Bab 55. Menggila

1029 Kata
Padahal sejak tadi wanita itu berdiri saja disana. Kakinya bahkan tidak bergerak satu inci pun dari tempatnya berpijak. Rivaille yang vampir muda juga entah kenapa bisa melawan birokrat yang usianya ribuan tahun. Sedangkan Vian tampak tidak terkesan mendekatinya. Mereka lantas menatap dua bocah vampir yang sudah tak sadarkan diri akibat aura Tiffa itu. "Kita bunuh saja mereka." Mereka berdua mengangguk sepakat. Rivaille melotot ngeri dan kehilangan kendali ketika mendengar mereka berniat membunuh kedua adiknya. Konsentrasinya pun langsung buyar. "EREDITH! ELUNIAL!" Tiffa dan Vian langsung menoleh ke arah Rivaille yang berteriak. Vian yang sempat terdiam tadi terkena serangan langsung dari vampir lain. Eredith dan Elunial perlahan tersadar ketika mendengar suara teriakan kakaknya. Dan seketika kedua mata mereka membelalak karena tiba-tiba mereka ada di tengah-tengah peperangan. "KAKAK!" Elunial berteriak keras sedikit melengking. Rivaille yang tidak fokus itu langsung terlempar begitu dua vampir menyerangnya dengan serangan kombinasi. Tangannya tidak sempat meraih Eredith dan Vian juga tak berhasil menyingkirkan vampir di sekitar mereka. Tiffa sudah berlari secepat mungkin tapi masih terlambat karena jaraknya yang cukup jauh. Kedua mata Elunial melotot dengan d**a yang mencelos terkejut bukan main. "KAK EREEEE!" Rivaille mematung setelah ia terlempar tadi. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri vampir itu sudah melubangi d**a adik keduanya. Dadanya langsung bergemuruh siap meledakkan amarahnya. Tiffa yang datang begitu terlambat langsung menghabisi dua vampir itu. Vian segera melepaskan belenggu Elunial ketika Tiffa sesegera mungkin berusaha menyelamatkan Eredith. ‘KAK ERE! TOLONG KAKAKKU! TIFFA!’ ‘Tenangkan dirimu! Elunial!’ ‘KAKAK!’ Semua teriakan adiknya perlahan terdengar samar di telinga Rivaille. Pandangannya tiba-tiba kabur dan menggelap. Beberapa kali ia menerima serangan demi serangan para birokrat. Kepalanya kosong saat melihat adiknya mati seperti itu. Anggota keluarganya, adik-adiknya… ‘Sudah… cukup.’ Tiba-tiba tubuh Rivaille sudah diselimuti aura hitam pekat. Merambat dari kaki sampai ke dadanya. Tiffa yang seharusnya fokus menyembuhkan Eredith tidak bisa tenang setelah merasakan amarah Rivaille. “TIFFA!” Vian berteriak kencang saat melihat Tiffa mulai goyah. Elunial menangis meraung ketika melihat kakaknya sekarat seperti ini. Ini semua salahnya sendiri yang tidak bisa berguna sedikit sebagai adik. Tiffa tidak bisa membantu Vian yang berlari ke arah Rivaille yang perlahan sudah dipenuhi amarahnya. Detik berikutnya Rivaille sudah berlari menerjang banyak vampir dan bertingkah sangat buas sekali. Semua vampir yang ada di depan matanya langsung tanpa ampun dibantai oleh Rivaille. Vian juga panik sekali melihat Rivaille menggila lantaran ia tidak menghindari serangan vampir lain. "Aku akan coba hentikan bocah itu." Ujarnya tanpa pikir panjang mendekati Rivaille. Tiffa berusaha keras menyalurkan energinya yang tersisa untuk menyelamatkan Eredith. Elunial yang terpuruk semakin kehilangan arah karena melihat kedua kakaknya. "Apa yang harus aku lakukan Tiffa? Katakan! Aku bisa membantumu!" Teriaknya putus asa. Tenaga yang Tiffa punya hampir seluruhnya ia berikan pada Eredith, tapi bocah itu tak kunjung sadar. Entah apa yang salah, tangan Tiffa sampai gemetar sekarang. Elunial memegangi tangan kakaknya dengan erat. Dan tak lama kemudian senyumnya merekah dan air matanya tumpah saat kakaknya perlahan sadarkan diri. "KAK ERE! SYUKURLAH KAU SUDAH SADAR!" Pekik sang adik bersyukur sekali. Tiffa terduduk lemas di samping Eredith dan tatapannya langsung tertuju pada Rivaille yang saat ini bertikai dengan Vian. Seluruh birokrat tidak berani mendekat dan segera pergi menjauh ketika kalah jumlah. "Kakakmu terpengaruh sisik emas." Ucapnya singkat. Eredith yang masih dalam kondisi lemah berusaha bangun walaupun tubuhnya terasa seperti tercabik-cabik. Melihat kakak tertuanya hilang pikiran seperti itu membuatnya ngeri. "Apa yang terjadi?" Elunial menggeleng lemah. "Aku tidak tahu. Tiba-tiba Kakak berubah seperti itu." Ucapnya pelan. Elunial hendak meminta bantuan pada Tiffa. Tapi saat melihat wajahnya pucat Elunial jadi ragu meminta tolong. Tiffa tertunduk dan merasakan semua jari tangannya terasa kebas. Dan perlahan-lahan jari-jarinya mulai menghitam. Ia berusaha berpikir bagaimana cara agar ia bisa menyelamatkan Rivaille dengan tubuh yang lemah ini. Vian juga tampak berusaha menyadarkannya. Walaupun ia kesulitan untuk tidak menyerang balik sebab Tiffa pasti akan menghajarnya nanti. “Sadarlah bocah! Adikmu baik-baik saja!” Teriak Vian kalap. Tiffa masih memperhatikan dari jauh. Suasana semakin tidak bersahabat dan Tiffa tidak mungkin pergi menghentikan Rivaille. Dua adik Rivaille tidak ada yang menjaga. “Pergerakannya semakin menggila! Kita harus melakukan sesuatu!” Tendangan menukik ke atas yang Vian terima memang tidak terlalu kuat baginya. Tapi Gerakannya yang lincah itu seperti seekor serigala liar. Belum lagi saat Vian balas menendang pelan, sisik naga itu bereaksi melindungi tuannya. Tidak ada yang bisa melawan jika Rivaille masih menyerap sisik naga itu. “Rivaille!” Vian berteriak memanggil lagi. Tapi sayangnya area pertempuran mereka semakin meluas sampai mendekat ke arah Tiffa. Otaknya berpikir sebelum ia punya satu ide yang cukup membahayakan semuanya. “Vian! Giring kemari!” Tiffa berteriak. Ia susah payah berdiri walaupun jari-jarinya tidak bisa digerakkan. Vian mengikuti perkataan kakaknya tanpa pikir panjang. “Setelah ini bagaimana?” Elunial sedikit beringsut mundur karena kakaknya mulai mendekat. Ia tidak yakin Tiffa yang berdiri untuk melindungi itu masih sanggup bertarung dengan kondisi seperti itu. “Vian! Segera tahan tubuhnya setelah ini!” “Akan aku usahakan!” Tiffa dan Vian saling berkoordinasi untuk menghentikan Rivaille. Saat Rivaille berlari ke arah Tiffa karena terpancing suara teriakannya, Tiffa langsung mengganti pakaiannya menjadi baju zirah yang tadi. Rivaille tiba-tiba melompat dan- DEZZZ! “Urrghh!” Tubuhnya langsung terpental kuat setelah menghantam bagian lengan atas baju zirah Tiffa. Ia langsung meraung sambil menggaruk dadanya hingga pakaiannya sobek. “VIAN!” Dan setelah ada kesempatan, Vian langsung mengunci pergerakan Rivaille. Rivaille yang memberontak hebat tidak berdaya dengan kuncian tangan Vian. “Dimana sisiknya?” Tiffa buru-buru menghampiri dan mencari dimana sisik naga itu. “Arghh! Di dadanya! Cepat!” Tiffa kini menatap sisik naga itu dengan seksama. Sisik naga berwarna hitam itu kini telah menyatu dengan kulit Rivaille. Ketika ia berusaha mencabutnya, Rivaille meraung kesakitan sekali. “Tidak bisa dilepas….” Entah kenapa sisik itu malah bisa beradaptasi dengan tubuh Rivaille. Sekarang yang dilihatnya seperti binatang buas. Bukan lagi sebagai Rivaille yang dikenalnya. “Apa tidak bisa dicabut paksa?” Tanya Vian kewalahan menahan Rivaille yang mengamuk. Kedua mata Rivaille menghitam sempurna. Sedangkan kulitnya sudah mulai panas dan sekeras kulit naga. Transformasinya seakan siap berubah menjadi naga sungguhan. Tiffa kembali berusaha mencabut sisik naga itu. Sengaja ia menancapkan kukunya ke dalam kulit d**a Rivaille agar bisa mencengkram sisik itu lebih kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN