Bab 50. Para Birokrat

2030 Kata
Tapi The Condescendent datang dengan terobosan baru yang mengklaim bahwa setiap vampir yang melanggar akan berurusan dengannya. Peraturan tiba-tiba diciptakan sekehendak hati dengan dalih melindungi keseimbangan alam. Dalih yang digunakan untuk menutupi semua kekejian para anggota mereka yang berani main tangan. Seakan-akan kelompok mereka saja yang berhak menghukum dan menghakimi vampir lain. Teori yang seharusnya tidak ada itu malah membangun sistem pemerintahan sendiri seakan para petinggi bisa menghakimi dan menjatuhi hukuman. Padahal zaman dulu pun vampir sudah diciptakan seperti itu dan sudah menjadi hukum alam. Yang lemah akan tetap menjadi lemah dan menjadi mangsa yang kuat. Sebagai puncak tertinggi rantai makanan, bangsa vampir seharusnya bisa mengatasi masalahnya sendiri. Seperti Tiffa yang sudah menanggung hukumannya akibat menjadi ratu yang terlalu lalim. Alam sudah menghukumnya melalui tangan Lucifer. Dan menjadikannya vampir terpuruk sepanjang masa. Tiffa menatap ke depan. Seakan matanya bisa melihat aura kebusukan dari tindakan The Condescendent ini. Ia sudah merasa feelingnya buruk saat perjalanan menuju ke markas mereka. “Bersiaplah untuk sesuatu yang buruk setelah kita sampai… Kita akan jebol paksa jebakan mereka.” Ujar Tiffa yakin bahwa ini adalah jebakan. Parahnya mereka tampak tidak mengenal siapa Tiffa dan Vian. Butuh waktu sampai setengah hari saat mereka sampai di markas The Condescendent. Wilayah rahasia yang ada di yang ada di Greenland, ini sudah banyak berubah sejak kedatangannya ribuan tahun yang lalu. Kawasan yang masih sepi penduduk tapi menjadi destinasi wisata yang terkenal di Greenland. Udara segar dan bersih dapat Tiffa rasakan ketika ia menginjakkan kaki di kawasan markas. Tangannya menyisihkan anak rambut ke belakang telinganya. Ekspresinya itu tampak bosan menatap ke arah depan sambil berdecak kesal. “Sepertinya mereka memang sudah menunggu kita.” Kata Vian merasa sudah ada beberapa birokrat yang ada di depannya. Tiffa mendengus kasar. Jangan tanya lagi seperti apa membosankannya mereka ketika dipandang. Vian saja tidak selera sekali melihat wajah menjengkelkan mereka. Manusia biasa jauh lebih enak dipandang dibanding mereka. “Kau kan selalu ingin disambut jika datang. Sekarang kau datang dan terima sambutan mereka.” Vian tertawa kecil dengan ekspresi sedikit horor. Tiffa menunjuk mereka semua dengan dagunya. Itu kebiasaan lamanya ketika menjadi penasehat Tiffa. Setelah kerajaan runtuh, kebiasaan barunya adalah menyumpah serapah selagi ada umur sebelum mati konyol. “Tidak, terima kasih. Aku masih sayang nyawa.” Tiffa memutar matanya malas. Ia lantas memperhatikan sekitar markas. Ada beberapa vampir yang ada di luar markas secara acak dari tempat yang berbeda. Dan yang paling dekat dengan mereka justru vampir lemah yang entah kenapa bisa ada di The Condescendent. Dan kedatangan mereka berdua jelas menarik perhatian dari banyak pasang mata. Tapi karena kedatangan mereka yang mendadak, banyak yang ingin tahu. Belum lagi dengan tiga birokrat yang dikirim tampak tak berdaya. “Sepertinya memang mereka sudah mengganti beberapa staff karena banyak birokrat dan para petinggi yang hibernasi.” Gumam Tiffa merasa asing dengan semua para birokrat yang ia lihat. Kedua alisnya sudah mengkerut dalam. “Atau… mereka sudah mati karena ditusuk dari belakang. Musuh dalam selimut.” Vian ikut menyimpulkan hal terburuknya. Bukan tidak mungkin seperti itu. Mengingat The Condescendent sekarang menjadi organisasi besar yang mengatur perdamaian bangsa vampir. Pembatasan itu sebenarnya tidak seratus persen salah. Hanya saja mereka terlalu menyeleweng dan menyalahgunakan hak. Toh selama ini Tiffa tak masalah dengan Darwin. Tapi memang setelah tidak ada Darwin, organisasi ini menjadi organisasi berbahaya. Tiffa mulai pusing dengan semua spekulasinya. Jika ia bisa melihat tubuh mereka yang hibernasi, ia akan percaya The Condescendent masih punya kesempatan untuk kembali dengan ideologis konyol itu. Tapi jika tidak, kemungkinan terburuknya mereka mencoba menguasai dunia seorang diri. Tiffa sebenarnya tidak peduli karena ia masih harus memikirkan Rivaille ketimbang organisasi itu. Tiffa dan Vian pun memilih untuk masuk ke dalam markas dengan tiga birokrat yang masih dalam pengaruh mantra Vian. Setelah mereka berdua masuk ke dalam, tiba-tiba mereka langsung tergeletak di depan pintu dan pingsan. Para birokrat lain berjumlah tiga vampir juga segera pergi dan melihat keadaan mereka. "Bagaimana keadaannya?" "Pingsan." Mereka bertiga sontak menoleh ke arah pintu. "Siapa mereka?" Markas The Condescendent hanya sebuah rumah sederhana yang bangunannya dibuat sama seperti rumah disekitarnya. Tampak mencolok dan tidak sulit dibedakan dengan bangunan di sekitarnya. Saat Tiffa masuk, semua vampir di sana sudah berdiri seperti menunggunya masuk ke dalam rumah. Tak lupa Vian mengikuti dan tersenyum menjengkelkan seperti biasa untuk mencari keributan. Dan kali ini saja Tiffa ikut menampilkan ekspresi sinisnya ketika sepatu heelsnya menginjak karpet tipis yang bahkan harganya tak sampai 5 dolar itu. "Ck! Menjengkelkan. Apakah tidak ada properti yang lebih baik lagi?" Tanya Tiffa mulai cerewet sendiri. Vian menaikkan pundaknya sekali tidak peduli. "Aku bukan staf properti di organisasi ini." Tiffa menyentuh keningnya. Tatapan matanya garang menatap sang adik. Saat mereka masuk, Vian melihat satu vampir berpenampilan paling mencolok disana. Mungkin karena Vian terbiasa melihat gaya rambut normal, melihat vampir itu seperti melihat alien dari galaksi lain. Tiffa sendiri tidak tertarik seperti biasa dan menatap ke arah lain demi bisa mengendalikan emosinya. “Selamat datang di markas The Condescendent, Tiffa Yovanka.” Ucap pria nyentrik itu. Tiffa sengaja tidak menatap vampir yang menyambutnya itu. Ia tidak kenal dan tidak suka berbasa-basi. Ia langsung saja duduk tanpa banyak bicara. Vampir itu tersenyum seolah dia pria paling tampan disana. “Draco, apakah kau ingin membuatku menunggu lama? Panggil Darwin sekarang.” Kata Tiffa menyuruh dengan nada arogan. Pria yang dipanggil Draco itu melirik Tiffa sebentar. Pria berkacamata yang hanya berdiri di dekat meja itu bergeming. Entah apa karena semua vampir hanya punya ekspresi datar atau sejak tadi Draco memang tengah menahan emosinya. Vian tidak betah sekali berlama-lama disana karena takut memukuli mereka semua tanpa sadar. Maklum saja, ia alergi dengan ekspresi batu. Dulu setiap hari ia melihat ekspresi itu di wajah kakaknya. “Darwin telah hibernasi. Sekarang Tuan Hasselhoff yang menggantikan jabatan sebagai ketua sampai Darwin selesai hibernasi.” Ucapnya sama seperti Tiffa, tidak memandangnya ketika berbicara. Vian menahan senyumnya. Apanya yang hibernasi, memangnya Vian dan Tiffa tidak bisa merasakannya sendiri? Sayang sekali jika The Condescendent harus berakhir di tangan yang salah. Sekali memandang pria itu saja Vian tahu dia hanya sedang mencari ketenaran dengan menjadi pemimpin. Dilihat dari skill nya saja tidak menyakinkan sekali. Vian menatap kuku jarinya, acuh saja. "Maafkan aku, Nona Yovanka. Aku lupa memberitahukan tentang pengumuman Darwin yang hibernasi. Mulai sekarang, aku yang akan mengatur The Condescendent." Pria yang bernama lengkap Virgo Hasselhoff itu dengan lancangnya duduk di kursi yang ada di depan Tiffa. Senyuman yang mirip seringai m***m itu terarah pada Tiffa juga. Vian langsung berang. Semesumnya ia menjadi pria, tidak pernah ia menatap kakaknya dengan ekspresi kurang ajar seperti itu. Rahang Vian mengeras seperti siap mengunyah siapa saja yang melecehkan kakaknya. "Sepertinya mata Anda butuh sedikit diberi pelajaran ya." Kata Vian tidak lagi berwajah ramah. BZZTT! "ARRGGHH!" Sebuah cahaya keemasan tiba-tiba menyambar mata Draco. Cahaya kilat kecil yang membuat kedua mata Draco gelap seketika. Rasa panas membakar juga langsung terasa di kedua matanya. Seketika kedua lengan Vian langsung ditahan oleh dua vampir disana. Virgo menutup kedua matanya dengan kuat sekali. Kedua bola mata yang telah Vian cabut secara paksa itu kini ada di telapak tangan Tiffa. Pelaku utama yang dengan berani mencabut kedua bola mata Virgo. Ia menggeram kesakitan dan menoleh kesana kemari karena pandangannya yang gelap gulita. BRAAKK! "Ini sudah pelanggaran tingkat krisis!" Virgo memekik marah sekali. Tapi walaupun begitu, hanya Draco yang menanggapi itu semua dengan santai. Menarik mata secepat kilat dan tidak peduli ketua organisasi sekalipun. Hanya Tiffa satu-satunya yang berani melakukan itu tanpa rasa takut. Dan Draco paham betul seperti apa sifat bangsawan angkuh seperti Tiffa. Tiffa memainkan bola mata itu sebentar. Tidak peduli bola mata itu akan rusak akibat tak sengaja ia remas. Kedua bola mata lancang ini yang berani menatapnya kurang ajar. "Aku tidak akan lama disini. Draco, keluarkan buku perjanjianku dengan Vian sekarang." Kata Tiffa masih dengan wajah angkuh dan tidak mau menoleh pada Draco. Dari dulu sampai sekarang, Tiffa tidak suka berbasa-basi. Itu masih terbilang wajar hanya mencabut kedua bola mata. Draco ingat sekali dulu Tiffa mencolok kedua mata anak buah Darwin dengan pedangnya. Tapi bukan sembarang gerakan. Karena setelah pedang ia ditancapkan ke mata, tiba-tiba kepala birokrat langsung meletus seperti balon. Mengingatnya saja Draco ingin muntah. Dan yang ia tahu dari Darwin, vampir rendahan tidak boleh menatap bangsawan vampir dari dekat. Sedangkan Virgo dengan lancang mendekati Tiffa dan menatapnya langsung dengan sorot mata melecehkan. Hukuman pencabutan mata masih terbilang hukuman ringan. "Berengsek! Aku akan mengingat semua ini!" Teriak Virgo masih murka tak terkendali. Tangannya berusaha meraih Tiffa yang ada di depannya. Sayangnya ia hanya menggapai udara kosong saja. Virgo yang disana seperti seonggok vampir tidak berguna itu masih menggeram marah. Ia benci mengakui bahwa sebenarnya The Condescendent masih belum menerimanya sebagai ketua. Terutama Draco yang tampak seperti tidak memihak siapapun saat ini. Padahal dialah pilar yang menjadikan organisasi ini tetap ada. Pengaruh dirinya sebagai ketua masih diragukan olehnya. Walaupun Draco tetap mengikuti perintahnya tentang pekerjaan. Tapi sebenarnya Draco sendiri belum menempatkan Virgo dan bergantung seperti Darwin. "Mari ikut denganku ke ruangan." Tiffa meletakkan kedua bola mata Virgo di atas meja lalu pergi mengikuti Draco. Vian juga tanpa kekuatan yang berarti melepaskan kuncian vampir lain lalu ikut dengan kakaknya ke sebuah ruangan. Setelah mereka bertiga sampai, Vian tiba-tiba langsung memasang mantra kedap suara agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka. Ruang kerja sederhana yang berukuran tiga kali empat itu hanya berisikan satu set meja kerja dan satu buah lemari. Tidak ada kursi untuk para tamu atau bahkan lukisan di dinding untuk hiasan. Semuanya tampak seperti ruang isolasi ketimbang ruang kerja. Vian menyayangkan sekali ruang kerja Darwin yang kurang sentuhan. Minimal belilah lukisan murah untuk hiasan dinding. "Sepertinya organisasi kalian sudah diambang batas ya?" Tanya Vian mengemukakan pendapatnya. Vian bersandar pada pintu dengan santainya sedangkan Draco mengeluarkan dua buah gulungan dari dalam jasnya. Ia tidak tertarik sekali dengan konspirasi kekuasaan di The Condescendent. Tiffa menarik diri karena tidak tertarik. Ia diam sejak tadi dan berdiri seperti patung di tengah ruangan. Draco mengerutkan alisnya begitu dalam seakan sedang banyak pikiran. "Sebelum Darwin tewas, dia sudah berusaha untuk menyelamatkan vampir yang ada. Banyak data yang berhasil dihapus dari database kami. Dan yang pertama hilang dari perangkat kami adalah data kalian." Ujar Draco mendudukkan diri di atas kursi kerja Darwin. Wajahnya yang terlihat lelah itu menandakan bahwa selama ini Draco lah yang bekerja paling keras untuk menutupi semuanya. Tiffa mengambil satu gulungan kertas miliknya. "Kenapa kau tidak menghubungiku?" Tanyanya masih bersikap tenang. Itulah kenapa para vampir baru itu tampak tidak mengenali dirinya. Para birokrat yang lama juga tidak ada di markas. Sepertinya memang semuanya telah diubah dan hanya Draco yang dipertahankan. Itu juga karena Draco yang memegang semua kendali The Condescendent. Ia dipertahankan juga tampaknya belum bisa dipercaya juga sepenuhnya oleh Virgo. Dua makhluk yang sama sama tidak saling percaya. "Aku sudah mengusulkan Darwin untuk menghubungi kalian waktu itu. Tapi sudah terlambat karena Darwin sudah tewas lebih dulu. Virgo sudah menghasut banyak birokrat dan naasnya hanya aku yang tersisa. Dan setelah kalian pergi dari sini, aku juga akan mati menyusul Darwin." Draco meremas kepalanya sedikit kuat. Lebih baik ia mati saja dari pada hidup seperti ini. Vian melipat kedua tangannya di depan d**a. Ia dan Tiffa sudah tahu akan jadi seperti ini. "Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Vian kembali bertanya tapi sayangnya Draco malah membuatnya kecewa sekali. Tubuh Draco tiba-tiba saja menggigil ketakutan. Ekspresi batunya itu kini nampak takut juga sambil mencengkeram kepalanya seperti orang stres. "Aku ini takut sekali mati. Bunuh diri pun aku tidak berani." Vian memutar matanya malas. Wajahnya saja sangar, tapi ternyata lebih lembek dari Elunial. Elunial saja masih berani memukul walaupun ketakutan. "Kau siapkan saja kata-kata wasiat sebelum mati. Aku bisa melakukannya sekejap mata." Kata Vian menawarkan jasa bunuh diri pada Draco. Seyumannya tampak senang menikam orang. Tapi Draco menggeleng pelan sambil menggigit jempol jarinya dengan kuat. "Berapa birokrat yang ada saat ini?" Tanya Tiffa. Draco menggelengkan kepalanya lagi. Matanya yang berkaca-kaca menambah buruk suasana di dalam ruangan. "Lebih dari seribu. Kau tidak akan sanggup jika melawannya sendirian, Tiffa. Jangan buang-buang tenaga untuk organisasi ini." Tiffa menggeleng pelan. Masalah yang lebih penting baginya bukan itu. Jika mereka berani macam macam dengan Rivaille, sudah bisa Tiffa pastikan The Condescendent akan jadi abu. Tentunya jika mereka berani. Birokrat yang lebih dari seribu vampir tidak masalah bagi Tiffa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN