Bab 53. Eredith dan Elunial yang Tertangkap

1023 Kata
Tidak hanya Rivaille yang terkejut. Seluruh birokrat ikut terkejut. Virgo bahkan sampai berdiri dari kursinya. Seakan tidak percaya dengan semua pelanggaran itu. Tapi Tiffa tak gentar. Bulu mata lentiknya itu bergerak indah saat ia berkedip beberapa kali. Sifat waspada namun tenangnya itu mendapat pujian dari Rivaille langsung. “Hanya mantra api. Aku tidak keberatan memperlihatkannya padamu jika kau ingin melihatnya.” Draco memutar matanya malas. Tawaran jenis apa itu? “....” Seluruh birokrat langsung berbisik-bisik membicarakan Tiffa. Tapi justru gelagat Leonidas membuat Vian tidak bisa tenang barang sedetik. “Semua pelanggaran ini sudah masuk kategori tingkat kritis. Apakah kau ingin aku membacakan semua pelanggaran yang kau lakukan?” Leonidas semakin menekan Tiffa agar berhenti bersikap angkuh di hadapan seorang hakim. Vian tadinya mengira hanya itu yang Tiffa langgar. Tapi ternyata masih ada. Sebenarnya seberapa banyak aturan yang ada di organisasi ini? “Kau menyembunyikan dua tersangka penyerangan di Alereria, kakak beradik Heddwyn. Membantunya kabur dari para birokrat dan menyulitkan proses penangkapannya.” Rivaille langsung naik emosi. Bisa-bisanya kedua adiknya ikut dipanggil ke pengadilan konyol ini. “Kedua adikku tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini.” Tapi sayangnya Vian menggelengkan kepalanya lalu tetap melayangkan tatapan kesalnya pada Draco. Vampir penakut itu tidak mengatakan hal ini sebelumnya. Lalu foto yang diperlihatkan Leonidas pada mereka dari meja hakim itu jelas membantah perkataan Rivaille. “Apa ada konfirmasi kakak beradik ini sudah ditangkap?” Salah satu birokrat keluar dari ruangan untuk bertanya pada divisi tracking. “Ini tidak bagus. Kenapa kalian sampai membantu mereka kabur?” Draco berbisik dan menyalahkan Vian. Tidak lihat situasi bahwa saat ini Vian dan Tiffa tidak punya pilihan lain. “Bocah-bocah itu terluka. Mereka bisa mati jika dibiarkan dibawa oleh para birokrat. Tiga birokrat yang kalian kirim ke kastil Heddwyn hampir memenggal kepala putra bungsu Heddwyn. Apa kau bisa membayangkan siapa saja yang akan mengamuk jika itu terjadi?” Draco speechless dibuatnya. Jika para bangsawan Heddwyn yang mengamuk, organisasi masih bisa bertahan. Tapi jika Tiffa, entah siapa yang bisa menghentikannya. Tak lama kemudian pesan itu pun tiba. “Mereka sudah ditangkap dan sedang dalam perjalanan kemari.” BZZZTT! Hilang sudah kesabaran Tiffa. Angin tiba-tiba berhembus sampai lilin yang menjadi satu-satunya penerangan disana pun padam. Mata biru shappire nan indah seperti bersihnya langit itu berubah. Seluruh birokrat dibuat tegang oleh aura mencekam dari Tiffa. Mata yang menyala di tengah kegelapan dan kengerian lainnya. Leonidas yang hanya manusia biasa hampir dibuat mati suri karena kejutan aura tadi. “Ratusan ribu tahun aku hidup di muka bumi, tidak pernah aku mengira ada sekumpulan makhluk yang bertingkah sebodoh ini….” Leonidas masih mematung di kursinya. Virgo yang notabennya hanya vampir lemah itu langsung jatuh berlutut dengan pandangan mata yang tertuju pada lantai. Bahkan sampai Rivaille pun ikut berlutut. “Mustahil! Tidak ada vampir yang hidup ratusan ribu tahun!” Drrrttt! Draco sempat merasakan tanah mulai bergerak dan getaran halus terasa di bawah kakinya. Debu-debu di atas patung berjatuhan dan membuat ruangan menjadi pengap. “Tutup mulutmu, vampir rendahan.” BRRUKK! Birokrat tadi yang membantah perkataan Tiffa langsung ambruk ketika ia menoleh dan menatap matanya. Tidak ada yang tahu apa yang dilakukan Tiffa pada vampir itu. “Aku tidak memberi kalian izin untuk bicara.” Ucap Tiffa lagi. Vian berjalan santai menuju meja hakim untuk melihat berkas laporan milik kakaknya. Akibat ulah Darwin, mereka berdua kini harus bertahan melawan arogansi mereka. “Sebelum kami menandatangani perjanjian dengan The Condescendent, Darwin sepakat untuk tidak mengusik kami apapun yang terjadi di masa depan. Lalu sekarang dia mati dan digantikan oleh vampir rendahan yang tidak tahu tata krama… Menyedihkan.” Leonidas yang mendengar itu membelalak dan berusaha menoleh untuk mencari dimana keberadaan Virgo. Ia selama ini tidak tahu jika Darwin telah mati. Kapan Darwin mati pun ia tidak tahu. Tiba-tiba bola api kecil menyala mengelilingi sudut ruangan. Ruangan pun kembali terang dan Leonidas kini bisa melirik Virgo yang tampaknya tidak berkutik sama sepertinya. “Organisasi kalian bertingkah semena-mena. Para birokrat yang tidak tahu aturan dan sesuka hati menyiksa para tersangka yang bersalah… Lalu kami dibawa kemari untuk diadili?” Draco bergeming. Tiffa benar-benar menjadikan 20 birokrat tak berkutik lagi. Seakan semua birokrat bisa dibuat berlutut untuk mencium sepatunya. “... Aku akan membubarkan secara paksa The Condescendent.” Vian kembali turun dari podium hakim dan menarik lengan Rivaille untuk berdiri. “Kau jangan ikut berlutut. Kuatkan kakimu.” Ucapnya dengan nada setengah bercanda. Dan keputusan Tiffa untuk membubarkan The Condescendent tidaklah main-main. Vian segera membawa Rivaille keluar dari ruang bawah tanah beserta Draco yang tentu saja cari aman. Suara gemuruh langsung terdengar mengerikan di kawasan sekitar markas. Tanah yang bergetar perlahan longsor dan ruang bawah tanah yang menjadi tempat pengadilan itu akhirnya tampak dari luar. Rumah kecil yang hanya kamuflase itu ikut tenggelam dan hancur tertelan oleh ruang bawah tanah yang luas. Hanya Leonidas yang Tiffa selamatkan dari peristiwa itu. Sedangkan para vampir yang ada di ruang bawah tanah dibiarkan berusaha keluar dari tumpukan tanah dan bangunan. Termasuk para karyawan yang bekerja di rumah itu. Para vampir yang kaget dengan longsornya ruang bawah tanah itu berhamburan datang menghampiri. Tiffa berdiri lantang seraya mendorong Leonidas sampai tersungkur di atas tanah. “Mulai sekarang, The Condescendent resmi aku bubarkan.” Ucap Tiffa membahana. Seluruh vampir disana tidak percaya sekali The Condescendent munsnah dalam sekejap. Termasuk ketua dan birokrat yang ada di dalamnya. Draco segera mengeluarkan ponselnya dan melihat beberapa informasi berterbaran tentang runtuhnya markas akibat ulah Tiffa. “Beritanya langsung tersebar cepat. Sekarang kita harus secepatnya pergi dari sini.” Draco langsung ketakutan. Semua birokrat saat ini sedang dalam perjalanan langsung menuju markas. “Kau saja yang pergi. Kita masih harus melakukan sesuatu disini.” Rivaille tegas mengusir Draco. Hilang sudah harga dirinya sebagai vampir senior. Vian masih menunggu dan merasakan memang para vampir mulai berdatangan. Dan ia juga merasakan aura Eredith dan Elunial sedang menuju kemari. “Apakah tidak ada yang mengajarinya cara menggunakan sisik naga itu?” Rivaille langsung teringat setelah Vian bertanya. “... Aku lupa.” Vian memutar matanya malas. Pantas saja dua bocah itu tertangkap. Ternyata Tiffa lupa memberitahukan bagaimana cara menggunakan sisik naga itu. “Ck! Setelah mereka sampai, perang bisa langsung tumpah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN