Bab 62. Impoten?

1025 Kata
Vian juga sama terkejutnya ketika melihat Tiffa berteriak kesakitan sampai berlutut di atas lantai. Kedua lengannya bahkan gemetar sampai Vian tidak tahu harus berbuat apa. TRAAKK! Melvern ketakutan sekali menyaksikan bagaimana Tiffa merintih dan bertumpu pada kedua lengannya. Lantai yang diinjaknya pun hancur dan tanah di bawahnya sampai tertekan ke bawah. "Vian!" Tiffa berteriak lagi. Vian ikut berlutut di hadapan kakaknya tapi tidak berani menyentuh zirah itu. "Aku harus melakukan apa?!" Tanyanya panik. Ia takut menyentuhnya karena takut Tiffa akan semakin menderita karena beratnya. "Cepat lepas!" Rivaille memberanikan diri untuk mendekat. "Aku bisa membantu!" Putusnya tidak tega melihat Tiffa seperti itu. Vian langsung mendorongnya untuk mundur. "Mundur!" Vian langsung berdiri di sebelah kanan Tiffa lalu menyentuh lengannya. Ia merasa tangannya melepuh karena betapa panasnya zirah itu ketika disentuh. Bahkan terlihat dari asap yang keluar dari tangan Vian dan juga bunyi kulit yang terpanggang. Susah payah Tiffa mengangkat lengan kanannya ketika Vian berusaha menarik sarung tangannya. Tiffa merasa setiap tulang di tubuhnya diremukkan setiap incinya. Bagaimanapun juga, Vian harus segera melepasnya sebelum tenaganya habis tak bersisa. “Apa yang terjadi?” Melvern dan beringsut mundur dan sedikit menjauh karena takut. “Bertahanlah sebentar lagi!” Vian sedikit memberi semangat. Sedangkan Tiffa terus menggeram menahan sakit. Rivaille tidak berkutik dan hanya bisa menyaksikan bagaimana ekspresi tersiksa Tiffa. Tampak begitu tersiksanya menjadi vampir terkuat. Setelah semua ketegangan itu berlalu, Tiffa langsung ambruk dan tersungkur. Begitu pula dengan Vian yang ikut terbaring di atas lantai karena kelelahan. #### Keesokan harinya, Rivaille tampak duduk menatap tubuh yang terbaring di atas tempat tidur. Setelah kegilaan malam tadi, akhirnya Tiffa bisa hibernasi dengan tenang. Ia juga lega sekali Tiffa bisa lolos dari maut semalam. Dan pagi ini, Rivaille yang bertugas untuk menjaga Tiffa sambil menunggu Vian kembali. Karena kelelahan, Vian mengaku hampir pingsan dan pamit ingin tidur di atas pangkuan para gadis. Untunglah Rivaille sudah mulai terbiasa dengan orang-orang gila sepertinya. Mengingat adik bungsunya yang bisa lebih gila dari itu tentunya. “Kau ingin mandi sebentar? Ibu bisa menggantikanmu sampai Vian datang.” Rivaille menggeleng, sengaja ia tidak menoleh pada sang ibu yang baru saja tiba. “Aku akan pergi setelah Vian kembali.” Vian akan marah jika ia kembali hanya ibunya yang menjaganya di bawah. Fajar telah menyingsing dan matahari sudah terbit sempurna di luar sana. Melvern tahu kebiasaan putranya yang suka mandi pagi. Ia pun duduk di tepi ranjang Tiffa untuk menyisiri rambutnya yang berantakan. “Bagaimana dengan keadaan di luar?” Rivaille akan keluar setelah Vian kembali dan berunding dengan kakeknya nanti. “Semua masih menunggu. Pamanmu juga sudah berangkat ke perbatasan untuk mengawasi sebelum fajar tadi.” Mereka cukup diuntungkan dengan letak kerajaan yang berada di dalam lembah. Selain karena perjalanannya cukup jauh dari lokasi markas mereka. Para vampir biasa selain vampir bangsawan tidak akan bisa berjalan di bawah sinar matahari. Kemungkinan besar mereka akan sampai tengah malam nanti. Sedangkan saat mereka tiba, semua sepuh dari kerajaan Heddwyn sudah menunggu mereka semua untuk dibasmi. “Ibu selalu khawatir kau akan memilih wanita yang salah selama Ibu hibernasi.” Rivaille langsung tersenyum malu. Ia juga tidak menyangka bisa menjadi vampir yang spesial bagi Tiffa. “Sebelumnya aku berencana untuk tidak menikah agar Eredith atau Elunial bisa menjadi raja selanjutnya.” Ekspresi Melvern langsung berubah ketus. “Kau jangan membuat Ibu menyesal melahirkanmu, anak nakal. Kalau kau tidak menikah, minimal berkencanlah dengan para gadis! Haahh….” Rivaille menggaruk kepalanya sedikit kasar. Masalahnya Tiffa sulit sekali untuk diajak kencan. “Aku akan coba mengajak Tiffa kencan… kapan-kapan.” TAKK! Dan sisir di tangan Melvern langsung patah. Sengaja ia meremasnya agar Rivaille bisa lebih serius tentang hubungannya dengan Tiffa. Akan sulit bagi Tiffa karena bosan dengan sikap anaknya. Well, siapa yang tahan bicara dengan seonggok batu? “Kau bisa belajar romantis dengan pamanmu. Jangan sekali-kali datang pada ayahmu untuk masalah percintaan, dia buruk sekali memperlakukan Ibu.” Ucap Melvern sedikit bercerita tenang suaminya yang sama sekali tidak romantis. Tapi Rivaille akan berpikir ribuan kali jika meminta bantuan pada pamannya. Pasalnya sudah pasti dia tidak akan mau mengingat ia sudah pernah menyetrumnya saat hibernasi. “Aku akan lakukan sendiri.” Ucapnya ragu-ragu. Melvern kembali menyisir lembut rambut Tiffa dengan jari-jarinya. Tapi otaknya tiba-tiba terbesit satu pemikiran yang buruk sekali. Seketika Melvern langsung berdiri dan menghampiri anaknya. “Apa kau impoten? Jangan malu! Katakan pada Ibu sekarang.” Rivaille langsung melotot ngeri. Buru-buru dia ikut berdiri dan menghindar. “Tidak! Aku tidak impoten! Ibu! Berhentilah berpikiran macam-macam!” Tapi Melvern keras kepala dan berusaha menyentuh barang sang anak. “Kalau begitu biar Ibu periksa.” “Tidak!” Demi apapun juga, Rivaille sudah sebesar ayahnya. Tubuhnya berotot seperti manusia yang berusia 27 tahun. Lalu dengan tubuh seperti itu, ibunya berkata ingin memeriksa barangnya apakah masih berfungsi atau tidak? Jangan gila! Rivaille geli sekali. Apakah ibunya ini tidak punya rasa malu? Rivaille yang sebagai anaknya saja malu sekali. “Biarkan Ibu periksa!” Rivaille menggeleng cepat seraya berlari mengitari ruangan menghindari kejaran ibunya. “Tidak! Ibu seharusnya menghormati rasa malu anakmu! Aku ini sudah dewasa!” Ucapnya heboh. Ia berharap Tiffa tidak akan pernah melihat adegan konyol ini. Bisa-bisa ia menanggung malu sampai akhir hayat. “Rivaille! Kau tidak perlu malu! Aku ini ibumu! Tidak ada satu inci pun tubuhmu yang belum pernah ibu lihat!” Demi tuhan Rivaille ingin ibunya amnesia detik ini juga. “Tidak! Aku punya privasi Bu!” Melvern sengaja mengacungkan jari telunjuknya pada sang anak. Rivaille bergidik ngeri saat merasa lirikan tajam ibunya tertuju padanya. Ia harus mengatakan apa sekarang? Kenapa tiba-tiba suasana jadi memalukan seperti ini? “Anda tidak perlu khawatir, Nyonya Heddwyn. Kondisi putramu sangat baik. Kelaminnya juga baik-baik saja.” Rivaille sekarang tahu bahwa Vian calon kakak ipar yang baik. Pria itu akhirnya datang juga dan dengan pakaian bersih dan wangi. Ia baru saja tiba dan langsung dihadapkan dengan kejar-kejaran konyol antara ibu dan anak. Melvern berkacak pinggang kesal karena Vian malah bersekutu dengan putranya. “Dari mana kau tahu kelaminnya baik-baik saja?” Rivaille mengirimkan tatapan yang berisi kode rahasia diantara mereka. Melihat senyuman Vian yang menjengkelkan, Rivaille menarik kata-katanya bahwa Vian calon kakak ipar yang baik. “Sebentar lagi Anda akan jadi nenek. Bersabarlah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN