Bab 49. Ciuman Selamat Tinggal

1042 Kata
Tiffa mengangkat tangannya dan mencabut dua lempengan emas dari baju zirahnya. Lapisan emas dengan lempengan tebal sebesar ibu jari di sekujur tubuhnya. Belum lagi bagian pundak dan d**a yang terdapat shield tebal yang mungkin saja itu lebih tebal dari apapun. “Bawalah ini bersama kalian.” Ucap Tiffa memberikan satu pada Eredith. Eredith pun menerima lempengan itu di tangannya. Tapi justru ia tidak mengharapkan satu lempengan itu beratnya juga tidak masuk akal. Urat di lehernya sampai keluar karena berusaha mengangkat dua lempengan itu. Entah bagaimana Rivaille harus bereaksi sekarang. Menolong adiknya untuk mengangkat lempengan itu seperti adegan konyol di acara televisi. Vian menggaruk belakang kepalanya. “Lempengan emas ini bukan sembarangan emas. Ini adalah sisik naga yang sudah dipakai Tiffa ribuan tahun. Karena sisik emas ini mengikuti kekuatan dari pemiliknya, jadi sudah pasti akan sangat berat.” Ucapnya mengambil lempengan itu dari tangan Eredith dan memperhatikannya sebentar. Lempengan emas itu masih saja bercahaya padahal sudah tercabut dari zirah kakaknya. Vian menyerap sedikit kekuatan itu agar bisa dibawa pergi oleh Eredith. Tiffa lantas memberikan satu lempengan lagi pada Rivaille. “Kau juga… Bawalah ini bersamamu.” Rivaille tertunduk dan menatap lempengan di tangan Tiffa. “Kenapa? Kau akan meninggalkanku?” Tanyanya seakan tahu keputusan Tiffa akan berubah. Tapi Tiffa tersenyum kecil dan menjengkelkan sekali dimata Rivaille. “Kenapa? Kau takut aku pergi?” Vian yang mendengar pertanyaan itu langsung iri dan dengki. Sempat-sempatnya sang kakak merayu raja. Rivaille menerima sisik itu yang ternyata ringan di tangannya. “Jika terjadi sesuatu padamu, benda ini akan membantumu… Setelah aku pergi dari sini, mereka akan mengirim para birokrat untuk menangkapmu. Jadi saat itu tiba, jangan gegabah dan tidak perlu melawan. Ikuti saja perintah dari surat pemanggilanmu.” Rivaille sudah diperingatkan bahwa para birokrat organisasi aneh itu pasti akan melakukan sesuatu padanya. Alasan Tiffa memberikan lempengan emas juga melindungi hal itu agar mereka tidak melakukan sesuatu diluar batas. Karena sepertinya para birokrat itu punya kebebasan untuk melakukan apa saja kepada para pelanggar. Sudah terlihat juga dari sifat tiga vampir yang pingsan itu. Rivaille lantas meletakkan lempengan itu langsung pada inti jiwanya. ‘Yah, walaupun itu sangat mencolok, tapi tindakannya bagus juga.’ Vian tersenyum miring. Sebenarnya lebih aneh lagi jika mengantongi benda seberat itu. “Kenapa mereka memanggil kakakku juga?” Eredith tidak tahan untuk tidak bertanya. Apakah aman bagi kakaknya untuk pergi kesana seorang diri? Dan Vian sudah terlanjur tertawa setelah Eredith bertanya. “Seharusnya kalian bertiga yang akan dipanggil. Tapi karena kakakmu sekarang sudah menjadi raja, cukup kakakmu saja yang dipanggil. Ngomong-ngomong, kalian tidak lupa kan penyerangan Alereria?” Eredith langsung berwajah masam. Sepertinya memang tidak mudah bergerak untuk menginvansi banyak kerajaan. Karena mereka baru tahu ada organisasi seperti ini sebelumnya. “Aku dan Vian akan pergi lebih dulu ke markas mereka. Kau tunggulah disini dan jangan coba-coba untuk kabur.” Ujar Tiffa lagi. Ia sudah tidak lagi memakai baju zirah itu dan memakai pakaiannya sebelumnya. “Kalau begitu, kami berdua pamit.” Eredith segera undur diri dan pergi lebih dulu. Vian menunggu sampai Eredith dan Elunial agak jauh dari kastil sebelum ia membangunkan ketiga vampir tadi. “Sudah waktunya, aku juga akan berangkat.” Ucapnya sebelum menghilang dan pergi. Rivaille segera menahan lengan Tiffa. Entah kenapa firasatnya buruk sekali jika Tiffa pergi meninggalkannya. Dan juga ia terlalu berat membiarkan Tiffa pergi. “Berjanji padaku kau akan baik-baik saja selama disana.” Tapi gelengan kepala Tiffa membuat cengkraman di tangan Tiffa semakin kuat. “Aku datang kesana untuk menerima hukumanku. Level pelanggaran akan masuk kategori kritis jika aku menolak.” “Tapi kau sudah menolak sebelumnya!” Rivaille mulai sulit mengontrol emosinya. Salahkan saja Tiffa yang seperti berniat memberikan nyawanya pada organisasi itu. Apakah wanita itu tidak memikirkan bagaimana perasaannya? Padahal mereka telah lama berpisah dan baru dipertemukan. Tiffa tersenyum lembut dan perasaannya mulai terasa hangat. “Aku tidak akan mati.” “Aku tahu,” Rivaille tahu itu. Tiffa adalah vampir terkuat di pada zamannya dan sampai sekarang pun ia masih tetap menyandang vampir terkuat. Tapi masalahnya apakah dia sanggup melawan satu organisasi yang terdiri dari vampir yang usianya juga ribuan tahun sendirian? Dunia yang sudah sejak awal tidak masuk akal ini perlahan membuat Rivaille muak juga. Ia menarik Tiffa dan memeluknya erat. “Kau masih berhutang ratusan ribu tahun padaku. Kita harus menikah dalam waktu dekat dan kau diwajibkan untuk melahirkan 100 anak.” Tiffa langsung melepaskan pelukan itu secara paksa. “What? Kau gila? Kau pikir aku melahirkan tinggal berkedip saja?” Rivaille langsung memasang ekspresi tidak pedulinya. Ia tetap menahan tangan Tiffa dan tangan kurang ajarnya yang lain meremas b****g calon ratunya itu. “Itu resiko bercinta dengan raja sepertiku.” Tiffa melotot kaget. Bocah ingusan ini- “Kau memang berengsek, Rivaille.” “Aku memang terlahir berengsek.” Tiffa menampar tangan nakal itu dan tak lupa kiriman tatapan cinta yang menusuk untuk Rivaille. Ia lantas berbalik dan pergi setelah Rivaille mengatakan kalimat perpisahan yang menjengkelkan dengan sedikit pelecehan beberapa detik yang lalu. “Apa tidak ada ciuman selamat tinggal?” “Mati saja kau bocah nakal!” Tiffa masih sempat meneriaki Rivaille padahal dia sudah ada di luar kastil. Dan Rivaille pun segera bekerja untuk Heddwyn. Ia harus menyusun stratgei sebelum para birokrat yang dimaksud Tiffa datang menjemputnya. Menyiapkan pasukan yang tersisa dan membereskan beberapa puing kastil yang hancur. “Ck! Menyusahkan saja.” Omelnya kesal. Belum apa-apa ia sudah mengeluh karena pekerjaannya akan sangat banyak hari ini. -Di perjalanan- Tiffa dan Vian kali ini pergi menuju markas The Condescendent sedikit terburu-buru. Tiga vampir bodoh yang dikirimnya sudah membuat Tiffa marah sekali. Sengaja ia menahan diri agar bisa mengamuk di markas mereka. “Aku rasa Darwin tidak mungkin bertindak sekonyol ini.” Ucap Vian dengan alis mengkerut yakin bahwa kakaknya juga berpikiran yang sama dengannya. “Seharusnya mereka sudah datang ke Heddwyn setelah Rivaille menyerang Alereria waktu itu. Dan aku sudah dua kali berbuat kerusuhan, tapi baru sekarang mereka mengirim surat panggilan… Ada sesuatu yang terjadi pada The Condescendent.” Tiffa langsung menyimpulkan. “Aku sudah katakan organisasi seperti itu kelak akan menjadi masalah. Tidak ada vampir bangsawan yang mau tunduk di bawah perintah mereka.” Ya, bangsawan vampir sekalipun semuanya memiliki sifat yang tidak akan tunduk pada siapapun. Mereka punya ideologis sendiri dan punya kekuasaan penuh atas para pasukannya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN