Ucap Vian tersenyum genit. Tak lupa kedipan sebelah matanya yang membuat Melvern berpikir keras.
“Aku akan jadi nenek? Tapi ketiga anakku saja belum ada yang menikah.” Ujar Melvern bingung.
Rivaille menatap ibunya waspada sambil perlahan-lahan berjalan menuju pintu. Setelah dekat dengan tangga, ia langsung melesat secepat mungkin kabur dari sang ibu.
Vian sudah duduk dengan nyamannya di kursi sambil menyeduh teh. Menunggu Melvern mengerti dengan ucapannya. Dan-
“Oh! Rivaille? Rivaille dan … Tiffa?” Tanyanya langsung menutup mulutnya kuat ketika Vian mengangguk beberapa kali.
“... Aku permisi dulu, Tuan Yovanka.”
Setelah Melvern pergi, suara teriakan Melvern memanggil sang anak terdengar membahana sampai ke ruang bawah tanah. Vian menggeleng pelan sambil tetap mempertahankan senyumnya.
Tiada hari yang tenang di Heddwyn. Dan tidak ada ketenangan disini selama ada Melvern.
“Bersiaplah dengan ibu mertuamu yang cerewet, Tiffa.” Gumamnya geli. Ia menghirup aroma tehnya sebelum ia menyeruput pelan.
Matanya tertuju pada perut sang kakak. Ya, jika bocah itu berhasil menanamkan benih di sana, ia akan resmi dipanggil paman. Lalu selamat tinggal pada kisah cintanya yang suram.
Sang kakak akan menikah dan ia akan menjadi paman pengasuh yang paling penyayang. Semoga saja.
-Kamar Eredith-
Elunial kali ini menemani sang kakak di kamarnya karena sang kakak masih dalam proses penyembuhan. Setelah Bibi Veronica rutin datang ke kamar, Eredith tidak merasa kesepian karena sang adik yang menemaninya.
“Pagi tadi satu istana gempar karena ulah kakak.” Eredith menatap bosan ke luar jendela. Jika menyangkut kakaknya sudah pasti akan gempar.
“Aku tahu. Teriakan ibu terdengar sampai kamarku.”
Elunial langsung memijat kepalanya layaknya orang dewasa. Ia hampir terpeleset dari tangga karena kuatnya teriakan sang ibu. Elunial sampai tidak berani bertatap muka dengan ibunya karena seumur hidup, ibunya tidak pernah semarah itu sebelumnya.
“Kali ini apa yang dilakukan kakak?” Eredith jadi ingin tahu kenapa ibunya semarah itu. Elunial sudah merebahkan tubuhnya di dekat kaki kakaknya.
“Kakak melakukan hubungan dewasa dengan Tiffa.”
Eredith tentu saja geli mendengarnya. Bisa-bisanya sang kakak melakukan itu. Padahal seharusnya dia tahu bahwa vampir wanita bisa langsung hamil jika terjadi pembuahan.
“Kalau begitu pantas saja ibu marah besar.” Elunial mengangguk beberapa kali. Kakaknya itu memang pembawa banyak masalah. Baru beberapa hari menjadi raja, cobaannya sudah sebanyak ini.
“Tapi wajar bukan? Kakak terlihat sangat mencintai Tiffa. Lagipula aku tidak keberatan punya kakak ipar yang cantik. Heddwyn harusnya bangga! Tiffa itu kan ratu Yovanka.”
Eredith langsung menendang lengan adiknya sedikit kasar. Ponsel yang sedang dimainkannya itu langsung jatuh menimpa wajahnya. Elunial langsung mengaduh kesal.
“Berhenti mengatakan hal menjijikkan seperti itu. Kau juga belum waktunya membicarakan hal seperti ini.” Tegur sang kakak. Elunial mendengus saja tidak peduli.
Tapi ketika Eredith kembali menatap keluar jendela, tiba-tiba sang kakak sudah bertengger di sana seperti burung kenari yang meminta makan. Eredith langsung memijat keningnya berusaha untuk menenangkan diri.
“Kenapa tiba-tiba lewat jendela? Apa sebaiknya aku tidak perlu memasang pintu di kamarku?” Rivaille cuek saja dan melompat ringan masuk ke dalam kamar.
Eredith tahu kakaknya itu sedang menghindari ibunya. Itulah kenapa dia memilih untuk bersembunyi di kamarnya. Elunial berbaring menyamping sambil menopang kepala dengan sebelah tangannya.
“Apa ayah ikut marah?” Tanyanya ingin tahu. Rivaille menggidikkan pundaknya santai.
“Aku tidak peduli. Aku juga tidak sengaja menjadi berengsek. Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya pada Eredith.
“Sangat membaik berkat Bibi Veronica.” Rivaille mengangguk.
“Jadi? Kapan Kakak akan menikah? Aku dengar Tiffa sedang hamil sekarang.”
Mendadak Eredith ingin sekali menendang adiknya keluar dari jendela. Kenapa bocah ingusan sepertinya ingin tahu sekali dengan urusan pribadi kakaknya.
Itu hal sensitif yang seharusnya tidak ditanyakan sesantai itu.
“Jangan dengarkan dia Kak. Terkadang saringan di mulutnya tidak berfungsi.” Ucapnya segera melayangkan delikan maut pada sang adik.
Rivaille menarik kursi dan duduk di samping ranjang adiknya. Karena candaan Vian, seluruh anggota keluarganya panik dan keributan terjadi dimana-mana.
Dari semua raja Heddwyn yang pernah menjabat, mungkin hanya Rivaille yang membuat rekor sendiri. Raja paling jahat dan paling nakal karena menghamili gadis sebelum menikah.
“Itu ulah Vian. Lagipula Tiffa setuju saja jika diangkat menjadi ratu Heddwyn. Kalau Tiffa sungguhan hamil, aku tidak perlu repot menghindari ibu lagi.”
Eredith dan Elunial juga sudah tahu akan jadi seperti itu. Tapi tetap saja aneh bagi mereka membiarkan kakaknya menikah dengan nenek berusia ratusan ribu tahun.
“Aku yakin ibu tidak akan mau lagi hibernasi sebelum kakak menikah dan punya anak.” Gumam Elunial. Dan sayangnya Melvern memang sudah berniat seperti itu.
Sekarang gantian Rivaille yang dibuat pusing. Apa ia berdosa jika memasukkan ibunya secara paksa ke dalam peti mati?
“Bagaimana keadaan sekarang? Sudah ada pergerakan yang terlihat?” Tanyanya mencari topik lain. Elunial segera bangkit dari posisi rebahannya.
“Paman Asura berkata mereka sudah mulai bergerak dan merekrut banyak birokrat dari Amerika. Semua sudah siap berangkat malam ini.” Rivaille memiringkan sedikit kepalanya.
“Dari mana Paman Asura mendapat informasi itu?”
Elunial tahu kakaknya akan bertanya seperti itu. Ia membungkukkan sedikit punggungnya, kedua kakaknya dengan otomatis mendekat untuk mendengar bisikan Elunial.
“Paman Asura pernah menjadi anggota anti-organisasi The Condescendent. Dia sudah lama bertikai dengan mereka. Itulah kenapa dia tahu semua informasi tentang organisasi itu.”
Eredith sedikit meragukan. Jadi sebenarnya, pamannya yang selalu pulang sepuluh tahun sekali itu ternyata pemberontak? Apa dulu vampir juga berdemo seperti manusia juga?
“Lalu? Informasinya dapat dari mana? Teman-teman mantan anti-organisasi juga?” Tanyanya tidak sabaran. Elunial sejak tadi tersenyum terus dan Eredith kesal melihatnya.
“Paman Asura ternyata hacker juga.”
Rivaille mendengus kasar. Pantas saja paman kacamata itu jarang sekali pulang. Ternyata sedang melakukan hal-hal yang tidak penting di luar sana.
“Ck! Akhirnya dia bisa berguna juga di keluarga ini.” Gumam Eredith pedas luar biasa.
Rivaille lantas berdiri dan langsung pergi melalui jendela lagi. Tidak ada gunanya ikut bergosip dengan Eredith dan Elunial. Setidaknya ia sudah mengecek kondisi kesehatan adiknya hari ini.
Setelah Rivaille mendarat di atas tanah, Iefan sang ayah langsung menghampirinya.
“Ikut Ayah berjaga dengan Griffin di perbatasan.” Rivaille langsung mengiyakan. Mereka berdua pun berangkat.
Sesampainya disana, Iefan dan Rivaille melihat Griffin masih berdiri mengawasi dari kejauhan. Berbeda dengan sifatnya yang kadang suka menggila dan tidak jelas. Saat ini Griffin berwajah serius sekali.
“Apa ada pergerakan?”