Bab 57. Bocah Tiga Tahun

1021 Kata
Saat Tiffa sedang beristirahat, Legardo datang untuk mengecek cucunya kembali. Ekspresinya masih kaku karena ia masih belum mengenali Tiffa dan Vian. Dan Vian akhirnya tahu dari mana ekspresi batu Rivaille berasal. Legardo memandangi kedua cucunya sebentar. "Kemana perginya cucu ketigaku?" Vian menggidikkan pundaknya tidak tahu. Lagipula ia tidak terlalu memperhatikan bocah itu lagi karena terfokus pada Tiffa. "Aku baru menyadari bahwa bocah itu sudah tidak ada disini." Kerutan di dahi Legardo semakin mengekerut saja. Tampaknya ia tidak suka dengan Vian yang tingkahnya kurang sopan pada orang tua. "Siapa kalian? Aku tidak tahu cucuku punya teman yang lebih tua dari usianya." NYIIT! 'Apa katanya? Dia mengataiku orang tua?' Tiffa membuang muka sengaja menghindari tatapan mata Legardo. Bisa-bisanya ia rebahan di atas ranjang sedangkan ada kakek Rivaille disini. Demi apapun juga cucunya itu raja Heddwyn. Tapi Rivaille terbaring di atas lantai. Sedangkan sang tamu tampak nyaman di atas ranjangnya. Vian tengah menghitung dalam hati untuk menenangkan emosinya. "Aku ini-" Sreett! "Aku datang kak!" Tiba-tiba Elunial sudah sampai di kamar. Baik Vian dan Legardo kaget sekali saat ada bocah manusia berumur tiga tahun di gendongan Elunial. "Apakah kakakku baik-baik saja?" Tanyanya lupa diri. Tiffa sampai bangun dari posisi rebahannya karena heran Elunial membawa bocah manusia. "Anak siapa yang kau bawa ini?" Legardo tampak horor melihatnya. Bocah laki-laki yang memakai topi kupluk warna-warni dengan mata sipit ini seperti bukan dari Norwegia. Elunial tersenyum bangga sampai deretan giginya terlihat. “Oh, bocah ini? Aku menculiknya.” “....” “....” Vian, Legardo dan Tiffa speechless sekali dibuatnya. Ada urusan apa Elunial menculiK anak manusia? Dan kenapa dia sampai menculiknya? Legardo sampai lupa berkedip saking terkejutnya. “Untuk apa kau menculiknya? Demi tuhan ini bocah turis asing!” Vian menunjuk bocah itu dengan kasar. Lengan Tiffa sampai lemas tidak sanggup menopang tubuhnya. Sedangkan Elunial tampak tidak ingin disalahkan. “Aku menculiknya untuk makan kedua kakakku.” “WHAT? Dia baru tiga tahun!” “Sabar, Tiffa. Tenangkan dirimu. Biar aku yang memukulnya.” Vian segera menahan kakaknya. Tiffa sampai nekat berdiri untuk memukul Elunial sesekali. Legardo mengusap dadanya beberapa kali karena hal bodoh ini pernah terjadi sebelumnya. “Elunial… cepat kembalikan bocah ini pada ibunya.” Elunial tentu saja menolak dan berusaha menyingkirkan tangan kakeknya dari bocah lucu itu. “Tidak! Kakakku harus makan sebelum hibernasi.” “Dasar gila! Siapa yang menyuruhmu menculiK bocah tiga tahun untuk dijadikan makanan? Arrghh! Leherku sampai sakit sekarang.” Vian memaki kasar. “Aku menirumu membawa manusia kemari untuk diberikan pada Tiffa! Dan sekarang aku membawa manusia untuk kakakku!” “Astaga tuhan….” Jika saja Rivaille bangun, Tiffa tidak perlu repot mengurusi bocah polos yang hampir membuatnya naik darah. Dia itu vampir! Bisa mengangkat dua manusia dewasa dengan satu tangan! Tapi dia hanya mampu menculik bocah berumur tiga tahun yang bahkan direbut permennya hanya bisa menangis. “Bawa kemari bocah itu.” Legardo memberi kode pada sang cucu untuk memberikan bocah itu padanya. Elunial masih saja mengelak dan menghindar. “Kakek carilah saja manusia yang lain kalau masih lapar. Aku susah payah menculiK bocah ini dari stoler bayi orang tuanya.” Vian sampai kesulitan berkata-kata. Ia vampir berusia ratusan tahun dan jutaan kata telah ia kuasai. Tapi baru sekarang ia mati kata oleh bocah aneh yang dengan bangganya menculiK bayi dari stoler. Jika sebelumnya ia sempat bertarung sengit dengan ibu si bayi mungkin Vian masih bisa sedikit bangga. Walaupun itu hanya seujung kuku saja. “Rivaille, Eredith. Aku takjub dengan adikmu. Lain kali ajari adikmu menculik anak ayam saja, okay?” Setelah Elunial dimarahi habis-habisan oleh Tiffa, akhirnya ia mengembalikan bayi itu pada orang tuanya. Tapi ekspresinya tampak tidak ikhlas sekali lantaran tidak ada yang memuji kerja kerasnya. Legardo bahkan sampai meminta maaf pada Tiffa dan Vian saking malunya punya cucu luar biasa seperti Elunial. Rivaille dan Eredith dibawa ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Tiffa juga sudah hibernasi sesuai dengan saran dari Vian agar bisa sedikit memulihkan tenaganya. Sedangkan Vian saat ini duduk di tengah-tengah keluarga Heddwyn di ruang berkumpul. Ia tidak merasa asing lagi karena ada Melvern dan Iefan. “Aku membangunkan kalian semua karena ada masalah serius yang harus kita hadapi saat ini.” Legardo menunjuk ke arah Vian “Kerajaan Heddwyn sebentar lagi akan diserang.” Seketika semua anggota keluarga menegang. Vian menatap satu per satu dari mereka. Ada Griffin yang sudah ia temui sebelumnya. Bibi Veronica yang disebut Eredith bisa menggunakan mantra penyembuh. Dan banyak lagi. Vian menundukkan pandangannya karena teringat dengan keluarganya dulu. “Beberapa hari yang lalu, Rivaille menyerang kerajaan Alereria.” Legardo mencoba menceritakan. “Dan dia ini adalah adik dari vampir legendaris di zaman dahulu, Vian Yovanka.” Beberapa raja terdahulu yang ikut dibangunkan lantas semakin dibuat tegang tidak karuan. “Lalu kemana kakakmu?” Legardo segera mengangkat tangan agar mereka tidak mengajukan pertanyaan pada Vian. “Biar aku jelaskan lebih dulu.” Setelah cerita singkat itu, banyak dari mereka yang berdebat menyayangkan keputusan Rivaille untuk menyerang Alereria. Dan sekarang mereka pun telah berurusan dengan organisasi yang tidak seharusnya mereka lawan. “Biarkan aku bertemu dengan anak-anakku.” Melvern meminta izin pada Vian dan langsung dipersilahkan. Setelah Vian selesai diinterogasi, ia menyendiri di sebuah taman tempat terakhir kali ia bersama dengan kakaknya. Tapi Iefan dan Griffin tampaknya masih ingin berbicara panjang lebar dengan Vian. “Aku sangat berterima kasih pada kakakmu karena telah menyelamatkan Eredith… Heddwyn sangat berhutang budi padanya.” Vian tersenyum kecil seakan ucapan terima kasih Iefan tidak pada waktu yang tepat. “Kakakku sedang sekarat… Aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk kalian berterima kasih padaku. Dan jika kakakku mati, aku bisa menarik semua nyawa kalian untuk ikut mati bersamanya….” Ucap Vian kasar sekali. Griffin yang biasanya cerewet itu kali ini menjadi sangat pendiam. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Tiffa yang sekuat itu bisa langsung sekarat setelah berusaha menyelamatkan Eredith. “Apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan tentang kakakmu?” Griffin tidak tahan untuk tidak bertanya. Tapi Vian membungkam mulutnya. Iefan juga memberi kode pada pamannya agar tidak banyak bertanya lagi pada Vian. “Apakah Melvern bisa membaca takdir atau masa depan?” Iefan melirik Griffin sejenak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN