Vian berusaha membangunkan Tiffa dari pingsannya dengan sedikit menepuk pelan pipi kakaknya itu sampai tersadar. Setelah sadar, Rivaille dan Melvern segera mendekat.
“Tiffa, kau harus melepaskan semua baju zirah yang kau kenakan dari tubuhmu. Semua itu menyerap energimu dan akan percuma jika kau hibernasi nantinya.” Tiffa tampak berkedip beberapa kali.
“Aku tahu… Tapi aku yang sekarang tidak bisa melepasnya seorang diri.”
“Aku akan membantumu.”
Dan setelah Tiffa sepakat untuk melepas semua baju zirahnya, ia berdiri dibantu oleh Rivaille karena kedua kakinya hampir tidak bisa lagi digunakan.
“Ada aku disini.” Rivaille berbisik sedikit menghibur agar Tiffa tidak terlalu tegang. Senyuman Tiffa langsung merekah. Tatapannya kini tertuju pada adiknya.
“Aku akan melepaskannya satu persatu.” Vian mengangguk dengan ekspresi tegang sekali.
“Tolong zirah emas itu terakhir saja.” Tiffa pun mengiyakan.
Dengan sedikit tenaga yang ia miliki, Tiffa bertransformasi. Ia sengaja mengganti gaun dan pakaian yang tidak terlalu berat. Termasuk pedang dan juga senjata lain yang selalu ia pegang.
Dan yang pertama, adalah gaun berwarna ungu hitam dengan aksen emas dan permata.
Awalnya Rivaille mengira gaun itu tidak akan berat. Tapi ternyata ia salah besar. Ketika Tiffa bertopang pada tubuhnya, mulutnya hampir mengumpat kasar.
“Kenapa kau berat sekali!” Tanyanya sekuat tenaga menahan tubuh Tiffa. Sedangkan Tiffa dengan isengnya sengaja melemaskan kakinya agar Rivaille semakin tersiksa.
“Jangan banyak mengeluh. Kau ingin aku selamat atau tidak?” Melvern sampai menutup mulutnya karena hampir saja tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Vian segera melepaskan aksesoris gaun itu satu persatu lalu meletakkannya di atas meja besi. Tapi ketika Vian meletakkan sebilah pedang tipis milik Tiffa di atas meja, tiba-tiba-
BRAAKK!
Meja besi itu langsung penyok dengan pedang yang menindihnya itu sudah menyentuh ke lantai. Melvern dan Rivaille dibuat melongo. Hanya Vian yang menggelengkan kepala tidak lagi heran.
Setelah gaun itu selesai dilepas, Tiffa mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Sedangkan Vian sibuk mengurusi gaun kakaknya.
“Jadi selama ini kau mengenakan gaun itu di tubuhmu?” Rivaille yang penasaran langsung saja menodongkan pertanyaan pada Tiffa.
“Sulit menjelaskannya. Tapi memang sebenarnya semua pakaian itu melekat di tubuhku. Hanya saja aku bisa mengatur mana pakaian yang ingin aku kenakan sesuka hati.” Rivaille masih berpikir keras.
“Dengan kata lain, pakian itu ada di dalam dimensi. Begitu?” Tiffa yang ditanya jadi ikut berpikir untuk menjelaskannya.
“Kurang lebih seperti itu.”
Setelah beberapa pakaian telah dilepas, kini tinggal pakaian kerajaan dan zirah emas itu. Melvern menjadi saksi yang menyaksikan betapa indahnya semua pakaian yang Tiffa miliki.
Semuanya mengandung emas dan banyak sekali mantra yang menyelimutinya. Ia jadi ingin bertanya, seperti apa para penempa baju di zaman dulu membuat pakaian.
“Baiklah, tersisa dua yang terakhir.” Kata Tiffa memberitahu Vian agar bersiap.
Setelah pakaian kerajaan dan zirah emas yang paling banyak menggunakan mantra. Saat awal perang, Tiffa lebih sering menggunakan baju kerajaannya. Sudah banyak darah yang tumpah dan mengotori baju itu.
Dan tak terhitung lagi berapa kali Tiffa memoles mantra yang semakin tebal setiap kali berperang. Hampir dari ujung kaki sampai kepala pernah ditebas musuh. Vian bahkan tidak ingin bertanya bagaimana rasanya ditebas sana sini.
"Biarkan aku berdiri sendiri." Tiffa meminta Rivaille untuk tidak membantunya berdiri.
Vian masih menatap kakaknya yang masih sanggup berdiri saat mengenakan pakaian kerajaan. Sengaja ia menguatkan diri untuk tetap berdiri layaknya ksatria tangguh.
Harga dirinya, jiwanya, dan kebanggaannya sebagai ratu dan pewaris terakhir Yovanka. Rivaille bisa merasakan aura yang berbeda dan kharismatik yang begitu tinggi.
Layaknya seorang raja yang pantang menjatuhkan lututnya ke atas tanah jika ia masih mengenakan pakaian kerajaan. Terakhir, Vian mengangkat mahkota emas di kepala kakaknya.
Melvern tegang sekali ketika mahkota itu sudah ada di tangan Vian. Kedua tangannya tampak gemetar sekali dengan kedua mata yang 100% terfokus pada mahkota itu.
"Aku tidak menyangka bisa menyentuh mahkota ini…." Gumam Vian setelah mahkota itu terpajang di dalam barrier. Tiffa juga langsung teringat dengan ayahnya.
"Hanya dia satu-satunya pemilik mahkota ini…." Ucap Tiffa pelan dengan sorot mata yang begitu sedih. "Dan aku telah mengotorinya…."
Rivaille jadi ingin tahu seperti apa kedua orang tua Tiffa di masa lalu. Sosok raja yang berhasil mendidik dua anaknya menjadi ksatria paling ditakuti sampai saat ini.
Vian berbalik dan menghadap kakaknya lagi. Tersisa pedang excalibur yang juga sama beratnya bagi Vian. Mentalnya naik turun karena terlalu terbawa perasaan.
"Apa kau pernah membersihkan pedang ini? Baunya menusuk sekali!" Vian menatap sang kakak dengan tatapan garang sekali. Tapi gelengan kepalanya membuat ia berdecak kesal.
"Ayah juga tidak pernah membersihkannya." Ucapnya cuek. Tapi karena Tiffa terlahir sebagai vampir iseng yang kadang menjengkelkan, ia lantas melirik adiknya. "Kau ingin melihat rupa aslinya?" Vian langsung melotot.
"Tidak! Aku tidak-Ck!"
Rivaille dan Melvern seketika langsung menutup hidung juga mulutnya. Matanya menatap ngeri ke arah pedang itu. Pedang yang tadinya berwarna emas dan bercahaya terang itu langsung menjadi hitam.
Ada benda kental berwarna hitam pekat yang tampak masih segar. Benda itu berjatuhan dari pedang dan menetes di atas lantai. Jujur saja, aromanya membuat Rivaille dan Melvern ingin muntah.
"Pegang dengan baik." Tiffa langsung memperingatkan. Senyumannya membuat Vian jengkel.
Vian menerima pedang itu dengan penuh penghormatan. Ia mengabaikan saja sang kakak yang tampak membersihkan sedikit pedang itu dengan tangannya.
"Cairan apa itu?" Rivaille sampai mundur beberapa langkah menjauh dari Tiffa. Saking tidak tahannya dengan bau itu.
Tapi Tiffa sendiri menyeringai dan sengaja mengadahkan tangannya pada Rivaille.
"Ini darah para bangsawan di zaman dulu… Aromanya memang seperti ini." Rivaille pikir itu kotoran yang sudah ratusan ribu tahun tidak dibersihkan.
"Aku benci mengingat bau ini." Tiffa memutar matanya malas.
Setelah baju kerajaan dan pedang kotor itu terpajang rapi di dalam barrier, kini Tiffa dan Vian kembali tegang.
"Apa kau masih sanggup berdiri?" Rivaille bertanya dan bersiap untuk memegangi Tiffa lagi.
"Sebaiknya kau menjauh dulu. Aku takut kau akan terpengaruh lagi dengan sisik naga." Vian pun setuju.
Rivaille pun menjauh dan berdiri di samping ibunya untuk menyaksikan. Setelah Vian mengangguk, Tiffa memejamkan matanya sebentar.
Tubuhnya bercahaya ketika transformasi itu sedang berlangsung. Tapi setelah zirah emas itu terlihat, Tiffa langsung kaget sendiri.
"Arrggghh!" Pekiknya keras.
BRAK!
"Tiffa!" Melvern langsung menahan putranya agar tidak mendekat.