Dan dengan tindakan itu, Rivaille menjerit sekuat tenaga.
Elunial sampai menutup kedua telinganya karena telinganya berdengung keras sekali.
“KAKAK! KAK ERE SUDAH SADAR!” Teriaknya berusaha membantu.
Eredith tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak tahu jika kakaknya sesayang ini padanya sampai menggila. Ia sudah selamat sekarang tapi kakaknya seperti terhisap ke dalam kekuatan dari sisik naga emas dari Tiffa.
“Rivaille! Lepaskan! Aku Eredith sudah selamat! Dia tidak mati! Lepaskan sisik ini! Kumohon!” Tiffa berteriak panik.
Ia takut tenaganya terkuras habis dan tidak sempat mengumpulkan energi lagi. Bahkan ia sudah mengenakan pakaiannya tadi yang dimana bagian lengannya sudah terkoyak habis.
Vian langsung mendorong kakaknya agar segera menyingkir. Tanda hitam itu sudah hampir naik sampai ke pundaknya. Tanda hitam yang persis seperti sebelum ayah dan ibunya dulu mati.
“Tiffa! Menjauhlah! Biar aku yang mencabutnya!” Teriak Vian kalap.
Ia berdiri menginjak kedua lengan Rivaille dan langsung menarik sisik itu sekuat tenaganya.
“Ck! KAU MEMBUAT KESABARANKU HABIS! BOCAH SIALAn!”
Vian pun akhirnya berhasil mencabut benda itu. Segera ia menarik kakaknya dan juga Rivaille menuju Eredith dan Elunial. Lalu sekejap mata, mereka pun menghilang dari lokasi kejadian.
Meninggalkan debu yang berterbangan dan para birokrat yang terpaku menyaksikan pertempuran aneh tadi.
Disisi lain, Vian segera membawa semuanya sejauh mungkin. Kakaknya terluka parah dan sudah hampir mati. Mata Vian memanas sampai mulutnya memaki sepanjang perjalanan.
Ia tidak tahu jika akan jadi seperti ini.
“Bukankah ini berbeda dengan takdir yang kau lihat? Atau takdir sekarang telah berubah?” Untuk pertama kalinya Vian merasa begitu ketakutan.
Takut kehilangan kakaknya, satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa.
“Sebaiknya kita pergi ke Heddwyn segera.” Kata Elunial tahu bahwa Vian sedang berlari tidak tentu arah.
Vian pun membawa mereka semua kembali ke kastil Heddwyn. Disana, Elunial dan Eredith kaget sekali melihat kakeknya menyambut di depan pintu kastil.
Tapi keadaan haru atau senang setelah sekian ribu tahun tidak bertemu itu lenyap seketika. Rivaille dan Tiffa kembali ke kastil dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Apa mereka sekuat itu?” Legardo sang kakek langsung membantu Vian untuk membawa mereka semua masuk. Elunial tidak bisa menjawabnya.
Vian terengah-engah setelah berlari tanpa henti sampai ke kastil. Ia langsung membaringkan Tiffa di kamarnya. Dalam keadaan panik, Vian memasang barrier lalu kembali pergi lagi dari kastil.
“Siapa dia?”
Elunial tidak tahu harus bagaimana saat ini. Tiffa yang tidak sadarkan diri jelas tidak bisa membantu mengecek kondisi kakaknya. Sedangkan Vian seperti kesetanan mencari cara untuk menyelamatkan kakaknya.
“Kakek! Tolong bangunkan Bibi Veronica segera! Banyak yang terluka disini!” Elunial meminta bantuan pada kakeknya selagi membantu Eredith untuk berbaring di atas lantai di samping Rivaille.
Legardo langsung pergi karena tampaknya situasi jauh lebih buruk dari kelihatannya. Titik jiwa kedua cucunya sangat lemah sekali. Lalu wanita yang terbaring di atas ranjang itu juga sudah hampir mati.
Elunial mengambil bantal sofa yang ada di kamar Tiffa lalu meletakkan bantal di bawah kepala kedua kakaknya. Setelah itu ia pun duduk meringkuk tidak bisa melakukan apapun lagi.
“Kenapa semua jadi seperti ini….” Gumamnya sedih.
Ia lebih baik hidup membosankan di dalam kastil asalkan keluarganya selamat. Ketimbang seperti ini. Ia bodoh sekali kenapa sejak dulu ia tidak belajar mantra saja.
Selang beberapa menit, pintu tiba-tiba terbuka dan masuklah Vian yang menyeret lima manusia. Elunial terkejut sekali dan segera menyingkir agar tidak mengganggu jalannya.
“A-apa yang kau lakukan Vian?” Tanyanya ngeri.
Vian membawa semua manusia ia masuk ke dalam barrier lalu menggeletakkan mereka di lantai dekat kaki ranjang. Mata Vian telah basah karena air mata.
Ia lebih tidak kuasa menahan emosi jika itu tentang kakaknya.
“Tiffa… Bangunlah… Kau harus mengisi tenagamu dulu.” Bisiknya lirih.
Elunial menjambak rambutnya tidak tahan. Vian bisa tahu apa yang dibutuhkan oleh kakaknya. Seharusnya sejak tadi Elunial juga melakukan itu. Buru-buru ia keluar untuk berburu.
“A-aku titip kedua kakakku disini sebentar.”
Vian tidak mendengarnya karena senyumnya perlahan mengembang. Dielusnya pelan pipi sang kakak yang perlahan-lahan telah sadar.
“Tiffa… Isi tenagamu dulu. Setelah ini kau bisa langsung hibernasi.”
Perasaan Tiffa sebagai seorang kakak pun tak lagi terbendung. Vian adik laki-lakinya yang tidak pernah sekali pun ia melihatnya menangis. Tapi sekarang, saat ia sekarat.
Adiknya menangis seakan dirinya sungguhan sedang sekarat dan hampir mati. Tiffa ingin menghapus air mata itu, tapi kedua tangannya mati rasa.
“Maaf, Vian. Aku tidak bisa melindungimu dengan benar.” Vian menggeram marah.
“BEHRENTI BICARA OMONG KOSONG!” Bentaknya keras.
Vian tidak masalah jika kakaknya tidak melindunginya karena Vian bisa melindungi dirinya sendiri. Tapi ia tidak bisa membiarkan kakaknya membahayakan nyawanya sendiri demi menyelamatkan orang lain.
“Jika bocah itu sudah waktunya mati, maka biarlah mati! Itu sudah takdirnya! KAU MAU PERGI MENINGGALKANKU SENDIRI DISINI? HAH?” Vian kembali membentak.
Sejak dulu ia berharap kakaknya bisa sedikit memikirkan dirinya sendiri. Bahkan setelah kematian Aredric. Dan sejak kapan Tiffa peduli dengan vampir lain? Vian bersumpah Tiffa tidak punya sifat seperti itu.
"Jangan tinggalkan aku Kak…." Vian berbisik lirih.
Tapi Tiffa tidak bisa apa-apa sekarang. Ia menguatkan tangannya untuk memeluk sang adik. Jika seperti ini, mana mungkin ia bisa pergi dengan tenang.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana. Dasar cengeng." Ujad Tiffa sedikit bercanda.
Tapi Vian tidak marah kakaknya mengoloknya cengeng. Ia memeluk kakaknya dengan erat lalu membantunya untuk mengisi energi.
"Setelah ini, hibernasilah. Aku akan menjagamu." Tiffa mengangguk sekali dengan mata tertuju pada Rivaille dan Eredith.
"Bagaimana kondisi mereka berdua?" Vian menoleh. Sebenarnya ia tidak sempat mengecek kondisinya karena situasi sedang darurat sekali.
"Aku akan mengeceknya."
Tiffa lantas berbaring di atas ranjang sambil menunggu Vian selesai memeriksanya.
"Aku merasakan banyak vampir asing berkeliaran di kastil. Apa kau mengenalnya?" Vian menggeleng pelan. Itu pasti ulah kakek tua tadi.
"Sebelum pergi ke markas The Condescendent kemarin, bocah nakal ini membangunkan kakeknya. Aku pikir sekarang kakeknya yang membangunkan semua vampir yang hibernasi." Ujar Vian sengaja memukul kepala Rivaille karena masih kesal.
Bisa-bisanya bocah ini mengamuk dan menyusahkannya saat perang. Lalu tak lupa ia juga memukul kepala Eredith. Memang kakak beradik ini hanya bisa menyusahkannya saja.
"Kalian semua berhutang ribuan tahun padaku." Ucapnya meminta agar mereka membayar hutanganya segera. Tiffa tersenyum saja.