Bab 51. Persidangan

1035 Kata
"Mereka akan memanggil Rivaille Heddwyn kemari… Dia Aredric yang telah reinkarnasi di zaman ini." Draco lantas menatap Vian dengan ekspresi bingung meminta penjelasan darinya. "Kakakku bercerita semua kisahnya di masa lalu pada Darwin. Dan sekarang dia sudah menemukan Aredric di masa ini. Tapi sayangnya reinkarnasi Aredric akan berurusan dengan The Condescendent. Kau mengerti kan maksudku?" Ucap Vian sedikit lelah menjelaskan ini dan itu. Setelah mereka bertiga sedikit bernegosiasi, Draco sepakat untuk tidak melakukan sesuatu agar ia bisa sedikit meringankan kasus di Alereria. Sedangkan Tiffa dan Vian sengaja mengulur waktu sambil menunggu Rivaille dijemput oleh para birokrat. -Kastil Heddwyn- "Sepertinya organisasi mereka memang sungguhan ada ya." Keesokan harinya, Rivaille sudah melihat dua vampir birokrat yang dimaksud Tiffa di depan gerbangnya. Semua pekerjaan sudah selesai ia kerjakan dan ia juga sudah mambangunkan kakeknya, raja terdahulu sebelum ayahnya. "Aku cukup kaget kakek tidak mendengar satupun berita tentang mereka.” Rivaille menimpali. Sang kakek malah tertawa dengan santainya. “Aku tidak tahu jika cucuku yang masih semuda ini sudah menjadi raja. Dan Alereria? Hahahaha.” Legardo, mantan raja Heddwyn yang dulu pernah menyelamatkan krisis di zaman para bangsawan berebut kekuasaan. Sayangnya beliau harus segera hibernasi karena memang sudah terlalu lama menjadi raja di Heddwyn. Lalu pada masa pemerintahan ayahnya, terciptalah perjanjian damai antar sesama bangsawan yang menggelikan itu. Lalu di zaman ini, Rivaille dengan seenak jidatnya mendeklarasikan perang pada para bangsawan. Memang tidak salah Tiffa menyebutnya bocah nakal. “Kakek kenal dengan Tiffa Yovanka?” Legardo adalah pria yang flamboyan sekali. Pakaian rapinya itu sedikit bergerak tertiup angin malam. Mata merahnya tertuju pada sang cucu. “Dari mana kau tahu nama itu?” Setahu Legardo, di zaman ini sudah tidak lagi terdengar kabar vampir iblis itu. “Bulan depan aku akan menikah dengannya.” “....” Angin malam kembali berhembus menyapa keheningan yang tercipta. Legardo tidak mungkin salah dengar. Keningnya yang mengkerut itu semakin mengkerut karena perkataan cucunya. “... Aku yakin ibumu akan menangis mendengar putranya menikah dengan vampir yang sudah nenek-nenek.” Yang benar saja! Terpaut usia yang terlampau jauh dan apakah mata cucunya ini sudah buta? Tidak adakah wanita yang lebih cantik selain nenek tua itu? “Kakek yakin ada yang salah dengan matamu.” Tapi Rivaille menyeringai misterius. Ia akan membuat kakeknya menganga setelah membawa Tiffa kembali ke kastil Heddwyn. “Suatu kehormatan bisa menikahi ratu Yovanka. Sebentar lagi kakek akan punya cicit yang menggemaskan.” Ujar Rivaille membuat Legardo geli. Mana ada nenek-nenek yang bisa hamil. Dan melahirkan? Di zaman ini sepertinya sudah mendekati kiamat karena terlalu banyak hal aneh yang terjadi. “Kalau begitu, aku titipkan Heddwyn pada kakek sebentar. Jangan hibernasi sebelum kakek melihat calon istriku.” Legardo berdecih mengejek cucunya yang berlebihan. “Tidak tertarik!” Rivaille pun pergi menuju gerbang dan berbicara sebentar dengan birkorat itu. Setelah memakan waktu yang cukup panjang, ia akhirnya sampai di markas mereka. Ia cukup terkejut karena di dalam rumah itu, terdapat aroma manusia. “Selamat datang di markas The Condescendent, Rivaille Heddywn.” Rivalle dibawa masuk dan bertemu dengan Virgo. Disana, ia bisa melihat sederatan komputer yang menyala. Pemandangan itu tentu saja tidak seperti yang diharapkan Rivaille. Seharusnya organisasi ini sudah mendirikan bangunan tinggi dan mempekerjakan vampir. Tapi yang dilihatnya justru aneh sekali. Dan juga, vampir bertubuh jangkung yang sejak tadi menatapnya itu membuatnya risih sekali. “Ikut denganku, aku akan membuatkan gulungan perjanjian yang baru untukmu.” Kata Draco sedikit kaget melihat vampir muda seperti Rivaille. Tapi Rivaille tidak merasa takut sedikitpun karena ia merasakan hawa keberadaan Tiffa di dalam ruangan itu. Lalu ketika ia masuk, Tiffa dan Vian sudah menunggunya disana. “Bagaimana perjalananmu, bocah? Cukup melelahkan?” “Cukup mengejutkan.” Sahut Rivaille membuat Vian tertawa senang. Tapi Draco sedikit tersinggung dengan reaksi Rivaille. “Aku tahu ini semua mengecewakanmu, nak. Tapi tenang saja, kami sudah membuat markas baru sejak lama. Gedung dengan banyak lantai dan mewah seperti ekspetasimu. Dan sayangnya gedung itu sudah meledak karena ulah para bangsawan vampir yang tidak suka dengan The Condescendent.” “Pffftt! Hahahaha lucu sekali lelucon ini hahahaha.” Vian langsung tertawa mendengarnya. Tiffa memutar matanya malas. “The Condescendent punya banyak divisi, Rivaille. Dan yang kau lihat di depan tadi adalah divisi tracker. Mereka memanfaatkan teknologi saat ini untuk memudahkan mereka mencari keberadaan para vampir yang bertikai.” Rivaille tidak terkesan sama sekali mendengarnya. “Dan mempekerjakan manusia juga?” Draco ditatap seperti penjahat sekarang. Oh lihatlah anak baru ini. “Kami mempekerjakan hacker secara legal disini. Baik itu vampir atau manusia. Semua mendapat jaminan keselamatan selama bergabung dengan organisasi kami.” Ha. Rivaille juga hampir tertawa seperti Vian setelah mendengar ocehan Draco. Tidak peduli apakah itu legal atau ilegal, itu tidak ada sangkut pautnya dengan Heddwyn. “Lalu sekarang aku harus melakukan apa disini?” Tiffa menghela nafasnya. Memang daun muda ini tidak suka sekali bertele-tele. “Tunggu sampai Draco selesai membuatkan gulungan perjanjian, lalu kau akan disumpah di depan hakim dan menjalani hukuman.” Rivaille mengerutkan alisnya. Bicara tentang hukuman, kenapa Tiffa dan Vian ada di ruangan ini? Apakah dia sudah menjalani hukuman? Tapi Tiffa tersenyum kecil sambil mengedipkan matanya beberapa kali. “Jangan menatapku seperti itu. Aku menunggumu agar kita bisa menghadap hakim bersama-sama.” Vian berdecih kesal. Memangnya mereka berdua sedang menghadap pastur untuk menikahkan mereka? Vampir yang sedang jatuh cinta itu terkadang membuatnya geli. Setelah Draco selesai membuat gulungan perjanjian, akhirnya ia mengantarkan tiga tersangka pembunuhaN massal itu ke ruangan persidangan. Rivaille melihat ada banyak sekali patung besar yang tingginya sekitar tiga puluh kaki. Semua patung itu seperti pahatan romawi kuno yang memegang timbangan. Lalu ada juga yang memegang sebilah pedang dan lain sebagainya. Ciri khas ruangan pengadilan yang tampak suram. Hantu yang melihat tempat ini akan betah tinggal karena memang tempatnya gelap dan hanya diterangi cahaya lilin di meja hakim. “Aku mengantar tiga tersangka untuk diadili, Yang Mulia.” Ucap Draco yang lidahnya terasa kelu memanggil Virgo dengan sebutan Yang Mulia. Vian menatap kesana kemari sambil mengunyah permen karet. Ekspresinya acuh seakan tidak takut dengan hukuman yang akan dijatuhkan pada mereka. Sedangkan Tiffa terfokus pada Rivaille dan lupa daratan. Gigi Virgo bergemeratak kesal saat melihat Vian yang tidak menghormatinya sama sekali sebagai hakim. “Aku akan buka kasusnya sekarang. Yang pertama, Vian Yovanka.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN