Vian yang merasa dipanggil lantas maju ke depan dan berdiri di depan padium sambil menghadap ke arah hakim. Draco menggelengkan kepalanya. Tidak ada vampir yang sesantai Vian dan Tiffa jika masuk ruang persidangan.
Bahkan anak baru yang baru pertama kali melihat persidangan tampaknya sulit untuk terkejut. Menatap struktur bangunan ruang persidangan saja dia tidak terkesan.
“Vian Yovanka, kau telah melakukan pelanggaran perjanjian kategori tingkat sedang. Melakukan pembantaian dan terlibat kerusuhan.” Virgo membacakan keputusan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
“Salah mereka sendiri kenapa lebih dulu menyerangku.” Ucap Vian sengaja membuat Virgo kesal. Ia membuat balon dan sengaja memecahkannya dan terkekeh kemudian.
Seumur hidup ia berdua dengan adiknya. Dan selama itu pula Tiffa sudah menetapkan gelar pada Vian sebagai adik paling menjengkelkan sedunia. Rivaille mengangguk membela Vian.
BRAAK!
“Tapi kau membunuH vampir yang tidak bersalah!” Virgo menggebrak meja dengan kuat. Tapi Vian sepertinya sudah kehilangan minat bermain-main dengan peraturan konyol ini.
Sejak kapan vampir yang datang beramai-ramai dan mengatasnamakan komunitas sesat itu tidak bersalah? Jelas sekali mereka datang dan menyerang beramai-ramai.
“Mereka datang dan hendak membunuhku. Apakah aku tidak boleh melawan? Kau pikir aku ini bodoh?” Tanyanya tegas penuh penekanan.
“....” Dan Virgo sendiri tidak bisa membantahnya.
Di dalam ruang pengadilan itu, Draco hanya pura-pura tidak dengar dan tidak tertarik membantu Virgo. Semua sudah jelas bahwa yang pertama memulai bukan Tiffa maupun Vian.
Tapi saat keheningan yang merajarela itu berlangsung, tiba-tiba pintu terbuka. Rivaille memicingkan matanya saat melihat manusia masuk ke dalam ruang pengadilan.
Langkahnya yang tenang dan juga pembawaan diri yang tampak percaya diri itu mengundang Tiffa untuk menoleh juga.
“Biarkan aku yang menyelesaikan perkara ini, Virgo.”
Suara pria itu sangat rendah sekali. Bekas luka di ujung bibirnya itu tampak jelas terlihat. Dan yang lebih parah di bagian atas telinganya. Seperti baru kemarin pria itu terluka.
“Silahkan, Leonidas.”
Virgo segera menyingkir dari meja dan mempersilahkan Leonidas untuk duduk. Mengambil alih sidang hari ini. Tapi Vian merasa paling direndahkan disana.
Bisa-bisanya seorang manusia menghakiminya yang seorang vampir. Derajat, pangkat dan gelar sudah Vian dapatkan sejak ia lahir dan tidak seharusnya ia diadili oleh manusia.
“Aku tidak mau diadili oleh manusia.” Suara Vian bergetar menahan emosi. Tapi Leonidas memperbaiki kacamatanya dan menatap Vian dengan tatapan biasa saja.
“Aku akan katakan ini, makhluk dengan kasta tertinggi. Tanpa manusia, kau bukanlah apa-apa. Kau juga tidak akan bertahan hidup sampai ribuan tahun tanpa kami. Jadi berhentilah bersifat munafik. Kami manusia bisa lebih kuat darimu jika kami ingin.”
Virgo tertawa pelan. Ia yang juga duduk di atas podium sengaja melipat kakinya dan memandang Vian dari atas dengan tatapan merendahkan. Tapi alih-alih mengamuk, Vian malah tersenyum sampai matanya menyipit.
“Sayang sekali bahwa manusia arogan sepertimu begitu percaya diri berkata seperti itu. Kalian memang sudah ada lebih dulu dari bangsa vampir. Tapi tanpa kami, apa kau bisa mengatur pertumbuhan ras kalian? Beranak pinak seperti kucing betina. Delapan? Sepuluh? Apa kau pikir alam akan sanggup memenuhi semua kebutuhan popok kalian? Jika tidak ada kami, sudah sejak lama kalian memenuhi lautan dan menutupi permukaan bumi dengan tubuh penuh lemak kalian.”
Rivaille sekarang takjub dengan Vian yang seperti tidak akan kalah dalam berdebat. Sifatnya tidak beda jauh dari Tiffa.
Tapi perdebatan terus saja berlangsung alot. Vian bersikeras ia tidak bersalah dan ia juga tidak punya pilihan selain melawan. Sampai Leonidas pun akhirnya kalah dan membebaskan Vian atas dasar bukti yang otentik.
"Kasus kedua, untuk Rivaille Heddwyn."
Tiffa sedikit terpancing karena Rivaille yang akan diadili. Padahal seharusnya ia duluan yang dipanggil. Vian kini berdiri di samping Draco dengan emosi yang masih meledak-ledak.
"Akan aku remukkan dia setelah ini. Makhluk rendahan saja berani bertingkah."
"Tenangkan dirimu." Draco memperingati.
Omelannya sedikit keras. Jika manusia itu sengaja mencari-cari kesalahan kakaknya, Vian sungguh tidak akan segan meluluh lantakkan tempat menyedihkan ini.
"Rivaille Heddwyn. Kau telah melanggar peraturan kategori tingkat sedang karena telah merusak tempat umum di Kongsberg dan menghancurkan banyak tempat. Bekas pertarungan antara Heddwyn dengan Alereria tidak bisa dihilangkan. Untuk itu, kategori masuk dalam tingkat sedang." Leonidas membacakan laporannya.
Rivaille juga tidak akan menyangkal bahwa memang pertarungan itu adalah ulahnya sendiri.
"Aku mengakuinya." Ucapnya begitu bijaksana. Leonidas mengangkat pandangannya sedikit tertarik.
"Karena kau baru mengetahui tentang organisasi ini, maka hukuman tidak akan dijatuhkan. Dan kau hanya akan menerima peringatan. Di masa depan, tidak akan ada toleransi."
Draco yang menyaksikan itu langsung lega. Setidaknya Rivaille tidak akan dihukum dan ia juga akan terbebas dari amukan Tiffa.
Rivaille mengangguk dan sidang kasusnya berjalan sangat lancar. Lalu sisa Tiffa yang diadili terakhir. Leonidas tidak segera memanggil Tiffa untuk maju ke podium.
Beberapa menit telah berlalu karena ia sibuk membaca kasus Tiffa.
"Bawa seluruh birokrat yang ada di markas kemari." Vian langsung menegakkan punggunya saat merasakan aura tidak beres itu.
Draco pun mau tidak mau mengikuti perintah Leonidas dan sedikit memberi kode pada Tiffa.
"Apa yang akan dilakukannya?" Vian menggeram marah.
Tapi tak butuh waktu lama sampai 20 birokrat yang ada di markas memenuhi ruang sidang. Tiffa segera mengangkat kepala dan memicingkan matanya. Waspada dengan apa yang akan dilakukan Leonidas.
“Kalian semua berjaga disini dan pastikan wanita ini tidak berkutik saat aku menyidangnya.”
Vian langsung menatap kakaknya. Benar seperti dugaannya. Ada alasan kenapa kakaknya disidang terakhir.
“Apa kau tahu dia akan melakukan sidang seperti ini? Aku juga akan mencabik tubuhmu menjadi seribu bagian kalau sampai terjadi sesuatu dengan kakakku.” Draco masih mengamati.
“Tiffa terlalu banyak melanggar peraturan. Asal kau tahu saja, aku tidak bisa menghilangkan bukti begitu saja. Kerusakan di depan kastil Heddwyn masih berbekas sampai sekarang.” Vian berdecak kesal.
Rivaille melihat 20 vampir yang hadir disana sepertinya sudah berusia di atas lima ribu tahun. Dan ia juga tidak bisa membaca apa kekuatan mereka. Tiffa juga sudah terlihat waspada saat ini.
“Kasus ini yang pertama kali terjadi selama ribuan tahun ini. Kau membunuH lima vampir yang masuk ke dalam privilege The Condescendent. Membantai ribuan pasukan seorang diri. Menggunakan mantra api terkuat dan merusak alam. Serangan apa yang kau gunakan sampai satu negara bergetar?”