Bab 58. Takdir yang Berubah

1010 Kata
“Ya. Melvern bisa melihat masa depan dan membaca garis takdir. Tapi jika ia ingin saja membaca masa depan.” Vian pun menoleh. “Kenapa?” Griffin menggaruk pelan keningnya. “Melvern tidak suka melihat hal-hal yang buruk. Itulah kenapa ia berhenti menggunakan kekuatannya karena hidupnya tidak akan pernah tenang. Kebanyakan masa depan yang dilihatnya sangat buruk sampai dia ikut takut di masa depan akan mati mengenaskan.” Griffin menjelaskan. Tapi Vian tiba-tiba berdiri dan segera menuju ke kamar Rivaille. Ia akan meminta Melvern untuk membaca garis takdir kakaknya sekali lagi. Karena bisa saja takdirnya telah berubah. Sesampainya di kamar, ia melihat Melvern sedang menangis sambil mengusap punggung tangan putra sulungnya. “Oh, Tuan Yovanka. Maaf, aku memang wanita yang sensitif.” Ucapnya malah meminta maaf sambil mengusap air matanya. Vian berdiri di samping ranjang Rivaille. “Tolong baca garis takdir kakakku.” Griffin dan Iefan yang mengekor hanya diam saja. Tapi Melvern menunduk dan tersenyum aneh. Mulutnya sudah siap untuk menolak permintaan Vian. “Maafkan aku, tapi-” “Kakakku mati di tangan putra sulungmu. Dan ada aku yang juga mati di dalam takdir kakakku….” Melvern memejamkan matanya erat. “Tidak! Aku tidak bisa!” Tapi Vian bersikeras dan akan memaksanya jika Melvern tetap menolak. “Tiffa sudah melihat takdirnya sendiri. Seharusnya dia mati saat Rivaille berusaha membunuhnya… Tapi saat ini semua itu tidak sama dengan apa yang dilihatnya dari takdir itu….” Mata Vian berkaca-kaca ketika otaknya terus terputar tentang kenangannya bersama sang kakak. Melvern tidak tega melihatnya. Karena bagaimana pun juga Tiffa yang sudah menyelamatkan putranya dari kematian. “Takdir tidak akan bisa berubah,” “Lalu kenapa kakakku sekarat malam ini? Setelah matahari terbenam hari ini, kakakku belum tentu bisa bertahan!” Melvern langsung menutup mulutnya terkejut. Bahkan Iefan dan Griffin. “Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tiffa?” Griffin kembali bertanya dan menuntut Vian untuk bicara. Vian mengusap matanya dengan lengan bajunya sedkit kasar. Ia tidak punya pilihan lain selain menjelaskan semuanya. Walaupun mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk menolong kakaknya, tapi Vian berharap akan ada keajaiban agar kakaknya bisa selamat. “Boleh aku bertemu dengan kakakmu?” Vian mengangguk. Ia segera mengantarkan Melvern menuju kamar kakaknya. Tiffa masih terbaring di atas ranjang ketika Melvern masuk ke dalam kamarnya. Ia mengangkat tangan tangan Tiffa yang telah menghitam seperti bagian tubuh yang tidak lagi dialiri nutrisi. “Apa yang terjadi dengan tangannya?” Vian duduk di tepi ranjang dan membuka sedikit selimut kakaknya. Terlihatlah bahwa kedua kaki Tiffa juga sudah menghitam sampai ke lutut. “Kami keturunan murni Yovanka. Sebelum kami mati, tubuh kami akan seperti ini sebelum berubah menjadi abu. Dan ini… telah terjadi sebelumnya pada kedua orang tua kami.” Vian berkata lirih di akhir perkataannya. Tidak bisa ia pungkiri bahwa saat ini ia merindukan semua anggota keluarganya yang telah lama mati. Dan sekarang Tiffa, keluarganya yang tersisa akan menyusul mereka. Perasaannya sudah berubah menjadi serapuh istana pasir di tepi pantai. Jika Tiffa mati, seluruhnya akan ikut hancur seperti kastil pasir yang disapu ombak. Melvern akhirnya memantapkan hatinya. Ia ingin menolong semampu yang ia bisa demi membalas budi. “Aku akan membaca takdirnya.” Vian mengangguk kecil. “Aku sudah memperingatkanmu. Takdir Tiffa mungkin gambaran takdir yang paling buruk yang pernah kau lihat. Jadi persiapkan mentalmu.” Melvern berusaha menenangkan pikirannya dulu sebelum ia memulai untuk melihat takdir Tiffa. Dan saat Melvern sudah siap, ia pun langsung memulainya. Vian memperhatikan bagaimana cara Melvern melihat takdir. Ia pikir dia akan menyentuh tangan Tiffa. Tapi Melvern hanya duduk dan memejamkan matanya. Dan tiba-tiba sebuah cahaya tipis keluar dari kening Tiffa. Cahaya itu lalu menyebar dan samar memperlihatkan gambaran takdir itu. Vian takjub sekali melihatnya. Melvern membuka matanya. Seketika cahaya itu memperlihatkan sebuah gambar bergerak persis seperti potongan video. Vian dan Melvern kompak menahan nafasnya karena terkejut. Betapa mengerikannya takdir Tiffa. Melvern membuang muka ketika ia melihat bahwa sungguh Rivaille yang ada di dalam takdir Tiffa. Rivaille yang menyebabkan semua kekacauan di masa depan. “Aku rasa gambaran tadi masih sama persis dan tidak ada yang berubah.” Vian lantas tertunduk sambil meremas kepalanya. “Kalau begitu kakakku tidak akan mati malam ini karena takdirnya mati di tangan Rivaille.” Melvern menggigit bibirnya ragu. “Aku berpikir, mungkin saja takdir Rivaille yang berubah.” Vian langsung menoleh cepat. “Anda sudah pernah melihat takdirnya sebelumnya?” Melvern mengangguk yakin. “Sebelum dia lahir, aku sudah bisa melihat takdirnya ketika masih di dalam perut… Dia… Akan menjadi raja terkuat yang hebat.” Vian tersenyum miris. Bukankah itu sudah jelas bahwa Rivaille akan menjadi kuat setelah membunuh kakaknya. Dan takdir mereka berdua saling terikat erat di masa depan. “Bagaimana jika takdirnya masih sama?” Melvern menggeleng pelan dengan ekspresi yang begitu yakin. “Tidak ada salahnya mencoba.” Mereka berdua lantas kembali ke kamar Rivaille dan Melvern segera membaca takdir putranya. Vian menunggu walaupun sebenarnya ia tidak berharap banyak. Tapi setelah cahaya itu keluar, betapa terkejutnya Melvern ketika masa depan Rivaille ternyata telah berubah. Vian juga menyaksikan disana Rivaille memang menjadi raja. Tapi tumpang tindih karena justru ratu yang bersama Rivaille adalah Tiffa. Vian tiba-tiba berdiri dan melangkah mundur. Ekspresinya langsung berubah senang. Kakaknya masih ada harapan untuk selamat dari takdir yang buruk itu. Tapi saat mereka berdua terpana dengan takdir Rivaille yang indah. “Sekarang, ayo kita kembali membaca takdir kakakmu!” Melvern segera keluar dari kamar putranya. Griffin dan Iefan yang menunggu diluar kamar sampai heran melihat Melvern dan Vian bolak balik seperti setrika. Dan benar saja, takdir Tiffa berubah setelah mereka melihat takdir Rivaille. Vian sampai tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kakaknya memang masih hidup dan sehat sentosa. Tapi gambarannya saat itu Tiffa tengah bertarung dengan sesuatu. “Sepertinya di masa depan memang akan terjadi perang besar.” Melvern langsung ketakutan. Bahkan Rivaille juga ikut berperang bersama Tiffa. Dan mata Vian tiba-tiba membelalak kaget ketika melihat siapa yang menjadi lawan mereka di masa depan. “Astaga… Lucifer… Dia masih hidup?” Vian sekarang tahu kenapa takdir Rivaille berubah. Karena Rivaille telah bertemu dengan kakaknya dan ia sudah tahu semuanya di masa lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN