Bab 54. Dibubarkan

1004 Kata
“Semakin lama menunggu, semakin banyak vampir yang datang.” Rivaille memperingati. “Perlihatkan sisik naga yang aku berikan kemarin.” Tiffa tiba-tiba meminta Rivaille untuk mengeluarkannya. Saat Tiffa menyentuh sisik naga itu, dan tiba-tiba berubah menjadi hitam. “Kau harus menyesuaikan kekuatanmu dengan sisik ini.” Dan saat itu Rivaille merasakan sekujur tubuhnya terasa berat sekali. Entah karena benda kuno itu terlalu punya kekuatan atau memang karena tubuhnya belum bisa beradaptasi. Padahal hanya satu sisik naga yang tergantung di lehernya. Bagaimana dengan Tiffa? Berapa keping yang ada di baju zirahnya itu? Draco lantas menghampiri Rivaille karena perubahan itu. "Berikan padaku benda seperti ini juga! Cepat!" Pekiknya panik. Sempat terjadi ajang saling tarik menarik ketika Rivaille menolak untuk memberikannya pada Draco. Vian semakin heran dengan Draco yang terlalu ketakutan. "Lepaskan tangan kotormu dariku!" "Hey! Hey! Easy guys, easy… Apa kau tidak malu merebut barang orang lain?" Vian memisahkan keduanya dan sengaja mendorong Draco agar sedikit menjauh dari Rivaille. "Siapa yang memberikanmu benda itu? Aku juga mau benda itu!" Draco mulai menggila tidak mau kalah. "Ck! Ayolah! Jangan membuat situasi bertambah panik!" Vian ikut bersuara keras agar Draco bisa sedikit sadar diri. Tapi sayangnya sampai Draco bersujud di kakinya selama ribuan tahun pun Tiffa tidak akan memberikannya. Itulah kenapa Vian hanya diam dan menganggap Draco seperti vampir gila. "Mereka datang." Gumam Tiffa merasakan hawa keberadaan Eredith dan Elunial yang mulai mendekat. Rivaille sendiri bersiap juga untuk semua kemungkinan terburuk. Karena saat ini sudah ada 30 birokrat yang menghadap mereka. Vian sendiri juga merasa mereka masih menjaga jarak dan membaca situasi. . "Baiklah, sambil menunggu aku akan memilih mana korbanku selanjutnya." Draco rasanya iri sekali dengan Tiffa dan Vian yang punya kekuatan besar. Tidak perlu takut mati karena ada kakaknya juga yang akan membantu. "Jangan terlalu kasar pada mereka." Rivaille memperingatkan. Dan tentu saja tidak didengar olehnya. "Seperti biasa, Vian. Remas langsung kepalanya." Well, saran dari Tiffa yang terdengar sangat kental mental psikopatnya itu membuat Draco merinding. Tapi sayangnya Rivaille sudah pernah melihat yang lebih mengerikan dari itu sebelumnya. Tak lama kemudian tibalah empat orang birokrat yang membawa Eredith dan Elunial. Rivaille sudah akan berlari menyerang tapi Tiffa menahannya. "Apa yang terjadi disini?" "Apa markas diserang musuh?" Dan banyak lagi pertanyaan yang keluar. Tapi mereka tampaknya berpikir cepat ketika melihat Tiffa dan yang lainnya berdiri menghadap para birokrat yang lain. Eredith dan Elunial yang sadar sepenuhnya itu tidak lagi heran melihat bangunan runtuh atau tanah yang bergetar. Karena mereka berdua sudah tahu pasti siapa orangnya. Tatapan mereka lantas tertuju pada sang kakak yang dilindungi dengan baik oleh Tiffa dan Vian. "Apa kalian yang telah menghancurkan markas kami?" Vian tersenyum cerah dan sengaja mengangguk. Dengan kurang ajarnya ia menunjuk ke belakang seakan ia sedang memperlihatkan suatu maha karya yang luar biasa. "Sepertinya kalian harus mencari tempat tinggal baru karena lahan ini sudah berpindah hak milik." Ucap Vian semakin memanas-manasi yang lain. "Berengsek! Berani sekali kau menantang kami!" Para birokrat mulai terpancing. Perang bisa pecah kapan saja saat ini. Tapi Tiffa masih enggan melawan karena Eredith dan Elunial masih ada di tangan lawan. "Aku sudah menghentikan The Condescendent secara paksa. Tidak ada lagi aktivitas main hakim sendiri dan kalian tidak bisa lagi bertingkah semena-mena dengan vampir lain." Ucap Tiffa tegas. Tapi para birokrat yang memang hanya suka menyiksa vampir lain dan bermain-main itu geram seketika. Tiffa juga tahu bahwa mereka menyiksa dan melakukan kekerasan yang lebih parah. Setelah berbuat kriminal, mereka berlindung di balik organisasi. Sebenarnya mereka semua ini pendosa yang pantas mati. Mereka lebih menikmati menyiksa hanya demi kepuasan batin. Tidak seperti Tiffa dan Vian yang membunuH demi tahta. Dan untungnya sekarang mereka sudah bertaubat. "Omong kosong! Serang mereka!" "Heyaaaaaahh!" Para birokrat langsung berlarian hendak mengeroyok Tiffa dan yang lainnya. Tidak ada satu lawan satu, Vian juga tampak bahagia bisa melampiaskan emosinya setelah ulah Leonidas tadi. "Apa aku sudah boleh menyerang?" Rivaille memutar matanya malas. "Apa masih perlu ditanyakan?" Vian menyeringai lebar sekali. Mereka berdua lantas ikut menghambur dan saling serang. Vian menggila di depan kakaknya sedangkan Rivaille berlari ke arah lain untuk menyelamatkan adiknya. Hanya Draco yang berjongkok di dekat kaki Tiffa karena takut. Jumlah birokrat yang terus bertambah sangat tidak menguntungkan bagi Rivaille. Vian dan Tiffa juga tidak akan kuat bertarung sampai mereka semua hadir di depan mata. Mata Tiffa tidak lepas dari Rivaille saat ia bertarung sengit melawan dua birokrat. Walaupun dia mendominasi, tapi tetap saja Tiffa khawatir calon rajanya itu kalah. "Vian, cepat susul Rivaille. Aku bisa menangani ini sendiri." Vian berdecak sebelum menyusul Rivaille. Tiffa lantas masuk dalam mode bertarung yang sesungguhnya. Ia mentransformasi pakaiannya menjadi pakaian kerajaan Yovanka dulu dan melepaskan seluruh aura yang ditahannya. "T-tidak mungkin! Bagaimana bisa ada vampir sekuat ini!" "Dadaku sakit sekali!" Ya. Vampir yang tidak kuat dengan aura kekuasaan Tiffa akan merasakan sesak karena insting dari inti jiwanya yang merasa terancam. Mereka akan bereaksi sama seperti para tetua Heddwyn kemarin. Tiffa kali ini menggenggam satu senjata dan satu bendera berwarna biru tua. Bendera yang tampak seperti sulaman khusus itu melambai tertiup angin. Lambang dengan bentuk garis meliuk bagai sulur dan gambar naga di tengah-tengahnya itu melambangkan kekuasaan. Lalu tak lupa pedang dan mahkota juga ada disana. Bendera yang bisa dibaca jelas melalui gambarnya itu memiliki arti… Kekuasaan mutlak para bangsawan Yovanka. "Berengsek! Draco! Apa kau mengkhianati organisasi?!" Teriak mereka murka sekali melihat Draco ada disisi Tiffa. Bahkan ia terlihat seperti pengecut karena bersembunyi seperti itu. "Darwin sudah mati seribu tahun yang lalu. Virgo yang merencanakan pembunuhan itu. Aku tidak bisa setia dan royal selain pada Darwin. Jadi aku tidak bisa lagi berada dipihak kalian." Ucap Draco masih saja ketakutan. Tapi sebelum mereka kembali berteriak, Tiffa menancapkan bendera itu di tanah. Seketika tanah kembali bergetar kuat. Padahal hanya bendera, tapi efeknya sampai lempeng bumi ikut bergeser. Dua vampir yang masih sanggup berjalan mendekat memancing amarah Tiffa. Hanya tatapan matanya kedua vampir itu langsung berlutut di dekat kakinya. "Beraninya kalian mengangkat kepala di hadapanku." Seketika dua vampir itu dipaksa bersujud di kakinya. Dua birokrat yang melihat para birokrat tidak ada yang sebanding dengan Tiffa menggeram marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN