Bab 59. Sadar

1031 Kata
Di ruangan lain, Legardo dan yang lainnya tengah berunding untuk melawan para birokrat yang akan datang dalam waktu dekat. “Aku rasa memang mereka sedang merencanakan sesuatu sebelum menyerang.” Legardo mengangguk setuju. “Mereka tidak langsung menyerang kemari karena harus menyusun strategi untuk menghancurkan kita. Dan kita cukup beruntung bisa mendapat banyak waktu untuk merundingkan strategi juga.” Griffin dan Iefan tiba di dalam ruangan. Suasana yang suram tadi berubah menegangkan karena menunggu kepastian apakah Tiffa dan Vian bisa membantu atau tidak. “Tiffa Yovanka jelas tidak akan ikut bertarung kali ini. Tapi Vian jelas akan ikut.” Kata Griffin memberi kabar. Mereka semua langsung mengangguk paham. “Aku sudah menyiapkan beberapa strategi bertahan. Kalian berdua, perhatikanlah.” Legardo langsung menjelaskan strategi mereka untuk bertahan di kastil Heddwyn. “Seperti informasi yang telah kita tahu bahwa pasukan birokrat sebenarnya ada lebih dari ribuan. Itu berarti, jika mereka semua mengepung kastil, kita akan tamat. Untuk itu, kita bagi tugas setiap sisi kastil untuk berjaga.” Griffin mendapat bagian berjaga di bagian belakang kastil bersama Iefan. Sedangkan para mantan raja akan menguasai area tengah. Jika pertahanan tembus, mereka bisa langsung menghabisi sekaligus. Setelah pembagian tugas dan kelompok selesai, mereka semua segera bergegas untuk berjaga. Karena mereka semua tidak tahu kapan mereka semua akan datang dan mengepung. -Kamar Tiffa- Melvern masih ada disana dan tengah berusaha membaca masa depan. Jika takdir mengatakan Tiffa masih hidup sampai akhir, maka pasti ada jalan untuk menyembuhkan Tiffa. Untunglah Vian berpikir cepat. Sehingga ia meminta Melvern membaca masa depan selagi waktu masih ada. Sebelum birokrat datang menyerang kastil. “Sepertinya pertarungan ini akan kita menangkan.” Tanpa bantuan Vian pun Heddwyn mampu mengalahkan mereka semua. “Sepertinya akan ada konflik keluarga setelah perang ini.” Melvern tersenyum kecil. Seakan hal itu sudah sangat maklum di kastil Heddwyn. “Semua itu bisa diurus nanti.” Vian menggeleng saja karena memang sejak awal ia tahu bahwa keluarga Heddwyn adalah bangsawan paling aneh sedunia. Melvern tersenyum menatap Tiffa. Rasanya tidak percaya saja putranya bisa berjodoh dengan ratu Yovanka dari zaman dulu. “Apakah… Rivaille di masa lalu… mencintainya juga?” Tanyanya pada Vian. Vian mencoba mengingat hal konyol mereka berdua di masa lalu. Sepertinya Melvern berhak tahu tentang semua aib Rivaille di masa lalu. “Aredric itu pujangga liar. Tidak ingin dikekang dan ingin bebas seperti hewan di hutan. Dia terkenal di kalangan para gadis.” Melvern tersenyum mendengarnya. Seandainya Rivaille mau berjalan-jalan sebentar keluar kastil. pasti akan banyak manusia dari para gadis yang tertarik. “Lalu? Bagaimana mereka berdua bisa saling jatuh cinta?” Vian terhenyak mendengar pertanyaan itu. Entah kenapa ia jadi membicarakan masalah cinta kakaknya dengan Aredric. “Kakakku itu memang dari dulu suka sesuatu yang indah-indah. Kebetulan secara tak sengaja dia bertemu Aredric dan terlibat cinta lokasi. Aku ingat sekali laki-laki itu mencariku hanya karena ingin meminta maaf telah meniduri kakakku.” Melvern terkekeh lucu. Ternyata putranya di masa lalu sangat polos. Senang rasanya bisa tahu banyak cerita tentang Rivaille di masa lalu. Walaupun sebenarnya ia agak kaget juga setelah Vian menceritakan semuanya. “Waktu itu aku terpaksa menghajarnya walaupun aku sudah tahu. Lalu kemudian ayahnya tahu. Tapi ayahnya juga malah ikut menghajarnya. Dan sejak saat itu, mereka berdua dipaksa menikah.” Vian ingat sekali kakaknya berteriak seharian di rumah karena terlalu senang akan segera menikah dengan Aredric. “Aku rasa memang mereka sudah saling mencintai sejak lama.” Vian tersenyum tanpa bantahan. “Anda tidak tahu saja bahwa kakakku juga sama bodohnya dalam percintaan. Aku hampir memotong telingaku sendiri karena setiap saat Tiffa mengoceh tentang Aredric. Aku tidak akan menceritakan lebih detail lagi karena di kehidupan mereka, hanya adegan panas saja yang berkesan dan paling sering dibicarakan oleh mereka berdua.” Seketika wajah Melvern sedikit tersipu. Ia sudah bisa menebak bahwa anaknya dengan Tiffa sudah melakukan hal-hal dewasa. Mengingat mereka berdua di masa lalu sangat m***m tentunya. “Aku akan menunggu mereka berdua menikah di masa ini sebelum hibernasi.” Vian tertawa mendengarnya. “Seandainya Anda punya anak perempuan, mungkin Anda akan jadi ibu mertuaku juga di masa depan.” Mereka berdua lantas tertawa. Setelah cukup lama Melvern mencoba membaca masa depan. akhirnya mereka menemukan satu cara agar Tiffa bisa selamat dari masa kritisnya. Yaitu harus melepaskan semua mantra yang ada di tubuhnya sebelum hibernasi. Tapi Vian tidak berani meminta kakaknya untuk melakukan itu. “Itu terlalu berbahaya. Sebentar lagi perang akan pecah. Aku tidak mungkin membiarkan Tiffa tanpa satupun mantra pelindung di tubuhnya.” Vian mengutarakan pendapatnya langsung. Mereka kini sudah berpindah kembali untuk merundingkan masalah itu di kamar Rivaille. Eredith yang sudah telah sadar lebih dulu ikut berunding juga. “Aku rasa Vian benar, Ibu. Apalagi mereka dendam pada Tiffa karena telah menghancurkan markas mereka.” Elunial kali ini juga ikut setuju dengan pendapat Vian. “Lalu bagaimana jika dilakukan setelah perang saja? Toh kita akan menang kali ini.” Ucap Elunial. Vian awalnya juga akan berpikir seperti itu. “Tapi kakakku tidak akan bertahan. Kita harus segera melakukan itu sebelum fajar menyingsing.” Disela-sela mereka sibuk memikirkan jalan keluar, Rivaille mulai tersadar. Ia meraba dadanya yang masih terasa sakit dan menatap sekitar kamarnya. Tapi matanya langsung membelalak ketika melihat Eredith yang duduk di dekat kakinya. Ia terbangun tiba-tiba tapi Vian segera membantunya untuk duduk. “Kau selamat?! Bagaimana bisa? Kau-inti jiwamu-” “Tiffa yang menyelamatkanku.” Eredith langsung memotong perkataan kakaknya. Melvern langsung memeluk putranya dengan hati-hati. Begitu juga dengan Eredith yang tidak bisa diam dan ingin memeluk kakaknya juga. "Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyanya pada Vian. Tapi Vian diam saja. Rivaille yang tahu bagaimana kondisi Tiffa yang sebenarnya langsung menurunkan kakinya dari ranjang. Ia sampai memaksa berdiri untuk pergi ke kamar Tiffa. Ia benar-benar tidak menyangka Tiffa yang malah menyelamatkan adiknya. Ekspresinya berubah dingin. "Nak! Istirahatlah dulu! Kau belum boleh keluar kamar!" Melvern histeris memanggil putranya. Tapi Rivaille tetap bersikeras. Ketika sampai di depan pintu, ia berhenti sebentar. "Biarkan aku bicara berdua dengannya." Ucapnya sengaja mengusir mereka semua. Elunial dan Eredith segera membawa ibunya pergi sedangkan Vian sengaja tidak menyusul Rivaille ke kamar kakaknya. Setelah mereka pergi, Rivaille ingin sekali menendang sesuatu dan meluapkan emosinya. Seandainya kemarin ia serius belajar mantra dengan Tiffa, ia yang akan menyelamatkan adiknya, bukan Tiffa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN