“Di masa depan, berpikirlah lebih dalam lagi agar perang seperti ini tidak lagi terjadi di masa depan.” Rivaille memutar matanya malas.
“Kakek sudah terlambat mengajariku.”
Legardo hampir saja terpeleset dengan tidak elitnya dari tangga. Benar apa kata cucunya. Ia belum sempat mengajari cucunya berbagai hal karena ia sudah hibernasi lebih dulu.
“Mulai sekarang kau akan banyak belajar.”
Setelah pintu gerbang dibuka, tampaklah di seberang sana ribuan vampir dengan title birokrat mengepung kastil Heddwyn. Legardo mengelus jenggotnya pelan sambil menatap mereka semua.
“Lumayan juga.” Gumamnya menghitung-hitung kemungkinan menang.
Matanya bisa melihat skill level mereka yang cukup berbahaya untuk dilawan. Dan pria dengan tampang culun di barisan depan juga sangat mengecoh lawan.
Bila dia bertemu dengan Elunial, selesai sudah riwayatnya. Elunial tipe vampir yang melihat penampilan lebih dulu. Legargo melipat kedua tangan di depan dadanya.
‘Kalau begini akan sengit.’ Batinnya juga melihat beberapa vampir di atas level 500. Cukup sepadan dengannya.
“Kakek akan mulai membagi tim disini. Kau bisa menghadapi pria yang mirip Krik Douglas itu. Kakek akan hadapi si culun itu dan timnya.”