Bab 60. Melepas Zirah

1022 Kata
Seakan-akan ia seperti kakak yang tidak becus menjaga adik-adiknya. Rivaille pun membuka pintu kamar Tiffa. Sosok yang dicarinya itu tampak duduk di atas ranjang. “Kau sudah sadar?” Rivaille mengatupkan giginya marah. Jadi selama ia pingsan, Tiffa menunggunya? Matanya tertuju pada kedua tangan Tiffa yang menghitam. Kemeja lengan panjang yang tipis itu bahkan tidak bisa menutupi tanda hitamnya. Bagaimana keadaannya? Rivaille puluhan kali menanyakan itu pada dirinya sendiri yang padahal ia tahu keadaan Tiffa tidak baik-baik saja. “Kenapa kau melakukan itu?” Tiffa masih bisa tersenyum. Walaupun keadaannya sudah terlalu parah untuk diselamatkan. Rivaille meraih tangan itu dan menciumnya pelan. “Kau kan sangat menyayangi adikmu.” Demi kebahagiaan orang lain rela menukar nyawa? Rivaille lebih baik menggila saja seperti tadi sampai mati. Daripada harus menyaksikan wanita yang dicintainya seperti ini. “Apa kedua tanganmu masih bisa kembali seperti semula?” Tiffa menggeleng pelan. “Aku tidak tahu….” Rivaille tertunduk hampir tidak berdaya menatap Tiffa. “Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkanmu?” Tanyanya bersumpah akan melakukan apa saja jika memang ada cara lain. Tapi diamnya Tiffa juga tidak memberikan kabar yang bagus bagi Rivaille. “Bolehkah aku minta kau menemaniku sampai matahari terbit?” Tiffa memintanya untuk tinggal. Rivaille tahu ini adalah saat-saat paling menyedihkan dari perpisahan. Tidak sampai sebulan mereka bersama, tapi selamanya mereka akan berpisah. Rivaille memeluk Tiffa perlahan. Air matanya menetes saat tahu waktu Tiffa tidak banyak lagi. Ia ingin memeluknya sampai dunia berakhir. Tapi dunia tak menginginkan mereka untuk bersama. “Aku mencintaimu, Tiffa… Bukan karena masa lalu Aredric yang ada padaku. Tapi aku… Sebagai Rivaille. Bukan Aredric.” Tiffa terkekeh mendengarnya. Ungkapan cinta macam apa itu? Terlalu berbelit-belit dan sama sekali tidak romantis. “Jadi kau tidak mau melamarku sebelum aku mati?” Tanyanya iseng. Sayangnya pertanyaan itu membuat Rivaille semakin erat memeluknya. “Jangan mengajakku bercanda, Tiffa. Itu sama sekali tidak lucu.” Tiffa berani bersumpah, itu nada menggemaskan yang pernah ia dengar. Nada merajuk dan serak itu terdengar tidak rela sekali. Tiffa pun mengusap punggung Rivaille beberapa kali sambil tetap tersenyum usil. “Seumur hidupku bermimpi ingin menjadi pengantin. Memakai gaun, bersanding di pelaminan dan disumpah dengan ikatan perkawinan….” Rivaille masih merengkuh tubuh Tiffa sambil mendengarkannya bicara. Tiffa seperti sedang melobinya untuk dinikahi segera. Padahal cincin saja Rivaille tidak punya. “Aku tidak ingin menikah jika pada akhirnya aku akan ditinggalkan.” Ucapnya dengan penuh penghayatan. Tiffa tentu saja tersentuh. Ia melepaskan pelukannya pada Rivaille. Tatapan mereka bertemu seperti sudah saling rindu padahal mereka belum berpisah. Ia melihat bekas sisik naga yang ada di d**a Rivaille lalu menyentuhnya pelan. “Bukan keinginanku juga untuk pergi….” Rivaille memejamkan matanya kuat sekali sambil menggeleng pelan. Ia akan minta Tiffa untuk tidak mengucapkan kata perpisahan. Ia tidak mau mendengarnya karena itu menyakitinya. “Kalau begitu pikirkanlah cara agar kau tetap hidup! Milikilah keinginan untuk hidup bersamaku! Aku baru saja memiliki harapan bersamamu. Tapi kau sudah putus asa sebelum mencoba!” Kali ini giliran Tiffa yang memejamkan matanya. Bentakan Rivaille memang benar menampar mentalnya. Tapi ketika Tiffa sadar, waktu sudah hampir terlambat. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemah sekali dan kesadarannya langsung hilang. Rivaille langsung menangkap tubuhnya ketika Tiffa hampir saja terjatuh ke lantai. “Tiffa? Tiffa?” Tiffa pingsan lagi. Tapi matanya membelalak ketika tanda hitam itu sudah sampai lehernya. “VIAN!” Teriaknya nyaring. Suara teriakan itu terdengar keras sampai seluruh vampir berdatangan ke kamar Tiffa. Vian tentu saja langsung menghambur masuk. Segera ia memeriksa kondisi kakaknya. “Lakukan sesuatu! Cepat!” Teriaknya kalap. Eredith beserta adik dan ibunya segera menenangkannya. “Tenang, Rivaille. Tiffa akan selamat.” Rivaille menatap sang ibu dan meraih tangannya. “Lihat masa depan! Bu!” Melvern mengangguk berkali-kali seraya menuntun Rivaille untuk duduk duduk di tepi ranjang Tiffa. Ia lantas menatap Vian, berharap pria itu bisa segera membuat keputusan sebelum terlambat. “Aku akan menjaganya selama Tiffa hibernasi. Boleh aku minta ruangan privasi?” Vian mengarahkan tatapannya pada Melvern. Melvern tentu saja mengiyakan. “Kami punya banyak kamar disini.” Tapi Vian menggeleng pelan. “Ruangan yang luas. Tiffa punya banyak baju zirah di tubuhnya. Dan setiap zirah yang hendak dilepas tidak boleh sembarangan… Jujur saja aku tidak yakin bisa melepasnya.” Ucap Vian menatap Melvern dan Rivaille bergantian. Vian juga teringat dengan baju zirah sisik naga emas itu. Itu akan jadi baju zirah paling merepotkan jika dilepaskan. “Kalau ruangan seperti itu, sebaiknya gunakan aula barat.” Melvern memberi saran. Vian menggeleng pelan dan ia sudah tahu seperti apa aula barat. Masih kurang cocok dan ia takut kastil sebelah barat akan roboh nantinya. “Maaf jika aku banyak permintaan.” Rivaille tampak berpikir. Jika satu baju zirah Tiffa memiliki berat yang tidak masuk akal, tidak ada satupun tempat yang cocok selain ruang bawah tanah miliknya. “Ruangan bawah tanah.” Vian langsung tersenyum. Sengaja ia menggantungkan perkataannya agar Rivaille mau menyerahkan ruang bawah tanah miliknya. “Kita kesana sekarang.” Rivaille segera berdiri dan menggendong Tiffa. Meninggalkan anggota keluarga lain yang tampak bingung. Karena di Heddwyn, tidak ada ruang bawah tanah. Dan setelah Tiffa dipindahkan, Vian meminta untuk Rivaille dan Melvern saja yang boleh masuk ke dalam ruang bawah tanah. Tak lupa ia meminta Rivaille untuk menguncinya agar tidak ada satu vampir pun yang bisa masuk. Saat di dalam ruang bawah tanah, Melvern tampak terkejut dengan ukuran dan luasnya ruang bawah tanah itu. Selama ini ia tidak tahu jika Heddwyn punya ruang bawah tanah di bawah kastilnya. “Aku sudah menyampaikan pesan pada mereka yang diluar agar tidak bertarung sengit di atas kastil. Tidak lucu jika kita semua terkubur disini.” Ucap Vian langsung menggunakan mantra untuk menyalakan api. “Ibu tidak tahu ada ruangan seperti ini dibawah kastil.” Rivaille tidak berani menyahut. Vian sendiri kini bisa melihat apa saja yang ada di dalamnya. Termasuk semua peralatan canggih yang sudah mulai berdebu. Berbagai macam buku dan juga peralatan yang Vian sendiri tidak tahu fungsinya apa. Rivaille sendiri langsung meletakkan Tiffa perlahan di atas meja besi panjang. Lalu melangkah mundur sedikit menjauh dari Tiffa. “Setelah ini bagaimana?” Tanyanya pada Vian. Vian juga langsung melakukan tugasnya. “Diam dan saksikan saja.” Ucapnya tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN